
Ketika induk ayam menyadari mata elang mengawasi anak-anaknya, segala daya dan upaya dilakukannya supaya anak-anak ayam tidak lengah dan tertangkap oleh pemangsa.
Terlebih lagi manusia, saat merasakan jika keselamatan diri mulai terancam maka seluruh panca indera akan segera siap siaga. Pendengaran mendadak menjadi sangat tajam, mata pun demikian. Meskipun hanya suara kerosak tikus di balik semak, siap siaga diri akan menyamai serangan sekompi musuh.
Bukan untuk pertama kali, bahkan Suhita sudah kerap menjadi incaran para pendekar yang ingin menangkapnya. Akan tetapi, tidak biasanya Suhita berjalan seorang diri. Tanpa dua pengasuh yang miliki pengalaman luas. Kali ini, Suhita benar-benar mengandalkan segenap kemampuannya. Jika sewaktu-waktu ada orang-orang Bergala Ireng kembali menyusulnya.
"Siapa itu?" ucap Suhita ketika merasakan ada energi yang mendekat.
Suhita kaget, karena ternyata dia baru merasakan energi setelah sosok itu benar-benar telah muncul di dekatnya. Namun, seketika rasa terkejut Suhita berubah menjadi senyuman ketika dia mendapati sosok yang muncul tidak lain adalah orang yang sedang dia cari. Ayahnya.
"Ah, ayah ... mengagetkan saja," Suhita langsung menubruk ayahnya.
"Sayang, apa yang kau lakukan di sini, malam-malam seorang diri. Kau tahu betapa bahayanya itu ..." Mahesa membopong putrinya seperti membawa anak bayi saja.
Dalam beberapa gerakan saja, tubuh keduanya telah lenyap dari jalan. Mahesa membawa Suhita melesat menuju penginapan tempatnya bermalam.
Tidak begitu banyak bicara, hanya raut wajah Mahesa yang menjelaskan betapa dia khawatir atas tindakan nekad yang dilakukan Suhita. Namun demikian Mahesa tidak serta-merta menyalahkan anaknya sebelum mendengar penjelasan atas kejadian yang sesungguhnya.
Suhita meminum wedang jahe dan juga memakan beberapa kerat roti hangat yang disuguhkan ayahnya. Seolah tidak terjadi apa-apa barusan. Udara di dalam kamar pun begitu segar dan hangat.
"Ayah, setelah kita kembali nanti. Hita ingin ayah ajarkan bagaimana caranya terbang seperti yang ayah lakukan tadi. Ayah mau 'kan ajari Hita?" ucap Suhita.
Mahesa menghela napas panjang sebelum menjawab. Kepalanya mengangguk berulang kali, "jika kau yang inginkan. Apa pun itu, pasti akan terwujud. Faktor utama keberhasilan adalah keinginan kuat dari dalam diri."
__ADS_1
"Iya, iya. Hita tahu, ayah bilang kalau Hita ini seorang pemalas. Tapi setelah ini, Hita janji pasti akan rajin belajar," dengan memasang senyum yang menggemaskan Suhita mendongakkan wajahnya pada sang ayah.
"Ya, ya, ya. Setelah ini, ya. Sekarang, bisa ayah tebak kau sedang pusingkan suatu hal bukan? Makanya nekad mencari ayah malam-malam. Mengapa tidak esok hari saja. Kau temukan sendiri, banyak orang tidak terduga yang kau temui. Kalau tidak, bagaimana ayah bisa temukan jejak Pukulan Tapak Naga," ucap Mahesa mengelus kepala Suhita.
Suhita menyeringai, dia tidak bisa mengelak. Pantas saja ayahnya muncul dari arah belakang. Kiranya dia lebih dulu datang ke tempat pertarungannya dengan ratu racun. Wah, bagaimana pula ayahnya dengan mudah bisa melacak hanya dengan satu atau dua pukulan yang Suhita lepaskan. Ah, sudahlah. Malas Suhita berpikir, para pendekar memang sangat aneh di matanya. Kalau sudah urusan bertarung saja, seperti telah mendarah daging.
"Emmm ... ayah jangan pura-pura tidak tahu. Hita yakin, ayah tahu alasan kedatangan Hita ke sini," ucap Suhita membuat Mahesa menautkan kedua alisnya.
