Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Laporan Tiliksandi


__ADS_3

"Heh, apa-apaan kau di dalam?! Dasar sialan!"


"Owh, kiranya kau masih di sini? Harusnya aku yang tanya, kau berani masuk ke dalam dan membuat gara-gara. Kau beruntung, kali ini aku masih menyimpan banyak rasa sabar!" Danur Cakra mengelus-elus kepalan tangannya.


Raka Jaya menggaruk kepala, dia yakin jika Kemuning telah menceritakan semuanya. Untuk apa juga dia melakukan pembelaan, Raka yakin bila Danur Cakra bisa memahami hal yang sebenarnya. Mana mungkin dengan sengaja Raka Jaya menggoda kekasih saudaranya. Sangat tidak masuk akal.


"Kau ikut aku. Ada hal yang harus kita selidiki," ucap Raka Jaya.


"Hei, nampaknya kau banyak kehilangan kesadaran. Ke mana kita akan pergi, ke penjara kah? Kemudian kau mengunci dari luar, kau pikir aku bodoh?!" Danur Cakra menolak.


Raka Jaya melirik ke kanan dan kiri, memastikan jika tidak ada orang lain yang juga mendengar percakapan mereka. Danur Cakra memang seorang buronan kerajaan, akan tetapi dia juga harus terlibat dalam kasus ini. Karena Raka Jaya yakin jika ada kelompok yang berkaitan dengan Kemuning ikut mengambil peranan.


"Tapi ... apakah Cakra sudah tahu, kalau gadis yang bersamanya itu berasal dari keluarga istana?" batin Raka Jaya. Lalu, bagaimana jika Danur Cakra belum diberi tahu? Sementara Raka Jaya sendiri sudah berjanji untuk merahasiakan semua itu.


"Mengapa diam?! Ada yang mengganjal di dalam hatimu, atau kau sedang persiapkan rencana lain?" Danur Cakra mengangkat sebelah alisnya.


Raka Jaya mengangkat bahu, dia berjalan mendekat lalu kemudian duduk di hadapan Danur Cakra. Tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana, tapi yang jelas dia harus memberi tahu Cakra bahwa serangan yang baru saja terjadi berkaitan dengan Kemuning, bukan Suhita. Dengan begitu, Danur Cakra harus ekstra hati-hati dalam bertindak. Atau jika sedikit saja melakukan kecerobohan, maka semuanya akan berakibat fatal terutama pada dirinya.


"Kau tidak penasaran atas siapa yang coba celakai Kemuning?" tanya Raka Jaya.


"Aku pasti akan menyelidikinya. Tapi jauh lebih penting dari semua itu ialah kesembuhan Kemuning. Dan tentu kau tahu, alasan mengapa aku masih berada di sini," jawab Danur Cakra.


Sangat heran dibuatnya, mengapa Kemuning justru merahasiakan jati dirinya pada Danur Cakra. Sosok yang begitu peduli dan bahkan rela melakukan apa pun demi kebaikannya. Padahal jelas-jelas keputusan itu hanya semakin menancapkan duri yang dalam bila mana nanti Cakra mengetahuinya.


"Baiklah! Mungkin memang sulit, tapi aku akan coba untuk membantu memecahkan kasus ini," Raka Jaya berjanji.


"Apa yang kau ketahui? Aku bisa melihat jika kau menyembunyikan sesuatu. Atau mungkin ada hubungannya antara Kemuning dan perselisihan dalam istana, atau bahkan jangan-jangan kalian yang sengaja menyangkut pautkan semuanya?"


Raka Jaya tidak langsung menjawab. Yang pasti dia tidak punya cukup bukti untuk menjelaskan apa pun. Bila sekadar dugaan tentunya hanya akan membuat masalah semakin meluas. Repot.


Namun demikian, Raka Jaya menegaskan bahwa dirinya akan berbuat semampu mungkin. Meskipun pastinya ada kelompok yang dibentuk oleh kerajaan untuk menangani masalah ini, secara pribadi Raka Jaya akan tetap turun tangan.


"Di dalam air, ikan lebih paham membaca tekanan. Jangan sampai kau melukai diri sendiri, terlebih lagi atas nama Padepokan dan Ayah. Aku percaya, kau tidak sebodoh yang aku duga," Danur Cakra menepuk pundak Raka Jaya.


