Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Alam Evolusi


__ADS_3

Bugghh! Braakk! Tubuh Danur Cakra terpental hingga menghantam akar pohon dengan begitu keras, sampai-sampai akar itu patah menjadi tiga bagian.


"Akhh! Kepa*rat!" Danur Cakra mengumpat. Tulang punggungnya terasa remuk. Rasa sakit menderanya, benturan itu bahkan membuat kepalanya berkunang-kunang.


Dengan segera, Danur Cakra bangkit. Sebelum berusaha cari tahu mengenai siapa yang menyerangnya, lebih dulu Cakra melihat Batu Pelacak Roh di telapak tangannya untuk memastikan keadaan Kemuning. Namun saat Danur Cakra menunduk beberapa detik melihat Batu Pelacak Roh, Cakra mendengar desiran angin yang begitu kuat mengarah kepadanya.


"Hump!" dengan segera Danur Cakra melompat ke dahan pohon untuk menghindari serangan.


Bukan main! Hampir tidak percaya, dari dahan pohon itu Danur Cakra bisa melihat wujud siluman yang menyerangnya. Siluman Piton, hanya saja sepertinya ini adalah piton jantan. Warna sisiknya tidak bercorak seperti Piton Berbisa yang telah kalah. Justru seluruh permukaan kulit Piton Jantan diselimuti baja yang amat tebal, hingga warnanya pun berubah menjadi hitam pekat. Sangar! Hanya bola matanya yang bulat memancarkan cahaya berwarna kuning jingga.


Siapa yang menduga jika hutan tersebut dihuni oleh sepasang ular piton yang dalam tapabrata meningkatkan kemampuan menjadi setengah siluman. Piton Jantan telah berada pada tahap evolusi puncak gerbang keempat. Tentu saja kemampuannya berada di atas Piton Berbisa yang dikalahkan Danur Cakra.


Kemunculan Piton Jantan tentu erat kaitannya dengan kematian Piton Berbisa. Selain suara jeritan dan dentuman pertarungan, yang lebih mencolok ialah bau hangus dari tubuh piton yang terbakar. Bau yang dihantarkan oleh angin, membuat Piton Jantan terbangun dari tapabrata. Sebagai pasangan, pastinya Piton Jantan akan merasa kehilangan dan dendam.


Angin berhembus kencang seiring Piton Jantan menghela napas. Dari pancaran kemarahan di matanya, bisa dipastikan dia menuntut balas akan kematian Piton Berbisa yang merupakan pasangannya. Dan mengapa, dia menggunakan Kemuning sebagai sarana balas dendam.


Danur Cakra terbelalak, sungguh dia tidak menduga jika ada seekor piton lagi di sana. Piton dengan kemampuan yang lebih tinggi, dengan apa Danur Cakra bisa kalahkan piton satu ini?!


Danur Cakra ngos-ngosan, dia merasakan dinginnya air membasahi kaki. Ketika Danur Cakra menunduk, benar saja. Aliran air setinggi lutut mengalir di sungai yang Cakra injak. Ke kiri, Ke kanan, Danur Cakra melepaskan pandangannya berkeliling, mencoba untuk mencari tahu di mana keberadaannya sekarang. Jelas-jelas baru saja dia berada di tengah hutan, berhadapan dengan siluman pemangsa. Anehnya, Danur Cakra melupakan semua itu. Bahkan dia melupakan Kemuning yang semestinya harus dia tolong. Fokus Danur Cakra ialah untuk mengenali di mana keberadaannya.


"Aku belum pernah datang ke sini. Tempat apa ini sebenarnya?" gumam Cakra.


Tak kunjung menemukan jawaban, Danur Cakra akhirnya menyerah. Lagi pula apa pentingnya, yang jelas dia masih hidup. Jalan ke depan tentu bisa dipikirkan sambil kaki terayun melangkah. Air yang sejuk, membuat Danur Cakra berniat untuk mencuci muka. Siapa tahu setelah itu pikirannya kembali fresh.


Danur Cakra meraup air dengan kedua telapak tangannya, dia mendekatkan air itu ke wajah dan hampir membasuhkan. Namun laju gerakan tangannya terhenti saat Cakra melihat hewan kecil yang mengambang di atas air. Hewan sebesar ibu jari itu nampak menatap dan tersenyum ke pada Cakra. Meskipun baru pertama melihat secara nyata, tapi Cakra yakin kalau itu adalah bayi naga.


