
"Tabib, bagaimana? Apakah kondisi saya sudah jauh membaik, itu artinya saya sudah bisa konsumsi Lumut Kehidupan tahap kedua?" tanya Kemuning.
Suhita menghela napas, dia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi juga tidak bisa memberikan harapan-harapan semu, karena belum diketahui secara pasti kapan kondisi fisik Kemuning akan kembali normal. Di sisi lain, Suhita juga sudah berniat untuk kembali ke Soka Jajar. Apa dia ajak saja Kemuning ke sana? Karena untuk memaksa pengobatan dalam waktu dekat, tentunya memiliki resiko yang amat besar.
Suhita melirik pada Danur Cakra yang bersandar di sudut ruangan. Memang kemampuan energi tenaga dalam saudara kembarnya itu sudah kembali sepenuhnya, tapi terus terang saja Suhita tidak bisa membiarkan Danur Cakra mengorbankan begitu banyak energi untuk Kemuning. Kemarin, itu sudah cukup. Sangat membahayakan keselamatan Danur Cakra.
"Kak Cakra, setelah ini ke mana rencanamu akan pergi?" tanya Suhita pada Danur Cakra.
"Tidak tahu. Memangnya kenapa?" Danur Cakra balik bertanya.
"Tidak tahu?! Yang benar saja! Seorang tanpa tujuan hidup, bagaimana kau bisa tatap hari esok?"
"Sialan! Apa maksudmu? Jika ada sesuatu yang ingin disampaikan, katakan saja terus terang. Tidak usah berbelit-belit!"
Suhita mengangkat bahu, menghembuskan napas dengan kasar. Dia tidak mengatakan apa pun, seperti yang Danur Cakra telah tunggu. Suhita justru duduk di pembaringan di samping Kemuning yang masih berbaring.
Hanya Kemuning yang semakin kebingungan dibuatnya. Dia sama sekali tidak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang terjadi pada Tabib Dewa, atau justru kondisi fisiknya yang semakin buruk hingga Tabib Dewa pusing tujuh keliling untuk bisa lanjutkan pengobatan. Atau bisa jadi, Tabib Dewa merasa tidak nyaman karena kehadiran Kemuning di sana. Cakra juga, dia begitu canggung bahkan sekadar untuk mendekat. Kemuning sadar, bagaimana posisinya sekarang.
"Sekarang ... kau mau aku berbuat apa? Jika Kemuning belum bisa untuk diobati lagi, terus bagaimana?" tanya Danur Cakra.
"Antarkan kami ke Soka Jajar. Atau mungkin kau bisa bawa Nona Kemuning ke sana. Karena aku tidak mungkin bisa lebih berlama-lama di sini. Tanggung jawab ku amat besar di sana. Tapi sebelum itu ..." Suhita menghentikan bicaranya.
"Apa? Bicara jangan sepotong-sepotong. Terus terang, aku merasa kau sedang menyusun siasat untuk membuatku menderita. Sialan!" Danur Cakra bersungut-sungut, dia melihat kerlingan mata Suhita yang menyiratkan sesuatu. Cakra sangat paham, pasti Suhita hendak meminta untuk dia melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Memasak salah satu contohnya.
"Kalau sudah tahu, mengapa masih diam? Kau lihat, Nona Kemuning bahkan baru makan bubur sedari pagi. Sana!" Kemuning mengibaskan tangannya, meminta agar Danur Cakra segera pergi.
Danur Cakra mengepalkan tangan, sudah bisa dia menduganya. Suhita benar-benar membuat dirinya kehilangan karisma di hadapan Kemuning. Masa iya, seorang pembunuh disuruh-suruh seperti pembantu. Tapi apa boleh buat, dari pada semakin memperpanjang perdebatan yang tidak penting, Danur Cakra segera pergi. Dia menutup pintu dengan kasar.
"Hei, jangan marah-marah! Kau sangat jelek kalau marah!" teriak Suhita.
Kemuning hanya bisa tersenyum getir. Nampaknya Tabib Dewa sengaja untuk memperlihatkan kedekatannya dengan Cakra, bahkan Cakra tidak bisa berbuat banyak untuk menolak apa yang dia inginkan. Tanpa bicara, Cakra dituntut harus tahu atas apa yang Tabib Dewa mau.
