Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Penyusup ll


__ADS_3

Pertarungan semakin sengit dengan hiasan cairan berwarna merah yang semakin banyak tertumpah. Kedua belah pihak sama-sama merasakan bagaimana tajamnya mata pedang. Meskipun seperti yang diduga, kalau prajurit kerajaan merupakan pihak yang diuntungkan. Mereka unggul dari berbagai aspek, salah satunya ialah jumlah. Meskipun kemampuan olah kanuragan yang dimiliki para penyusup cukup tinggi, tapi untuk berhadapan lebih dari satu orang tentunya bukan perkara mudah. Mereka tidak bisa berbuat banyak, bahkan untuk melarikan diri saja tidak bisa.


Raka Jaya masih berdiri di tepi medan laga, dia coba memperhatikan dan menebak siapa gerangan tokoh yang berada di balik serangan tersebut. Karena sudah jelas, ini merupakan rangkaian serangan, yang dimotori oleh kelompok besar dan ternama. Dengan maksud dan tujuan tertentu. Selain kubu yang berseberangan paham dengan dirinya, Raka Jaya seratus persen yakin bila  mereka pula berasal dari orang-orang di luar istana.


"Jangan selesaikan mereka semuanya, aku inginkan informasi bukan sekadar mengubur mayat," ucap Raka Jaya pada Tumenggung Madu Ranta.


Tumenggung itu mengangguk tanda mengerti, dia pun tentunya inginkan hal yang sama. Sebagai prajurit tentunya mereka terikat hukum peraturan, tidak akan bertindak layaknya begal jalanan yang membantai lawan sesuka hati. 


Mendapatkan perintah, Tumenggung Madu Ranta menghunus keris di pinggangnya dan segera membantu serangan. Dengan kehadiran Tumenggung Madu Ranta, menambah situasi genting pada pihak para penyusup.


Kepala penyusup terbelalak lebar ketika pedang di tangannya patah menjadi dua saat berbenturan dengan keris pusaka milik Tumenggung Madu Ranta. Keris itu ... sungguh luar biasa!


Tanpa senjata di tangan, tentu saja membuat kemampuan bertarung ketua penyusup menjadi menyurut pesat. Tiada lagi yang bisa dia andalkan untuk menghalau serangan demi serangan yang dilakukan oleh Tumenggung Madu Ranta. Dalam beberapa jurus, mungkin dia masih mampu untuk menghindar tapi Tumenggung Madu Ranta juga bukanlah pendekar sembarangan. Dalam beberapa jurus selanjutnya, dia berhasil mendaratkan sabetan pedangnya mengenai perut ketua penyusup, membuat darah ketua penyusup menetes membasahi pakaian.


CRASSS! Sabetan selanjutnya kembali tidak mampu untuk dihindari, darah semakin deras mengalir, menyurutkan begitu banyak kekuatan ketua penyusup yang kehilangan banyak darah. Dia hanya bisa pasrah ketika mata keris milik Tumenggung Madu Ranta kembali meluncur dengan deras mengarah dadanya.


CLEBB! Tanpa ampun, ujung keris menembus dada kiri ketua penyusup. Tajamnya bisa dirasakan oleh jantung saat keris tersebut melintas. Bisa dipastikan, ketika keris di cabut maka jantung ketua penyusup akan kehilangan fungsi. Dan benar, Tumenggung Madu Ranta melakukan hal tersebut.


"Aaaakkkhhh !!!!" jeritan keras keluar dari mulut ketua penyusup. Jeritan terakhir itu terdengar begitu pilu, sebelum kemudian tubuhnya ambruk.


Mendapati ketua mereka tewas, empat anggota penyusup lainnya langsung kiceup. Rasa percaya diri mereka seketika luntur, harapan untuk tetap bertahan hidup nampaknya sudah tidak lagi ada celah. Untuk pertama kalinya, mungkin mereka merasakan bagaimana rasanya ketakutan dalam menghadapi kematian di depan mata. Namun semuanya sudah terlambat, pintu taubat terbuka ketika hidup sedang berjalan mulus, bukannya segaris berada di ujung pedang.


