Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Pasukan Mayat Hidup ll


__ADS_3

Serbuk Anggrek Pencabut Nyawa berterbangan di udara. Memang tidak berbahaya bagi manusia maupun mahkluk hidup lainnya. Namun, dengan aroma yang tersebar itu membuat para pendekar yang merupakan mayat hidup menjadi sangat beringas. Dalam benak mayat hidup itu, tidak ada yang lain kecuali berpesta, berlomba mencabut nyawa lawan dengan bersenang-senang.


"Kepa*rat! Mereka kebal senjata tajam. Bahkan sabetan pedangku. Bagaimana ini, kita tidak mungkin harus habisi mereka satu persatu. Yang ada, energi kita akan lenyap," ucap Dewi Api.


Dengan pertarungan biasa, sangat sulit untuk bisa kalahkan meski hanya satu mayat hidup. Itu disebabkan mereka merupakan para pendekar ternama kala masih hidup. Dengan bantuan kekuatan magis Jarum Kehidupan, membuat kemampuan mayat-mayat hidup tersebut menjadi berkali lipat. Mereka kebal dan sama sekali tidak memiliki rasa sakit.


"Mereka bangkit dan berevolusi karena satu kekuatan asing. Itu menandakan pasti ada satu titik lemah yang mereka miliki. Sayangnya, aku belum menemukannya. Tidak ada pilihan lain, aku tidak mungkin kabur dan meninggalkan anakku sebagai jaminan," Mahesa meningkatkan kekuatan tenaga dalam pada telapak tangannya. Kekuatan Tapak Naga yang dia kerahkan membuat sekujur tubuh Mahesa menjadi gemerlap bercahaya.


"Kau sudah gila, ya?! Aku ini masih muda, kau pikir aku mau hidup menjadi janda?!" gerutu Dewi Api.


Dengan segera Dewi Api mengganti pedang di tangannya. Dia menghunus Pedang Inti Api, pusaka yang dahulu menemaninya menjelajah dunia persilatan. Dengan juga menggunakan tenaga dalam tingkat tinggi, Dewi Api turun membangun serangan yang mengerikan.


Satu per satu mayat hidup bisa mereka hancurkan. Tidak perduli seberapa gagah dan berani matinya mayat hidup, ketika tubuh mereka berbenturan dengan hantaman tenaga dalam Mahesa ataupun Dewi Api seketika tubuh mereka berubah menjadi abu. Pastinya, siapa juga yang akan sanggup bertahan dari gempuran dahsyat sepasang pendekar utara dengan tenaga dalam tiada tanding tersebut. Tiada pilihan lain yang didapat kecuali kematian.


Dua mayat hidup berperawakan tinggi besar menyerang Mahesa secara bersamaan. Kedua mayat hidup itu tidak lain adalah tokoh aliran sesat yang kala hidupnya juga merupakan musuh Mahesa. Bahkan kehidupan mereka pun berakhir di tangan Mahesa. Kini setelah berhasil hidup lagi, keduanya berniat membawa Mahesa ke alam yang sekarang mereka tempati.


"Aku bahkan tidak pernah terpikirkan, jika harus membunuh kalian untuk kedua kali," Mahesa menggelengkan kepalanya.


"Hahaha! Kali ini keadaan telah berbeda, kami tidak akan bisa kau kalahkan lagi. Kau lihat, tenaga dalammu sudah banyak berkurang. Pada akhirnya, kau akan mati Elang Putih," seringai kemenangan tergores di bibir kedua mayat hidup itu.

__ADS_1


Tanpa banyak basa-basi lagi, keduanya langsung menyergap Mahesa dari dua sisi. Kali ini bisa Mahesa rasakan jika aura yang mereka pancarkan jauh berbeda. Mereka dapatkan kekuatan dua kali lipat ketika bangkit dari kematian.


Jurus demi jurus telah berlalu, Mahesa disibukkan oleh dua mayat hidup yang merupakan pimpinan dari kelompok mayat hidup tersebut. Dia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk membantu istrinya menghadapi serangan belasan mayat hidup yang lain.


"Penasihat Kafan, apa kau yakin jika mayat-mayat hidup itu akan mampu untuk atasi Elang Putih dan Istrinya?!" tanya Wira Lodra sedikit cemas.


Buyut Kafan tertawa terkekeh, dia menunjuk ke arah pertarungan "seandainya pun seluruh mayat tidak berguna itu hancur, maka kita akan dapatkan tangkapan yang jauh lebih besar. Saatnya akan tiba, ketika dua pendekar besar itu kehabisan tenaga. Kalian lihatlah ... jangan kira aku tanpa rencana!"


