
Bukan hanya Danur Cakra seorang, melainkan dua saudaranya yang lain pun bisa melihat apa yang dia saksikan. Halaman klan yang luas, dipenuhi oleh pagar betis para pendekar dengan senjata lengkap. Para pemimpin pasukan masing-masing menunggu komando untuk bergerak.
"Mau apa mereka, pamer kekuatan?!" Raka Jaya mengangkat sebelah alisnya. Tentu saja, kekuatan itu tidak nampak begitu menakutkan dimatanya. Dibandingkan dengan Padepokan Api Suci, kekuatan penuh di sini hanya setara dengan satu pasukan khusus semata.
Dari ketiga anak Mahesa, hanya Raka Jaya seorang yang terlihat paling tenang. Sifat Dewi Api sama sekali tidak menurun padanya. Raka Jaya tumbuh sebagai seorang anak yang sabar dan penuh perhitungan. Setiap keputusan akan dilalui dengan pertimbangan yang sangat matang. Dia sangat cerdas, hingga mampu memaksimalkan potensi kemampuan yang dia miliki. Yang pada dasarnya berada di bawah dua saudaranya yang lain.
Berada di tempat yang berbeda, tapi mereka bisa menyaksikan tontonan yang sama, di depan mata kepala tiga bocah itu, Klan Perisai Hujan memperlihatkan bagaimana kekuatan para pendekar terbaik yang merupakan kekuatan inti mereka.
BAAARRR !!! Dentuman tenaga dalam mengakhiri pertanyaan yang menghiasi benak anak-anak itu. Bahkan mereka bisa mendengar dengan jelas setiap percakapan yang dibicarakan dalam gambar.
"Ah, ibu?!" Raka Jaya terkejut bukan main. Dia mengenali jika jenis energi yang baru saja menghantam adalah pukulan tenaga dalam milik ibunya, Dewi Api. Jadi, persiapan satu klan ini dilakukan untuk menyambut kedatangan ibunya?! Celaka.
"Hahaha! Mereka sudah datang. Cepat semuanya bersiap!" dengan tawa, pimpinan Klan Perisai Hujan Wira Lodra melangkah menuju tangga depan. Tangga yang merupakan satu-satunya jalan untuk bisa masuk ke dalam bangunan.
"Selamat datang, Dewi Api. Suatu kehormatan besar bagi kami, seorang pendekar ternama sepertimu sudi menginjakkan kaki di halaman kelompok kami yang amat kotor," sapa Wira Lodra seraya membungkukkan badan.
Bersamaan dengan mendaratnya Dewi Api, empat orang anggota klan ikut roboh ke bumi. Mereka kehilangan nyawa setelah tidak cukup mampu untuk menahan hentakan tenaga dalam yang Dewi Api lepaskan.
__ADS_1
"Klan Perisai Hujan. Hemmm ... sekarang aku baru tahu, kiranya kalian adalah kelompok rahasia yang dipersiapkan oleh Aliansi Utara Selatan. Mana pimpinan besar kalian? Aku ingin bertemu dengannya," ucap Dewi Api seraya melemparkan sesuatu tepat di depan Wira Lodra.
Seorang anggota klan memungut benda yang Dewi Api lemparkan. Mereka baru tahu, jika benda itu merupakan lencana milik seorang pendekar yang ada di Gunung Dewa Langit. Dengan kata lain, Dewi Api sudah datang dan melukai seorang pendekar ternama di markas utama Aliansi Utara Selatan.
"Kau hanya datang untuk mengantar nyawa!"
Beberapa anggota klan yang berada di belakang Dewi Api segera mengarahkan senjata mereka pada Dewi Api. Namun ...
TIIISSS ... TIISSS ... TIIISSS ... senjata-senjata itu mendadak hancur berkeping-keping disertai dengan tubuh para anggota klan yang terlempar sebelum Dewi Api melakukan tindakan apa pun.
Seorang pendekar lain muncul dengan aura yang sangat kuat. Energi keduanya begitu berbeda, hingga membuat suasana di tempat itu terasa sangat mencekam. Ya, pendekar yang datang tidak lain adalah suami dari Dewi Api itu sendiri. Elang Putih.
"Hahaha! Mengesankan sekali. Sepasang suami istri muda yang sangat fenomenal datang pada saat yang bersamaan. Kehormatan semacam apa ini? Seumur hidupku, bahkan tidak berkhayal untuk bisa berjumpa kalian secara langsung," Wira Lodra menyambut kedatangan Mahesa.