Menilik beberapa keputusan yang diambil, jelas-jelas yang Raka Jaya lakukan hanyalah tindakan melanggar hukum. Harusnya dia lebih mengutamakan tugas dari pada mengurusi masalah pribadi. Seandainya Raka Jaya kedapatan menyimpang, selain namanya juga tentu nama Padepokan juga keluarga besarnya akan tercoreng. Danur Cakra tidak inginkan hal itu terjadi. Namun untuk menolak bantuan Raka Jaya, dia juga tidak bisa. Percuma saja, karena Raka Jaya pun hampir sama, seperti dirinya juga Suhita. Sama-sama keras kepala. Dia akan melakukan apa pun yang dia anggap benar.


"Jenderal Muda, jaga dirimu baik-baik. Duri kecil yang ada di kaki orang lain, percayakan bahwa mereka bisa mengatasinya. Terima kasih," Danur Cakra membungkuk hormat.


"Cakra ... bila suatu saat kita harus berdiri berhadapan sebagai lawan, meski raja rimba hanya satu, tapi bukan berarti jalan tertutup untuk yang lain. Jaga baik-baik wanitamu, aku yakin masalahnya lebih rumit dari yang terduga."


Raka Jaya menatap ke arah bangunan di mana Kemuning berada, sebelum kemudian dia melangkah pergi. Meninggalkan Danur Cakra sendirian.


°°°

__ADS_1


Di istana bagian barat, di kediaman Panglima Lodaya.


Panglima Lodaya sedang bercakap-cakap dengan seorang petinggi kerajaan yang juga berpangkat Panglima. Mereka merupakan teman sejawat yang juga berada pada pihak Raka Jaya. Panglima Sawan Ireng.


"Yang aku dengar, ada dua orang asing saat ini bersama Tabib Dewa. Apa kau tahu, siapa mereka?" tanya Panglima Sawan Ireng.


"Nampaknya mereka sepasang kekasih. Si wanitanya terluka parah, sementara aku sendiri belum pernah bertatap secara langsung dengan pendekar prianya. Namun, Jenderal Muda mengenali keduanya. Aku rasa lebih dari itu, bahkan mereka juga saling mengenal dengan Tabib Dewa. Hingga aku simpulkan tidak ada masalah," jawab Panglima Lodaya.


Satu hal yang mereka khawatirkan ialah kehadiran penyusup. Bukan rahasia lagi jika selama ini begitu banyak tokoh dunia persilatan yang menyimpan dendam pada Jenderal Muda. Mereka kerap memancing di air keruh, memanfaatkan segala macam situasi dan kondisi.


Sementara berita mengenai serangan mendadak yang dilakukan oleh lima orang penyusup pagi tadi, belum sampai ke telinga mereka. Dan seolah tidak terjadi kekacauan apa-apa, Raka Jaya menutup rapi berita tersebut. Beruntung dia memiliki pengikut yang begitu setia.


Saat dua orang panglima kerajaan utara itu masih mengobrol, dari halaman yang luas berlari seorang prajurit dengan membawa laporan. Prajurit itu memohonkan izin untuk menghadap.


"Silakan ..." Panglima Lodaya mempersilahkan prajurit untuk bicara.


Dari laporan beberapa tiliksandi, mereka menemukan adanya gerak-gerik mencurigakan di sebuah desa di luar kota. Desa Sasak. Desa terpencil yang berada di antara perbukitan terjal. Tidak kurang dari puluhan orang datang dan pergi ke desa itu. Tentu saja merupakan ancaman kala mereka melakukan latihan militer.


"Bagaimana dengan para petugas keamanan di tempat itu? Mereka tidak tahu, pura-pura tidak tahu atau justru memfasilitasi kegiatan tersebut? Siapa yang berada di balik semuanya?" Panglima Lodaya mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus.


"Ampun, Gusti. Berita ini, baru kita yang bisa mengungkapnya. Belum diketahui siapa dalang di balik semuanya, tapi orang-orang kita sedang bergerak untuk menyelidiki lebih jauh."


Panglima Lodaya mengangguk, dia dan Panglima Sawan Ireng yang akan melaporkan kabar ini pada Jenderal Muda. Jika ditemukan kalau aktivitas yang mereka lakukan bermaksud merongrong kewibawaan pemerintah, tentu saja mereka berkewajiban menumpasnya sebelum kelompok itu semakin berkembang.


