Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Pengaruh Buruk Buronan Kerajaan


__ADS_3

"Ada yang tidak beres. Aku merasakan luapan kemarahan menyelimuti gua," Danur Cakra menghentikan langkah.


"Maksudmu terjadi pertempuran? Apa mungkin seseorang mengetahui persembunyian kita?" Kemuning nampak cemas.


"Aku rasa tidak. Paling hanya kesalahpahaman semata. Tidak perlu khawatir, ada aku. Aku akan selalu ada untuk menjagamu," sahut Danur Cakra.


"Ini semua terjadi karena aku. Kelompok kami bubar, teman-temanku menderita, semuanya hancur. Dan sekarang aku hanya menjadi beban untukmu. Aku yakin, kau akan berpikir ulang jika tahu yang sebenarnya. Aku ini cuma sosok pembawa sial bagi orang di sekitarku," sedih terdengarnya perkataan Kemuning.


"Jika itu masa lalu, baiknya lupakan saja. Jalan di depan terlalu panjang untuk ditatap. Lagi pula, aku tidak mau tahu," jawab Danur Cakra sok cuek.


Padahal jati diri Kemuning, siapa dia sebenarnya merupakan hal yang paling ingin Cakra ketahui. Tapi santai saja, cepat atau lambat Kemuning pasti menceritakan semuanya. Dengan begitu, tidak nampak kalau Cakra yang sesungguhnya sangat penasaran. Ketika memancing ikan, hal pertama yang dilakukan saat umpan disambar ialah dengan mengulur senar.


"Kau ... iihhh kau ini. Bisa tidak, jangan begitu baik padaku?" mata Kemuning kembali berkaca-kaca, sungguh hatinya mulai tersentuh.


"Aku harap suatu saat nanti kau miliki satu kemampuan yang tidak orang punya, paling tidak bisa menyelam. Agar kau bisa menyelami dasar hatiku," suasana sedang genting, bisa-bisanya Danur Cakra melemparkan kalimat yang membuat Kemuning meleleh. 


Kemuning tersipu malu, dia membuang pandangannya ke arah lain. Apalagi yang diinginkan oleh pemuda ini? Sungguh sikapnya itu membuat sakit kepala.


Danur Cakra merasakan jika ada satu kekuatan besar yang datang menghampiri ke arah mereka, konsentrasinya segera ditingkatkan untuk mengantisipasi segala macam kemungkinan yang paling buruk.


"Cakra, ada apa?" tanya Kemuning lagi. Meskipun sekarang ia tidak miliki kemampuan, tapi Kemuning bisa merasakan jika Danur Cakra telah mengerahkan tenaga dalam membentuk tameng pelindung di sekitar tempat mereka berdiri.


"Berulang kali aku katakan, aku hanya tidak ingin terjadi apa pun padamu. Tenanglah, tidak akan ada yang mampu menyentuh tubuhmu selagi aku masih bernapas."


Tidak seperti biasanya, kali ini Danur Cakra tidak gunakan kekuatan naga hitam. Hingga aura yang dikeluarkan pula tidak terlampau sangar, melainkan aura naga seperti saat kecil dia diajari oleh sang kakek.


"Itu mereka!" teriakan kencang terdengar, seiring dengan berlariannya banyak orang mendekat.


Dengan senjata terhunus, mereka menghampiri. Tidak nampak tatapan persahabatan dari setiap sorot mata. Lebih dari separuh dari mereka merupakan teman-teman dari kelompok sirkus, tapi ada beberapa orang yang tidak Kemuning kenal. Siapa mereka? Kemuning mengernyitkan dahi.


Siapa yang harus dia percaya? Mengapa teman-temannya justru menodongkan senjata padanya? Kemuning merasa lebih aman berada di belakang Danur Cakra. Meskipun dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Tiada angin tiada badai, apakah gerangan sebab yang membuat kalian menyerangku? Bisa jelaskan sekarang, atau ... kalian tidak punya kesempatan untuk itu," Danur Cakra mengangkat sebelah alisnya, tatapannya tertuju pada seorang pendekar paruh baya yang menjadi pimpinan.


"Lepaskan dia! Jangan coba macam-macam!" ancam seorang pendekar.


Danur Cakra mengangkat bahu, tertawa terbahak, mempertanyakan entah juga mengejek perkataan orang itu. Kemudian Cakra menoleh pada Kemuning yang berdiri di belakangnya. Ya, gadis itu telah kembali menutup sebagian besar wajahnya hingga orang-orang tidak bisa melihat kecantikannya.


