
Hup!
Suhita melompat mundur beberapa langkah. Tidak ada pilihan lain, karena hanya ada dua konsekuensi dalam pertarungan yakni hidup atau mati.
"Ah, tidak! Ini tidak benar! Hita ... jangan lakukan itu !!!" Puspita Dewi berteriak sekuat tenaga, dia coba untuk hentikan apa yang akan Suhita lakukan. Karena Puspita paham betul apa yang akan terjadi kemudian.
Tepat sekali! Sebagai orang yang berpengalaman di bidangnya, apa yang diprediksi oleh Puspita Dewi benar terjadi. Suhita mengambil jarak untuk menggunakan kemampuan racun pelebur raga. Racun paling berbahaya yang menjadi andalan Cahaya Langit hancurkan dunia.
WUUUSSS !!!
Puspita hanya bisa ternganga menyaksikan dengan mata kepalanya bagaimana sang putri kesayangan menggunakan racun yang jelas-jelas diharamkan dunia persilatan.
"Owhhh ... ini adalah salahku. Mengapa harus anak-anakku yang menanggung beban dosa atas kesalahanku di masa lalu?!" mata Puspita berkaca-kaca, hatinya terasa perih dan hancur. Karma atas segala kejahatan yang pernah dilakukannya, harus ditanggung oleh anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Takdir? Benarkah Tuhan sebegitu sayangnya hingga ujian yang diberikan begitu berat?!
Puspita duduk bersandar, tubuhnya terkulai lemas, seluruh sendi tidak sanggup untuk menopang berat tubuhnya yang berlumur dosa. Rasa bersalah semakin menjadi ketika karma justru menimpa anaknya.
Tidak mengetahui akan hal yang terjadi pada sang ibu, setelah berhasil mencelakai lawannya Suhita bergegas untuk pergi menengok kakaknya. Hita bisa merasakan tensi pertarungan yang semakin meningkat. Pastilah tiga orang yang baru tiba merupakan rekan Muning Raib. Bagaimanapun kuatnya Danur Cakra, tentu akan kerepotan bila harus hadapi empat pendekar sekaligus.
Hanya butuh beberapa tarikan napas untuk Suhita menjangkau tempat pertarungan Danur Cakra. Namun dalam waktu yang tidak terlalu lama itu, yang Suhita dapat justru kejadian yang tidak terduga. Tidak bisa dicerna oleh akal sehat, membuat Suhita berdiri mematung.
Muning Raib telah tergeletak tidak bergerak dengan luka cabik di sekujur tubuhnya. Orang kepercayaan Raja Iblis itu meregang nyawa seiring kehancuran di sekitar medan laga. Lalu, ke mana Danur Cakra? Suhita celingukan mencari.
Meskipun dengan menggunakan kemampuan tenaga dalam Tapak Naga tahap tinggi, tetap saja Suhita tidak berhasil melacak keberadaan kakaknya. Apa yang menjadi kekhawatiran Suhita kiranya benar terjadi, dia kehilangan kakaknya. Namun sebelum melihat jasad Cakra secara langsung dengan mata kepalanya, tentu saja Suhita tidak bisa menyimpulkan. Lagi pula, Danur Cakra tidak mungkin bisa dicelakai tanpa sepengetahuan Suhita. Tentu saja, selama masing-masing separuh sumberdaya Mutiara Hati masih bersemayam di dalam tubuh mereka.
Wuuusss! Ada dua bayangan yang terlempar dalam deru angin. Suhita bisa mengenali keduanya, karena mereka belum lama ini pernah terlibat konflik. Merekalah Kujang Kembar, murid Bhadrika Djani.
Sebelum tubuh kedua orang itu menyentuh tanah, dengan sigap Suhita menjangkau mereka. Tidak lagi ada ruang untuk Kujang Kembar melarikan diri.
__ADS_1
"Darah?! Itu artinya mereka baru saja melakoni pertarungan," batin Suhita dalam bingung.
Jayadita dan Jaganitra tentu saja sangat kaget. Mereka tidak menduga jika ada Tabib Dewa yang justru menyambut kala mereka terlempar dari pertarungan.
Dengan menyeka darah di sudut bibir masing-masing, Kujang Kembar lekas bangkit dengan senjata yang siap di tangan. Keduanya sepakat untuk tidak mengatakan apa pun kepada Tabib Dewa. Justru langsung melayangkan serangan.
"Katakan di mana Kakakku?!" tanya Suhita, untuk yang ketiga kalinya.
"Hahaha! Meskipun kau memohon, bersujud di bawah telapak kaki kami, semuanya akan sia-sia. Apa kau tidak dengar, kami tidak tahu!"
Suhita mengepalkan telapak tangannya, kesabarannya telah mencapai batas. Percuma juga bicara dengan orang-orang yang miliki mata tapi tidak melihat, telinga pun tidak mendengar.
Pertarungan kembali terjadi, Suhita menggempur kedua lawannya dengan Jurus Tapak Penakluk Naga tahap delapan yang dipadukan dengan teknik Racun Pelebur Raga yang berbahaya. Tentu saja hal itu membuat Jaganitra dan Jayadita tidak punyai kesempatan lebih lama untuk bertahan. Kurang dari sepuluh jurus, keduanya telah berhasil dilumpuhkan.