"Sawan Ireng, aku kira kita tidak bisa menunda berita ini terlalu lama. Jenderal Muda harus segera diberi tahu," ucap Panglima Lodaya.


"Baiklah, segera persiapkan segala sesuatunya. Bila datang perintah, maka kita sudah dalam keadaan siap!"


Panglima Lodaya mengantarkan rekannya hingga depan pintu gerbang. Setelah Panglima Sawan Ireng tidak terlihat, barulah Lodaya memanggil bekatik untuk mempersiapkan kudanya. Dia akan segera pergi ke rumah penginapan. Pasti Jenderal Muda masih di sana.


Panglima Lodaya pernah berinisiatif untuk menggantikan Jenderal Muda sebagai pengawal di rumah penginapan Tabib Dewa, tapi Jenderal Muda menolaknya. Padahal secara kedudukan, sangat tidak pantas seorang Jenderal tertinggi turun tangan layaknya tukang pukul.


Ya, mau apa lagi. Panglima Lodaya bisa menduga alasan di balik keputusan yang Jenderal Muda ambil. Karena mereka juga sama, pernah muda. Kendati tidak berani mengatakan, tapi paling tidak di dalam hati bawahan Raka Jaya bisa menebak mengapa Raka Jaya tidak menugaskan panglima atau tumenggung yang bertugas. Tentu saja alasannya pasti karena Tabib Dewa. Tidak seorang pun yang tahu jika mereka merupakan saudara, perhatian dan perlindungan yang Raka Jaya lakukan, di mata anak buahnya menjadi hubungan antara pria dan wanita. Jenderal Muda berusaha 'caper' cari perhatian supaya bisa terus dekat dengan Tabib Dewa. Tidak ada yang salah dengan semua itu.


Panglima Lodaya memacu kudanya terus menuju rumah penginapan. Mungkin dia akan melewatkan apel pagi di istana, tapi berita ini harus segera dia sampaikan. Jenderal Muda harus segera tahu.


Panglima Lodaya tiba di rumah penginapan. Dia buru-buru turun dari punggung kuda, dengan langkah yang cepat dia memasuki pelataran. Beberapa orang prajurit jaga yang dia temui, tidak seorang pun dari mereka yang mengetahui di mana keberadaan Jenderal Muda.


"Apa mungkin, Jenderal Muda bersama Tabib Dewa?" Panglima Lodaya terlihat ragu-ragu untuk menghampiri bangunan di mana Tabib Dewa berada.


"Pelayan, apa kau melihat di mana Jenderal Muda?" tanya Panglima Lodaya pada seorang pelayan.


Pelayan itu berusaha mengingat, dia mengatakan melihat Tabib Dewa saat sarapan pagi, tapi untuk sekarang dia tidak tahu secara pasti. Dia kemudian memohonkan diri menemui Tabib Dewa untuk menanyakan keberadaan Jenderal Muda.

__ADS_1


Panglima Lodaya mengangguk, untuk sementara dia menunggu di tempat itu sampai sang pelayan kembali. Panglima Lodaya kaget mendapati ada beberapa orang yang keluar dari rumah penginapan. Cukup banyak, dan nampaknya mereka bukan prajurit juga bukan pasien. Pekerja, ya mereka pekerja. Apa yang dikerjakan?


Penasaran, Panglima Lodaya bergegas bangkit lalu kemudian menyusul seorang pekerja yang berjalan paling terakhir. Dari keterangan orang itu, Panglima Lodaya tahu kalau ada satu bangunan yang baru saja di perbaiki.


"Cukup banyak, dan mengapa justru jendela dan pintu yang rusak? Pasti ada yang tidak beres," Panglima Lodaya menggelengkan kepalanya saat memeriksa bangunan yang dimaksudkan.


Sebagai seorang prajurit terlatih, tentunya Panglima Lodaya mengetahui jika kerusakan yang terjadi akibat kesengajaan. Ada serangan mendadak, tapi Jenderal Muda bahkan menutupi itu. Tidak seorang pun bawahannya yang diberi tahu.


Meski hanya semut kecil, bukannya merupakan tugas bawahan untuk mengurus hal sepele? Ah, Jenderal Muda benar-benar aneh belakangan ini.


Panglima Lodaya berniat untuk kembali ke kamar utama. Tidak masalah baginya, karena sudah pasti Jenderal Muda mengambil keputusan sesuai situasi dan kondisi. Dan yang sangat dia kagumi dari atasannya tersebut ialah tanggung jawab dan kejujurannya. Maka dari itu, Panglima Lodaya ikhlas bergabung.


