
Cleebb! Sebelum Dewi Api mendengar apa pun, tiba-tiba sebilah pisau beracun telah menembus tubuh tawanannya.
Tanpa menjerit, pria yang sebelumnya berharap akan hidup dalam pengampunan Dewi Api harus menghembuskan napas terakhir tanpa tahu siapa yang telah melemparkan pisau yang menembus jantungnya. Mulutnya tidak sempat mewujudkan atas apa yang dipikirkan oleh otak.
"Kepa*rat!" Dewi Api mengumpat. Matanya menangkap satu bayangan yang berkelebat di balik pepohonan.
Dewi Api memutar pergelangan tangannya, dan ketika jarinya dipetik beberapa bola api melayang dengan kecepatan tinggi, mengejar bayangan orang yang diduga telah menghabisi si pembunuh bayaran.
Daarr! Daarr! Ledakan demi ledakan terjadi, menghantam pepohonan besar yang digunakan sebagai penghambat bola api yang Dewi Api kirimkan.
Tidak cukup sampai di situ, Dewi Api melompat dan mengejar bayangan tersebut. Kemampuan ilmu meringankan tubuhnya sangatlah baik. Bahkan berada di atas rata-rata pendekar zaman sekarang. Dan memang benar seperti apa yang banyak diungkapkan. Semakin dewasa ini, maka kemampuan para penerus akan semakin menyusut. Para pendekar masa lampau jauh lebih terbina kemampuannya karena dipaksa bertahan dalam perang besar. Hanya orang-orang terpilih, yang miliki kemampuan di atas rata-rata barulah tetap bisa bertahan hidup hingga sekarang.
Menyadari posisi Dewi Api semakin dekat, maka penyerang itu memutuskan untuk berhenti. Dia tidak lagi coba untuk lari karena sadar hanya melakukan hal yang sia-sia. Dia berhenti dan langsung menyambut kedatangan Dewi Api dengan serangan pedang yang dilapisi oleh kekuatan tenaga dalam.
"Gerakanmu sangat kasar dan lamban, bahkan caramu menggenggam gagang pedang tidak menunjukkan jika kau seorang yang piawai menggunakannya untuk menumpahkan darah," Dewi Api tersenyum sinis, mencemooh serangan lawannya yang jelas hanya menerpa ruang kosong.
Sadar diri atas kemampuannya yang lemah, pasti hanya akan mengorbankan diri bila terus melawan Dewi Api, dengan cepat orang itu langsung menelan sebutir pil yang membuat tubuhnya kejang-kejang dan dalam waktu singkat segera melepaskan nyawa. Dari mulutnya mengalir buih kental berwarna kekuningan. Ya, kesetiaan membuat dirinya lebih rela mati dari pada membocorkan informasi.
Dewi Api mengepal keras, merasa dipermainkan, hingga giginya gemertukan saking emosi. Perlahan tubuh lawan di hadapannya yang sudah tidak bernyawa mengepulkan asap, hingga kemudian api membakar habis seluruh tubuhnya. Dewi Api menumpahkan kekesalannya dengan melenyapkan lawan hingga yang tersisa hanyalah namanya saja.
Tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan, Dewi Api kemudian segera kembali ke tempat di mana Raka Jaya masih bertarung. Para pembunuh bayaran yang menjadi lawan merupakan pendekar aliran sesat yang miliki kemampuan tinggi, membuat Raka Jaya kesulitan merobohkan mereka semuanya.
Merupakan pantangan bagi seorang pendekar sejati harus ikut campur dalam pertarungan orang lain. Terkecuali jika orang yang dimaksud dalam bahaya, jika namanya menyelamatkan tentu sah-sah saja. Tapi melihat Raka Jaya yang tidak dalam posisi yang berbahaya, membuat Dewi Api kembali diam sebagai penonton. Namun dalam diamnya Dewi Api terus mengamati pertarungan seraya mencoba untuk mengingat jurus demi jurus yang ditunjukkan lawan. Ia berharap akan menemukan petunjuk dari sana.
