
"Hahahaha !!! Mau lari ke mana lagi kalian," tawa Tumenggung Surotanu terbahak mendengar laporan anak buahnya.
"Siapkan seluruh pasukan khusus yang bekerja di bawah komando. Kita tidak bisa main-main, mereka merupakan kelompok yang terlatih. Ayo kita berangkat, aku sungguh tidak sabar," Tumenggung Surotanu segera menaiki kuda gagahnya.
Bersama pengawal andalannya, Empat Setan Alas (Ki Beringin, Nyai Totol, Sialang, dan Reksono) mereka merupakan penjahat kambuhan yang ditarik untuk menjadi pagar betis katumenggungan. Tidak salah, karena dengan itu setidaknya mereka tidak lagi melakukan kejahatan jalanan. Berbeda kasusnya bilamana kejahatan terjadi dalam kedok demi keamanan kerajaan.
Iring-iringan pasukan menimbulkan suara gemuruh dari hentak kaki kuda yang menggema di jalan berdebu. Debu-debu ikut terbang terapung di udara, seperti tubuh ular besar yang bergelombang mengikuti kelokan jalan. Segenap masyarakat memandang, mencari tahu siapa yang melintas. Begitu banyak argumentasi dan cara pandang mereka yang turut mengomentari gerakan para prajurit menyerang kelompok pemberontak. Ya, setidaknya para prajurit tersebut yang berkata demikian.
Dengan gagah, Tumenggung Surotanu turun dari punggung kuda ketika tiba di pos penjagaan. Di sana, beberapa hulubalang telah menunggu. Termasuk juga Tabib Mala yang duduk gemetar di sudut ruangan.
"Tabib, apa perkataanmu bisa dipercaya?" tanya Tumenggung Surotanu.
"A-ampuun, ampuni hamba Gusti Tumenggung. Semua yang hamba katakan merupakan hal benar. Hamba tidak berani berbohong ..." jawab Tabib Mala.
"Aku berharap juga begitu. Dengan demikian kau masih bisa menikmati sisa hidupmu. Sekarang pergilah! Mengingat banyak jasamu, aku melepaskan dirimu dari segala dakwaan," tangan Tumenggung Surotanu terkibas, memerintahkan untuk Tabib Mala segera pergi.
Setelah itu, Tumenggung Surotanu kembali ke tengah-tengah pasukan. Memimpin mereka untuk melanjutkan perjalanan mengepung gua persembunyian Jatmiko dan kawan-kawan.
Tetes air mata mengalir di sudut mata Tabib Mala. Dia merasa sangat bersalah karena tidak mampu menahan rasa sakit sehingga mengkhianati Jatmiko. Apa pun balasan yang akan dia dapatkan nanti, Tabib Mala menerimanya dengan tangan terbuka. Termasuk bila Jatmiko akan datang dan menuntut balas. Selembar nyawanya, akan dia berikan.
"Maaf ...."
Ah, tiba-tiba Tabib Mala ingat sesuatu. Paling tidak dia bisa memberi tahu akan serangan yang akan datang. Dengan demikian, Jatmiko bisa mengantisipasi ataupun berusaha untuk melarikan diri. Tabib Mala meletakkan barang bawaannya di pos penjagaan, dia berlari memotong jalan. Menuju salah satu pohon pengintaian yang selalu ditempati oleh anak buah Jatmiko.
"Huuuhhh ... huuuhhh ..." napas Tabib Mala tersengal naik-turun, tapi dia terus memaksakan diri untuk tetap berlari mendaki tebing. Tidak perduli pada kakinya yang berdarah akibat menginjak rerumput berduri.
Setelah sekian lama berlari, Tabib Mala mulai merasakan kepalanya berkunang-kunang. Stamina yang dia miliki dipaksakan untuk terus berlari mendaki bukit. Sementara, pohon pengintaian yang dia tuju belum juga terlihat.
"Tidak. Aku harus kuat! Aku tidak boleh menyerah!" ucapnya dalam hati, menyemangati diri sendiri.
Bruk! Tabib Mala jatuh tersungkur. Tubuhnya telah oleng, tidak lagi kuat untuk tetap berlari. Namun Tabib Mala segera bangkit dan melanjutkan perjalanan. Tidak perduli pada degup jantungnya yang semakin tidak beraturan. Andaipun harus celaka, dia tidak perduli lagi.
