Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Ada Daging, Buaya Mendekat


__ADS_3

Tidak ada angin tidak ada hujan, mendadak petir menyambar. Kencana Sari dan Arya Winangun tidak bisa menghentikan laju langkah kaki mereka para pemegang kuasa. Panglima Braja memaksa masuk ke dalam kamar. Lencana yang dia bawa, membuat rakyat tidak bisa membuka suara.


Suhita kaget bukan kepalang. Dia tidak menyangka bila mana akan kedatangan tamu-tamu terhormat. Beberapa saat, Suhita hanya terdiam. Untung saja, proses penyelarasan energi Kemuning dan Lumut Kehidupan telah rampung. Suhita lekas menyimpan kotak kecil berisi sisa sumberdaya Lumut Kehidupan untuk nanti diberikan pada pengobatan lanjutan.


"Salam Tuanku, mohon maaf bila mana kami berlaku tidak sopan," Suhita membungkuk memberi hormat.


Panglima Braja tersenyum tipis seraya mengangguk. Langkahnya terus mendekat, menghampiri pembaringan. Dia baru berhenti setelah sangat dekat dengan Kemuning. Membuat gadis tersebut bergidik ketakutan merasakan aura yang dibawa oleh Panglima Braja.


Tangan Panglima Braja secara tidak sopan sekonyong-konyong langsung menyentuh dagu Kemuning, memaksa gadis yang ketakutan tersebut untuk menatap ke arahnya.


Sontak saja Kemuning berontak dan menghindari sentuhan Panglima Braja. Meskipun dia tidak bisa sepenuhnya menghindar. Tidak jelas apa maksud dari perlakuan tidak senonoh panglima perang kerajaan utara tersebut. Sampai-sampai membuat mata Suhita terbelalak lebar.


"Tuanku, mohon maaf. Pasien saya perlu istirahat, sama sekali dia tidak bisa diganggu. Jadi ... saya harap, dengan segala rasa hormat untuk Tuanku tidak mengganggunya terlebih dahulu," ucap Suhita.


Panglima Braja tertawa kecil, dia nampak tidak menggubris perkataan Suhita. Matanya justru semakin lekat memandangi Kemuning. Begitu juga dengan para Tumenggung yang bersamanya. Yakin dengan sangat yakin, pasti pikiran mereka sedang mengembara, menyaksikan sesosok bidadari tak bersayap sedang berbaring tidak berdaya tepat di hadapan mereka.


Suhita tidak bisa membiarkan perlakuan tidak senonoh di terima oleh pasiennya. Dengan cepat Suhita mengerahkan tenaga dalam untuk menarik pembaringan menjauh dari Panglima Braja. Kencana Sari yang melihat segera cepat tanggap. Dengan cepat dia datang membantu Suhita, hingga tidak begitu terlihat bagaimana Suhita menggunakan kemampuan tenaga dalam di hadapan para petinggi.


"Nona, kau harus membuat dirimu tenang setenang mungkin. Anggap saja tidak ada kami di tempat ini. Lihatlah ... cahaya matahari yang datang ini, rasakan, hirup dan nikmati. Buatlah bersatu bersama denyut nadimu," ucap Suhita pada Kemuning.


Posisi pembaringan dihadapkan pada lubang jendela, selain untuk menjauh dari Panglima Braja, pastinya Suhita memiliki alasan yang cukup masuk akal dalam rangka pengobatan. Kencana Sari membantu Kemuning untuk duduk bersandar pada ranjang, dengan demikian tidak menambah pemandangan 'menggoda' yang Kemuning pertontonkan dari lekuk tubuhnya.


Bukannya tidak tahu akan trik yang Suhita lakukan, Panglima Braja hanya bisa tersenyum masam diperlakukan demikian. Dalam hatinya mengumpat dan menggerutu kesal. Jika saja bukan Tabib Dewa, mungkin tidak bisa ditebak apa yang akan dialami oleh Suhita karena berani menghina seorang petinggi kerajaan.


"Tabib Dewa, aku begitu menghormatimu. Aku yakin, suatu saat nanti baik diriku atau mungkin anak cucuku akan begitu berharap bantuanmu. Akan tetapi, apakah tidak sebaiknya sekarang kau bantu aku untuk sekadar menjalankan tugas," ujar Panglima Braja seraya kembali berjalan mendekat. Tidak bosan-bosannya dia mencari cara.


