
Cuaca yang memang sejak siang mendung-mendung manja, sepertinya sore ini akan turun hujan. Awan hitam itu nampak begitu sangat berat dan tidak mungkin tertahan lagi untuk tumpah ke bumi.
"Tuan, sepertinya hujan akan turun. Apa tidak sebaiknya Tuan bermalam dulu di pondok saya?" Nyi Gondo Arum melongok langit ke berbagai arah. Cuaca memang mendung gelap.
Mahesa menatap ke arah Nyi Gondo Arum yang akan ikut dengannya untuk membantu mengasuh Suhita. Wanita paruh baya itu tidak nampak menyeramkan lagi. Rambutnya sudah disisir dan sekarang diikat gulung. Pakaiannya juga bersih dan sopan. Memang dasarnya dia adalah orang baik-baik, bukan orang gila seperti kabar yang beredar.
Nyi Gondo Arum sudah berkemas. Dia begitu bersemangat memperoleh kesempatan untuk mengurus seorang anak. Anak perempuan yang begitu cerdas. Sungguh merupakan hal yang amat dia idam-idamkan selama ini.
"Ah, sial! Mengapa tidak nanti malam saja hujannya," gerutu Nyi Gondo Arum ketika rintik gerimis benar-benar menimpa bumi. Gerimis itu berubah menjadi hujan yang lebat.
"Hujannya sangat deras, biasanya hujan seperti ini akan cepat reda. Berbeda dengan gerimis putih yang bisa sampai sepanjang hari. Nyai duduk saja dulu," komentar Mahesa.
Nyi Gondo Arum menarik napas panjang. Mengapa jadi dia yang sangat gelisah? Sementara Mahesa yang meninggalkan anak istrinya saja terlihat begitu tenang. Sabar menunggu sampai anugerah pemberian Tuhan habis tercurah, menyirami tanaman dan bumi yang semakin panas.
Benar kata Mahesa, hujan yang tercurah sangat deras itu berhenti total setelah sekian satu jam mengguyur bumi. Suasana dingin dan basah mengambang di permukaan bumi. Tanpa meninggalkan bekas tinjak kaki, Mahesa dan Nyi Gondo Arum berangkat meninggalkan pondok. Mereka pergi dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh.
"Nyai, jika lelah baiknya kita istirahat saja dulu. Dini hari ini sangat dingin," Mahesa menghentikan perjalanan.
"Tuan, saya masih sanggup. Perjalanan kita masih jauh 'kan? Tidak baik menunda waktu," jawab Nyi Gondo Arum.
Mahesa tersenyum. Awalnya dia hendak mempertimbangkan untuk melanjutkan perjalanan, tapi di kejauhan dia merasakan ada beberapa ekor kuda yang dipacu kencang. Dini hari begini, kalau bukan perampok jelas tidak ada orang yang nekad melewati hutan.
"Setidaknya ada enam ekor kuda. Baiknya kita tunggu mereka lebih dulu. Firasatku mengatakan jika mereka adalah orang jahat," ucap Mahesa sambil berjalan menuju sisi tebing.
Nyi Gondo Arum mengerutkan dahi. Dia berusaha memusatkan pendengarannya, dan memang benar seperti apa yang Mahesa katakan. Usia yang terus bertambah juga karena jarang diasah, membuat Nyi Gondo Arum mengalami kemunduran.
"Tuan, kau benar. Mereka pasti perampok tanpa wajah, seperti yang pernah diceritakan oleh warga desa," ucap Nyi Gondo Arum.
Perampok tanpa wajah? Pasti mereka menggunakan topeng. Kalau hanya ditutupi mengapa harus katakan tanpa wajah?
__ADS_1
"Dari arah selatan, apa mungkin mereka baru saja merampok saudagar kikir itu?" gumam Gondo Arum.
"Kikir atau tidak, dermawan atau korup, rampok tetap saja rampok. Apa kau pernah dengar ada perampok yang dirampok? Itu artinya sama saja, rampok. Aku yakin, Nyai lebih paham."
Nyi Gondo Arum tersipu, ucapan Mahesa memang tidak keliru. Waktu muda, sebagai bekas pendekar tentu Gondo Arum paham akan hal itu. Sekarang, apa tulang tuanya harus kembali mengulangi cerita lama? Ah, baik. Nyi Gondo Arum akan tunjukkan kemampuannya di hadapan Mahesa. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk Mahesa mempercayakan perlindungan Suhita pada dirinya. Setelah melihat jika kecepatan tangannya belum terlalu banyak berkurang. Anggap saja ini adalah ujian masuk baginya.
"Rampok adalah rampok. Hukuman bagi perampok adalah hukuman mati, tapi itu tidak berlaku bagi perampok yang membunuh rampok," ucap Nyi Gondo Arum. Kemudian dia berlari menuruni tebing. Menghadang kelompok rampok tanpa wajah.
Sangat menarik, kiranya ujian masuk yang harus Nyi Gondo Arum jalani tidaklah ringan. Rombongan yang dicegat merupakan kekuatan inti rampok tanpa wajah. Pimpinan, wakil pimpinan dan algojo-algojo kuat lainnya. Membuat Nyi Gondo Arum harus menarik napas dalam.