Raka Jaya mengangkat tangannya, memerintahkan untuk lebih banyak prajurit yang membantu serangan. Dalam beberapa jurus, para penyusup segera bisa dilumpuhkan. Ada dua orang yang diberi kesempatan untuk tetap hidup, hingga mereka masih memiliki kesempatan untuk menyaksikan munculnya matahari. Tapi bisa ditebak, tentu saja tidak semata buta pengampunan diberikan. Mereka harus menukar kesempatan untuk hidup itu dengan informasi yang diinginkan.


"Jika kalian bersikap kooperatif, maka aku jamin kalian akan mengakhiri penderitaan. Atau sebaliknya, kalian mempersulit diri sendiri bahkan mengakhiri derita untuk selamanya, seperti pimpinan kalian itu!" ancam Tumenggung Madu Ranta.


Raka Jaya datang, dia berjongkok di hadapan para penyusup yang telah terikat. Dia memandangi satu persatu wajah mereka. Mungkin karena mereka kerap melakukan misi dengan wajah yang tertutup, maka Raka Jaya tidak bisa mengenali seorang pun dari mereka. Meskipun dia yakin jika mereka pasti sudah pernah bertemu dalam pertarungan.


"Pada siapa kalian bekerja?!" tanya Raka Jaya.


Raka Jaya mengerahkan kekuatan tenaga dalam tingkat tinggi, dia sengaja menekan mental lawan yang ia interogasi. Dengan demikian diharapkan keterangan yang benar akan diberikan.


"A-ampuun Jenderal ... kami hanyalah pendekar bayaran. Bahkan sebelum misi ini, tidak seorang pun dari kami yang saling mengenal," meski sekujur tubuhnya gemetaran karena gentar, penyusup itu mencoba untuk menyampaikan keterangan seperti apa yang Raka Jaya inginkan.


Raka Jaya tersenyum sinis, dia tidak begitu saja bisa percaya. Mengapa dalam waktu singkat dia berhasil menjadi seorang Jenderal? Tentu saja bukan dikarenakan miliki 'orang dalam' melainkan karena potensi dan kemampuan yang dimiliki.


"Benarkah?! Aku sangat yakin, sebelum berangkat ke sini, kalian lebih dulu menyewa kamar, makan dan tidur bersama wanita. Lalu, siapa sosok yang membiayai itu?" tanya Raka Jaya lagi.

__ADS_1


"Ti ... tidak tahu, Jenderal. Saya sama sekali tidak tahu menahu akan hal itu," penyusup itu keukeuh pada jawabannya.


Tumenggung Madu Ranta terlihat sangat geram. Bahkan mereka yang tidak pernah mengecap pendidikan militer pun akan mengatakan kalau penyusup itu sedang berbohong. Apakah menurut dia seorang Jenderal memiliki insting yang lemah? Ingin rasanya Madu Ranta mencincang lidah pria tersebut.


"Lalu untuk apa kalian datang?" suara Raka Jaya terdengar meninggi.


Raka Jaya menatap ke arah ruangan yang diserang oleh para penyusup tadi. Sangat jelas kalau tujuan utama mereka bukanlah Tabib Dewa, melainkan Kemuning.


"Akkhh ... Akhhh ... Akhhh ... ampuun! Ba-baik akan saya katakan! Akh ..." penyusup itu menjerit, meronta kesakitan ketika Tumenggung Madu Ranta menancapkan ujung kerisnya pada paha si penyusup.


Kekuatan magis yang berada di dalam keris pusaka milik Tumenggung Madu Ranta menjalar ke seluruh penjuru pembuluh darah di penyusup. Membuat tubuhnya terasa terbakar, sakit dan perih yang sangat luar biasa.


Raka Jaya menatap pada Tumenggung Madu Ranta, meminta anak buahnya itu untuk berhenti melakukan penyiksaan. Raka Jaya yakin, rasa takut telah membungkus segenap jiwa si penyusup. Hanya dengan diancam sedikit lagi, bisa dipastikan dia akan buka mulut.


Dengan napas yang terputus-putus, penyusup tersebut kemudian menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Dia tidak menyangkal bahwa ada orang yang membiayai setiap perjalanan kelompok mereka. Namun tidak seorang pun yang pernah melihat wajah orang itu. Dia datang dan pergi dengan begitu misteriusnya. Namun dalam prakiraan, dia adalah seorang pendekar muda dengan usia sekitar di dua puluh tahunan.


