
"Tabib kecil, ayo ikutlah bersamaku. Anak buahku anak melindungi tabib dari orang-orang jahat itu," Marunda berucap dengan sangat manis. Dia berharap agar Suhita mau ikut bersama mereka secara baik-baik.
"Paman, bagaimana keadaan paman? Apa sudah baikan?" tanya Suhita. Tanpa ragu, Suhita melangkah mendekat pada Marunda.
"Aduuhh, Non. Mengapa begitu polosnya," Kalagondang menepuk jidat.
"E-eehh ... tunggu, tunggu! Apa-apaan ini? Kau berniat membodohi majikan kami? Jangan coba-coba, ya!" Kalagondang berlari mendahului Suhita.
"Aki ... kemarin paman Marunda terluka sangat parah, Hita yang mengobatinya. Hita harus pastikan keadaannya, sekarang," Suhita ngotot ingin menghampiri.
"Aduh, Non. Dia itu orang jahat, Aki takut dia akan melukai Non Hita," Kalagondang menggaruk kepalanya.
"Aku ini seorang tabib. Bagi tabib, tidak ada namanya jahat dan baik, yang ada hanya sakit dan sehat. Tidak perduli seberapa besar kejahatannya, jika dia terluka maka harus diobati. Kalau bukan karena perbuatannya yang merugikan orang lain, apa bedanya mereka dengan kita? Manusia hanyalah serpihan daging yang dikumpulkan oleh tulang. Sudahlah, aki tidak perlu khawatir," Suhita mendorong Kalagondang agar minggir dari jalannya.
"Amankan tabib kecil itu!" Kelabang Pitu memerintahkan pada anak buahnya untuk bergerak lebih cepat.
"Tabib kecil, kami akan melindungimu!" Marunda juga bergerak ke arah Suhita.
Tidak lama kemudian, suara denting senjata tajam yang beradu menghiasi langit di sekitar gua tanpa dasar. Empat kubu berbaur dalam satu pertempuran. Sungguh sangat membingungkan, karena mereka semuanya mengincar Suhita seorang.
"Aki-aki busuk! Ayo cepat bantu aku!" Nyi Gondo Arum memaki Kalagondang.
Keduanya segera menuntun Suhita untuk terus menjauh. Diimpit oleh dua kekuatan di kiri dan kanan, membuat Suhita selamat dari segala jenis bahaya. Hanya saja, logika Suhita belum bisa mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mengapa Nyi Gondo Arum mengatakan jika orang-orang yang bertarung itu, semuanya menginginkan dirinya? Memangnya untuk apa?
"Nek, mereka banyak yang terluka. Aku tidak bisa membiarkan ini semua," teriak Suhita pada Nyi Gondo Arum.
"Non, ini bukan saatnya untuk memikirkan hal itu. Lihat, mereka berusaha membunuh kakek dan nenek!" Kalagondang yang menjawab.
Dan memang benar, puluhan mata pedang sedang berlomba-lomba untuk bisa melukai tubuh Kalagondang maupun Nyi Gondo Arum. Tidak butuh alasan, mereka akan lakukan apa saja untuk bisa wujudkan keinginan.
__ADS_1
"Non, Hati-hati!" Gondo Arum berteriak. Dia melihat sebilah pedang berkelebat ke arah Suhita.
"Aaahhh!" Suhita memekik. Bocah itu begitu terkejut karena ada seorang anak buah Marunda yang ingin mencelakainya.
Secara spontan, Suhita melemparkan serbuk di tangannya tepat ke arah wajah orang yang menyerangnya. Serbuk berwarna kuning kecoklatan itu mengepul di udara, menghantam wajah hingga melempaekan tubuh orang itu hingga menabrak beberapa rekannya.
"Serbuk racun tanpa batas?!" Kelabang Pitu terbelalak menyaksikan serbuk racun yang Suhita gunakan. Sungguh, sosok tabib kecil itu sangat memukau dengan segala kemampuan langka yang dia miliki.
Dari waktu ke waktu, Suhita sering mengobati orang-orang yang membutuhkan jasanya. Tidak perduli siapa saja, asalkan Suhita mampu maka pasti akan dia tolong.
Beberapa waktu yang lalu Suhita menemukan Marunda tergeletak tidak berdaya tidak jauh dari jurang di bawah gua tanpa dasar. Meskipun tidak dilengkapi dengan tenaga dalam, nyatanya Suhita bisa mengobati luka dalam yang dialami oleh Marunda. Bakat langkanya itu, ternyata pula terendus oleh beberapa pendekar dari kelompok lain. Hingga orang-orang tamak dan serakah itu langsung berlomba untuk bisa mendapatkan Suhita. Mereka akan memaksa untuk Suhita bekerja di bawah kendali mereka. Menciptakan obat, juga membuat racun yang kelak akan digunakan untuk kepentingan kelompok mereka.
Tidak tanggung-tanggung, berita itu sangat cepat menyebar hingga utusan padepokan besar aliran sesat, Buto Cakil juga sudah tiba di sana. Suhita beruntung, dia memiliki dua orang pelindung yang sangat tangguh. Hingga sampai detik itu, dia masih bisa selamat.