"Hei, nenek tua. Menyingkir dari jalan kami!" bentak seorang algojo dengan pedang besar tergantung di pinggangnya.
Bukan niat mereka untuk berhenti hanya karena seorang wanita paruh baya. Akan tetapi, dasar Nyi Gondo Arum yang mampu menghentikan laju kuda mereka.
"Wah, hasil besar tuh. Merampok dari mana, bos?" tanya Nyi Gondo Arum songong.
"Habisi tua bangka tidak berguna itu!" perintah Si Tikus Besar pada seorang algojo anak buahnya.
"Fiiihhh! Dasar nenek tua sialan. Kau hanya mengotori tanganku saja!" dengan kesal algojo itu menghunus pedangnya, lalu melompat turun dari punggung kuda.
"Jangan satu-satu, dua atau tiga sekalian," Nyi Gondo Arum melambai pada dua orang algojo yang lain.
"Kepa*rat!" dengan geram algojo itu langsung menyergap Nyi Gondo Arum dengan pedang besarnya.
Dengan ringan, Nyi Gondo Arum berkelit untuk hindari sabetan pedang besar milik algojo. Dia bahkan memberikan bonus tendangan keras di punggung lawan.
Melihat hal itu, membuat tiga algojo yang lain saling pandang. Tanpa menunggu perintah, mereka segera bergerak membantu serangan. Pedang-pedang besar milik algojo itu berkelebat cepat, seperti berlomba untuk menjangkau tubuh Nyi Gondo Arum.
"Hmm, siapa wanita itu? Apa kau pernah tahu?" tanya Tikus Besar pada wakil pimpinan, Tikus Hitam.
__ADS_1
"Jurus yang dia gunakan begitu asing. Kakak, aku sama sekali belum pernah lihat. Atau mungkin dia adalah pendekar tua yang kebetulan lewat," Tikus Hitam menduga.
"Tidak perduli siapa pun dia, habisi secepatnya. Dia hanya menghalangi jalan kita saja," ucap Si Tikus Besar gusar.
Barang bawaan yang menggantung di punggung kuda mereka adalah hasil rampokan dari saudagar kikir seperti yang Nyi Gondo Arum duga. Jika mereka lambat, takutnya tidak bisa melewati hutan sebelum matahari terbit. Jika itu terjadi, maka bisa dipastikan perjalanan mereka akan tertunda. Ada banyak prajurit yang melakukan penjagaan di perbatasan kota. Hal itulah yang mereka hindari.
"Sialan! Sekarang kau bantu mereka. Aku lihat nenek itu punya sedikit kemampuan. Jangan sampai karena nenek tua itu kita terlibat masalah," perintah Tikus Besar.
"Baik, Kak. Aku juga sudah sangat muak melihatnya," Tikus Hitam melompat dari atas punggung kudanya.
Sementara itu, Nyi Gondo Arum telah merubah jurus yang dia gunakan. Dia menggunakan kemampuan yang telah jarang digunakan. Tangan Nyi Gondo Arum sudah mulai agak kaget dalam melakukan gerakan-gerakan sulit. Selama ini, di tempat tinggalnya sangat jarang ditemui pendekar dengan kemampuan bertarung yang begitu mumpuni seperti rampok tanpa wajah ini.
Baamm! Baamm!
Pukulan tenaga dalam yang Nyi Gondo Arum lepaskan berhasil mengenai sasaran. Dua orang algojo terbanting keras setelah tidak berhasil menghindari pukulan Nyi Gondo Arum.
"Wow, nenek ini memiliki kemampuan yang ada di atas perkiraan ku. Lawan yang dia hadapi memiliki kemampuan setara guru di padepokan kecil. Tapi sejak tadi, tidak satu pun serangan yang berhasil mengenainya."
Mahesa berdecak kagum menyaksikan pertarungan di bawah sana. Kemampuan Nyi Gondo Arum memang luar biasa. Meskipun harus menghadapi para penjahat muda berpengalaman, wanita paruh baya tersebut masih bisa mengimbangi. Tidak menunggu lama, Mahesa melompat turun menghampiri Si Tikus Besar.
Bayangan naga berwarna putih menyilaukan berkelebat, menerangi arena pertempuran. Memancing mata untuk melirik ke arahnya.
"Sialan! Siapa lagi ini?!" Tikus Besar melompat dengan cepat, menghindari sambaran bayangan naga yang hendak menelannya.
Tidak perlu saling sapa, Tikus Besar telah dapatkan satu lawan yang sangat kuat. Tangannya terasa sangat sakit, kesemutan setiap kali menepis serangan yang Mahesa lakukan. Tikus Besar sampai terdorong ke belakang beberapa tombak ketika coba tahan pukulan Mahesa menggunakan tenaga dalamnya.
"Kakak, kau baik-baik saja?!" Tikus Hitam melompat meninggalkan Nyi Gondo Arum dan membiarkan seorang lagi algojo mereka dihabisi.
"Hati-hati! Mereka bukan pendekar sembarangan," Tikus Besar memperingatkan. Dia bangkit seraya memegangi dadanya yang begitu sesak.
__ADS_1