"Nona ... sebelumnya aku minta maaf. Tapi satu hal yang harus kau ketahui, bahwa kondisimu saat ini jauh lebih lemah dari saat pertama kau datang. Memang yang terlihat kau berangsur pulih, tapi untuk melanjutkan pengobatan, itu bukan ide yang baik. Jadi aku harap, Nona baiknya bersabar," Suhita menjelaskan dengan lembut. Sama sekali Suhita tidak menghilangkan harapan kesembuhan, tapi kesabaran ialah kunci utama untuk bisa dapatkan hasil yang lebih optimal.
"Aku tidak tahu, apa yang bisa aku lakukan untuk membalas segala kebaikan Tabib Dewa. Bahkan Tabib tidak pernah menganggap jika aku merupakan seorang yang pernah menyerang Tabib dan rombongan."
"Lupakan! Harusnya Nona tidak perlu mengingat segala hal buruk, karena hanya akan memperberat langkah. Bukankah ke depan kita bisa menjadi teman yang baik?" Suhita tersenyum seraya merentangkan kedua tangannya, keduanya lalu berpelukan dengan erat.
Air mata mengalir di kedua pipi Kemuning. Mengapa harus Tabib Dewa, mengapa bukan orang lain saja yang menjadi saingannya. Ataukah Kemuning harus menyerah dan berhenti memperjuangkan cintanya, merelakan seorang yang dia sayang jatuh di pelukan wanita lain.
__ADS_1
"Nona Kemuning, maaf. Tapi aku perlu tahu siapa dirimu, aku tidak rela jika saudara terbaikku harus jatuh di pelukan wanita yang salah. Aku ingin lihat bagaimana perjuanganmu, aku mau tahu sedalam apa rasa sayangmu, bagaimana caramu untuk menjadi wanita yang akan menemani kakakku. Setelah aku yakin, tentunya kau akan tahu yang sebenarnya. Cakra bukanlah kekasihku, justru dia adalah saudara kembarku," batin Suhita.
Dan mengapa Suhita semakin membuat Kemuning berada dalam rasa serba salah. Jawabnya sama-sama kita ketahui. Itu dikarenakan rasa sayang Hita yang amat besar pada sang kakak. Hita inginkan yang terbaik untuk kakaknya.
°°°
Raka Jaya baru saja turun dari punggung kuda, Panglima Lodaya langsung menyambut kedatangannya. Sudah sejak tadi sang Panglima menunggu kedatangan Jenderal Muda. Karena tidak berhasil menemukan keberadaan Jenderal Muda, maka Panglima Lodaya memutuskan untuk menunggu di kediaman pribadi Jenderal.
"Paman ... sudah lama kau menungguku?" tanya Raka Jaya.
Keduanya memasuki pendopo diiringi beberapa orang prajurit. Raka Jaya baru kembali dari mengintrogasi penyusup yang tertangkap. Para penyusup itu tidak di bawa ke penjara, melainkan ke satu tempat rahasia yang tidak bisa ditemukan oleh pejabat lain. Hanya Raka Jaya dan prajurit kepercayaannya saja.
"Jenderal Muda, ada satu hal yang secepatnya harus saya laporkan ..." Panglima Lodaya kemudian segera menceritakan perihal laporan tiliksandi yang menemukan pergerakan mencurigakan di desa Sasak, yang berada jauh di luar kota.
Raka Jaya mendengarkan dengan seksama, sesekali riak wajahnya berubah. Begitu banyak permasalahan yang datang bertubi-tubi, merongrong kewibawaan kerajaan. Belum lagi, serangan dari para tokoh aliran sesat yang pula ikut mewarnai cerita di dunia persilatan.
"Kita harus bertindak cepat. Turunkan lebih banyak tiliksandi, awasi terus segala hal yang mencurigakan. Selain itu, untuk pula menjaga keselamatan para pengintai kita, tugaskan pasukan khusus dengan kemampuan terbaik. Aku pun akan segera menyusun waktu untuk bisa menilik secara langsung," perintah Raka Jaya.
"Baik, Jenderal Muda. Saya akan segera laksanakan," Panglima Lodaya mengangguk.
