Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Alam Dedemit


__ADS_3

Tolooong !!! Toloonggg !!!


Berkali-kali terdengar suara teriakan seorang wanita tua dari balik semak belukar. Sayup-sayup angin menyebarkan suara itu hingga tertangkap oleh telinga.


"Kau dengar itu?"


"Ya, sepertinya suara itu berasal dari sana."


Dua orang gadis muda nan manis segera turun dari punggung kuda masing-masing. Langkah mereka terayun buru-buru mendekat ke arah suara.


Tidak lain, kedua anak gadis itu ialah Suhita dan pelayannya si Kencana Sari. Mereka terburu-buru menolong wanita tua yang dipatuk ular berbisa. Tentu bukan hal yang sulit bagi Suhita untuk atasi bisa ganas dari seekor ular. Hanya butuh beberapa saat hingga nyawa sang nenek bisa diselamatkan.


Setelah berulang kali berucap terima kasih, nenek tersebut menceritakan bagaimana keadaan keluarganya yang secara mendadak diserang oleh binatang berbisa. Entah itu ular, kelabang, kalajengking dan masih banyak lainnya.


Kencana Sari menoleh pada Suhita, menatap Suhita dengan tajam. Bisa ditebak jika Suhita pasti akan mengabaikan tujuan perjalanan mereka dan mendahulukan kepentingan orang lain.


"Ini tidak benar! Aku merasa jika nenek tua ini hanya bersandiwara," batin Kencana Sari. Dia menangkap beberapa hal janggal dari gerak-gerik si nenek, tapi apakah mungkin Suhita tidak menyadari hal tersebut?! Jelas ini tidak masuk akal.


"Hita ..." Kencana Sari coba untuk mengingatkan Suhita ketika si nenek tua mulai mengayun langkah, untuk membawa Suhita ke tempat yang dia sebut tengah diserang oleh binatang berbisa.


Suhita tersenyum, kemudian menggeleng lemah seraya menepuk pundak Kencana Sari. Mereka akan tetap membantu si nenek apa pun yang menjadi alasannya.


Seperti biasa, pada akhirnya Kencana Sari hanya bisa menganggukkan kepala, mengikuti apa yang menjadi keputusan Suhita. Keduanya berjalan mengikuti nenek tua, yang jelas-jelas membawa keduanya ke arah yang berlawanan dengan tujuan perjalanan Suhita. Mereka dipaksa untuk menjauh dari jalan utama yang terhubung dengan pelabuhan menuju Pulau Seribu Pandan.


°°°


Huuu ... huuu ... huuu ...


Isak tangis terdengar sayup di telinga. Suara yang tertahan untuk terlepas, semakin menabur aroma pilu di hati.


Suhita dan Kencana Sari tiba di sebuah perkampungan, ah tidak. Itu bukan perkampungan, melainkan hanyalah beberapa rumah yang berukuran cukup besar dan menampung belasan nyawa bernaung di bawahnya. Talang Tinggal, begitulah si nenek menyebutnya.


"Hita ... rasanya ini tidak seperti tempat tinggal manusia," bisik Kencana Sari lirih.


"Sssttt! Tidak perlu banyak bicara. Baiknya kita lekas periksa keadaan mereka ..." potong Suhita tanpa mau merespon ucapan Kencana Sari.

__ADS_1


Di dalam sebuah rumah yang besar, bersembunyi di dalam gudang belasan orang yang merunduk ketakutan. Sebagian besar dari mereka merupakan anak-anak. Tidak terlihat ada yang menahan sakit akibat bisa ular atau kalajengking seperti yang diceritakan si nenek. Lalu, di mana mereka yang terluka?


Kreeeekkk !!! Si nenek membuka sebuah pintu besar.


Setelah pintu itu terbuka, barulah terdengar suara rintihan mereka yang merasakan kesakitan. Tidak kurang dari sepuluh orang yang sedang sekarat, hampir kehilangan nyawa akibat racun yang sudah menjalar di dalam tubuh mereka. Dan sudah barang tentu banyak yang telah tewas, tanpa sempat tertolong. Sedih.


"Jika kau berkeberatan, baiknya tinggalkan saja aku sendirian di sini. Pergilah! Lagi pula sama sekali aku tidak pernah memintamu untuk terus mengikutiku. Melangkah di mana jalan yang kau suka! Silakan ..." Suhita mempersilakan Kencana Sari untuk pergi.


