
"Cakra, bangun Cakra ... huu ... huuuu ..." Kemuning menangis terisak.
Tidak peduli akan bau amis yang menyengat, Kemuning menangis seraya memeluk erat tubuh Danur Cakra. Dia terlihat begitu syok menghadapi apa yang terjadi. Tentu saja Kemuning menyalahkan dirinya atas hal buruk yang menimpa Danur Cakra. Sungguh dia tidak menyangka kalau Cakra akan meninggalkan dirinya secepat ini.
"Akhhh ... uhuukkk ... uhuukkk ..." Danur Cakra mengeluarkan suara lemah.
Kemuning terdiam, dengan segera dia menghapus air matanya. Memusatkan pendengaran untuk memastikan jika suara yang baru saja dia dengar keluar dari mulut Danur Cakra. Ataukah dia hanya terhanyut dalam khayalan belaka?
"Ca ... Cakra?! Kau bangunlah, jangan tinggalkan aku sendirian," desis Kemuning.
Danur Cakra membuka matanya, dia bisa mendengar suara Kemuning yang menangis di sisinya. Memangnya ada apa?! Danur Cakra memang tidak celaka, setelah berkunjung ke alam evolusi dan menyaksikan Naga Kecil miliknya berhasil melewati gerbang pertama, Cakra ketiduran karena terlalu lelah. Terlalu banyak energi yang Danur Cakra keluarkan saat menghadapi Piton Jantan. Beruntung Danur Cakra yang keluar sebagai pemenang.
"Heh, mengapa kau menangis?!" Danur Cakra bertanya.
Kemuning terperangah, kali ini sangat nyata jika memang benar Danur Cakra yang berbicara. Bukannya reda, justru tangis Kemuning semakin meledak.
"Ja-jadi kau, kau masih hidup?!"
"Sialan! Kau menyumpahi aku mati?! Aku lelah, mau tidur!" jawab Danur Cakra dengan nada jengkel.
Antara rasa senang, kesal dan beberapa rasa lain yang serentak muncul bergemuruh dalam dada Kemuning. Dia tidak sedang main-main, merasa sangat kehilangan karena mengira Danur Cakra benar-benar celaka. Tapi ... justru Danur Cakra menanggapi seolah hanya gurauan semata. Jika tidak ingat yang baru terjadi, ingin rasanya Kemuning mengumpat saking kesalnya.
Kemuning menatap wajah Danur Cakra dengan dalam, dia mengelap bercak darah piton yang masih menempel. Betapa besarnya pengorbanan yang telah Cakra lakukan untuk dirinya, Kemuning bahkan tidak tahu semua yang Cakra lakukan atas dasar apa. Apa mungkin Danur Cakra membalas cintanya? Tapi ... Kemuning tahu kalau Cakra sudah memiliki kekasih. Lantas untuk apa Cakra mendekati dirinya?
"Tidak, tidak. Aku tidak boleh terlalu percaya diri. Walau bagaimanapun juga aku harus mengingat budi, nyawaku ini atas pemberian Tabib Dewa. Dan apakah aku masih pantas disebut sebagai manusia jika secara terang-terangan menikung orang yang sudah menyelamatkan nyawaku?!" Kemuning sangat galau.
Waktu berlalu dengan begitu cepat, tapi kabar yang berhembus bahkan jauh lebih cepat dari deru angin. Danur Cakra tidak bisa lebih lama lagi untuk istirahat di sana, dia harus segera pergi karena begitu banyak para pendekar yang datang mendekat ke tempat tewasnya dua piton penghuni hutan. Ada yang memang percaya dan kedatangan mereka tentunya dengan tujuan, tapi tidak sedikit dari mereka yang datang hanya sekadar untuk membuktikan kebenaran cerita. Nyata atau hanya isapan jempol semata.
Akan tetapi terlepas dari alasan kedatangan para pendekar tersebut, bagi Danur Cakra semuanya bukanlah hal yang bagus. Lebih parahnya lagi, jika para pendekar itu berusaha untuk memiliki daging piton yang sempat Danur Cakra ambil. Masalahnya akan semakin rumit.
"Kita akan ke mana?" tanya Kemuning.