Akhirnya ... ujung pohon pengintaian sudah nampak. Tabib Mala berjalan sebentar lagi, hingga dia yakin jika orang yang bertugas jaga bisa melihat ke arahnya. Tabib Mala melambaikan tangan, meminta penjaga untuk mendekatinya. Tidak cukup itu saja, Tabib Mala menggunakan selendang kuning miliknya untuk memancing perhatian para penjaga di pohon pengintaian.
°°°
Sementara itu di dalam gua persembunyian, Jatmiko terlihat begitu kebingungan. Pikirannya berkecamuk tumpang tindih, mungkin instingnya akan serangan yang mendekat membuat hati Jatmiko semakin tidak tenang. Belum lagi tentang Kemuning yang sekarang mulai berada di bawah kendali Danur Cakra, beban pikiran Jatmiko semakin rumit. Cakra memang terlihat sebagai sosok yang baik hati, tapi kisah yang mendengung mengenai Pendekar Naga Kresna sama sekali jauh dari apa yang dia saksikan. Kemungkinan adanya manifulasi dan sandiwara rasanya begitu besar. Mendapatkan hati Kemuning adalah tujuan, lihat nanti jika dia sudah berhasil. Barulah sifat aslinya terlihat.
"Ayah, ada apa?" tanya Arsita yang melihat kegundahan di wajah ayahnya.
Jatmiko tersenyum masam, anaknya pun tidak tahu apa yang membebani pikirannya. Selama ini, tiada orang yang menjadi teman bicara Jatmiko. Dia termasuk orang yang begitu rapi dalam menyimpan rahasia.
"Tidak apa-apa. Ayah hanya mencemaskan anak-anak. Kau lihat bagaimana mereka sekarang," jawab Jatmiko mengalihkan pembicaraan. Yang dia maksud anak-anak ialah para pemain sirkus.
"Ayah jangan berbohong. Aku tahu, bukan saja hal itu yang ayah pikirkan. Terlihat dari wajah ayah yang begitu tertekan," Arsita menjawab. Sedangkan apa yang dia sampaikan semuanya benar adanya.
"Sudahlah ... baiknya kau tidak perlu tahu. Ini urusan ayah sendiri," Jatmiko mengelus pundak putrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Aku tahu, ayah merahasiakan sesuatu dariku. Iya kan? Tapi tidak masalah, aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada ayah," Arsita coba untuk tersenyum.
"Terima kasih, ya. Kau memang anak yang paling baik," Jatmiko tersenyum. Kedua ayah dan anak itu kemudian saling berpelukan.
"Tolooong !!! Tolooong !!!" terdengar teriakan memasuki gua.
Sontak teriakan tersebut seketika membuat suasana menjadi panas. Hampir semua orang berbondong-bondong datang menyambut. Mereka mempertanyakan hal apa yang terjadi.
"Serangan! Serangan!" dengan napas yang tidak teratur, pengintai itu melapor.
"Serangan? Serangan apa?! Tenanglah ... bicara pelan-pelan," Ki Wadas memberi pria itu segelas air. Setelah minum, dia segera menjelaskan.
Seperti biasa, dia sedang duduk di pohon pengintaian, melakukan tugas rutin mengawasi wilayah sekitar. Dari kejadian, dia menangkap sesuatu yang bergerak di balik dedaunan. Setelah dipastikan, ternyata itu adalah manusia yang melambaikan tangan. Tidak cukup itu saja, orang tersebut menambahkan kain untuk meminta bantuan.
"Setelah yakin, barulah saya turun mendekat. Katiwasan pimpinan ... Tabib Mala, orang itu Tabib Mala. Dia mengatakan kalau Tumenggung Surotanu dan pasukan sedang menuju ke tempat ini. Tabib Mala meminta agar kita segera berkemas dan melarikan diri," tutupnya.
"APA?!" tentu saja mereka semua sangat kaget.
Ki Wadas mengelus dada. Rasanya baru beberapa jam saja mereka menghirup napas dengan tenang, tiba-tiba muncul berita yang sangat tidak menyenangkan.
"Kalau begitu, ayo kita cepat pergi!" ajak Jatmiko pada teman-temannya.
"Tidak! Jika kali ini kita lari, lalu mau sampai kapan seperti kucing dan tikus, kapan kita bisa menghirup napas kebebasan? Kita tidak boleh mundur, kita harus lawan kezaliman ini!" potong Watu Galing.