"Tuanku, mohon maaf. Ampuni atas tindakan saya. Seperti layaknya dunia persilatan dan protokoler kerjaan, begitu pula dengan dunia ketabiban. Kami memiliki janji, sumpah serta kode etik yang harus kami junjung. Saya mohon, selama pasien masih sedang saya tangani, bersabarlah bila mana Tuanku miliki kepentingan," Suhita bersikeras untuk tetap tidak menyerahkan Kemuning.


Panglima Braja melambaikan tangannya pada seorang prajurit, meminta sesuatu. Tidak berselang lama, prajurit tersebut segera datang dengan membawa sebuah kotak berwarna emas. Lencana emas, Suhita bisa menebak isi yang ada di dalam kotak tersebut. Dengan kata lain, Panglima Braja coba untuk mengintimidasi Suhita dengan perintah tugas yang dia emban. Jika berani menentang, itu sama saja dengan melawan perintah kerajaan.


Suhita menghela napas, tapi dia keukeh pada pendiriannya. Tidak mengizinkan Panglima Braja meskipun sekadar untuk menyentuh Kemuning.


"Apa ini? Mengapa aku selalu membawa masalah untuk orang lain? Sekarang Tabib Dewa. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" Kemuning memejamkan matanya, mencoba untuk menebak kesalahan fatal apa yang dia lakukan sehingga Tuhan membalasnya dengan amat berat.


Kemuning diam-diam memperhatikan segenap gerak-gerik Suhita, sungguh dia merasa jika Suhita berusaha keras untuk melindunginya. Apa mungkin ini hanya sebatas tabib dan pasien? Rasa tidak. Terlihat jika Suhita bahkan coba untuk buat dirinya sebagai tameng.

__ADS_1


"Tuanku, sebagai seorang petugas bukankah kalian diperuntukkan untuk memberi rasa aman untuk segenap rakyat? Ataukah saya merupakan seorang yang mendapatkan pengecualian? Bahkan Tuanku mengabaikan tugas prajurit yang berhari-hari melindungi saya," Suhita tetap menunjukkan rasa hormat.


"Tabib Dewa, kami hanya inginkan pasien Anda hanya untuk sementara waktu. Setelah penyelidikan selesai kami lakukan, pasti akan kami kembalikan," seorang Tumenggung turut angkat bicara.


"Tidak. Sebelum saya yakin untuk melepaskan pasien, saya harus pastikan mereka bisa berjalan dengan sehat. Namun sebelum itu semua, mohon maafkan atas segala kekeliruan saya."


Panglima Braja hampir tidak bisa menahan amarahnya. Wajahnya merah padam. Tapi jika dia bicara kasar atau membentak Tabib Dewa, pastinya para prajurit yang berjaga di sana akan menjalankan tugas mereka. Dan itu bukanlah ide yang baik.


"Tabib Dewa, kami punya kewenangan untuk memaksa. Jadi saya harap untuk Anda kooperatif," dengan degup jantung yang semakin tidak beraturan, seorang Tumenggung berkumis tebal mulai mengeluarkan kalimat ancaman pada Suhita.


"Tabib Dewa, kami sedang bertugas. Kami penegak hukum, dan gadis cantik yang ada bersamamu, dia harus kami bawa sekarang juga!"


"Tidak ada yang bisa bawa siapa pun!" terdengar satu suara yang begitu lantang. Kala mata melihat ke arah pintu, seorang pria tampan nan gagah masuk dengan langkah yang tegap. Jenderal Muda, Raka Jaya.


Suhita menghela napas lega, setidaknya dia memiliki seorang yang pula memiliki taring dan tentunya akan membantu Hita untuk mempertahankan Kemuning. Suhita sangat yakin kalau Raka Jaya akan lakukan apa pun untuk membantu dirinya. Termasuk pasang dada dalam menghadapi Panglima Braja.


"Jenderal Muda," meskipun dengan terpaksa para prajurit anak buah Panglima Braja menundukkan kepala mereka.


Raka Jaya menatap satu persatu Tumenggung yang datang bersama Panglima Braja. Mereka yang semula berdiri dengan tegak, sekarang kiceup berhadapan dengan Raka Jaya. Selain memiliki kedudukan yang tinggi, para Tumenggung itu pun sangat memperhitungkan kemampuan yang dipunya sang Jenderal.


"Hehehe, Jenderal Muda. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan tugas yang kau emban. Kau harus tahu posisimu, kami hanya menjalankan tugas yang menjadi tanggung jawab kami," Panglima Braja bersikap seolah tidak melakukan hal yang salah.