"Sudah, jangan banyak tanya. Yang penting kita segera pergi dari tempat ini. Aku butuh sungai untuk membersihkan darah sialan ini." Danur Cakra diikuti Kemuning terus berjalan membelah hutan yang lebat. Mereka langsung melanjutkan perjalanan menuju Soka Jajar.
°°°
Jika berpikir rembulan menghilang dari pandangan karena dia mulai merasa bosan, mungkin itu ialah pemikiran yang salah. Kendati tak terlihat, percayalah tidak sekali pun rembulan berpaling meninggalkan bumi. Dia hanya menghilang untuk kemudian datang dengan senyuman indah.
Dengan berharap pada manusia, percayalah kalau hanya kecewa yang didapat. Meskipun demikian, nyatanya manusia yang menjadi sandaran ketika lelah, juga tempat berpegang di saat goyah.
__ADS_1
"Jika bukan demi dirimu, mana mungkin sawah yang hanya satu petak sampai terjual. Tapi mengapa, Tuhan tidak juga memberi jalan untuk kesembuhanmu? Kurang apa lagi usaha yang telah dilakukan? Apakah di kehidupan sebelumnya aku begitu jahat, hingga karma pun datang sekarang?!"
"Pak, sudahlah. Kau ini bicara apa? Malu di dengar tetangga," seorang wanita paruh baya datang menghampiri suaminya yang sedang mengomel, mengumpat tidak karuan. Namanya Bu Mayang. Sementara sang suami bernama Murdoko.
Pasangan paruh baya itu baru saja tertimpa musibah. Setelah beberapa tahun lamanya buah hati mereka jatuh sakit dan tak kunjung sembuh, seminggu yang lalu Pak Murdoko bertemu seorang ahli pengobatan yang meminta sejumlah uang sebagai mahar pengobatan. Sehingga si bapak harus menjual sawah yang merupakan satu-satunya lahan garapan mereka, sumber penghasilan yang menghidupi keluarga selama ini.
Dengan alasan untuk mengambil sumberdaya, ahli pengobatan itu keluar desa. Dan hingga sekarang dia tidak kunjung menampakkan batang hidungnya lagi. Bukan keluarga Pak Murdoko saja yang tertipu, tapi juga banyak warga lainnya yang mengalami hal yang sama.
"Jangan menyalahkan anak kita, dia sudah cukup menderita ... aku yakin, siapa orangnya yang ingin sakit berkepanjangan. Sebagai orang tua, kita sudah melakukan yang terbaik. Mengenai Tabib itu ... ya, sudahlah. Memang kita yang ceroboh."
"Ceroboh?! Jadi kau juga menyalahkan aku?!" Pak Murdoko melotot mendengar ucapan istrinya yang coba menenangkan.
Bu Mayang hanya bisa menghela napas mendapati ucapan keras sang suami. Dia tidak menyalahkan siapa-siapa, karena pada dasarnya Bu Mayang pun salah karena menyetujui bahkan ikut menawarkan untuk menjual sawahnya.
Cek-cok, adu mulut bisa dihindari karena Bu Mayang tidak menyambut kobaran api dengan percikan minyak. Mengalah bukan berarti kalah, justru Bu Mayang sesungguhnya seorang pemenang. Karena dia berhasil menundukkan rasa angkuh di dalam hatinya.
Pak Murdoko masih ngedumel, bergumam panjang pendek meskipun suaranya tidak terdengar oleh siapa-siapa. Dia baru berhenti ketika ada suara seseorang memanggil.
Pak Murdoko dan Bu Mayang serentak bangkit. Rumah kayu mereka bertiang tinggi, sehingga jika ada tamu tentunya tidak langsung terlihat kecuali jika mereka sedang berada di beranda pondok.
Terlihat seorang wanita berusia sangat muda berdiri di dekat tangga kayu. Dia yang memanggil, berucap salam permisi untuk meminta seteguk air. Gadis anggun berambut hitam panjang itu tersenyum, memperlihatkan gigi-giginya yang putih tersusun rata, menambah keindahan senyumnya dengan lesung pipi yang terukir di sebelah kanan. Membuat siapa pun pasti berkeinginan untuk mencubit pipi nan mulus tersebut.
"Ah, cay ayu. Ayo silahkan mampir ke pondok reot kami ini," dengan sapa ramah tanpa di buat-buat, Bu Mayang mempersilakan gadis cantik itu.