"Diakah yang kalian maksud? Bahkan aku sama sekali tidak menyentuhnya, harusnya yang patut dicurigai itu kalian. Tiba-tiba datang lalu membuat kekacauan, coba saja jika dari kalian ada yang berani untuk menyentuhnya," Danur Cakra membalas ancaman dengan tantangan.


"Kurang ajar! Ku bun*uh kau!" pendekar tersebut langsung mengayunkan pedangnya. Tanpa basa-basi, yang dia inginkan justru nyawa Danur Cakra.


Plak! Bugh! Justru dua pukulan dia terima bahkan sebelum pedangnya terangkat dengan sempurna.


WUUUSSS !!! Satu hembusan angin yang begitu kuat menerjang barisan orang yang datang. Tidak tanggung-tanggung, Danur Cakra buat mereka melayang hingga sebagian membentur dinding gua.


Hanya tiga orang yang tersisa, mereka merupakan orang-orang yang miliki kekuatan tinggi yang mampu menahan hembusan tenaga dalam Danur Cakra.

__ADS_1


"Cakra, cukup! Bukankah bisa kita bicarakan secara baik-baik?!" Kemuning meraih pundak Danur Cakra, meminta untuk pemuda itu mengurungkan serangan.


Danur Cakra meraih tangan Kemuning, menggenggamnya untuk redam luapan amarah di dalam hatinya. Tanpa sengaja, hal tersebut justru menimbulkan masalah lain. Mereka, teman-teman Kemuning justru semakin naik pitam. Sama sekali tidak rela menyaksikan pertunjukan yang SENGAJA Danur Cakra pertontonkan.


"Cukuuup !!! Hentikan !!! Apa kalian tidak mendengar aku?!" Kemuning berteriak pada teman-temannya yang nampak begitu bern*fsu ingin menghabisi Danur Cakra.


Mendengar ribut-ribut, Ki Wadas dan Jatmiko muncul ke tempat itu. Mereka pula bersama dengan pasukan bersenjata lengkap. Siap tempur.


"Kemuning, kau baik-baik saja?" tanya Ki Wadas.


Kemuning langsung mengangguk, dia juga mempertanyakan atas hal yang sebenarnya terjadi. Mengapa tiba-tiba teman-temannya begitu berambisi untuk mencelakai Danur Cakra. Apa kesalahan yang telah diperbuat?


"Jadi ... ah, bukannya dia coba untuk menculik dirimu?" ujar Ki Wadas.


Kemuning tertawa, kiranya itu yang jadi penyebab. Dia pergi tanpa pamit, bersama Danur Cakra pula. Jadi wajar kalau teman-temannya menduga Kemuning sengaja di culik.


"Pimpinan, juga semuanya ... ini hanya salah paham. Tidak ada yang menculik saya. Merupakan kesalahan saya karena membuat kalian cemas. Cakra tidak salah, justru saya yang meminta dia untuk menemani saya berjalan-jalan sebentar. Maaf ya, saya mohon kalian simpan senjata kalian," Kemuning memohon seraya membungkukkan tubuhnya berulang kali.


°°°


Ki Wadas, Watu Galing dan Gunda Soka, ketiganya duduk bersama seraya menikmati wedang jahe. Obrolan tiga orang tersebut mengarah pada kritik-kritik atas kebijakan kerajaan. Nampaknya, saat ini Ki Wadas sudah mulai sepaham dengan dua saudara seperguruannya.


Lain halnya dengan Jatmiko, dia merupakan orang pertama yang menentang tindakan Ki Wadas. Padahal mereka telah sepakat untuk tidak mencampur adukkan kelompok sirkus dengan kegiatan lain. Tidak banyak kegiatan saja, kelompok sirkus mereka kenyataannya mendapatkan banyak masalah.


"Apa yang harus aku lakukan? Terlebih lagi, Gunda Soka seperti begitu tertarik pada Kemuning. Apa aku minta Cakra untuk bawa pergi Kemuning sekalian? Huuuhhh ... apa pemuda itu bisa dipercaya?!" Jatmiko mengurut keningnya.


Jatmiko bangkit dari duduknya, dia memutuskan untuk menemui Cakra yang ada bersama Tabib Mala. Namun Jatmiko tidak menyadari jika gerak-geriknya diawasi oleh putra sulungnya, Rangga.