Dua kekuatan besar yang berdiri bersamaan di hadapan mereka, tentu saja membuat nyali sebagian pasukan klan menjadi ciut. Rata-rata dari mereka sudah pernah mendengar bahkan menjumpai bagaimana sepak terjang sepasang suami istri nomor satu di Utara itu. Saat keduanya bergabung, tentu bagaikan menjinakkan amukan ombak samudera. Sulit untuk bisa dilakukan, atau bahkan tidak mungkin.
"Kami datang bukan hanya sekadar untuk berbasa-basi, kami datang dengan persiapan. Sebaiknya kita sama-sama mempermudah urusan kita," ucap Mahesa lirih.
__ADS_1
Tidak ada jawaban, melainkan tatapan mata Wira Lodra terarah pada segenap anak buahnya, "Maksudku bukan siapa-siapa, tetapi semuanya. Kalian semua halangi mereka!"
Serentak, puluhan pasukan bergerak menyerang Mahesa dan Dewi Api. Hampir seluruh anggota Klan Perisai Hujan tumpah ke halaman, berlomba untuk bisa melukai Mahesa atau pun Dewi Api.
"Ayah, ibu. Bagaimana aku bisa membantu kalian?!" Raka Jaya berlari ke sana ke mari untuk mencari jalan agar bisa keluar dari dalam ruangan tempatnya di kurung.
Raka Jaya sadar atas batas kemampuan yang dia miliki. Tapi bagaimanapun juga dia tidak bisa hanya menonton saat orang tuanya berhadapan dengan maut. Tidak menjadi beban, memang merupakan satu hal yang positif. Namun Raka Jaya yakin jika dia bisa menjaga diri sendiri. Dia ingin membantu.
"Sialan! Tempat apa ini?!" Raka Jaya kesal karena usahanya tidak membuahkan hasil. Dinding gua itu seolah tidak memiliki celah.
Tunggu dulu. Bagaimana bisa hal ini terjadi? Bukankah mereka berada di dalam ruang tahanan Klan Perisai Hujan, mungkinkah mereka berada di ruang bawah tanah? Sementara, tontonan yang mereka saksikan yakni pertempuran ayahnya yang terasa sangat dekat. Semakin ke sini, dunia terasa sangat aneh. Semua hal yang semula tidak mungkin, nyatanya ada di dunia ini. Terlalu banyak para pendekar yang memiliki kemampuan di luar nalar.
Beda hal nya dengan Raka Jaya yang menjadi sangat agresif ketika melihat pertarungan ayah dan ibunya. Ekspresi yang berbeda justru di tunjukkan oleh Suhita. Tabib kecil itu malah bersandar di dinding gua dengan tatapan yang sayu.
Dalam benak Suhita, muncul bayangan di mana dia pertama kali berjumpa dengan Dewi Api. Saat itu Suhita diajak pergi oleh Nyi Gondo Arum hingga tidak pernah tahu apa yang dibicarakan oleh Dewi Api dan ibunya. Jika saja, Suhita tahu kalau Dewi Api juga adalah istri dari ayahnya ... ah, mengapa ayahnya menyembunyikan hal ini? Ataukah benar, Mahesa sengaja tidak mengakui anak dan istrinya selain anak dari Dewi Api?! Mengapa Suhita justru harus tahu dari orang lain, begitu memalukan dan sangat rendah jika punya istri yang tidak bisa apa-apa?! Lantas mengapa Mahesa harus menikahi Puspita, apa karena sudah hamil?!
Ah, tidak, tidak. Suhita tidak yakin itu adalah benar. Justru Mahesa menyembunyikan Puspita karena dia tidak ingin hal buruk menimpa istrinya. Terlebih jika memang benar kalau Puspita dan Cahaya Langit merupakan orang yang sama.
__ADS_1
"Tapi bagaimanapun, Puspita Dewi adalah ibuku. Seorang ibu yang sangat baik dan lembut. Tidak perduli pada masa lalunya, bagiku ibu adalah segalanya. Bahkan dia tidak pernah marah, apalagi menyuarakan kata-kata yang kasar. Seorang penjahat yang bergelimang dosa di masa lalu, bukan berarti dia tidak berhak untuk hidup baik di masa depan," terbayang wajah manis sang ibu, yang membuat air mata Suhita mengalir tak tertahankan.