
Suhita dan Kencana Sari kembali melintasi pertigaan jalan. Kuda berbulu cokelat yang mereka tunggangi sangat gagah dan juga berenergi. Kuda yang baru Suhita beli dari peternakan terbaik itu akan membuat perjalanan Suhita akan semakin cepat.
Di belakang mereka, tidak nampak seorang pun yang coba untuk menyusul. Para pendekar yang semula berniat untuk berbuat tidak senonoh, dibuat diam tidak bergerak. Tanpa basa-basi, Suhita membuat tubuh mereka seketika membeku terbalut oleh kristal es yang amat tebal.
Karuan saja Suhita berhasil menaklukkan lawannya tanpa perlawanan karena tidak seorang pun dari mereka dalam keadaan siap. Dalam penglihatan para pendekar itu, jika Suhita maupun Kencana Sari hanyalah gadis biasa, meski dibekali kemampuan tentu sekadar kepandaian beladiri semata. Pasti tidak terduga kalau di dalam diri gadis belia itu menyimpan olah kanuragan yang amat langka, kemampuan tenaga dalam Sepuluh Tapak Penakluk Naga. Hingga mereka semua menjadi lengah, dan saat itu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Suhita untuk melepaskan serangan dadakan.
Sekuat apa pun mereka coba untuk berontak, setinggi apa pun kemampuan tenaga dalam yang dimiliki, semua tidak berfungsi sebelum balutan kristal es hilang dari tubuh mereka. Dan satu-satunya cara gratis untuk bisa lepas dari balutan kristal es ialah dengan mengandalkan bantuan cahaya matahari yang akan mencairkan kristal es sedikit demi sedikit. Jelas, waktu yang diperlukan sangatlah lama. Bahkan sampai seharian penuh.
Memang, kekuatan tenaga dalam Tapak Penakluk Naga yang Suhita lepaskan tidak akan membuat nyawa para pendekar terancam, akan tetapi dengan berlalunya waktu selama berjam-jam tentunya mereka akan kehilangan arah, tidak mungkin bisa mengetahui ke mana Suhita dan Kencana Sari pergi. Dan memang itulah yang Suhita inginkan. Menyelesaikan masalah tanpa masalah.
Beruntung, siang itu matahari begitu panas menyengat. Seiring debu yang menghapus setiap derap kuda yang lalu lalang melintas, perlahan kristal es yang membungkus tubuh para pendekar tadi mulai mencair. Dan pada saat yang bersamaan, Suhita sudah berada di tepi barat Kota Bukit Hijau. Jarak yang puluhan mil jauhnya.
"Sari, kita cari penginapan. Beberapa waktu kita harus mengistirahatkan badan. Lagi pula, kita butuh beberapa ramuan yang aku rasa akan sangat diperlukan nanti," ucap Suhita.
"Baik!" Kencana Sari menjawab.
Dengan sigap, Kencana Sari segera mencari kamar yang tepat untuk mereka tempati. Setelah menemui pemilik penginapan, akhirnya mereka beristirahat sore itu. Di penginapan yang sangat besar, yang dilengkapi tempat bermain dan juga kedai besar.
Suhita menyewa dua buah kamar yang saling terhubung, yang memiliki akses tanpa harus lebih dulu keluar kamar. Di dalam sana, mereka mempersiapkan beberapa jenis ramuan. Tidak hanya ramuan obat, tapi juga Suhita meracik serbuk racun. Beberapa jenis racun yang tidak tahu akan digunakan untuk kepentingan apa. Bahkan Kencana Sari sama sekali buta atas apa yang Suhita buat saat itu.
__ADS_1
Suhita tersenyum, dia bisa mengerti bagaimana bingungnya Kencana Sari. Ya, meskipun gadis itu hanya diam tapi pasti dalam hatinya menyimpan berjuta pertanyaan yang tidak bisa diungkapkan.
"Satu hal yang sampai sekarang kau tidak tahu, aku bahkan telah lebih dulu mencapai tahap sempurna dalam kemampuan racun. Barulah setelah itu sedikit demi sedikit mencapai tahap tertinggi ilmu pengobatan. Saat aku bisa obati segala jenis racun, dikarenakan pemahaman tentang racun yang berada di luar kepalaku," ucap Suhita yang membuat Kencana Sari setengah tidak percaya mendengarnya.