"Hai ... apa yang kau lakukan di sungai ini? Apakah seekor naga suka berenang?" tanya Danur Cakra seraya membalas senyuman sang naga.


Bayi Naga itu menggeliat gembira, dia senang bisa bertatap dan bicara dengan Danur Cakra. Akan tetapi, dia tidak bisa terlalu lama dalam genggaman. Dia harus berjuang, berenang melawan arus sungai.


Danur Cakra seolah mengerti apa yang diinginkan oleh Bayi Naga. Begitu pula sebaliknya, Bayi Naga tersebut juga paham atas setiap ucapan Danur Cakra.


"Ohhh ... ini dunia evolusi. Dan bayi naga ini merupakan tahap evolusi ku," Danur Cakra manggut-manggut. Dia mengerti sekarang.


Danur Cakra berdiri tegak, memperhatikan setiap detail yang ada di dalam dunia evolusi miliknya. Air yang mengalir datar merupakan jalan evolusi untuk Bayi Naga miliknya. Di depan sana, ada air terjun yang cukup tinggi. Tepat di antara dinding puncak air terjun berdiri dengan gagah sebuah gerbang. Gerbang evolusi yang baru saja terbuka. Bayi Naga memikul tugas yang sangat berat. Tubuhnya yang mungil harus berenang melawan arus, lalu kemudian mendaki air terjun pertama, melewati gerbang untuk memasuki tingkat kemampuan evolusi tahap satu.

__ADS_1


Memang untuk ukuran manusia berkemampuan layaknya Danur Cakra, tinggi air terjun itu tidaklah seberapa. Dengan sekali ayunan kaki, maka dengan mudah akan bisa dilewati. Tapi ... untuk seekor bayi naga yang baru menetas? Tentu sangat teramat sulit.


Danur Cakra hanya bisa menghela napas, dia tidak bisa membantu Bayi Naga dalam mencapai tahapan demi tahapan, karena itu pula merupakan pencapaian yang harus dia capai di dunia nyata.


WUUUSSS! Seekor anak burung terbang melayang di depan wajah Danur Cakra. Tentu saja Danur Cakra sangat kaget, bagaimana bisa ada mahluk lain masuk ke dalam alam evolusi miliknya? Harusnya hanya roh naga miliknya saja, tapi ... burung itu juga merupakan energi evolusi.


Dengan terbelalak, Danur Cakra mengikuti pergerakkan burung tersebut. Hingga sang burung menuju ke sebuah batu tepat di bawah pohon. Bertepatan dengan itu, muncul sesosok wanita bercadar di sana. Membuat Danur Cakra semakin terbengong-bengong. Benarkah ini alam evolusi miliknya? Ataukah hanya alam ilusi? Ya, ini hanya alam ilusi. Danur Cakra sangat yakin. Tidak mungkin ada kemampuan yang bisa masuk ke dalam kemampuan pribadi orang lain. Itu sangat tidak masuk akal. Danur Cakra belum pernah mendengar perihal tentang itu.


"Kau siapa? Mengapa bisa ada di tempat ini?" tanya Danur Cakra pada wanita bercadar itu.


Wanita bercadar tidak merespon, dia justru mengalihkan perhatiannya pada anak burung yang mendekat padanya. Wanita bercadar mengangkat tangan kanannya mengarahkan pada si anak burung. Seolah paham, anak burung langsung terbang mendekat lalu hinggap di tangan wanita bercadar.


CLIIINGGG !!! Cahaya emas bertabur di segenap penjuru, menutup pandangan mata Danur Cakra. Ketika Cakra kembali bisa menatap, anak burung kecil tadi sudah berubah menjadi burung foniks. Burung besar berbulu nan indah dengan warna merah keemasan.


"Apa?! Kiranya kemampuan roh evolusi bisa berubah?" Danur Cakra menelan ludah. Dia menatap ke arah Bayi Naga berwarna hitam miliknya. Apa mungkin, kemampuan evolusi miliknya pun bisa berubah?


Danur Cakra hendak bertanya lagi, tapi baru saja dia membuka mulut, sosok wanita bercadar dan burung foniks itu perlahan lenyap dari pandangan.


"Nona! Nona! Tunggu dulu!" Danur Cakra berteriak.


Namun percuma saja, tidak ada jawaban apa pun. Selain Naga Kecil, tidak ada siapa-siapa di sana. Danur Cakra semakin kebingungan dibuatnya.


