
"Huuuhhh ... huuuhhh ... kepa*rat!" Danur Cakra mengumpat. Rasa sakit baru ia rasakan setelah Naga Hitam kembali ke alam evolusi. Saat tubuh Cakra kembali menjadi sosok manusia biasa, tentu ia hidup normal tanpa adanya bantuan kekuatan lain.
Luka yang menganga di perut kirinya sudah di balut kain bersih. Luka itu juga sudah steril, tidak lagi adanya sisa-sisa racun dan sebagainya. Danur Cakra hampir saja tewas jika dia tidak segera diselamatkan.
"Jangan dulu terlalu banyak bergerak. Kau menerima begitu banyak pukulan. Masih untung nyawamu terselamatkan!"
"Sialan! Jangan pandang aku lemah seperti itu. Kau tahu, aku tidak mudah untuk dikalahkan!" Danur Cakra menolak kenyataan. Meskipun kecerobohannya hampir membuat dirinya tiada.
Jika saja Danur Cakra lebih bisa mengontrol emosi, pastinya dia akan tetap berada dalam tubuh kelompok Lereng Utara. Tidak harus bertarung melawan begitu banyak pendekar-pendekar kuat. Bila dikategori, itu merupakan tindak kebodohan. Karena seorang pendekar hebat, tidak hanya mengandalkan otot tapi juga dengan gunakan otak.
Beberapa jam sebelumnya ...
Suara ledakan dari benturan tenaga dalam terdengar hingga puluhan kilometer. Saat itu, Suhita yang baru saja berencana untuk istirahat segera bangkit dan melanjutkan perjalanan. Suara yang tidak lagi berposisi jauh. Dan Suhita yakin jika itu merupakan pertarungan Danur Cakra, atau lebih tepatnya Danur Cakra sedang terdesak.
Kemampuan Mutiara Hati mampu membuat Cakra lebih kuat dan sukar untuk dicelakai. Namun itu berimbas pada Suhita yang juga mengkonsumsi separuh Mutiara Hati yang lain. Rasa sakit yang diterima oleh Danur Cakra, juga dirasakan oleh Suhita. Hingga Suhita langsung bisa mengetahui bahwa Cakra tersakiti.
Diikuti Kencana Sari, Suhita berlari dengan segenap kemampuan lari cepatnya. Danur Cakra sedang bertarung, itu artinya dia masih hidup. Suhita berkesempatan untuk membantu saudaranya, dan tentu saja dia akan melakukannya tidak peduli apa pun resikonya.
Suhita tiba tepat disaat suasana yang kritis. Saat itu Danur Cakra begitu terdesak menghadapi Muning Raib yang dibantu oleh Nyi Parang Awi. Bahkan Cakra telah beberapa kali menerima pukulan tenaga dalam yang harusnya telah membuat jiwanya celaka.
"Tabib, apa yang akan kau lakukan?!" tanya Kencana Sari.
Suhita tersenyum tipis, dia hanya menghela napas. Terpaksa Suhita harus menggunakan cara yang kotor untuk bisa membantu Cakra. Dari dalam cincin mustika, Suhita mengeluarkan beberapa tabung racun untuk melakukan serangan.
Pertama, Suhita akan membantu Cakra lepas dari terkaman Muning Raib dengan menggunakan Pukulan Tapak Naga. Setelah itu, barulah serbuk racun akan menyusul. Dan Kencana Sari tentu saja akan membantu untuk menebar racun hingga menjangkau seluruh pasukan lawan.
__ADS_1
"Maaf, kali ini aku datang bukan sebagai tabib. Aku hanya seorang saudara yang berjuang demi nyawa saudaraku," ucap Suhita.
Tapak Naga Es Suhita gunakan untuk mengumpulkan benih es di udara. Kemampuan dari catatan sang ibu perihal ilmu racun Suhita sertakan di sana. Siapapun yang tidak bisa menghindari hujan es, maka bisa dipastikan dia tidak akan bisa selamat. Bukan karena tajamnya tombak es, melainkan kandungan racun yang ada di dalamnya.
"Ayo, sekarang!" Suhita memberi aba-aba.
Suhita melompat seraya melepaskan pukulan tenaga dalam Tapak Penakluk Naga, membuat konsentrasi Muning Raib buyar dan membuat Danur Cakra bisa membebaskan diri dari tekanan mata pedangnya. Disusul dengan kemunculan kabut racun yang akhirnya mampu selamatkan Danur Cakra dari maut.
Suhita dan Kencana Sari yang dibekali oleh ramuan anti racun, dengan mudahnya bergerak di bawah kabut. Mereka berhasil membawa Cakra pergi menjauh sebelum Raja Iblis berhasil menghalau kabut racun.
Danur Cakra dibawa ke satu tempat yang dirasa aman. Di antara bebatuan besar yang tidak bisa dijangkau penglihatan dari ketinggian mana pun. Di tempat itu, Danur Cakra akan segera diobati.
"Bagaimana kau bisa temukan aku?" tanya Danur Cakra.
"Akhh, apa salahnya aku bertanya?" ucap Danur Cakra bersungut-sungut.