"Apa mungkin, mereka bukan bagian dari kelompok Panglima Braja? Tapi aku yakin kalau salah satu dari mereka pernah datang ke tempat ini," Raka Jaya mengelus dagu.


"Bawa mereka ke dalam sel. Jangan lakukan apa pun, sebelum ada perintah dariku," perintah Raka Jaya pada anak buahnya.


"Baik, Jenderal Muda!" serentak, para prajurit bergerak. Dari mereka ada yang membawa penyusup ke dalam sel tahanan, juga sebagian membereskan jasad mereka yang tewas. Menghapus seluruh jejak darah, berharap tidak mengganggu Tabib Dewa dan para pelayannya.


°°°


Kemuning duduk seorang diri, dia tidak melanjutkan merias wajahnya. Beruntung dia sudah selesai mandi, hingga wajahnya tidak terlihat begitu kusut. Ekspresi ketakutan masih terlihat di wajah Kemuning, meskipun dia terlihat berusaha untuk menutupi semuanya, menandakan bahwa kesembuhan mulai berangsur semakin membaik.


"Cakra ... kau di mana? Mengapa, mengapa kau tidak kunjung datang, kau tidak tahu aku begitu tertekan di sini. Apa sekarang, aku sudah tidak penting lagi bagimu?" desis Kemuning. Ingin rasanya dia menjerit, menangis, menumpahkan segenap rasa yang menggebu di dalam dadanya.


Saat berjalan di tebing yang terjal, mungkin Kemuning masih beruntung karena ada tangan yang menggenggamnya dengan erat. Sekarang, salahkan tangan itu melepas genggamannya ketika langkah kaki Kemuning telah tiba di jalan datar. Lantas mengapa Kemuning justru begitu kehilangan? Benarkah itu termasuk rasa nyaman, atau suka?


Suara langkah datang menghampiri Kemuning. Sepertinya orang itu sudah sejak tadi mengawasi Kemuning.


"Cakra!" Kemuning berdiri dan langsung memburu dengan ekspresi girang.


"Sejak aku terbangun, kau tidak ada. Memangnya dari mana? Kau tahu, aku sangat takut di sini," dengan setengah menangis, Kemuning mengungkapkan perasaan yang dia alami. Sungguh, suatu pengakuan yang begitu jujur dari dalam hatinya. Layaknya seorang anak mengadu pada sosok sang ayah.


"Nona, maaf ..."

__ADS_1


Kemuning tersentak, suara itu ... perlahan Kemuning merenggangkan pelukannya. Pria dihadapannya bukanlah orang yang dia tunggu. Melangkah mundur satu tindak, barulah seraya gemetaran Kemuning menengadah, menatap wajah si pemilik suara.


Melakukan hal yang sama, Raka Jaya pun mundur satu tindak. Dia tidak mengharapkan pelukan hangat Kemuning, atau berpura-pura beri perhatian untuk menarik simpati gadis cantik tersebut. Hanya saja kedatangannya sekadar untuk memastikan keadaan kekasih saudaranya. Tapi entah mengapa, justru hati Raka Jaya berdebar kala dipeluk oleh Kemuning.


"Emmm, ah maafkan aku. Terus terang aku tidak bermaksud membuatmu takut," ucap Raka Jaya gelagapan.


"Sialan! Dasar rubah gob*lok tidak tahu diri! Apa yang kau pikirkan?! Dia kekasih saudaramu, lantas mengapa kau jadi salah tingkah begini, to*lol!" Raka Jaya memaki habis-habisan dirinya sendiri. Menyalahkan sikapnya yang mendadak jadi sangat bo*doh.


Kemuning menundukkan wajahnya dalam, dia membuang muka bahkan tidak berani berhadapan dengan Raka Jaya, membuat Raka Jaya menjadi semakin salah tingkah dan serba salah. Dia adalah pria baik-baik yang sangat jujur, tapi bukan tipe pria yang pandai meluluhkan hati wanita, sangat berbeda dengan Danur Cakra. Meskipun bergajulan dia punya trik rahasia untuk membuat wanita klepek-klepek.


"Nona Kemuning, bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja 'kan?! Dan kau tidak perlu khawatir, tidak akan ada yang bisa mengganggumu di sini. Baiknya kau fokus pada kesehatanmu," ucap Raka Jaya.


