Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Pertandingan Final


__ADS_3

Seorang anak yang memiliki usia lebih tua sekitar dua tahun darinya, melambaikan tangannya ke arah Suhita. Wajah anak laki-laki itu terlihat penuh persahabatan. Ya, dia tidak nampak seperti orang yang sedang ditugaskan untuk mengawasi gerak-gerik Suhita. Namun demikian, mengingat pesan ayahnya untuk tidak mudah percaya pada siapa pun, membuat Suhita selalu waspada.


"Hei, aku hendak menonton pertandingan. Apa kau juga sama? Namaku Arya Winangun," seraya mengulurkan tangan, anak itu tersenyum hangat. Dia juga memberi Suhita selembar kartu VIP, untuk bisa mendapatkan tempat yang dekat saat menonton.


Memang dasarnya Suhita merupakan anak yang mudah bergaul, hingga dia bisa segera menyesuaikan diri dengan pembahasan Arya Winangun.


Dia datang seorang diri, ayah dan ibunya tidak bisa hadir menemani. "Harusnya, aku menonton sejak kemarin. Tapi karena tidak punya teman makanya aku datang saat final saja."


Suhita mengucapkan terima kasih. Dia tidak menyangka jika keberuntungan masih menaunginya jalannya. Ada-ada saja yang membuat jalannya menjadi lapang. Mungkin, bisa jadi ini merupakan karma baik dari setiap perbuatan dan keikhlasannya menolong orang sakit. Menanam hal baik, maka hal baik pula yang akan di petik. Membuat Suhita semakin bersemangat untuk menebar kebaikan.


"Oh, ya. Apa kau lapar?" tanya Suhita.


"Tidak, terima kasih. Aku sudah makan sebelum berangkat," jawab Arya Winangun dengan senyum. Dia menolak tawaran Suhita dengan halus.


Dua bocah yang baru saling mengenal itu akhirnya tiba di tempat VIP seperti kartu yang mereka bawa. Suhita bisa melihat dengan jelas wajah Danur Cakra Prabaskara yang duduk di tepi arena kompetisi. Wajahnya terlihat tenang, seperti tidak sedang dalam suasana final kompetisi. Suhita tersenyum tetap melihat rasa percaya diri yang begitu besar dalam diri saudara kembarnya itu.


Lawan yang akan Danur Cakra hadapi, bukanlah anak sembarangan. Dia merupakan seorang anak yang sangat berprestasi di Padepokan Soarga Loka. Bahkan, terakhir dia telah berhasil membukukan diri menjadi yang terbaik kala menyelesaikan misi padepokan yang rata-rata diikuti oleh pendekar dewasa. Namanya Bayu Bajra. Kemampuannya dalam mengolah elemen angin membuat lawan akan kebingungan dan kehilangan arah mata angin. Hingga efeknya jadi planga-plongo seperti orang bingung.


Danur Cakra Prabaskara mengerutkan dahi, saat pandangan matanya bertabrakan dengan adiknya. Ya, Suhita yang sejak tadi memandang pada kakaknya akhirnya berkesempatan untuk menunjukkan bahwa dirinya ada dan menonton dari dekat.

__ADS_1


"Aduh, mengapa kau di sini? Dasar!" Danur Cakra mengepalkan tangannya. Meskipun suaranya tidak terdengar, tapi cukup untuk membuat Suhita mengerti jika dia mencemaskan keselamatan adiknya.


"Dasar bawel! Aku baik-baik saja!" ujar Suhita dengan lambaian tangan.


"Melati, kau kenal dengan peserta itu?" tanya Arya Winangun surprise.


"..." Suhita sudah membuka mulutnya, hampir saja dia bicara jujur jika orang itu adalah kakaknya. Untungnya Suhita sadar pada status "buron"-nya. Hingga Suhita kemudian berkelit dengan juga membawa nama Raka Jaya. Ada dua orang yang dia kenali di pertandingan final itu, makanya dia begitu bersemangat.


"Wah, kau hebat. Aku pun ingin punya teman orang besar seperti mereka. Siapa tahu, mereka mau mengajakku kerja suatu saat nanti," celetuk Arya Winangun curhat.


Suhita tertawa kecil, matanya menatap ke arah Arya Winangun dengan penuh teliti. Dan nampaknya memang anak itu berasal dari keluarga biasa. Tidak lebih seperti Suhita juga hanya tinggal di kampung bersama ibu dan dua pengasuh.