"Benar! Inilah saatnya kita tunjukkan pada mereka, kita bukanlah kelompok lemah yang bisa seenaknya diinjak-injak. Kalian tahu siapa Surotanu? Dia adalah sosok iblis berseragam dewa. Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup tidak berguna!" Gunda Soka menimpali.
Dua orang itu ... kalimat mereka berbentuk provokasi yang tujuannya membakar semangat juang, agar para pemain sirkus mau bergabung untuk membantu mereka bertarung melawan para prajurit kerajaan.
"Kami?! Siapa yang kau maksud dengan kami?" Ki Wadas justru membela saudara seperguruannya, bukannya Jatmiko.
"Owh ... hahahaha! Ini benar-benar tidak masuk akal. Ki Wadas, aku tidak menduga ternyata kau adalah seorang yang busuk!" Jatmiko menunjuk wajah Ki Wadas. Tidak lagi ada rasa hormatnya pada sosok pimpinan yang dulu sangat ia hormati.
"Terserah apa pendapatmu, tapi yang jelas kita berhak untuk menentukan ke mana kaki kita melangkah," jawab Ki Wadas.
"Kepa*rat! Ternyata kaulah pengkhianat itu, dasar tua bangka tidak tahu budi!" Rangga memaki. Sebagai seorang anak tentu dia tidak bisa terima mendapati ayahnya dihakimi.
Bukan sekadar ucapan, tapi Rangga langsung melayangkan pukulan pada Ki Wadas. Tidak lagi dia menganggap pria paruh baya itu sebagai pimpinan, melainkan seorang berhati busuk yang tidak bisa dipercaya.
Wus! Wus! Serangan yang dilancarkan Rangga hanya menerpa angin. Ki Wadas bisa menghindari serangan tersebut dengan mudah.
Pertarungan tidak sepadan itu masih berlanjut. Sekarang berbalik Ki Wadas yang balas menyerang Rangga. Meskipun terlihat jika ia tidak berniat untuk mencelakai Rangga, tapi tetap saja serangan tersebut sangat berbahaya.
Jatmiko awalnya hendak menolong, tapi gerakannya dihadang oleh Watu Galing. Pertarungan sesama teman berlangsung sengit di dalam gua persembunyian. Perbedaan pendapat membuat mereka saling inginkan hisap darah. Padahal musuh nyata sudah di depan mata, tapi mereka justru bercerai berai.
"Cakra, apa-apaan ini? Lepaskan!" Kemuning menyingkirkan tangan Danur Cakra yang tiba-tiba meraba pinggulnya.
"Heh, jalannya sulit, lihatlah! Kau tidak usah berpikir yang macam-macam," Cakra kembali memaksa untuk menggandeng Kemuning, meskipun kali ini hanya tangan yang dia genggam.
__ADS_1
"Jangan cari-cari kesempatan kamu, ya!" Kemuning mendengkus kesal. Dia tidak pernah disentuh oleh lelaki, wajar saja kalau emosinya mudah terpancing.
"Iya, iya. Bawel!" Danur Cakra selalu menjawab seolah mendengar, tapi sama sekali tidak merubah apa pun. Perkataan Kemuning hanyalah angin yang berlalu.
Lama-kelamaan juga Kemuning akan terbiasa, batin Cakra. Dia ingat pada Suhita, Cakra kerap berkhayal jika Kemuning akan berubah menjadi sosok manja Suhita. Betapa bahagianya Cakra jika itu benar terwujud.
"Ihhh, kenapa senyum-senyum? Kau masih waras 'kan?" Kemuning memegang kening Danur Cakra, bisa jadi anak itu kesambet mungkin.
"Kaulah yang membuatku tergila-gila, makanya kau harus tanggung jawab!"
"Ihhh ... dasar aneh!"
Padahal yang aneh itu justru Kemuning. Dia nampak ketakutan setiap kali Danur Cakra mendekat traumanya kembali muncul, tapi malah dirinya yang tidak bisa untuk jauh-jauh dari Cakra. Selalu gemetaran bila mana Cakra menyentuhnya, meski hanya menggenggam tangan. Tapi tidak pernah marah, apalagi harus memaki jika Cakra memaksa melakukannya. Sangat aneh memang, rasa selalu muncul tanpa bisa diterangkan.
"Sssttt !!!" Danur Cakra menyilangkan jari telunjuknya di atas bibir. Meminta Kemuning untuk berhenti menggerutu.