Wira Lodra dan para pendekar lainnya menoleh ke arah Buyut Kafan menunjuk. Di sana, mereka temukan ada Bulan Jingga. Bukan Bulan Jingga yang membuat mereka bisa bernapas lega. Melainkan orang-orang yang menyertai Pimpinan Aliansi Utara Selatan tersebut.


Ya, bersama Bulan Jingga telah berdiri banyak tokoh-tokoh besar dunia persilatan. Sebagian besar mereka adalah tokoh besar aliran sesat, tapi ada juga yang merupakan pendekar aliran putih dan netral. Tentu bukan pertarungan Mahesa dan Dewi Api semata yang hendak Bulan Jingga pertontonkan, melainkan ada hal lain yang membuat tokoh besar dunia persilatan itu jadi tertarik.


Awalnya, Dewi Api mengira ini adalah masalah pribadi. Masalah keluarga, yang menyangkut masa lalu dan juga anak-anak mereka. Namun sepertinya semua tidak sesederhana itu. Gerakan Bulan Jingga sangat cerdik dan licin, tidak bisa ditebak.


Sementara itu, pertarungan Mahesa dan dua orang mayat hidup masih berlangsung alot. Belum lagi, gangguan-gangguan dari mayat-mayat hidup yang lain membuat Mahesa harus mengatur ritme permainan dan tidak bisa terburu-buru mengakhiri pertarungan.


Mahesa mengerahkan pukulan Tapak Naga Bumi, memukul mundur salah satu lawan terkuat. Hingga dia bisa dengan leluasa menghunus pedang rembulan dan mengayunkannya pada seorang mayat hidup yang mendekat.


CRASH! Dengan sekali ayunan, Pedang Rembulan yang dialiri tenaga dalam tingkat tinggi itu membabat putus leher lawan.

__ADS_1


Kening Mahesa berkerut kala matanya menangkap percikan api dari celah benturan Pedang Rembulan di leher lawannya. Cahaya itu bukanlah benturan dengan tulang manusia. Sesegera mungkin, Mahesa turun dan memburu serbuk serpihan tubuh lawannya.


"Kristal Es - Dinding Pelindung" kala kakinya menjejak tanah, Mahesa langsung menghentakkan kedua tangannya, membuat dinding pelindung yang sangat tebal guna melindungi dirinya.


"Pengecut! Jangan bersembunyi di dalam sana, apa kau inginkan kematian atas istrimu?!" teriak pimpinan mayat hidup.


Mahesa tidak perduli, bahkan dia tidak menoleh sedikit pun. Kristal Es akan mampu melindungi dirinya dalam beberapa waktu, sekuat apa pun serangan yang dilepaskan lawan.


Dari arah lain, Dewi Api bisa melihat apa yang dilakukan oleh suaminya bukalah suatu tindakan pengecut ataupun bersembunyi. Ada sesuatu yang sedang berusaha untuk ditemukan. Apa pun itu, Dewi Api berharap suaminya akan berhasil.


Praaaaakkkk !!! Wuuusss !!!


Hembusan angin yang begitu kencang terjadi seiring dengan pecahnya kristal pelindung yang Mahesa ciptakan. Hentakan tenaga dalam tersebut, membuat bangunan di pelataran klan menjadi porak poranda, bahkan tiupan angin itu membuat seluruh mayat hidup terhempas dengan keras. Inikah kekuatan yang sebenarnya?! Ataukah selama ini Mahesa sengaja menghemat energi?! Tenaga dalamnya memang luar biasa.


Saat angin mulai reda, Mahesa telah berdiri tidak jauh dari istrinya. Dengan satu kabar gembira.


"Lihat! Jarum inilah yang membuat mayat-mayat itu masih bisa melawan. Pun jarum ini yang meningkat kemampuan mereka. Letaknya di kepala bagian belakang. Jika tepat, dengan sekali pukul mereka akan menjadi abu," ucap Mahesa.


Dewi Api tersenyum, jempol kanannya diacungkan pada sang suami, "baik. Mungkin harus kuakui jika kau memang hebat. Meskipun ini sudah sangat terlambat."

__ADS_1


Mayat-mayat hidup memang tidak mengenal takut, bahkan saat Mahesa dan Dewi Api mengerahkan tenaga dalam untuk menciptakan tombak es dan juga panah api yang berterbangan di udara. Namun, ekspresi wajah Buyut Kafan lah yang tidak secerah sebelumnya.


__ADS_2