"Non Hita, ayo lemparkan lagi serbuknya. Aki akan gunakan itu untuk menutup jalan kita, agar kita bisa melarikan diri."
"Tidak, racun ini berbahaya. Aku tidak ingin mencelakai orang," Suhita menolak.
"Gkgkgk! Kau ini sangat lucu. Majikan kami ini seorang tabib, mana mungkin mau dijadikan sapi perah oleh kalian. Kalian mau menangkapnya untuk dipekerjakan sebagai pembuat racun 'kan? Setelah itu, kalian bisa dengan mudah melakukan perampokan. Dasar penjahat berpikiran picik. Fuuiiihhh!" Kalagondang berkacak pinggang, menghadang laju Barno Gari.
"Sudah, kakang. Habisi saja dulu dua kakek nenek peot ini. Tabib kecil itu gampang," seorang anak buah Barno menyarankan.
Tidak hanya Barno, tapi Kelabang Pitu juga sama. Bahkan dia telah melakukan serangan lebih dulu. Kali ini, Kalagondang dan Nyi Gondo Arum yang menjadi incaran mereka. Jika mereka berhasil singkirkan dua pelindungnya, maka pastinya Suhita tidak akan bisa banyak berbuat.
"Ibu ... mereka benar orang-orang jahat! Bagaimana ini? Ibu, Ayah. Ini salah Hita, karena Hita kakek dan nenek mau dibunuh. Ayah, tolong Hita," Suhita mulai panik.
Awalnya, Hita tidak begitu percaya pada perkataan Nyi Gondo Arum yang mengatakan kalau para pendekar yang datang berniat untuk menangkapnya untuk dijadikan sandera. Tapi melihat kenyataan yang sebenarnya terjadi, mata Suhita terbuka lebar. Kebaikan itu memang kerap dimanfaatkan.
Pelan-pelan, Suhita mundur. Sedikit menjauh, sebelum kemudian lari menyelamatkan diri. Kalau dia bisa kabur, pastinya ruang gerak kakek dan nenek akan lebih mudah karena tidak terbebani oleh dirinya. Suhita harus pulang dan meminta perlindungan pada orangtuanya. Sungguh Suhita berharap kalau ayahnya sudah pulang. Dia akan meminta ayahnya untuk menyelamatkan aki Kalagondang dan Nyi Gondo Arum.
__ADS_1
Sial! Mereka menemukan tempat persembunyian Suhita. Tidak ada jalan lain, Suhita merogoh kotak kecil di punggungnya dan mengambil beberapa serbuk racun waktu yang berfungsi untuk hilangkan kesadaran.
"Hei, aku di sini! Ayo kejar kalau kalian bisa!" Suhita berteriak dan melambai ke arah orang-orang yang mencarinya.
"Tabib kecil itu di sana! Kepung dia!"
Serentak belasan orang yang mengejar Suhita berlari ke satu arah. Mereka mengepung Suhita yang berlari kecil di celah batu.
Buuurrrr !!!
Sebungkus serbuk racun waktu menyebar secara merata, tepat ketika orang-orang itu hampir menangkap Suhita.
"Maaf, ya. Paman-paman, silahkan kalian tidur dulu. Nanti setelah empat jam, kalian pasti bangun sendiri," Suhita membungkuk pada tubuh-tubuh yang bergeletakan tidak sadarkan diri. Dengan hati-hati, Suhita melangkah supaya tidak menginjak tubuh mereka.
"AAAAHHHH !!!" Suhita menjerit kencang.
Kakinya terpeleset dan terjerumus ke dalam jurang.
°°°
"Huuuhhh ... huuuhhh ..." Suhita mengelus dada, rasa cemasnya belum reda. Nyawanya terasa baru kembali separuh dan separuhnya masih tertinggal dan melayang di dinding jurang.
"Kakek, terima kasih. Kakek sudah menyelamatkan saya," Suhita baru ingat, dia belum mengucapkan terima kasih pada orang yang menyelamatkannya.
Orang di dasar jurang itu tersenyum. Sejak tadi dia tidak bicara, hanya tersenyum dan tersenyum saja. Di tangannya terlihat beberapa ikat kertas. Usia kertas itu nampak sangat tua dan rapuh. Entah apa isinya.
"Kakek, maaf. Saya tidak bisa berikan apa-apa, saya juga tidak bisa lakukan apa-apa. Tapi ... sekarang saya harus pulang. Ibuku pasti mencemaskan aku," Suhita membungkuk memberi salam perpisahan.
"Bocah keras kepala. Takdirmu memang bagus, kau akan menjadi dewa penolong. Malaikat penyembuh di muka bumi. Tapi ... semuanya berada di tanganmu, hanya kau yang bisa tentukan benar atau tidaknya takdir itu."
__ADS_1
"Ah?!" Suhita terkejut mendengar ada suara yang begitu dekat, mengiang di telinganya.
Suhita menoleh ke arah orang yang menyelamatkannya, tapi orang itu tidak nampak membuka mulut. Bahkan senyumnya menunjukkan jika seumur hidup dia tidak pernah bicara.