Setelah belasan jurus berlalu, Dewi Api mulai menyerah. Dia belum juga menemukan titik terang, tentang siapa yang menjadi otak dari penyerangan terhadapnya. Akan tetapi, di sisi lain Raka Jaya sedikit demi sedikit berhasil menyudutkan lawan. Beberapa orang pembunuh bayaran sudah gugur di tangannya. Usia Raka yang sangat muda, membuat dia dikaruniai energi yang jauh lebih prima dari lawan-lawannya.
Tidak ingin memperpanjang personal, Dewi Api membiarkan putranya menghabisi satu persatu lawan. Seandainya ada pihak lain yang turut campur, maka tentunya mereka akan datang dengan sendirinya, tidak perlu Dewi Api yang repot-repot mengejar. Lagi pula, perjalanan mereka masih cukup jauh.
Setelah Raka Jaya usai dengan pertarungannya, ibu dan anak itu langsung bergegas meninggalkan tempat pertarungan. Mereka kembali menggebrak kuda menyusuri jalanan untuk segera tiba di Kota Bukit Hijau.
Kali ini mereka mengambil jalur yang berbeda. Mencari jalan yang lebih pintas, supaya bisa menghemat banyak waktu. Begitu banyak pekerjaan yang lebih dulu harus diselesaikan membuat rencana perjalanan Raka Jaya tertunda hingga dua hari. Mereka baru berangkat setelah waktu semakin mepet. Tapi yang terpenting, keduanya masih tetap hadir dan memberi sekadar ucapan selamat ulang tahun.
Ayah mertua Dewi Api genap berusia seratus tahun, dan tentunya sejak kecil Dewi Api sudah sering berjumpa. Hingga Dewi Api sepenuhnya tahu bagaimana kebaikan hati mertuanya. Jika pun memiliki masalah, tentunya sangat wajar karena dalam hidup merupakan tantangan untuk bisa mengurai masalah.
"Raka, kita terus lanjutkan perjalanan. Jika sudah tidak memungkinkan, barulah kita istirahat di dalam hutan sana," ucap Dewi Api dari punggung kudanya.
"Baik, Ibu," Raka Jaya menyahut. Keduanya tidak berhenti untuk istirahat di desa terakhir. Tidak ada ancaman ataupun hal menakutkan kecuali diri sendiri.
°°°
Malam yang terus merangkak membuat jarak pandang kian terbatas. Embun yang turun hampir menyerupai hujan gerimis. Dingin.
Raka Jaya melirik kiri dan kanan, perubahan cuaca di sekitarnya membuat dia terpikirkan sesuatu. Pernah ada cerita mengenai hujan kabut yang menimbulkan banyak korban. Konon berdasarkan laporan anak buahnya, Raka Jaya mendengar jika ada campur tangan kelompok siluman yang menculik manusia untuk dijadikan budak.
Perlahan, gerimis yang tercipta akibat tebalnya embun memaksa ibu dan anak itu untuk mencari tempat berlindung. Jika terus dipaksa untuk melanjutkan perjalanan, takutnya kuda mereka akan mengalami kram.
__ADS_1
Sebongkah batu besar yang memiliki ruang cukup luas di bawahnya menjadi pilihan. Sudah menjadi nama besar, tentu dengan kehadiran Dewi Api akan mampu membuat suasana tidak dingin seperti seharusnya. Aura yang terpancar dari kekuatan alami yang dimilikinya membuat dinginnya malam mampu dikalahkan.
"Ibu, bagaimana menurut ibu?" tanya Raka Jaya.
"Dengan adanya titik hangat di dalam gelembung dingin, sudah pasti akan menjadi sorotan. Dan kau tahu, Ibu sengaja melakukannya," jawab Dewi Api.
Raka Jaya mengangguk, lalu tersenyum tipis. Dia mengalihkan pandangannya ke sekeliling tempat mereka beristirahat. Belum terlihat adanya pergerakan yang mencurigakan.
Benar dugaan Raka Jaya sebelumnya, jika apa yang terjadi bukanlah murni fenomena alam. Akan tetapi adanya campur tangan mereka yang coba untuk mengais keuntungan.