Dentuman besar terus terjadi, seiiring kerusakan yang kian parah. Terkikis sudah keindahan Pulau Seribu Pandan, hancur, luluh lantak akibat ulah manusia yang bertarung satu sama lain.
Matahari belum sepenuhnya tenggelam ke dalam laut, cahayanya yang berwarna jingga masih menghiasi mayapada. Namun saat itu, hiruk-pikuk serta kegaduhan di Pulau Seribu Pandan telah mereda dengan kemenangan diraih pihak Elang Putih.
Meraih kemenangan, harusnya kegembiraan menyelimuti hati. Tapi bukan itu yang terjadi, justru wajah mereka menjadi murung. Terutama Suhita. Sampai akhir pertempuran, dia tidak berhasil menemukan keberadaan Danur Cakra.
Mahesa yang sejak tadi hanya diam seribu bahasa, akhirnya angkat bicara. Tentu saja dia tidak tega melihat putri kesayangannya larut dalam duka. Akan tetapi, Mahesa juga belum miliki cara untuk menjelaskan supaya anak dan istrinya bisa menerima dengan lapang dada.
"Ayah, Hita tahu Ayah mengetahui sesuatu ... Hita mohon, beritahu Hita ..." pinta Suhita dengan memelas.
Mahesa melirik ke arah Puspita yang duduk terkulai. Bisa dirasakan jika ada goresan luka yang teramat dalam menusuk hatinya.
Ibu mana yang akan rela mendapati anak yang pernah dikandungnya selama sembilan bulan tertimpa bencana? Puspita menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi. Karma yang ditanggung oleh anak-anaknya adalah buah kesalahannya di masa lalu.
__ADS_1
"Ayah ... Ayo katakan ..." rengek Suhita.
Mahesa menghela napas panjang, sebelum kemudian mengangguk, "baiklah ... lagi pula kau berhak untuk tahu ..."
Namun sebelum Mahesa melanjutkan bicaranya, satu dentuman terdengar dari arah langit. Bersama dengan itu, satu sosok tubuh jatuh meluncur menghantam tanah. Bhadrika Djani tersungkur tidak bernyawa.
Tidak lama berselang, muncul seekor naga raksasa berwarna hitam pekat. Hanya matanya yang menyala merah. Naga itu turun dan mendarat di tengah-tengah mereka.
Suhita terbelalak, ketika sang naga hitam memberikan sesuatu padanya. Separuh sumberdaya Mutiara Hati, yang pernah ia bagi menjadi dua. Suhita sadar akan sosok naga hitam tersebut.
Tanpa terasa air mata mengalir membasahi kedua pipi Suhita. Dia menangis sesenggukan dalam pelukan Ibunya. Mengapa takdir terasa begitu tidak adil?
Tanpa penjelasan dari siapa pun, mereka tahu jika Naga hitam yang berdiri di hadapan mereka ialah perwujudan Danur Cakra. Buah atas apa yang Cakra pelajari selama ini. Dia benar-benar menjelma menjadi sosok siluman naga.
Apa yang direncanakan oleh Bhadrika Djani benar terwujud. Bhadrika Djani dibantu oleh Kujang Kembar mengorbankan diri mereka untuk melepas kekuatan pamungkas mereka, membangkitkan naga hitam di dalam alam evolusi Cakra hingga tidak terbendung dan pada akhirnya menguasai tubuh manusia yang Cakra miliki.
Meskipun harus celaka, rasanya sebanding sudah pengorbanan yang Bhadrika Djani lakukan. Penantiannya selama puluhan tahun untuk membalas dendam tuntas tercurah pada hari ini. Dia berhasil menggores luka yang dalam di setiap relung hati keluarga besar Raditya.
Perlahan, wujud naga hitam raksasa menciut untuk kemudian menghilang dan menampakkan wajah manusia yang tidak lain ialah Danur Cakra Prabaskara.
Sebelum Danur Cakra terjebak oleh kekuatan pengorbanan jiwa yang Bhadrika Djani lakukan, Putri Foniks telah memberitahu. Sehingga Danur Cakra masih sempat untuk mengeluarkan separuh mutiara hati dari dalam tubuhnya untuk diberikannya pada Suhita. Selain itu juga, Putri Foniks memberikan satu kemampuan untuk Danur Cakra sesekali bisa kembali berubah wujud menjadi manusia. Ya, meskipun saat ini sepenuhnya Cakra telah menjadi siluman naga.
"Dengan cincin ini, kau bisa memanggilku kapan saja. Karena aku akan selalu ada untukmu, berada di sisimu dan melindungimu. Setelah aku tiada, kaulah yang memikul tanggung jawab keluarga. Aku titip ibu," dengan satu senyum hangat, Danur Cakra mengucapkan kata perpisahan pada sang adik.
Sebuah cincin mutiara indah berwarna putih melingkar di jari Suhita. Cincin itu sebagai wujud persaudaraan mereka yang abadi. Menjadi cara untuk Danur Cakra selalu berada di sisi adiknya, menjaganya sepanjang waktu. Meski setiap saat selalu bertengkar, tapi lihatlah cara seorang kakak menyayangi adiknya.
_______________
__ADS_1
SELESAI
_______________