"Mana?! Apa kalian tidak dengar ucapanku?" Raka Jaya masih menyodorkan tangan, meminta surat perintah yang dia maksud yang nyata-nyata tidak mereka miliki. Itu menandakan bahwa Panglima Braja dan para Tumenggung tersebut bertindak semena-mena, memanfaatkan jabatan mereka untuk kepentingan pribadi. Dan mereka, tidak bisa melakukan apa pun.


"Jenderal Muda! Anda tahu posisi Anda, tugas apa yang Anda emban. Seharusnya Anda membantu kami sebagai penegak keadilan. Tapi mengapa justru melindungi dia, ada kasus yang kami tangani berkaitan dirinya. Saya harap Anda jangan cari masalah," Panglima Braja bicara seraya menunjuk pada Kemuning.


"Harusnya aku yang bertanya, apa kau yang tidak tahu tugas yang sedang aku emban hingga kau pura-pura bertanya? Haha, lucu sekali," Raka Jaya tertawa.


"Tabib Dewa merupakan tanggung jawabku sepenuhnya, seorang pun berani membuat masalah, kau tahu aku tidak pernah main-main. Ya ... meskipun aku tahu kalian adalah orang-orang yang begitu percaya diri," sambung Raka Jaya seraya menatap satu persatu wajah para Tumenggung, terakhir dia menatap Panglima Braja.


Raka Jaya tidak sekali pun menyebut dan membawa-bawa nama Kemuning. Seutuhnya dia berada dalam tugas yang sedang dijalankan, sebagaimana seragam yang dia kenakan. Seorang prajurit yang akan menjalankan tugas dengan segenap hati dan kemampuan.


"Jenderal Muda, kau berada dalam masalah besar!" ucap Panglima Braja dengan geram.


"Sebelumnya aku perlu tahu, untuk siapa kalian bekerja? Jika hanya Keluarga Bangsawan Cokro, aku sarankan untuk kalian segera pulang dan cari cara lain."

__ADS_1


Semakin gondok Panglima Braja mendengar perkataan Raka Jaya. Dia menuding Raka Jaya telah bicara kasar dan merendahkan tugas mereka sebagai penegak hukum. Mengancam akan membawa kejadian tersebut saat sidang istana.


"Suatu kebanggaan terbesar yang aku dapatkan. Sebagai prajurit yang melaksanakan tugas, kalian selalu bertindak sesuai prosedur, tindakan yang mulia tidak seperti tukang pukul dan preman pasar. Selamat tinggal hukum rimba, aku bangga pada kalian," dengan senyum masam, Raka Jaya sengaja mencibir.


Sedikitnya, Raka Jaya mengetahui jika Panglima Braja merupakan seorang yang gemar memaksakan kehendak. Anak buahnya tidak segan-segan melakukan berbagai macam cara demi capai tujuan. Bahkan mereka kerap menyewa pembunuh bayaran untuk menyingkirkan tokoh yang dianggap membahayakan posisinya.


"Pernah dengar cerita, sang raja hutan mati tidak berdaya saat merasa kuat dan coba menaklukkan lautan? Bukan karena taring dan kukunya tidak lagi tajam, bukan pula karena kehilangan kemampuan ataupun pamor, akan tetapi singa tersebut hanya salah memilih tempat. Jenderal Muda, kalau begitu saya mohon pamit," Panglima Braja berpamitan tapi dengan membenamkan ancaman dalam kalimatnya. Dia tidak akan menyerah begitu saja atas perlakuan Raka Jaya padanya.


"Setinggi apa pun rajawali terbang, bahkan ketika tubuhnya hilang tersapu awan. Bukan untuk cari aman dan menghindari masalah. Justru hal itu semakin memperkokoh statusnya sebagai raja angkasa. Karena tajamnya lidah tidak akan membuat kulit terluka," jawab Raka Jaya. Tidak sedikit pun riak wajahnya berubah karena Raka Jaya tidak merasakan adanya ancaman yang berarti bagaimanapun tajamnya ucapan Panglima Braja.