Cukup banyak keanehan dalam perjalan mereka kali ini. Dewi Api bisa merasakan terlalu bermunculan hal janggal yang sudah direncanakan. Hanya saja, Dewi Api tidak mengungkapkan kalau sebenarnya rencana perjalanan mereka sudah bocor ke telinga banyak orang.
Setelah Raka Jaya menggenggam stempel emas Jenderal kerajaan, maka semakin banyak lawan-lawan yang bermunculan dari berbagai sisi. Mereka yang berasal dari kelompok aliran sesat merupakan musuh abadi yang telah pasti. Akan tetapi, yang lebih berbahaya justru mereka yang menggunakan kedok di wajah. Berpura-pura baik dan setia, padahal menyimpan belati yang setiap saat bisa menusuk dari belakang.
"Raka ... belakangan ini, dengan siapa kau pernah terlibat masalah serius?" tanya Dewi Api kemudian.
Seraya beristirahat, Dewi Api banyak bertanya mengenai pekerjaan anaknya. Meskipun Raka Jaya rata-rata mengabarkan hal yang baik-baik saja, tapi pastinya tidak selalu itu yang terjadi. Sangat tidak mungkin seorang Jenderal Muda lalui hari penuh ketenangan.
"Ah, Ibu. Hanya masalah biasa, tidak tergolong masalah serius apa lagi menyangkut kehidupan pribadi. Mengapa tiba-tiba Ibu berkata begitu?"
Dewi Api tersenyum, dia menatap wajah anaknya dengan dalam. Kemudian Dewi Api bertanya perihal gadis yang merupakan keturunan bangsawan, yang banyak mata telah menangkap jika Raka Jaya acap kali bertemu dengannya.
"Tidak ada masalah, Ibu. Lagi pula, kami hanya berteman. Tentang perkataan orang-orang tentunya terlalu banyak yang dilebih-lebihkan," jawab Raka Jaya.
Raka Jaya menghela napas, dia tidak bisa mengelak lagi. Lagi pula yang bertanya tidak lain adalah ibunya, orang yang telah mengandung dan melahirkannya. Pada siapa lagi dia mengadu jika bukan pada ibu tercinta.
Perlahan-lahan Raka Jaya mulai menceritakan perihal Diah Pitaloka pada ibunya. Sosok gadis yang jujur berhasil membuat dia jatuh cinta. Bukan karena cantik atau karena latar belakang keluarganya, tapi terus terang Raka Jaya ungkapkan kalau rasa itu tidak miliki alasan apa pun. Datang secara tiba-tiba. Meskipun sejauh ini, Pitaloka hanya menanggapi sebatas teman semata.
Satu hal yang tidak Raka Jaya ungkapkan perihal Diah Pitaloka, yakni mengenai sosok Danur Cakra yang sepertinya masih mengisi hati dan pikiran Pitaloka sampai sekarang. Raka Jaya hanya takut jika ibunya menanggapi dengan cara yang berbeda. Bukan rahasia lagi jika Dewi Api merupakan seorang dengan emosi yang tinggi. Malah bisa merembet ke mana-mana nantinya. Biarlah, Raka Jaya akan mendekati Pitaloka dengan cara-cara yang sudah dia rencanakan. Dia akan merebut Pitaloka berawal dari hatinya. Dan Raja Jaya yakin jika dia bisa melakukannya.
"Sayang, apa kau curiga jika rencana perjalanan kita sudah diketahui orang?" tanya Dewi Api.
Raka Jaya terdiam, kemudian mengangguk lemah. Tapi sayangnya, Raka Jaya baru menyadari hal itu ketika dia telah berhadapan dengan para pembunuh bayaran. Jelas tujuan mereka hanyalah untuk meninggalkan jejak, supaya bisa menyusul ke mana arah perjalanan dirinya dan sang ibu.
Selama ini, keberadaan Pendekar Naga Suci sangat tertutup bahkan tidak diketahui oleh umum. Raditya dan istrinya, Rengganis. Benar-benar telah angkat kaki dari dunia persilatan. Namun demikian, bukanlah berarti jika mereka sudah bebas dari hutang dan dendam yang terlanjur tertanam di hati lawan. Terutama, mereka para pendekar asal selatan yang dulu pernah dikalahkan.