"Permisi ... Cakra, apa bisa kita bicara sebentar? Ada hal yang ingin aku sampaikan," ujar Jatmiko.


Tabib Mala menganggukkan kepala, menyetujui untuk Cakra pergi bersama Jatmiko. Namun sebelum Cakra melangkah pergi, tiba-tiba Kemuning muncul dan memanggilnya. Jatmiko dan Cakra hanya bisa saling bertukar pandang, tanpa bisa berkata apa.


"Ah, apa aku mengganggu?" tanya Kemuning.


"Sama sekali tidak. Paman Jatmiko hanya mengajakku untuk menemui teman-temannya di luar. Memangnya ada apa?" jawab Danur Cakra.


"Sepertinya Kemuning begitu mempercayai Cakra. Apa mungkin dia sudah memberi tahu akan jati dirinya? Tapi mengapa tiba-tiba aku ragu? Ah, baiknya aku cari tahu nanti," batin Jatmiko.


Jatmiko memandang punggung keduanya, hingga hilang di balik dinding gua. Dia masih berdiri terpaku, memikirkan banyak hal. Hanya tabib Mala yang melihat semuanya, tapi sang tabib pun memilih untuk tidak mau tahu. Sebentar lagi, tugasnya selesai dan dia akan segera meninggalkan tempat itu. Bekal yang Cakra berikan padanya, akan cukup untuk dia membeli persediaan obat dalam waktu lama.


"Tabib, kau akan segera pergi?" tanya Jatmiko.


Tabib Mala meng-iyakan. Dia juga menolak hadiah yang diberikan Jatmiko. Sudah lebih dari cukup apa yang dia dapatkan dari Danur Cakra. Lagi pula, kelompok Jatmiko tentunya masih akan memerlukan banyak dana untuk terus bertahan. Meskipun anehnya lagi, orang-orang itu sangat betah menjadi buronan dari pada hidup bebas meski hanya hidup sebagai petani biasa.


Tabib Mala melangkah ke luar gua tanpa beban. Semua tugasnya sudah selesai, mereka yang sakit sudah diobati. Kecuali Kemuning, dia merupakan satu-satunya orang yang tidak sanggup untuk diobati. Hanya Tabib Dewa yang punya kemampuan untuk itu. Tapi dengan adanya Danur Cakra, setidaknya akan membuat Kemuning terlihat baik-baik saja.


Ya, Tabib Mala setuju dan menyerahkan Kemuning untuk dibawa pada Tabib Dewa. Karena apa pun yang dia lakukan selama ini, nyatanya tidak membuahkan hasil. Dia yakin jika Danur Cakra akan berhasil membujuk Kemuning untuk mau dibawa berobat pada Tabib Dewa.

__ADS_1


Tabib Mala terus berjalan, langkahnya menyusuri tebing yang licin. Sebenarnya itu bukanlah jalan, karena Jatmiko berusaha untuk tidak membuat jejak menuju tempat persembunyian mereka.


Jleb! Jleb! Jleb! Tiga buah tombak menancap tepat di depan dan di samping Tabib Mala. Untung saja tidak mengenai dirinya. Kalau sampai tertancap salah satu tombak, alamat hidupnya berakhir.


"..." Tabib Mala tercekat.


Dari balik semak belukar, muncul beberapa sosok tubuh manusia. Mereka berseragam lengkap dengan lencana di masing-masing orang. Tidak salah lagi, mereka merupakan prajurit kerajaan yang bertugas untuk mengintai. Anak buah Tumenggung Surotanu.


"Kami tahu kau hanya seorang juru sembuh. Kami pun punya adat dan etika, mana mungkin mencelakai seorang tabib. Tapi jika kau yang memaksa, tentu jangan pernah salahkan kami," ucap seorang prajurit dengan sangar.


Tabib Mala menghela napas berat. Jujur saja dia serba salah. Jika membocorkan keberadaan gua persembunyian, itu sama saja dia mengkhianati Jatmiko yang telah memberikan kepercayaan besar padanya. Akan tetapi, jika dia tetap bersikeras untuk tutup mulut, para prajurit itu tidak akan segan-segan menyiksa bahkan mencelakainya. Tidak ada pilihan yang baik, semuanya menjerumuskan dirinya pada lembah kesengsaraan.


"Mengapa diam?! Ayo cepat jawab!" seorang prajurit menghunus pisau dan menempelkan di pundak Tabib Mala.