Tangan Raka Jaya tidak bergerak, sejak datang memasuki ruangan dia menyentuhkan dua jari tangan kanannya pada gagang pedang di pinggangnya. Pedang Emas, lambang sekaligus tanda pengenal sebagai seorang Jenderal Muda di Kerajaan. Mungkin dari mereka ada yang lupa jika jabatan yang diduduki Raka Jaya saat itu, tapi di sisi lain juga menunjukkan bahwa Raka Jaya bukan sekadar Jenderal Muda melainkan pula sosok pendekar yang siap bertarung kapan saja tanpa peduli akan lencana pengenal masing-masing. Hal kedua inilah yang lebih diperhitungkan oleh Panglima Braja dan rekan-rekannya.


"Jenderal Muda, kau tunggu tanggal mainnya. Saya pastikan kau akan menyesal!" ucap Panglima Braja.


"Menyia-nyiakan waktu, aku peringatkan padamu, itu merupakan satu tindakan yang harusnya tidak dilakukan seorang penegak hukum," dengan kata lain Raka Jaya mengatakan 'mengapa tidak sekarang saja'.


Kendati Raka Jaya mengerahkan tenaga dalam untuk memprovokasi mereka, nyatanya usaha tersebut tidak berhasil. Mereka tidak merasa tertantang. Ah, mungkin itu terlalu manis. Baik Panglima Braja maupun empat orang Tumenggung yang lain tentunya merasakan aura bertarung yang Raka Jaya kerahkan. Mereka bahkan dipaksa untuk menggunakan tenaga dalam untuk tetap bisa bernapas. Jika mereka tidak bisa menahan diri, tentunya mereka akan melakukan hal yang memang kerap dilakukan dalam bertugas. Bertindak sesuka hati, abai pada peraturan yang ditetapkan. Tentunya hal tersebut yang ingin Raka Jaya buktikan.


Panglima Braja dan seluruh pasukan yang dibawa pulang dengan tangan hampa. Hanya ganjalan dalam hati, buah pele*cehan yang diterima. Mereka akan mencari cara untuk bisa membalaskan sakit hati mereka pada Jenderal Muda.


"Jenderal, terima kasih," ucap Suhita dengan senyum. Posisinya pasti akan sangat tertekan bila mana Raka Jaya tidak cepat datang.


"Tapi bagaimana jika masalah justru akan menimpamu, Kak? Ini, ini bukanlah hal yang baik. Aku selalu saja merepotkanmu, maaf," sambung Suhita.


Bukan sekadar basa-basi, Suhita benar-benar mencemaskan Raka Jaya. Bahkan selama ini mereka tidak muncul di dunia persilatan sebagai tiga bersaudara, alasannya tidak lain karena takut jikalau tindakan seseorang diantara mereka akan menyeret yang lain. Tapi bagaimana dengan sekarang? Apakah keputusan mereka tersebut merupakan kesalahan?!


Setelah beberapa saat, Suhita tidak mendapatkan jawaban apa pun. Raka Jaya tidak menanggapi perkataan Suhita.


Alangkah terkejutnya Suhita ketika dia menatap pada saudaranya itu, Raka Jaya tertangkap basah sedang menatap pada Kemuning, bahkan tanpa berkedip. Darah Suhita mendadak jadi mendidih, geram luar biasa. Bisa-bisanya Raka Jaya abai padanya karena terpesona pada Kemuning. Meskipun Suhita sadar kalau Kemuning miliki wajah yang sedikit lebih cantik darinya, apakah pantas dia mendapatkan perlakuan seperti itu? Apa bedanya Raka Jaya dan Danur Cakra?! Tidak ada buaya yang tidak tergoda oleh daging.


"Nona, coba kau lihat itu. Seketika anak anjing itu menjulurkan lidah saat melihat Tuannya membawa tulang. Dia bahkan tidak sempat berpikir lagi, ekornya langsung bergoyang," Suhita bicara dengan suara yang sengaja dia keraskan. Seolah di luar jendela dia benar melihat anak anjing seperti yang dia maksud.


Raka Jaya tersentak. Mana mungkin ada anak anjing apalagi Tuannya di sana, jelas-jelas tidak ada orang lain yang tinggal di penginapan itu. Jika ada, hanyalah prajurit yang berjaga. Ucapan Suhita hanya untuk menyindirnya.


"Aku harus pastikan Panglima Braja dan konco-konconya telah pergi dari sini. Kalau begitu, aku permisi," ucap Raka Jaya buru-buru.

__ADS_1


"Meskipun hanya anjing kurus tidak berguna, kau akan sangat kehilangan andaikata dia hilang. Apalagi jika dua anjing sekaligus yang hilang," sambil menepuk pundak Suhita, Raka Jaya cepat berlalu.


__ADS_2