"Ah?!" Danur Cakra terdiam. Dia mendengar seseorang memanggil-manggil namanya. Setelah memastikan, Danur Cakra yakin jika itu bukanlah suara Naga Kecil, melainkan ada suara lain.


"Apa lagi ini?" Danur Cakra panik.


Semula Cakra yakin jika sedang berada di alam evolusi miliknya. Tapi kemunculan wanita bercadar dan burung foniks raksasa mulai menggoyahkan keyakinannya. Ada satu pesan yang disampaikan oleh kemunculan foniks, Danur Cakra bisa paham untuk itu. Dan sekarang, suara itu ...


Danur Cakra coba memusatkan perhatiannya, dia mencari-cari arah datangnya suara. Tapi kebuntuan yang didapat. Hingga kemudian Cakra memperhatikan perilaku Naga Kecil. Isyarat yang disampaikan, membuat Danur Cakra mengerti. Ya, suara itu merupakan suara yang berasal dari dunia nyata. Danur Cakra harus bisa keluar dan masuk ke alam evolusi miliknya. Dan sekarang adalah waktu untuk kembali.


Danur Cakra memejamkan matanya, kemudian melompat dengan sekuat tenaga. Ketika dia kembalikan membuka mata, tidak henti-hentinya Danur Cakra dibuat terkejut. Bagaimana tidak, dengan mata yang belum terbuka secara sempurna, Danur Cakra merasakan betapa bau tidak sedap hinggap di hidungnya. Tidak ketinggalan nampak pula sepasang taring besar dan tajam datang mendekat.


"Sialan!" Danur Cakra menendang tanah, membuat tubuhnya menggelosor hingga terhindar dari sambaran mulut Piton Jantan.


Hampir saja Danur Cakra ditelan bulat-bulat menjadi hidangan makan malam Piton Jantan. Danur Cakra telah kembali ke dunia nyata dan dihadapkan dalam pertarungan hidup dan mati melawan hewan evolusi siluman di puncak tahap keempat.

__ADS_1


Satu keberuntungan, tepat ketika Danur Cakra hampir terkena pengaruh ilusi yang dilepaskan oleh Piton Jantan, roh naga di dalam tubuh Danur Cakra menariknya memasuki alam evolusi. Jika tidak, mungkin saat ini Danur Cakra sudah berpindah dari dunia nyata ke alam akhirat.


Dengan terhindar dari pengaruh kekuatan ilusi Piton Jantan, bukan berarti masalah selesai. Danur Cakra harus mampu mengalahkan Piton Jantan untuk tetap bertahan hidup, juga untuk bisa menyelamatkan Kemuning.


Danur Cakra melihat Kemuning bersembunyi di balik sebuah batu, nampak gadis cantik itu menggigil ketakutan. Namun tidak ada hal yang bisa Danur Cakra lakukan sekarang. Selain memancing Piton Jantan untuk menjauh dari Kemuning. Paling tidak, membuat Kemuning selamat adalah hal terbaik yang harus Danur Cakra lakukan.


HHSSSTTT !!! Piton Jantan mendesis keras, dia menyerang Danur Cakra dengan cepat. Pukulan tenaga dalam yang Danur Cakra lepaskan, sama sekali tidak mampu membuat tubuh Piton Jantan terluka. Untuk mengoyak luka di salah satu sisiknya, rasanya itu bukanlah ide yang mudah.


Brugh!!! Tubuh Danur Cakra kembali terpental. Punggungnya hampir mati rasa, lagi dan lagi harus membentur bebatuan dan juga akar pohon.


Pusat kekuatan adalah sumber kelemahan. Danur Cakra coba untuk mencari celah untuk bisa mendaratkan serangan keras tepat ketika Piton Jantan melepaskan kekuatan. Jika berhasil membuat kemampuan Piton Jantan balik menjadi bumerang untuk dirinya sendiri, maka bisa dipastikan level evolusi Danur Cakra akan melewati tahap pertama. Sekali mendayung, dua pulau terlampaui.


Danur Cakra mengerahkan hujan es juga begitu banyak panah dan tombak energi Tapak Naga yang diharapkan bisa menahan pergerakan Piton Jantan.


Seumur hidup, Danur Cakra baru merasakan sekarang, ketika kemampuan Tapak Naga miliknya seperti tidak berarti apa-apa. Untuk membuat Piton Jantan terluka sedikit saja, Danur Cakra tidak mampu. Menyebalkan sekali.