Raka Jaya begitu tanggap, dia tidak pernah menunda-nunda segala sesuatu. Jika bisa sekarang, mengapa harus besok. Meskipun cukup banyak orang-orang yang tidak senang akan kecemerlangan karirnya, nyatanya sampai sekarang tidak ada seorang pun dari mereka yang berhasil menumbangkan pengaruh Raka Jaya di istana.
"Hmmm ... satu masalah belum terurai, telah lagi muncul masalah baru," Raka Jaya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Berdasarkan keterangan salah seorang penyusup, orang yang menyewa merupakan seorang pendekar muda yang tidak pernah menyebut nama. Hanya saja dari pakaian yang dia kenakan selalu memakai jubah berwarna ungu. Bisa jadi dia merupakan seorang pendekar yang berasal dari Padepokan nan jauh di seberang pulau.
"Oh ya, apakah Hita hari ini juga akan kembali ke Soka Jajar? Aku lihat para pelayannya mulai berkemas. Itu artinya pengobatan Kemuning sudah selesai dilakukan. Baguslah, paling tidak Suhita tidak terbawa dalam incaran serangan," Raka Jaya menghembuskan napas lega, paling tidak Suhita tidak akan terbawa dalam masalah baru yang tidak semestinya dia terlibat.
Bukan karena Raka Jaya tidak peduli pada Kemuning sebagai rakyat yang butuh perlindungan, tapi dengan adanya Danur Cakra tentu saja ada orang yang akan menggantikan tugas abdi kerajaan untuk melindungi gadis itu. Terlebih, dia belum begitu paham siapa dan bagaimana asal mula serta mengapa begitu banyak orang yang ingin untuk mendapatkan Kemuning. Tentu dengan begitu macam alasan yang bermain di belakang mereka.
Raka Jaya kemudian bangkit, dia bergegas berangkat ke istana. Selain untuk mempersiapkan pasukan guna persiapan penyergapan, Raka Jaya pula hendak memastikan bila ada kemungkinan petinggi kerajaan yang diduga ikut terlibat. Karena duri yang tertancap harus dicabut secara keseluruhan supaya terhindar dari sisa rasa sakit.
°°°
Suhita memutuskan untuk pulang hari itu juga. Dia yakin jika dalam perjalanan kembali ke Soka Jajar tidak akan berbeda dengan biasanya. Sepanjang jalan yang dilalui, tentunya pasti akan ada orang-orang yang kurang beruntung. Mendapat giliran berlawanan dari sehat yang menjadi nikmat.
Meskipun dengan berat hati, Raka Jaya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tentunya dia harus menyetujui keputusan adiknya. Lagi pula secara keselamatan itu memanglah hal yang paling tepat. Dengan demikian Suhita tidak lagi perlu terlibat dalam segala masalah yang ditimbulkan akibat kepentingan politik istana. Raka Jaya harus menyingkirkan segala hal yang menyangkut kepentingan pribadinya sebagai saudara. Nanti saat keadaan membaik, Raka Jaya bisa sesuka hati mengatur jadwal untuk bertemu Suhita.
"Paling tidak, aku harus menemui Hita terlebih dahulu sebelum dia pulang," Raka Jaya menghela napas.
__ADS_1
Ketika melintas di depan gerbang istana, Raka Jaya tanpa sengaja melihat adanya beberapa orang Jenderal dan juga Tumenggung yang terburu-buru menuju istana. Nampaknya ada sesuatu yang penting dan mendesak, tapi mengapa Raka Jaya justru tidak mengetahui hal itu?
"Tumenggung, tunggu dulu!" panggil Raka Jaya.
Seorang tumenggung yang mendengar panggilan itu menghentikan langkahnya. Betapa terkejutnya dia ketika menemukan bahwa orang yang memanggil tidak lain ialah Jenderal Muda. Dengan gugup, dia lekas memberikan salam.
"Keadaan mendesak apa yang membuat kalian begitu terburu-buru?" tanya Raka Jaya.
Tumenggung tersebut terlihat gelagapan. Secara kewenangan, dia sadar bahwa apa pun yang Jenderal Muda inginkan maka mereka harus memenuhi. Tapi sepertinya kali ini dia berusaha untuk tidak melakukan kewajibannya, tidak patuh pada Jenderal Muda.
