
"Ayah, lepaskan saja mereka. Tidak ada gunanya juga," Suhita menyerah. Nampaknya tidak akan ada hal yang mereka dapatkan dari mulut para pembunuh bayaran itu.
Mahesa mendorong tubuh pimpinan pasukan dengan kasar, membuat tubuh orang itu terlempar dengan keras ke semak belukar. Sementara puluhan tubuh lainnya berserakan tidak tentu arah. Tiada yang celaka, hanya saja diantara mereka tidak ada yang mampu untuk pergi dari tempatnya. Jika bukan sendi dan tulang yang patah, maka syaraf mereka sudah tidak berfungsi sebagai mana mestinya. Derita yang dirasakan lebih menyakitkan dari pada ajal.
Mahesa dan Suhita telah menaiki kuda saat pimpinan kelompok pembunuh bayaran itu kembali bangkit dan menyerang. Kiranya dia tidak menerima pengampunan cuma-cuma yang dihadiahkan.
"Tidak tahu batasan diri!" maki Mahesa seraya mengibaskan tangannya.
Satu cahaya melesat untuk menyambut kedatangan serangan pimpinan pembunuh bayaran. Orang itu masih sempat menyadari bahaya yang mengancam nyawanya, dia menggunakan pedang di tangan untuk coba menghalau serangan pukulan yang Mahesa lepaskan.
Prakk! DESSS! Seketika pedang besar yang digunakan untuk menahan cahaya tersebut hancur berkeping-keping. Pukulan tenaga dalam berikut serpihan pedang serta merta menghantam dada pria bercadar yang malang itu. Hingga tanpa suara, dia menghembuskan napas terakhirnya.
Tanpa peduli pada derita mereka, Mahesa telah menggebrak kudanya meninggalkan Cugung Badas untuk segera melanjutkan perjalanan menuju Giling Wesi. Hanya Suhita yang sempat menoleh ke belakang. Meskipun sia-sia karena hanya gelap yang Suhita dapati. Rintihan serta isak tangis yang tertahan dari mulut-mulut para penjahat malang itu seolah tersamarkan oleh syahdunya nyanyian jangkrik dan burung malam. Beku, tersimpan di dalam perut belantara yang gelap.
"Sayang, apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau mengantuk?" tanya Mahesa di sela perjalanan. Malam itu, mereka lebih banyak saling diam.
"Ah, tidak, tidak, ayah. Hita baik-baik saja. Mungkin, hanya sedikit kelelahan. Setelah nanti kita tiba di Giling Wesi, Hita bisa istirahat dan semuanya selesai," jawab Suhita diiringi gelengan kepala berulang kali.
__ADS_1
Karena memang Suhita tidak mengantuk ataupun dalam bayang ketakutan. Melainkan otak bocah itu masih berusaha mencerna dan menerka apa yang sebenarnya sedang dia hadapi. Atas percobaan pembunuh yang telah beberapa kali Hita temui. Apa alasan mereka melakukannya? Ataukah karena rasa iri hati? Sama sekali Suhita tidak pernah berharap jika dengan kemampuan yang dia miliki justru hanya menambah musuh. Niatnya murni, untuk menolong orang yang membutuhkan titik dan tidak lebih.
"Saat kau tersesat di antara gelombang lautan yang besar. Di mana arah mata angin tidak diketahui. Maka berhentilah dan menengadah langit untuk sejenak. Di sana kau akan temukan bintang timur yang akan menuntun kau mencapai daratan. Meskipun kau tidak percaya, tapi suara hatimu akan mengatakan kebenaran."
Suhita tertegun mendengar penuturan ayahnya. Kiranya Mahesa bisa menduga kegundahan yang sedang menimpanya. Berhenti di tengah jalan, tentu tidak akan pernah membawa kita mencapai tujuan. Karena hanya dengan keyakinan, segala bentuk coba dan uji terasa manis saat dilalui dengan keikhlasan hati.
Kuda yang dipacu, terus memotong jarak, semakin mendekat pada tujuan. Dari kejauhan telah terlihat sayup lampu yang terpasang di halaman para penduduk. Tidak lama lagi, Mahesa akan mencapai sisi timur kota Giling Wesi. Saat fajar menyapa, mereka akan memasuki gerbang kota.