Suhita kemudian menceritakan secara gamblang mengenai penyakit langka yang diderita Pendekar Tongkat Emas. Mengenai tumbuhan langka Teratai Berduri juga berkaitan dengan obat dan sumberdaya yang Suhita ingin temukan.
"Melawan racun dengan racun. Nampaknya tidak buruk. Tapi, bagaimana kita bisa temukan tumbuhan langka Teratai Berduri itu? Sementara Pendekar Tongkat Emas belum sadarkan diri."
"Ah, ayaaahhh ... pikirkan sesuatu. Hita telah berjanji untuk mencari ramuan obat dalam waktu satu pekan. Kita harus bisa temukan," tegas Suhita.
Mahesa hanya bisa mengelus dada. Mahesa juga miliki kemampuan pengobatan yang tinggi, akan tetapi jiwanya tetap seorang pendekar. Yang tidak begitu mengekang diri dalam menyelamatkan nyawa orang. Tidak seperti putrinya yang akan menjadikan kesembuhan sebagai prioritas utama.
"Baiklah, ayah berjanji akan membantumu. Asalkan demi kebaikan, akan selalu mendukungmu," dengan senyum Mahesa meyakinkan anaknya.
Suhita tersenyum lebar. Dia bangkit dan merangkul Mahesa dengan erat, "terima kasih. Ayah memang yang terbaik. Hita janji, akan selalu membanggakan ayah."
Mahesa mencivm kening Suhita berulang kali. Kemudian meminta Suhita untuk segera beristirahat. Besok pagi, saat matahari mulai merekah, mereka akan memulai mencari sumberdaya yang Suhita maksud. Termasuk bunga Teratai Berduri. Pertama-tama mereka akan mendatangi kediaman Pendekar Tongkat Emas.
°°°
__ADS_1
"Ayah, apa masih jauh? Sebelum senja apa kita sudah akan sampai?" Suhita terlihat sudah tidak sabar untuk segera tiba di kediaman Pendekar Tongkat Emas.
"Ya, itulah target ayah. Tapi tidak juga kita harus melewatkan istirahat dan makan. Ayah tidak ingin kesehatanmu justru terganggu," Mahesa mengarahkan kuda yang mereka tunggangi ke sebuah kedai di tepi jalan.
Suhita menurut saja. Lagi pula, tidak ada gunanya dia banyak membantah. Suhita tahu, apa yang dilakukan oleh ayahnya selalu penuh dengan perhitungan yang matang.
Sudah setengah hari mereka menunggang kuda dengan kecepatan tinggi, yang pasti kudanya perlu beristirahat. Makan dan minum yang disiapkan oleh bekatik yang bertugas di kedai tersebut.
"Sayang, kau mau makan apa?" bisik Mahesa.
"Seperti yang ayah makan saja. Aku yakin, tidak akan ada yang serupa dengan masakan ibu," ucap Suhita, membuat mereka tersenyum kala ingatan keduanya pulang ke rumah.
"Iya, nanti saat kita pulang. Ibu pasti masak apa saja yang kita mau. Dasar bawel," Suhita menyentil hidung Suhita.
Pelayan kedai yang menyambut membawa Mahesa dan Suhita ke satu meja yang cukup besar. Mahesa memesan satu meja penuh untuk mereka berdua saja. Tanpa adanya orang lain yang ikut mendengar apa yang mereka bicarakan.
Suhita berulang kali melirik ke arah meja yang juga ada para pendekar di sana. Hal yang sangat lumrah ketika Suhita melihat kendi-kendi arak berjejer di atas meja mereka. Sekilas Suhita menatap ayahnya yang hanya menikmati air kelapa segar. Hita yakin, ayahnya bukan tidak minum arak tapi hanya karena ada Suhita di sana hingga dia menahan diri.
"Harga arak itu sangat mahal-mahal, tapi sepertinya mereka tidak terbebani," pikir Suhita.
"Bagaimana, apa dagingnya enak?" tanya Mahesa membuyarkan lamunan Suhita.
"Tentu saja, ayah lihat Hita makan banyak sekali," jawab Suhita menunjukkan piring yang dia pegang, "oh ya. Mengapa ayah tidak memesan arak? Apa ayah tidak minum?"
__ADS_1
Mahesa tersenyum tipis, seraya mengangkat air kelapa muda di tangannya, "ini, ayah sedang minum."
Suhita tertawa kecil.