Kepekaan yang Danur Cakra miliki, membuat dia bisa mendengar dan merasakan adanya getaran energi pertarungan meskipun jaraknya cukup jauh. Kemampuan Danur Cakra telah mencapai tahap yang sempurna, dia bukanlah pendekar kacangan yang baru belajar olah kanuragan.
"Ada yang bertarung, ayo kita kembali," Danur Cakra melompat ringan, meninggalkan Kemuning yang cuma bisa bengong. Jangankan lari mengejar, jelas-jelas dia harus berhemat tenaga.
"Heiii orang gila! Bagaimana denganku?" teriak Kemuning.
Danur Cakra tertawa kecil, dia sengaja melakukan hal itu, pura-pura meninggalkan Kemuning tentu saja bukan tanpa tujuan. Cakra hanya ingin gadis itu semakin tergantung padanya, termasuk juga kali ini. Pastinya Kemuning butuh bantuan Cakra untuk secepatnya bisa kembali pada teman-temannya.
"Kau harus tahu, pertarungan itu berasal dari dalam gua. Aku takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Bagaimana bisa, aku harus terlambat karena harus berjalan layaknya pengantin sunat bersamamu. Yang benar saja!"
"Aku tidak peduli! Kau harus bawa aku!"
"Baiklah, jika kau memaksa!"
Belum sempat Kemuning mengedipkan mata, Danur Cakra telah kembali dan langsung membopong tubuhnya.
"Aaaa ..." Kemuning terkesiap, dia sama sekali tidak menduga Cakra akan berbuat senekat itu.
Dalam sadar, mungkin ini adalah kali pertama Kemuning digendong oleh seorang pria. Rasanya tidak bisa dijelaskan. Campur aduk menjadi satu. Namun seperti biasa, walaupun marah tapi Kemuning tidak meronta.
Wajah keduanya sangat dekat, hingga Danur Cakra bisa merasakan hangatnya hembusan napas Kemuning. Bibir indah nan ranum itu, ingin rasanya Danur Cakra menjadikan sebagai santapan siang, pasti rasanya sangat lezat dan juga segar. Tapi ... Danur Cakra masih waras, dia tidak akan menjatuhkan harga dirinya hingga serendah itu. Masalah waktu saja, bunga menjadi putik, dan putik pasti akan menjadi buah.
Pertarungan sudah hampir selesai ketika Danur Cakra tiba. Tentu saja kemenangan menjadi milik Ki Wadas dan Watu Galing. Pertarungan yang dibuat begitu adil. Sangat banyak mata yang memandang tapi tidak seorang pun yang coba untuk melerai. Nampaknya dari mereka sama-sama ragu untuk menentukan sikap. Terlebih lagi, Ki Wadas dan Watu Galing dianggap lebih mampu untuk jaga keselamatan daripada Jatmiko yang jelas miliki kemampuan yang lebih rendah.
"Cakra, apa telah terjadi, ada apa ini? Mengapa mereka saling bertarung?" Kemuning terlihat begitu syok melihat Jatmiko dan Rangga yang hampir tidak kuasa melakukan perlawanan. Tubuh keduanya sudah terluka.
Danur Cakra mengepal penuh emosi, gigi gerahamnya sampai berbunyi gemertuk. Tatapannya tidak lepas dari sosok Watu Galing. Tahap banyak bicara, Danur Cakra langsung menghambur ke medan laga.
BAAMMM !!!
Satu pukulan tenaga dalam Danur Cakra lepaskan untuk memisahkan mereka, menciptakan jarak antara yang terlibat perkelahian. Akan tetapi, bisa dikatakan kalau pukulan yang Danur Cakra lepaskan justru lebih berat mengarah pada Watu Galing dan Ki Wadas, memaksa dua orang tersebut untuk mundur karena benturan.
__ADS_1
"Haruskah gunakan anak panah untuk hentikan kepakan sayap seekor burung? Aku bisa menduga, ini semua bukanlah permainan. Andaikan inginkan lawan sepadan, di sini ada aku. Ayo maju!" tantang Danur Cakra.
Seorang yang asing, bukan berasal dari kalangan mereka, tapi berani untuk ambil sikap. Hal tersebut harusnya menjadi cambuk tersendiri untuk mereka, yang merupakan anggota kelompok sirkus, yang katanya telah mengikat janji untuk saling menjaga satu sama lain.