Dalam perjalanan itu, tidak sengaja Panglima Lodaya melihat seorang laki-laki di salah satu bangunan, laki-laki itu berdiri membelakanginya.


"Dia teman itu gadis cantik yang terluka, tidak salah jika aku sedikit berbincang. Siapa tahu aku bisa peroleh sesuatu," batin Panglima Lodaya.


Di teras depan kamar, Danur Cakra sedang berdiri tertegun memandang seekor burung kecil yang bernyanyi. Sejak kepergian Raka Jaya tadi, Danur Cakra belum masuk ke dalam ruangan. Dia hanya berjalan mondar-mandir di beranda. Dia bahkan tidak bicara sepatah kata pun, atau sekadar menggoda Kemuning yang ada di dalam kamar. Tadinya Kemuning ngambek karena ditinggalkan oleh Cakra, tapi kenyataannya Cakta membuat jadi berbalik. Kemuning hampir menangis ketika Cakra keluar kamar. Padahal Kemuning sudah menurut untuk menghabiskan bubur kacang hijau. Dari sudut pandang Kemuning, tentunya Cakra yang sedang ngambek karena merasa tidak dihargai.


Awalnya Kemuning hendak pura-pura menangis, tapi di luar ada Raka Jaya. Dia tidak bisa berbuat demikian, hingga akhirnya dia benar-benar mau nangis karena kehabisan cara.


"Cakra ... Cakra ..." panggil Kemuning seraya mengetuk-ngetuk bingkai jendela.


Danur Cakra menoleh, sedikit menjulurkan lidahnya ke arah Kemuning dengan tatap mata menggoda.


"Sini, masuk!" dengan pipi memerah menahan malu, Kemuning melambaikan tangannya. Menantang.


Danur Cakra tersenyum getir, sebelum memutar badan untuk pergi dia menyempatkan diri kembali melihat si burung kecil yang tidak berhenti berkicau.


"Tuan pendekar ..." sapa Panglima Lodaya.


Danur Cakra berbalik badan, dia memandang ke arah suara. Mendapati seorang Panglima datang menghampiri.


Tidak kalah kaget, Panglima Lodaya menyipitkan matanya saat bertatap muka dengan Danur Cakra. Ini adalah kali pertama mereka berjumpa secara langsung. Isi kepala Panglima Lodaya diputar, berusaha berpikir keras untuk mengingat sosok di hadapannya. Meskipun kenyataannya Panglima Lodaya tidak berhasil untuk mengingatnya. Mungkin hanya perasaan, mereka belum pernah berjumpa sebelumnya.


Danur Cakra menganggukkan kepala, memberikan hormat pada sang Panglima. "Selamat pagi, Gusti Panglima ..." jawab Danur Cakra.


Suasana begitu kaku, Lodaya yakin kalau dia belum pernah mendengar pria di hadapannya bicara. Tapi entah mengapa hati kecilnya terus berkata kalau dia pernah melihat pendekar itu, lalu di mana?


Panglima Lodaya mungkin tidak berhasil mengingat, karena memang mereka belum pernah berjumpa. Namun firasat dari hati kecilnya juga tidak berbohong. Dia pernah melihat Danur Cakra, hanya melihat. Yakni dalam sketsa wajah yang disebar. Memang sangat jauh dan tidak mirip, hingga ketika berjumpa, sukar untuk bakal langsung dikenali. Hal itu juga yang membuat Danur Cakra masih percaya diri berada di Kota Raja. Meskipun dalam batasan waktu tertentu.


"Apa aku mengganggu waktumu?" tanya Panglima Lodaya.


"Sama sekali, tidak. Justru saya merasa tersanjung karena bisa bertatap secara langsung dengan seorang panglima ternama layaknya Anda," Danur Cakra berbasa-basi.

__ADS_1


"Maaf, apakah Gusti Panglima yang ditugaskan untuk menggantikan Jenderal Muda di sini? Mohon ampun, karena saya belum mengetahui nama Gusti Panglima," sambung Danur Cakra.


Apa?! Menggantikan. Dengan kata lain itu menunjukkan kalau Jenderal Muda sudah tidak lagi berada di penginapan. Ke mana dia?


__ADS_2