"Ah, jangan sungkan. Ibu banyak sekali memasak air. Nanti, cak ayu bisa bawa untuk bekal perjalanan," Bu Mayang segera mengeluarkan kendi berisi air bersih. Tidak ketinggalan beberapa kerat singkong rebus ikut tersaji.
Kebetulan Suhita datang untuk mendapatkan sumberdaya yang diketahui ada di bukit belakang desa. Tidak disangka, ternyata desa yang kaya akan sumberdaya berharga justru mengalami kesulitan ekonomi. Dikarenakan buta dalam ketidak tahuan, membuat warga desa membiarkan orang-orang menggondol sumberdaya yang ada di depan mata tanpa mereka peroleh apa pun.
"Ada seorang teman saya, dia coba melihat ke ujung sana untuk mencari kedai. Mungkin sebentar lagi dia akan datang," ucap Suhita setelah meneguk beberapa gelas air.
Benar saja, belum juga kering bibir Suhita berucap, orang yang di maksud sudah datang. Kencana Sari muncul dengan tangan hampa, dan memang benar tidak ada satu kedai pun di desa itu.
Setelah berbasa-basi dan menikmati singkong rebus yang disuguhkan, Suhita berniat untuk permisi dan melanjutkan perjalanan. Akan tetapi, telinga Suhita menangkap suara seorang wanita merintih kesakitan. Itu artinya, bukan hanya sepasang suami-isteri paruh baya yang tinggal di pondok tersebut.
Sejak tadi, Pak Murdoko hanya diam seribu bahasa. Dia berusaha menekan, menyembunyikan rasa kesal karena kedatangan tamu. Namun ekspresi wajah Pak Murdoko seketika berubah ketika dia mendengar suara rintihan anaknya.
Suhita dan Kencana Sari saling bertukar pandang. Mungkin panggilan hati Suhita hingga memilih pondok Pak Murdoko sebagai tempatnya singgah. Kiranya ada sesuatu yang harus dia lakukan di sana.
Mungkin, di desa itu tidak ada seorang pun yang mengenali Suhita sebagai seorang tabib. Tapi hal itu tentunya tidak mengubah apa pun. Kemampuan Suhita tidak serta merta hilang hanya karena namanya tidak bersinar, karena menolong orang lain tidak harus menerima pujian apa lagi menjadikan bayaran sebagai patokan.
__ADS_1
"Em, Pak. Sedang musim panen apa sekarang?" tanya Suhita coba memulai obrolan dengan Pak Murdoko.
"Ladangnya saja di jual, mau panen apa?! Akhir-akhir ini bapak sedang di timpa sial. Sial bertubi-tubi ..." Pak Murdoko langsung tancap gas, menceritakan keluh kesahnya. Tidak peduli pada siapa dia sedang berhadapan, yang terpenting ialah menyampaikan pada lawan bicara jika dia tidak beruntung. Mungkin bagi orang-orang seperti Pak Murdoko, mengeluh adalah salah satu cara untuk berharap pertolongan Tuhan datang lewat rasa belas kasih orang yang mendengar.
Stress akibat pikiran yang begitu kalut, membuat Pak Murdoko jadi gelap mata. Dia merasa dunia begitu tidak adil baginya. Sejak kecil hingga berumah tangga, bahkan sampai di usia yang hampir renta, kesulitan ekonomi terus menjadi momok mengerikan yang terus membayangi keluarga mereka.
Suhita menghela napas, dia tidak berkomentar apalagi menyela pembicaraan Pak Murdoko. Biar saja pria paruh baya itu mencurahkan segala keluh kesahnya sampai tuntas. Bahkan Bu Mayang yang coba untuk bicara pun Suhita larang. Ya, Suhita memang seorang pendengar yang baik. Dia sudah terbiasa menghadapi betapa keras kepalanya seorang pria. Bahkan Suhita sanggup menghadapi Danur Cakra yang ugal-ugalan bukan sekadar ucapan saja.
"Pak, begini saja. Bagaiman jika bapak bekerja untuk saya. Bukan hanya bapak, tapi jika ada beberapa teman bapak mungkin bisa diajak. Saya akan bayar dengan jumlah yang pantas," ucap Suhita tawarkan solusi.