"Ya, Tuhan ... bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?!" pekik Tabib Mala dalam hati.


Dinginnya bilah pisau terasa menusuk hingga ke dalam tulang sumsum. Bisa dibayangkan bilamana tajam pisau tersebut memasuki lembutnya kulit dan daging. Dia bukan seorang pendekar yang kebal senjata tajam, sekali gores saja darah pasti mengucur.


"Cepat katakan! Atau justru kau lebih memilih untuk menikmati penderitaan?!" kembali ancaman Tabib Mala dapatkan.


Belum juga Tabib Mala membuka suara, tiga orang prajurit langsung meringkusnya. Tanpa perlawanan, Tabib Mala diikat kemudian digelandang menuju markas. 


Perlakuan para prajurit begitu kasar layaknya memperlakukan seorang pencuri ayam. Mereka melupakan kalau prajurit seperti mereka sangatlah membutuhkan uluran tangan seorang tabib.


"Cepat lepaskan aku! Prajurit, apa kalian lupa, saat kalian terluka maka akulah orang pertama yang kalian cari!" Tabib Mala coba untuk berontak, melepaskan diri dari ikatan.


"Apa menurutmu kami tidak memberi kesempatan? Sudah. Hanya saja, kau lebih membela para pemberontak itu. Dan kau tahu apa hukuman yang pantas untuk seorang pemberontak?! Mati!" bentak seorang prajurit.


BRUUUKKK! Tubuh Tabib Mala didorong dengan kasar, hingga dia terjerembab dengan keras. Kala dia melihat sekeliling, dia telah tiba di pos penjagaan dan bersiap untuk interogasi.


Interogasi yang dimaksudkan bukanlah tanya jawab, melainkan perjalanan dari penyiksaan yang panjang dan pedih. Jika para prajurit itu tidak puas, maka mereka akan terus menyiksa hingga akhirnya tawanan menyerah bahkan sampai pada hembusan napas terakhir. Tidak terbayang bagaimana waktu berlalu begitu mengerikan dalam masa-masa sulit itu. Membuat bulu kuduk Tabib Mala berdiri.


Seorang hulubalang berkumis datang mendekat. Seraya berjalan, dia melepaskan satu cambukan di betis Tabib Mala. Pedih, perih, darah pun mengalir. Ujung cambuk yang berduri telah memberikan satu hadiah untuk sang tabib.


"Hahaha! Kau memang menyukai penderitaan. Kebaikanmu patut mendapat hadiah. Hadiah berupa sumpah serapah dari segenap rakyat, karena kau melindungi para pemberontak."


Selesai bicara, sang hulubalang mengambil sebuah jepitan besi berukuran besar. Dia kembali mendekat, menempelkan jepitan tersebut di leher tabib Mala, bergerak ke bagian wajah dan terus bergerak. Jika Tabib Mala masih tetap diam, maka sudah barang pasti sang hulubalang akan mencabut gigi tabib dengan paksa. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya.


"Ba-baiklah ... akan aku beritahu!" Tabib Mala menyerah. Pedihnya siksaan jauh lebih menakutkan dari yang dia bayangkan. Memang Tabib Mala mengkhianati Jatmiko, tapi di sisi lain tangannya juga masih sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan segenap penduduk di kaki Gunung Songgo Langit dan sekitarnya.


"Bagus! Coba sedari tadi, maka kau tidak perlu masuk ke sini!" hulubalang menjauhkan jepitan besi tersebut dari mulut Tabib Mala.


"Ayo tabib, cepatlah bicara!" hulubalang berjongkok di hadapan Tabib Mala, supaya bisa mendengar dengan jelas segala pengakuannya.


"Hei kau, segera beri kabar pada Gusti Tumenggung," perintah hulubalang pada seorang bawahannya.


Prajurit yang mendapatkan tugas lekas bangkit, berlari kecil menuju kuda yang tertambat di halaman. Sebentar kemudian tubuhnya sudah terguncang di punggung kuda yang berlari dengan kencang. 

__ADS_1


Tumenggung Surotanu berserta pasukan khusus kerajaan yang bertugas di sekitar Gunung Songgo Langit harus segera tahu akan berita baik ini. Sebentar lagi akan terjadi perang besar, tangkapan besar, karena selain kelompok sirkus Ki Wadas, juga bersama mereka tergabung kelompok Watu Galing, Gunda Soka dan anak buahnya, para pemberontak yang dicari-cari kerajaan.


__ADS_2