Secara diam-diam pula, ada beberapa tokoh asal selatan yang membangun kekuatan untuk membalaskan dendam mereka. Tidak pada Raditya dan Rengganis, tentu mereka punya keturunan yang menjadi ahli waris. Jika telah miliki kemampuan yang cukup, maka bisa membalas dendam dengan menghancurkan hidup anak cucu Raditya. Dan nampaknya, balas dendam itu telah dimulai.
"Sejak ibumu ini masih anak-anak, ibu sudah mengenal siapa kakekmu. Dan sebagai seorang pendekar tentunya dia punya banyak sekali musuh di sana-sini. Tapi yang perlu kau tahu, hanya orang-orang yang berada di jalan menyimpang yang kemudian menjadi lawan kakekmu."
Raka Jaya mengangguk, dia percaya bukanlah suatu yang hina meski harus melawan mereka yang mewariskan dendam sampai anak cucu. Justru malah sebaliknya, karena ini merupakan misi yang belum selesai dilakukan kakek. Menjadi penerus penegak kebenaran merupakan tindakan yang sangat mulia.
Dengan kata lain, Dewi Api sudah bisa menduga jika mereka yang akan datang mengacau merupakan para penjahat kawakan yang pastinya punyai kemampuan olah kanuragan di atas rata-rata.
Ya, meskipun Dewi Api belum tahu siapa dan dari mana asal mereka, tapi setidaknya dia akan siap dengan segera resiko di dalam perjalanan. Semoga saja serangan para penjahat itu tidak sampai menganggu acara ulang tahun mertuanya. Karena sadar kalau awal mula kebocoran disebabkan oleh putranya, maka Dewi Api akan bertanggung jawab untuk menyelesaikan semuanya lebih awal.
__ADS_1
Cukup lama Dewi Api menunggu hingga pemilik kemampuan sihir hujan kabut menemukan tempat mereka istirahat. Dengan kedatangan beberapa siluman itu membuat Dewi Api mengetahui dengan siapa dia sedang berurusan.
Raja Iblis dari Lereng Utara, dia kiranya yang mengirimkan siluman kabut suami-istri untuk menghadang perjalanan Dewi Api. Tapi baguslah, semakin cepat maka semakin baik.
"Mengapa bukan majikan kalian langsung yang datang menyambutku?" Dewi Api menyambut kedatangan siluman kabut suami-istri.
Bukan perkara gampang, kemampuan terkuat siluman kabut ialah teleportasi. Mereka mampu berpindah tempat dalam hitungan detik. Bahkan dalam pertarungan mereka bisa melakukan teleportasi sebanyak yang mereka mau.
Tidak seperti Mahesa ataupun para pendekar lain yang gunakan ilmu meringankan tubuh tahap sempurna untuk bisa mendadak muncul atau menghilang dari pandangan lawan. Berbeda dengan kemampuan teleportasi siluman kabut, bahkan mereka bisa menggunakan kemampuan itu tepat ketika senjata lawan hampir menyentuh tubuh mereka. Membuat mereka tidak bisa dilukai.
"Hahaha! Dewi Api ... sudah cukup lama tidak bertemu, tapi mulutmu masih congkak seperti saat dulu. Sungguh, kelakuan para pendekar aliran putih memang menyebalkan! Ciiihhh!!!" siluman kabut wanita meludah ke tanah. Membuat daun kering yang tersiram ludahnya langsung meleleh menjadi cairan yang meresap ke dalam tanah.
Satu kemampuan tenaga dalam yang sangat tinggi, hingga mampu menjadi apa pun benda yang tersentuh memantulkan aroma dingin salju. Harusnya, Siluman Kabut bertemu dengan Suhita atau bahkan Mahesa sekalian. Hingga mereka bisa mengadu kemampuan es dengan kemampuan es. Mengubah hutan tropis menjadi kutub utara.