Kemuning mencoba tersenyum, meskipun getir. Dia mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Jenderal Muda. Kemuning tidak banyak bicara, meskipun dia tidak merasa takut pada Raka Jaya, tapi entah mengapa justru Kemuning merasa kalau Raka Jaya yang membatasi ruang geraknya. Karena jelas-jelas status sosial mereka berbeda. Raka Jaya bekerja hanya sebatas tugas semata.


"Kalau begitu, aku akan menunggu di luar sampai kau merasa kalau tiada lagi ancaman di sekitar tempat ini. Tapi aku mohon, untuk kau jangan banyak melamun. Danur Cakra pasti akan segera kembali," Raka Jaya pamit. Dengan masih bertingkah kikuk, Raka Jaya melangkah ke luar.


"Danur Cakra? Cakra yang aku kenal bernama lengkap Danur Cakra? Jenderal Muda keceplosan bicara, biasanya dia hanya menyebut dengan Pendekar Cakra. Huuuhhh ... tidak disangka, Jenderal Muda begitu lucu," Kemuning tertawa geli. Aneh saja, mengapa harus di balik setiap penampilan yang luar biasa dari luar tersimpan begitu banyak rahasia yang tidak sembarang orang bisa tahu.


Memang benar, bunga mawar akan terlihat indah jika berada di dinding jurang. Di mana kita hanya bisa melihat penuh takjub pada fenomena yang luar biasa. Sementara, duri dan noda di tangkainya tak terlihat dan tersembunyi.


Kemuning mengintip dari celah jendela untuk memastikan Raka Jaya tetap berada di pelataran. Dia menyanjung betapa tali persahabatan yang erat mengikat antara Raka Jaya dan Danur Cakra. Meskipun Kemuning berharap memang demikian adanya, dia bahkan tidak berani untuk membayangkan bilamana Raka Jaya menjelma layaknya pria pada umumnya. Semoga, tali persahabatan itu tulus bukan hanya modus.


°°°


Sementara itu di sisi timur Kota Raja, Danur Cakra tengah berlari dalam kecepatan tinggi. Dia sedang melakukan pengejaran terhadap beberapa orang yang dia pergoki melakukan tindakan mencurigakan.


Awalnya, Danur Cakra yang terbangun lebih dahulu berniat membeli bubur kacang hijau untuk Kemuning. Semula Cakra hendak pamitan, sambil membangun Kemuning untuk membersihkan badan. Akan tetapi Danur Cakra mengurungkan niatnya ketika melihat Kemuning masih tertidur dengan pulas. Tidak tega dia membangunkannya. Setelah merapikan selimut di tubuh Kemuning, Danur Cakra langsung pergi.


Suasana rumah penginapan masih begitu sepi, dari mereka yang telah terbangun disibukkan oleh aktivitas pagi hari masing-masing. Cakra melihat hanya ada beberapa prajurit jaga yang masih stand by di posisi mereka masing-masing.


Tidak menemukan adanya kegiatan yang mencurigakan, dengan kecepatan tinggi Danur Cakra segera melompat meninggalkan rumah penginapan. Tentu saja dia tidak ingin meninggalkan jejak yang mencurigakan di mata orang-orang.


Danur Cakra baru mendaratkan kakinya di atas tanah dan berjalan normal ketika telah tiba di jalanan yang ramai dilewati.


Tidak disangka, pandangan mata Danur Cakra justru tertuju pada seorang pendekar dengan penampilan unik di seberang jalan. Beberapa saat lamanya Danur Cakra coba untuk mengamati kegiatan mereka dari kejauhan. Berupaya memastikan apa yang sedang direncanakan.


Malang sekali, belum juga Danur Cakra dapatkan kejelasan atas apa yang dia cari, dia ketahuan. Kiranya ada orang lain yang juga mengawasi keadaan di sekitar tempat itu. Orang itu segera memberikan isyarat pada sosok yang Danur Cakra amati, hingga mereka semua langsung bergerak menjauh.

__ADS_1


"Sialan!" umpat Danur Cakra.


Kucing akan lari tunggang langgang saat ketahuan hendak mencuri ikan. Logikanya, tidak bakal orang-orang itu melarikan diri kalau tidak melakukan suatu kesalahan.


__ADS_2