Sedari tadi, Kencana Sari bersikap tidak seperti biasanya. Dia nampak tidak senang untuk membantu para penduduk yang terkena racun. Terus mempengaruhi Suhita agar secepatnya pergi dari tempat itu, mengabaikan mereka yang merintih dalam sakit.


"Baik! Aku akan pergi. Harusnya sejak lama aku sadar, ada atau tidaknya diriku sama sekali tidak berarti di matamu. Maaf, jika selama ini aku hanya menjadi beban ..." dengan setitik air di sudut matanya, dengan teramat berat hati Kencana Sari melangkah keluar pondok. Gadis itu nampak sangat terpukul setelah mendengar Suhita membentak hingga kemudian mengusirnya.


Tanpa menoleh lagi, Kencana Sari mengayunkan langkahnya sekuat tenaga. Dengan menahan air mata yang terus mengalir, gadis cantik itu berlari kencang menerobos rimbunnya hutan. Dia tidak berhenti dan terus berlari kencang menuju arah utara (arah yang merupakan tujuan perjalanan awal mereka).


Sementara itu, Suhita hanya berdiri terpaku menatap kepergian Kencana Sari. Matanya tidak berkedip, meski angin telah menghapus jejak kepergian sahabatnya.


"Tabib Dewa ... maaf, ini semua karena kami yang tidak tahu diri. Hanya bisa merepotkanmu," si nenek tua membangunkan Suhita dari alam lamunan.


"Ah, tidak. Sama sekali tidak benar. Tindakan yang dilakukan olehnya, hanya menunjukkan kualitas diri yang sesungguhnya. Kalian tidak perlu risaukan itu," Suhita melepaskan senyuman termanis yang dia punya. Menebar aroma indah menghiasi seisi ruangan, membuat orang-orang merasakan kesejukan hati.


Sejenak Suhita terdiam, dia menatap wajah anak kecil itu dengan dalam. Sesuatu tersirat di wajah Suhita. Hingga kemudian Suhita bangkit dan berbalik badan, hendak bicara pada nenek tua yang semula membawanya datang.


Namun ... belum juga sempat tubuh Suhita berbalik dengan sempurna, nenek tua yang semula bertubuh bungkuk, mendadak mampu berdiri dengan tegak. Rambutnya yang putih, panjang tergerai.


Wuuusss ... wuuusss ...


Tongkat kayu berkepala tengkorak mengarah leher Suhita. Si nenek dengan cepat melepaskan serangan berbahaya. Tanpa terduga, kedok mereka terbongkar dengan begitu cepatnya. Tabib Dewa jauh lebih hebat dari yang mereka duga sebelumnya.


Suasana di sekeliling Suhita seketika berubah. Lenyap sudah pondok dan pernak-pernik balai tempat orang-orang berbaring sakit. Dan sekarang mereka yang semula berpura-pura sakit, bergegas bangkit dan menggenggam senjata di tangan masing-masing. Jebakan yang mereka persiapkan tidak berjalan lancar sesuai yang diharapkan.


Suhita tersenyum, memandang berkeliling yang sekarang menunjukkan keadaan sebenarnya. Mereka berada di bawah sebuah pohon beringin raksasa, di antara bebatuan besar yang merupakan tempat berdiam para dedemit. Ada juga sebuah gua yang nampaknya merupakan tempat untuk mereka melakukan persembahan.


Tempat yang tidak begitu menakutkan dalam pandangan mata. Akan tetapi, hal yang amat menakutkan ialah bagaimana untuk bisa keluar dari tempat itu. Suhita tidak tahu caranya. Dia datang dengan dibawa oleh si nenek tua yang merupakan salah satu penghuni alam dedemit. Satu-satunya cara untuk bisa keluar ialah dengan memaksa salah seorang dedemit untuk mau menunjukkan jalan keluar.


"Hahaha! Tidak disangka, ternyata kau lebih cerdas dari yang aku duga. Tabib Dewa, selamat datang di dunia barumu!" dengan lengkingan tawa yang amat keras pimpinan dedemit berkata.