"Kita istirahat dan membersihkan diri di penginapan ini. Perjalanan tidak jauh lagi," Mahesa mengarahkan kudanya menuju sebuah penginapan.
Untuk apa?! Suhita bingung. Mengapa harus ke penginapan besar seperti ini, bukankah banyak tempat yang lebih nyaman dan praktis?! Tapi ya sudahlah. Suhita juga tidak mau berdebat dengan sang ayah.
"Dari arah barat, Tuan. Sama persis seperti arah yang Tuan ambil. Mereka telah memesan kamar dan beristirahat. Mungkin saya bisa membantu untuk Tuan mendapatkan kamar seperti yang diinginkan," jawab seorang bekatik kuda kala Mahesa menanyakan perihal empat ekor kuda yang baru tiba.
"Terima kasih. Tapi aku ingin, kudaku kau mandikan sekarang juga. Pisahkan dari kuda yang lain," Mahesa menjulurkan kepeng emas pada sang bekatik. Tentu saja, semua ucapan Mahesa langsung berubah menjadi kenyataan.
"Ayah, mencurigai mereka? Bagaimana kita bisa cari tahu, ayah?" bisik Suhita.
__ADS_1
"Jawaban itulah yang masih ayah pikirkan. Tapi paling tidak, mungkin kita berkesempatan melihat wajah mereka. Kuda kita, tidak di sini. Mereka tidak mungkin curiga," jawab Mahesa dan langsung menggandeng Suhita menuju restoran di penginapan itu.
Langsung makan? Yang benar saja. Tubuh mereka saja masih lengket karena keringat. Yang ada di benak Suhita, hanyalah mandi dan membuat tubuh kembali segar. Masalah makan, itu adalah hal kedua. Di pesan saja, maka akan sudah datang ke atas meja.
Mahesa tidak banyak bicara. Tapi yang dia lakukan tentu saja seperti yang membayangi pikiran Suhita. Dia menuju restoran hanya untuk memesan makanan. Dan tentunya menghilangkan jejak jika mereka ternyata baru saja datang. Hanya saja, Suhita tidak bisa berpikir sejauh itu. Kiranya apa yang Mahesa lakukan merupakan suatu cara yang biasa digunakan dalam pengembaraan. Seorang pengembara, harus siap dalam kondisi apa pun.
°°°
"Tidak ku sangka. Apa benar, ini semua adalah rencana busuk Tabib Asih Cangkar Kemuning?! Ah, tidak, tidak mungkin dia berbuat demikian. Untuk apa?" Suhita tersentak kaget saat kedua matanya melihat jika salah satu dari orang yang dia lihat merupakan asisten Tabib Asih yang sempat bekerja sama dalam menangani sakitnya Pendekar Tongkat Emas. Tentu saja Suhita masih ingat.
"Ah, tidak. Aku tidak boleh gegabah. Baiknya aku cari tahu saja lebih jauh," ucap Suhita dalam hati.
Suhita akan merahasiakan identitas orang itu pada ayahnya. Setidaknya untuk sementara waktu ini. Sebelum Suhita peroleh jawaban secara pasti. Mungkin juga, hanya kebetulan saja mereka berjumpa di tempat itu. Karena Suhita yakin jika Tabib Asih juga membutuhkan banyak sumberdaya untuk terus merawat Pendekar Tongkat Emas.
Tanpa seizin ayahnya, Suhita keluar kamar dan menyelinap di penginapan besar itu. Dengan bantuan tubuhnya yang masih merupakan seorang anak kecil, tentunya membuat Suhita bisa bergerak bebas tanpa dicurigai. Sudah biasa melihat anak kecil naik-turun tangga dan bermain.
"Hmmm ... inikah kamar mereka?" Suhita mengangkat sebelah alisnya ketika berhasil menemukan kamar yang ditempati oleh asisten Tabib Asih.
__ADS_1
Benar, Kartanta dan tiga orang rekan lainnya menginap di dalam satu kamar. Baru saja mereka keluar, kini kesempatan Suhita untuk menyelinap masuk guna mencari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan bukti.