Ada hal yang ingin Cakra tanyakan yakni mengenai serbuk racun yang Hita gunakan. Cakra sama sekali tidak menduga atas apa yang tadi ia lihat, seorang Tabib Dewa menggunakan kemampuan serbuk racun yang bahkan di dunia hitam pun tidak lagi digunakan. Puluhan tahun yang lalu saja, hanya satu orang saja yang menguasainya. Yakni Cahaya Langit, bekas pimpinan besar sekaligus pendiri Aliansi Utara Selatan.
"Apa Kakak kira hanya Kakak seorang yang bisa pergunakan kemampuan sesat? Kakak pikirlah, bagaimana Kakak bisa dan begitu juga denganku," ucap Suhita.
Danur Cakra mengerutkan dahi, dia memegang kening Suhita. Memastikan jika adiknya tidak dalam pengaruh obat-obatan ataupun gendam. Aneh saja, mendadak Suhita berpikiran yang tidak seperti biasanya.
"Lupakan saja! Apa tidak bisa untuk pikirkan saja kesembuhanmu?!" Suhita lama-lama kesal juga saat Danur Cakra begitu mengejar-ngejar apa yang sebenarnya tidak ingin Hita bahas.
Danur Cakra tertawa kecil, dan kemudian dia diam. Tidak lagi banyak bicara. Lagi pula, tidak akan ada yang didapatnya. Lebih baik diam, saat emas lebih berharga. Bertanya mengenai kemampuan racun untuk kemudian belajar, rasanya tidak mungkin Suhita akan memberikan ilmu tersebut. Menambah racun pada bisa seekor kobra, mana mungkin Suhita melakukan kesalahan yang begitu fatal.
__ADS_1
"Kak, boleh Hita tahu bagaimana Kakak bisa bertarung dengan mereka?" tanya Suhita.
"Kelompok yang sama seperti yang menangkap Bibi Dewi. Aku yakin, mereka akan melakukan serangan besar-besaran di hari ulang tahun Kakek. Makanya aku coba untuk menyusup. Sayangnya, aku ketahuan saat belum dapatkan suatu apa pun," Danur Cakra berdecak kesal.
Suhita terus mendengarkan cerita kakaknya dengan serius, tanpa sekali pun menyela. Nampak jika Hita menanggapi dengan sepenuh hatinya. Bagaimana juga, orang yang menjadi target para penjahat ialah Kakeknya. Tentu Suhita tidak bisa hanya diam dan berpangku tangan.
"Sepertinya, sudah saatnya untuk kita bekerjasama. Aku yakin kemampuan yang mereka punya jauh di atas yang diperkirakan," ucap Suhita setelah Cakra selesai bicara.
Danur Cakra mengangkat bahu, dia tidak memberikan jawaban. Tapi dengan melihat ekspresi wajahnya, bisa ditebak jika Cakra tidak setuju atas apa yang Suhita katakan. Cakra tidak akan melibatkan Suhita (yang namanya tercatat sebagai orang baik), biarlah Cakra seorang yang terjerumus ke dalam jurang kelam. Dan seorang adiknya akan menjadi penyelamat muka kedua orang tuanya.
Nama yang dengan susah payah dibangun, jangan sampai dirusak dalam satu hari. Jika bertarung sekadar untuk bertahan hidup, tentunya bukan hal yang salah. Itu akan terjadi jika Suhita menurut dan melanjutkan rencana perjalanan. Dunia persilatan tidak akan menjatuhkan penilaian buruk jika Hita bersama dengan Raditya dan juga Mahesa.
Suatu saat, dan mungkin hari itu juga segala rahasia terbongkar, tentunya bukanlah masalah sekadar mencoret nama Danur Cakra. Dan pastinya Cakra telah menduga jika keluarganya khususnya Suhita tidak akan mau melakukan hal itu, maka Cakra akan melakukan dengan sendirinya. Bahkan sekarang saja dia muncul dan dikenal sebagai pendekar dengan ciri khas kemampuannya sendiri. Cakra sudah mempersiapkan semuanya dengan matang.
"Dengar baik-baik! Aku tahu kau menyayangiku. Dan apa kau tahu, bagaimana kau wujudkannya untukku? Menjauhlah dari hidupku!" dengan tegas Danur Cakra mengatakan pada Suhita.
Saat Cakra dan Suhita bersatu, bukannya menjadi kuat, dan malah sebaliknya. Jika mereka berpisah, maka kekuatan mereka akan semakin besar. Di mana tidak akan ada salah satu dari mereka yang bisa untuk dikalahkan. Mencelakai keduanya secara bersamaan bukanlah hal yang gampang, terlebih jika jarak memisahkan.
"Tidak! Apa pun yang terjadi, aku tidak akan melakukan seperti apa yang Kakak rencanakan!"
"Itu artinya, kau inginkan kita tewas bersama-sama!"
"Ya! Jauh lebih baik daripada aku harus hidup manis di atas beban pundakmu!"
Cara pandang yang berbeda, membuat keduanya tidak akan menemukan titik sama. Meskipun pada dasarnya mereka saling sayang. Tapi nampaknya cara yang Danur Cakra katakan jauh lebih masuk akal, kendati harus mengorbankan salah seorang dari mereka yakni Danur Cakra.
__ADS_1