__ADS_1


Nenek tua yang berhasil memperdaya Suhita, sejatinya ialah sang pimpinan dedemit di tempat itu. Dikenal dengan nama Gondo Mani. Mereka mengikat kesepakatan dengan kelompok Raja Iblis untuk mencelakai satu persatu anggota keluarga Raditya.


Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan jika mereka akan bisa diajak bekerjasama, apalah lagi membiarkan Suhita untuk pergi, yang ada hanyalah pancaran aura penuh tatap kebencian, inginkan untuk mengambil nyawa. Atau paling tidak, mereka akan lebih rela dihabisi dari pada harus menunjukkan jalan ke luar.


"Tunggu apa lagi! Anak-anak, kita nikmati makanan terakhir kita kali ini!" teriak Gondo Mani. Menggerakkan para dedemit untuk serentak menyerang Suhita.


Tidak ada pilihan lain, Suhita harus meladeni mereka. Meletakkan statusnya sebagai seorang tabib, melakukan apa yang semestinya harus dilakukan. Karena melindungi diri merupakan hal yang paling utama. Hanya ada dua kemungkinan, jika tidak lawan maka diri yang akan celaka.


Suhita melompat mundur, dia menghindari serangan demi serangan lawan dengan gunakan Jurus Tarian Naga. Namun sepertinya itu tidak akan berlangsung lama, karena jika Suhita tidak lekas menjatuhkan lawannya satu demi satu maka dialah yang akan kehabisan tenaga dan dimangsa oleh para dedemit di tempat itu. Saatnya dia menunjukkan bagaimana digdayanya kemampuan Pukulan Tapak Naga.


°°°


Di tempat lain, Kencana Sari masih terus berlari. Meskipun saat ini dia telah berhasil keluar dari alam dedemit tepat sebelum kekuatan ghaib menutup pintu alam dedemit. Rencana matang telah dijalankan untuk bisa menjebak Suhita di alam yang berbeda. Beruntung Suhita cepat tanggap, dan juga menjalankan strategi.


Sebenarnya, Suhita dan Kencana Sari hanya berpura-pura berbeda pendapat kemudian bertengkar sampai akhirnya Suhita mengusir Sari supaya ada orang yang bisa mengabarkan di mana saat ini Suhita terperangkap.


"Huuuuhhh ... huuuuhhh ... sekarang, apa yang bisa ku perbuat?" Kencana Sari ngos-ngosan, napasnya hampir putus.


Di kejauhan, telah terlihat hamparan air laut yang membiru. Itu artinya, tinggal selangkah lagi Kencana Sari akan tiba di Pulau Seribu Pandan. Tinggal menyeberang saja.


"Apa yang kau lakukan di tempat ini?! Mengapa hanya seorang diri?!"


Kencana Sari terkejut bukan kepalang. Tidak diketahui kapan dan dari mana datangnya, tiba-tiba saja seseorang telah berada begitu dekat di belakangnya. Menandakan tingkat kemampuan yang dimiliki oleh orang itu jauh berada di atas dirinya.


"A-ahhh ..." ekspresi kaget di wajah Kencana Sari segera terhapus kala dia mengenali sosok yang menyapanya.


"Tu-Tuan Pendekar ... suatu anugerah kiranya saya dipertemukan dengan Tuan. Ini berkaitan dengan Tabib Dewa ..." Kencana Sari lekas mendekat.


Entah merupakan suatu kebetulan, atau memang merupakan rencana Tuhan. Danur Cakra yang berhasil mencapai pantai lebih dahulu, memutuskan untuk menunggu adiknya di tempat itu. Karena Cakra sangat yakin jika Suhita belum tiba di sana, karena di sana Danur Cakra sempat menemukan beberapa orang mata-mata utusan Bhadrika Djani. 


Setelah mendengar cerita yang dituturkan oleh Kencana Sari, Danur Cakra bisa menduga ke mana arah yang harus ditempuh untuk bisa menjangkau keberadaan adiknya. Tentu saja, kemampuan siluman Naga Hitam dalam dirinya bisa diandalkan untuk ini.


"Tuan Cakra ... saya ikut!" pinta Kencana Sari.


Tanpa menjawab, Danur Cakra meraih lengan Kencana Sari. Membawanya serta untuk memasuki alam dedemit, bersama menyelamatkan Suhita yang terperangkap.

__ADS_1


__ADS_2