Suhita memang tidak menjelaskan bahwa pemahaman tentang racun yang ia dapatkan dari catatan yang ditulis oleh ibunya. Racun waktu, hingga Racun Pelebur Raga yang merupakan kemampuan Kencana Wungu yang tidak dikuasai oleh siapa pun juga di muka bumi ini. Hanya Kencana Wungu seorang, yang kemudian merubah nama menjadi Cahaya Langit. Sebelum meninggal dan kembali menjadi sosok Puspita Dewi yang lemah. (Pendekar Elang Putih 1).
Sangat tepat! Suhita memang sudah mengetahui segala hal mengenai ibunya. Catatan kelam di masa lalu yang Suhita anggap telah tutup buku. Bagaimana yang Suhita lihat sejak dia masih bayi merah, sampai kemudian Hita tumbuh menjadi remaja. Di mata Suhita, Puspita Dewi adalah sosok ibu yang tiada duanya. Setiap orang punya hak untuk hari esok yang lebih baik.
"Aku tidak bermaksud membuatmu sedih atau menganggap dunia tidak adil padamu. Namun kau tahu, bagiku keluarga adalah hal yang paling utama. Aku mengerti, kau tidak rasakan bagaimana saat anggota keluargamu dalam ancaman bahaya. Tapi hatimu pasti akan ikut terluka jika saja kau anggap aku sebagai saudara."
Mata Kencana Sari berkaca-kaca, seperti yang Suhita katakan, sejak terlahir Sari memang tidak mengetahui dari mana asal-usul dirinya hingga ada di dunia. Dia dipelihara oleh padepokan kecil yang rata-rata anak di sana merupakan anak manusia yang kurang beruntung. Hingga kemudian Sari bertemu dengan Suhita dan terus mengikuti Suhita hingga saat ini. Kencana Sari telah menganggap Suhita sebagai seorang yang paling berharga dalam hidupnya, selain sebagai majikan, Suhita dalam hidup Kencana Sari merangkap sebagai sosok kakak, adik, bahkan ibu. Dan tentunya Kencana Sari akan rela untuk mengorbankan dirinya untuk Suhita.
Kencana Sari segera berbenah, sementara Suhita membersihkan diri. Mereka harus istirahat, memulihkan kondisi untuk bersiap segala macam kemungkinan yang akan ditemui pada hari esok.
°°°
Bicara pertumpahan darah, tentu tidak jauh-jauh dari Danur Cakra. Perjalanan Pendekar Naga Kresna tidak pernah luput dari masalah. Bahkan saat dunia baik-baik saja, justru Naga Hitam datang menjadi biangnya. Tidak sekadar mudah marah, tapi lebih dari itu. Bahkan lebih pada mudahnya mencabut nyawa seseorang.
Seperti saat itu, Danur Cakra tiba di desa terakhir di tepi hutan. Desa yang semula baik-baik saja, tanpa adanya masalah dan keributan yang menghiasi.
__ADS_1
Namanya desa Randu Batu, berbatasan dengan hutan lebat yang juga di seberang hutan sana merupakan wilayah Bukit Hijau.
Sebagai sebuah desa terpencil yang bukan merupakan jalan lintas antar kota, sudah tidak heran lagi jika para penduduknya memiliki cara pandang yang berbeda dengan wilayah perkotaan.
Desa Randu Watu, dipimpin oleh seorang kepala desa yang berusia hampir satu abad. Sudah berpuluh tahun dia menjabat dan menggunakan pengaruh dan uang untuk membuat rakyat tetap menuruti apa yang menjadi keputusannya.
Seorang dukun dipercaya untuk mendampingi kepala desa, menjadi penasihat yang juga dapatkan jatah tanah yang cukup luas.
Miliki seorang kepala desa yang tidak lagi diusia produktif, juga seorang dukun yang selalu mendahulukan kepentingan pribadi. Sudah barang pasti kehidupan di desa Randu Watu jauh dari kata adil. Siapa pun yang miliki kedekatan khusus dengan mereka yang berseragam, akan mudah untuk peroleh pekerjaan yang layak.
Tangan Danur Cakra terangkat, seketika pintu rumah kediaman dukun kondang di desa Randu Watu hancur berkeping.
BRAAAK !!!
Suara itu memancing anak buah sang dukun berlarian mencari tahu.
"Pengacau !!!" teriak seorang pengawal.
Tidak butuh waktu lama, Danur Cakra telah dikepung oleh belasan pengawal.
__ADS_1