Semua mata diikuti sorak-sorai penonton menyambut kedua peserta yang berdiri, melangkah ke tengah medan laga. Keduanya terlihat sudah dalam persiapan yang sangat matang, mentalitas mereka pun begitu baik. Singkatnya, kedua peserta pasti akan menampilkan suguhan yang menarik untuk disaksikan.


Terompet menggema, menandakan dimulainya pertarungan. Wasit pemimpin pertandingan mundur ke tepi arena dan membiarkan kedua anak berbakat menunjukkan kemampuan masing-masing.


Pertarungan pertama, mereka menggenggam tongkat di tangan masing-masing. Baik Danur Cakra maupun Bayu Bajra terlihat begitu piawai menggunakan senjata tumpul tersebut. Tubuh Bayu Bajra yang sangat ringan bagaikan hembusan angin membuat Danur Cakra hanya menempatkan diri pada posisi bertahan. Itu bukan ciri khas bertarung yang dia miliki, tapi bagaimanapun juga Danur Cakra harus bisa menempatkan diri. Jika dia ceroboh, bisa-bisa kekalahan yang dia dapatkan.


Dengan aliran tenaga dalam Tapak Naga, Danur Cakra melemparkan tongkat di tangannya menerobos celah pertahanan Bayu Bajra. Danur Cakra pun mengikuti langkah tongkatnya hingga dia tiba di dekat Bayu Bajra.

__ADS_1


BAAARRR !!! Bayu Bajra mengangkat sebelah tangannya, melepaskan satu pukulan ke arah Danur Cakra yang mendekat.


Tidak terlena oleh hal itu, Danur Cakra secepat mungkin meraih tongkat kayunya dan dia gunakan untuk secepatnya menepuk tongkat yang Bayu Bajra genggam hanya dengan sebelah tangan.


Wuuusss ... tubuh Danur Cakra terdorong jauh ke tepi arena akibat terkena efek pukulan yang dilepaskan oleh Bayu Bajra. Ya, dia terkena pukulan. Namun, hal lain yang menguntungkan Danur Cakra ialah tongkat kayu di tangan lawannya terjatuh dari genggaman dan patah menjadi dua. Dengan demikian, pertarungan tongkat dimenangkan oleh Danur Cakra Prabaskara.


Terlihat jelas jika wajah Bayu Bajra nampak sangat tidak puas. Harusnya dia yang bisa kuasai pertarungan tongkat ini karena gerakannya jauh lebih cepat dari lawan. Namun apa daya, wasit telah memutuskan.


Beralih pada pertandingan kedua, yakni pertandingan pedang. Di sini, Danur Cakra lebih percaya diri karena dia bisa mengandalkan kemampuan jurus rahasia Pedang Dua Belas warisan neneknya. Meskipun Bayu Bajra kuasai angin dan bergerak lebih cepat, tapi Danur Cakra punya rencana untuk bisa membalas. Paling tidak, Danur Cakra ingin lawannya juga merasakan betapa panasnya Tapak Naga yang dia miliki. Sebelum pertandingan tenaga dalam dimulai, Danur Cakra ingin memberi DePe sekaligus peringatan betapa berbahayanya dia.


Kedua bilah pedang telah sama-sama diayunkan, mereka tidak diperkenankan mencelakai satu sama lain. Kompetisi ini merupakan suatu pertandingan persahabatan yang melarang mereka untuk saling membunuh. Jadi, bagi peserta diharapkan untuk berbesar hati menyatakan kekalahan seandainya pedang lawan telah menempel di badan tanpa bisa dihalau.


"Lumayan juga. Tidak disangka, langit begitu tinggi lautan tiada bertepi," Danur Cakra tersenyum getir mendapati permainan pedang lawan yang berada tidak jauh di bawahnya.


"Selama ini, orang-orang menyatakan jika Padepokan kami memiliki jurus pedang terbaik," ucap Bayu Bajra.


"Aku akui itu benar. Akan tetapi, untuk bisa mengalahkanku, nampaknya kau butuh suatu keajaiban," jawab Danur Cakra tidak kalah percaya diri.


"Baiklah, aku sangat senang dapatkan lawan yang sepadan. Baiknya, kau berhati-hati!"

__ADS_1


"Jangan lupa, aku sudah unggul satu poin darimu!" Danur Cakra menyambut tantangan lawannya dengan gagah berani.


__ADS_2