"Dewi Api, ku dengar jika kemampuan panas yang kau punya mampu membuat lautan menjadi kering. Hahaha! Omong kosong apa yang kau sebar? Sejauh ini aku belum menemukan adanya laut kering karena ulahmu!" Siluman Kabut wanita terus mencecar Dewi Api dengan cemoohan. Dia tahu bagaimana Dewi Api yang mudah terpancing emosi, hingga kemudian pertarungan yang mereka inginkan benar-benar terwujud.
Mata Dewi Api langsung menyala, hatinya panas terbakar. Ucapan Siluman Kabut berhasil mematik pergolakan di dalam dadanya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Dewi Api sudah berada di depan Siluman Kabut dengan ayunan pukulan tenaga dalam.
Bleezzz! Sebelum benturan keras terjadi, tubuh Siluman Kabut telah berubah menjadi kabut berwarna putih. Kabut biasa yang hanya tergoyang ketika tangan Dewi Api menyambar.
Baamm! Pukulan yang Dewi Api lepaskan hanya membentur batu besar yang semula menjadi tempat berpijak Siluman Kabut.
Siluman Kabut pria juga tidak luput dari serangan. Kibasan tangan Dewi Api menembus dadanya. Tapi seperti yang sudah diduga, kemampuan teleportasi berhasil membuat sepasang Siluman Kabut lolos dari maut dengan sangat mudah.
Menyaksikan ibunya melakukan serangan, Raka Jaya tidak tinggal diam. Pedang emas miliknya langsung bergerak meninggalkan warangka, balutan energi api membuat pedang jenderal menyala dengan tingkat panas setara lahar.
Siluman Kabut pria mengerahkan tenaga dalamnya, menciptakan pedang es yang menghalau serangan Raka Jaya.
Pertarungan dengan jurus berbahaya segera terjadi. Di setiap gerakan semua penuh perhitungan. Salah satu tindak maka tubuh dalam ancaman.
Jurus pedang milik Padepokan Api Suci memang sudah bisa disetarakan dengan jurus Pedang Dua Belas milik Rengganis. Makanya hanya dalam enam jurus saja, Raka Jaya berhasil membuat pedang es di tangan Siluman Kabut terlepas dari genggaman.
Lagi-lagi, kemampuan teleportasi menyelamatkan tubuh Siluman Kabut dari goresan luka. Mendadak tubuhnya lenyap seolah terhisap angin, saat kembali muncul sudah berada di samping istrinya.
Dewi Api tertawa terbahak, dia sampai terpingkal mentertawakan kemampuan yang dipamerkan oleh sepasang Siluman Kabut. Bagi Dewi Api, kemampuan semacam itu tidak ubahnya kemampuan seorang pengecut yang dalam pertarungan hanya bisa berlari-lari seperti ayam kampung.
"Kalian dengar baik-baik. Kemampuan semacam itu tidak akan bisa untuk mencelakai lawan! Hahaha!"
"Jumawa! Aku ingin lihat, apa kau masih bisa tertawa saat pedangku ini memotong lidahmu?!"
Pertarungan kembali terjadi. Jika harus jujur, Raka Jaya belum miliki cara ampuh untuk bisa mengatasi perlawanan Siluman Kabut. Meskipun dalam pertarungan pada akhirnya Siluman Kabut bisa dikalahkan, tapi dengan tubuh mereka yang tidak bisa disentuh membuat satu jalan buntu yang berkepanjangan. Bisa-bisa keadaan jadi berbalik saat tenaga mulai berkurang.
Dewi Api menatap dengan seksama, terlihat dia sedang memperhitungkan sesuatu. Dalam diam dia mengawasi jalannya pertarungan antara Siluman Kabut pria dengan Raka Jaya. Dewi Api sedang menunggu waktu yang paling tepat untuk ia bisa menggunakan salah satu kemampuan mengerikan miliknya.
Gelembung Api Kemarahan. Bahkan dengan kemampuan itu, Dewi Api pernah mengurung Mahesa di dalam bola api raksasa. Rasanya, kali ini perhitungannya pun tidak akan meleset.
__ADS_1