"Tumenggung, aku bertanya padamu!" Raka Jaya memperjelas artikulasi ucapannya, takut bila si Tumenggung tidak mendengar suaranya.
"Jenderal Muda, maaf. Tidak ada hal penting apa pun. Hanya sedikit keterlambatan waktu, membuat kami berjalan terburu-buru," jawab Tumenggung tersebut menutupi sesuatu.
Raka Jaya menatap tajam, dia tahu jika Tumenggung itu berbohong. Tapi tidak ada kewenangan yang bisa dilakukannya untuk memaksa. Beberapa waktu, Raka Jaya hanya berdiri mematung. Hatinya tergerak untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam istana. Akan tetapi, Raka Jaya pula harus pergi untuk bertemu Suhita. Dia hanya bisa melakukan salah satu, tidak untuk keduanya. Bila masuk ke dalam istana, tentunya tidak cukup sedikit waktu yang dihabiskan dalam protokoler istana yang ketat. Setelah itu pasti Suhita tidak lagi berada di Kota Raja.
Langkah kaki Raka Jaya akhirnya terayun menuju rumah penginapan, dia memilih untuk menemui Suhita ketimbang masuk ke dalam istana. Raka Jaya berharap ada salah satu bawahannya yang juga berada dalam istana sebagai ganti mata dan telinganya selama Raka Jaya pergi.
"Syukurlah ... Jenderal Muda tidak mengikutimu."
Tumenggung yang baru saja bertemu Raka Jaya hanya bisa tersenyum seraya menghela napas lega. Dia senang ternyata Raka Jaya tidak menaruh curiga padanya.
"Sudahlah, kita cepat masuk ke dalam," ucapnya seraya melanjutkan langkah.
Sebelumnya mereka kehilangan separuh darah saat berhadapan dengan Jenderal Muda. Bagaimana pun juga mereka sadar jika bermasalah dengan Jenderal Muda adalah suatu yang sangat-sangat tidak bagus. Baik secara karir maupun dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan seluruh anak buah yang setia di dalam kubu Jenderal Muda tidak ada yang bisa dianggap enteng. Semuanya merupakan para pendekar pilih tanding dengan kemampuan ahli di bidang masing-masing.
Kembali pada Raka Jaya yang dalam perjalanan menuju rumah penginapan tempat Suhita menginap. Terus terang saja, hati Raka Jaya tidak bisa tenang. Dengan penuh keyakinan, dia bisa menduga jika pertemuan mendadak tersebut digagas oleh mereka yang berseberangan paham dengan dirinya. Tidak serta-merta untuk merongrong pengaruhnya sebagai Jenderal Muda, akan tetapi dalam pembahasannya pasti melakukan berbagai cara untuk menunjukkan bagaimana mereka menilai hanya dari satu sisi.
Raka Jaya menarik tali kekang kudanya, dia melihat seorang utusan khusus berlari cepat dengan menggunakan kemampuan tenaga dalam. Berlompatan dari atap rumah satu ke rumah yang lain. Dia begitu terburu-buru.
"Hup!" Raka Jaya melompat dari atas punggung kuda, mengejar sosok yang dia lihat.
Merasa ada yang mengikuti, utusan itu mempercepat larinya. Berusaha untuk bisa melarikan diri dari kejaran.
"Sial! Bagaimana ini?! Jenderal Muda pasti akan menghabisiku," pikirnya dengan cemas.
Benar saja, tidak berselang lama Raka Jaya berhasil menyusul. Memberhentikan dan meminta penjelasan perihal tugas yang sedang dia emban. Habislah si utusan. Bahkan surat yang dia bawa harus berpindah tangan pada Raka Jaya.
Seseorang telah mengetahui keberadaan buronan yang diduga sedang berobat pada Tabib Dewa. Tentu saja buronan yang mereka maksud tidak lain adalah Danur Cakra.
__ADS_1
Pantas saja pertemuan di istana tadi tidak melibatkan dirinya. Raka Jaya yakin jika ini ada kaitannya, karena Raka merupakan orang yang bertanggung jawab atas keselamatan Tabib Dewa. Sementara buronan yang dimaksud berada di tempat yang sama.
"Sialan!" Raka Jaya mengumpat.