Tidak ada pilihan lain, Danur Cakra harus menggunakan pusaka yang dia miliki. Jika tidak satu pusaka, mungkin pusaka lainnya. Danur Cakra bahkan punya beberapa pusaka langit. Buat Piton Jantan terluka, setelah itu dia bisa gunakan luka tersebut untuk menjalarkan pukulannya ke seluruh syaraf si piton. Tidak ubahnya seperti yang dilakukan pada Piton Berbisa.


Ya, Danur Cakra tidak bisa lebih lama membuang-buang waktu lagi. Dia harus mengalahkan siluman piton evolusi puncak tahap keempat ini. Kemuning jauh lebih membutuhkan dirinya sekarang.


Jurus demi jurus berlalu, Danur Cakra terus melakukan serangan demi serangan. Tidak sedikit pun memberi celah untuk Piton Jantan balas menyerang apa lagi menggunakan kemampuan ilusi.


Tidak ubahnya seperti memancing ikan, semakin banyak mata kail yang terpasang tentunya kesempatan untuk bisa dapatkan seekor ikan semakin terbuka lebar. Begitu juga dengan Danur Cakra, pedang pusaka langit yang diberikan oleh sang Kakek nyatanya mampu memberi rasa sakit pada Piton Jantan.


Pedang itu terbuat dari bahan batu bulan, dan terbukti dengan pedang batu bulan di tangan, Danur Cakra berhasil membuat Piton Jantan menjadi kalang kabut. Hingga pada satu kesempatan, Danur Cakra berhasil membebaskan pedang batu bulan di tangannya tepat mengenai mata Piton Jantan. Serangan itu berhasil membuat kedua mata Piton Jantan menjadi hancur. Darah yang terlihat menetes, membuat Danur Cakra semakin bersemangat mengangkat pedangnya. Dengan sekuat tenaga menghantam kepala Piton Jantan secara bertubi-tubi. Danur Cakra belum berhenti, meskipun tidak lagi terdengar suara jerit si piton, Danur Cakra tidak peduli meskipun kepala piton sudah hancur tidak berbentuk.


Darah menyembur dengan deras, membasahi seluruh tubuh dan pakaian Danur Cakra. Malam-malam justru mandi darah, mengerikan sekali.


Tapak Naga Api - Gelombang Api! Danur Cakra menyalurkan tenaga dalam melalui bilah pedang batu bulan. Pada sabetan selanjutnya, pedang itu menyemburkan api yang menyala berkobar, membakar habis tubuh Piton Jantan seperti yang dialami oleh pasangannya. Menyebar bau harum daging terbakar ke segenap penjuru hutan.


"Huuuhhh ... Huuuhhh ... Huuuhhh ..." Danur Cakra ngos-ngosan. Rasa sakit di punggungnya masih terasa, ditambah lagi dengan bau amis darah yang mengguyur sekujur tubuhnya. Membuat rasa tidak karuan yang mendera Danur Cakra.


WUUUSSS !!! Danur Cakra tersenyum menyaksikan Naga Kecil miliknya berenang cepat dan berhasil melewati gerbang pertama. Ya, dirinya sekarang berada pada evolusi siluman tahap satu.


Senang? Haruskah Danur Cakra merasa senang karena itu?! Sepenuhnya Danur Cakra sadar jika yang dia lakukan merupakan tindakan yang menyimpang. Dulu saja, mengapa Danur Cakra sampai berhenti dan tidak melanjutkan tingkatkan evolusi, itu dikarenakan Danur Cakra takut bilamana hal itu akan mempengaruhi kehidupannya sebagai manusia.

__ADS_1


Hewan yang melakukan tapabrata ratusan tahun, memohon kekuatan pada dewa. Jika mereka merupakan yang terpilih, maka akan dikaruniai satu roh khusus di alam evolusi. Roh itulah yang terus dibina untuk bertambah kuat dan menambah kemampuan sang pemilik. Setelah mereka berhasil membangkitkan tahapan evolusi lalu melalui gerbang demi gerbang, maka mereka akan menjadi siluman. Hewan seperti ular piton pun mampu berubah menjadi siluman, lalu bagaimana dengan manusia?


Evolusi ataukah kultivasi? Sama saja. Hanya dibuat dalam bahasa yang berbeda.


__ADS_2