Pak Murdoko menatap Suhita penuh keraguan. Terus terang dia tidak percaya pada perkataan Suhita. Baru saja mereka terpedaya oleh orang-orang kota yang tidak bertanggung jawab. Sekarang Suhita datang dengan iming-iming uang, mana mungkin gadis muda seusai Suhita sanggup membayar beberapa orang sekaligus, seperti perkataannya. Tentu saja Pak Murdoko menolak tawaran Suhita.
Suhita mengabaikan penolakan Pak Murdoko. Hita sangat yakin, mereka ragu karena tidak ingin tertipu untuk kedua kalinya. Masuk akal, karena manusia normal pasti melakukan hal yang serupa.
Setelah berbincang cukup alot, akhirnya Suhita diperbolehkan untuk melihat kondisi anak Pak Murdoko.
Anehnya, ketika Suhita datang justru kondisi anak Pak Murdoko membaik. Mirna Wati namanya. Nama yang cantik seperti wajahnya. Jika dia sehat, pasti banyak pria yang ingin mempersunting Mirna, meskipun dia berasal dari keluarga miskin.
"Hai, apa kau bisa mendengarku? Jika iya, maka kau cukup kedipkan matamu dua kali. Tapi jika tidak, tentu tidak perlu berkedip," ucap Suhita seraya tersenyum manis.
Mirna coba balas tersenyum, matanya berkedip dua kali sebagai tanda dia merespon perkataan Suhita. Tentu saja apa yang terjadi pada Mirna membuat Pak Murdoko dan Bu Mayang tidak bisa bicara lagi. Mereka senang, paling tidak untuk sementara waktu tidak mendengar rintihan pilu dari mulut Mirna.
Suhita mengibaskan tangannya, seketika di atas meja muncul beberapa peralatan yang biasa digunakan untuk pengobatan. Ya, tanpa seorang pun meminta, Suhita dengan ikhlas hati pasti akan melakukan yang terbaik untuk membuat orang kembali sehat. Dan memang seharusnya seorang tabib memiliki cara pandang demikian.
Hanya dengan sebutir pil, sudah cukup untuk membuat Mirna tertidur pulas. Hal yang hampir tidak pernah terjadi selama beberapa bulan terakhir. Tubuh Mirna menjadi kurus kering karena sedikit makan dan kurang tidur. Hari demi hari dia didera kesakitan.
"Sari, kita lanjutkan perjalanan. Nanti saat pulang, kita akan kembali ke sini," ucap Suhita.
"Baik!" Kencana Sari mengangguk, dia memberi beberapa ramuan pada Bu Mayang dan petunjuk penggunaanya. Selama mereka pergi, tentunya Mirna harus dirawat.
Dengan tatap penuh kebingungan, Bu Mayang hanya bisa meng-iyakan setiap kali perkataan Kencana Sari. Apa mungkin, kedua gadis ini adalah bidadari utusan surga?
Suhita belum sampai di ujung desa ketika Pak Murdoko dan beberapa orang petani yang lain menyusul. Mereka menyampaikan kalau bersedia untuk bekerja pada Suhita.
Suhita memberi satu kantong uang perak, dia meminta para petani tersebut untuk membuat satu gubuk lengkap dengan beberapa tempat tidur. Suhita juga meminta mereka untuk mengumpulkan gadis desa yang menganggur untuk nanti Suhita ajari cara meramu obat.
Suhita dan Kencana Sari melanjutkan perjalanan. Tidak peduli pada para petani yang semakin kebingungan. Biar saja, yang terpenting modal yang Hita berikan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan.
"Hita, apa mungkin di tempat seperti ini tumbuh sumberdaya yang kita cari? Lihatlah ..." Kencana Sari menunjuk, ketika mereka tiba di puncak bukit. Bebatuan terjal, medan yang cukup sulit, tidak terlihat tanda-tanda bukit itu menyimpan sumberdaya langka.
__ADS_1
"Coba kau perhatikan bebatuan berlumut itu, menurutmu sudah berapa kali ada orang yang menginjaknya?" tanya Suhita.
Kencana Sari memuji kejelian mata Suhita. Bukan hanya mereka yang datang ke bukit itu. Sudah ada beberapa orang yang lebih dulu mendaki. Nampaknya mereka memiliki tujuan yang sama, untuk mendapatkan sumberdaya.