
Hangatnya cahaya matahari terasa lembut menyentuh permukaan kulit. Hawa dingin yang masih terhembus oleh angin pagi, menambah syahdu suasana. Setiap kali terhirup, udara itu mengalir memenuhi rongga dada hingga suasana hati mengikuti alur mencerminkan kebahagiaan. Nikmat Tuhan yang tidak terhitung. Cobalah untuk diam barang beberapa saat, rasakan bagaimana sang pencipta begitu menebar kasih tanpa pandang pilih.
"Kak, mengapa kau diam?" Suhita menjambak rambut Danur Cakra yang sejak tadi hanya diam melamun, memandang hamparan hijau yang terbentang luas.
"Ahhh ... pagi yang cerah, alam yang indah. Rasanya sayang jika dilewatkan begitu saja. Tidak setiap waktu, ada kesempatan seperti ini," Danur membaringkan tubuhnya, menempatkan kepala di pangkuan Suhita.
"Sudah lama sekali. Bahkan aku lupa kapan. Kesibukan membuat kita melupakan hal-hal kecil yang sebenarnya begitu mudah untuk dilakukan," Danur Cakra tidak ingin membahas apa pun. Kemelut dunia persilatan hanya menambah beban di kepala semakin menindih.
Suhita tersenyum lebar, dengan hembusan napas yang panjang dia mengikuti jejak kakaknya, sejenak melepas beban, tidak memikirkan apa-apa, menikmati karunia Tuhan tanpa berharap lain. Memang jika dibahas, masalah kehidupan tidak akan ada habisnya. Dengan sejenak pergi, paling tidak menambah panjangnya usia otak.
Suhita kembali menyimpan Mutiara Hati ke dalam cincin mustika miliknya. Nampaknya Danur Cakra tidak berminat membicarakan tentang itu. Meskipun hidupnya penuh dengan ambisi yang menggebu, nyatanya Cakra menyisakan ruang hati yang luas untuk tetap menjadi sosok penuh tanggung jawab.
"Kak, apa kau ingat? Lihat pohon manggis itu. Aku jadi rindu kakek," Suhita menunjuk pada sebatang pohon manggis.
Danur Cakra mengarahkan matanya pada pohon yang dimaksud. Sebentar kemudian dia tertawa. Masa-masa itu ... masa indah yang tidak mungkin bisa terulang. Masa di mana seorang bocah tanpa beban berharap cepat untuk tumbuh besar. Karena menjadi besar itu menyenangkan. Padahal, saat masa yang diharap benar-benar tiba justru hal yang didapat justru bertentangan. Jikalau bisa, maka orang-orang yang sekarang dewasa berharap bisa kembali ke masa kecil, masa kanak-kanak yang penuh canda tawa, masa di mana belum memiliki beban kehidupan yang menghimpit dari waktu ke waktu.
Suhita tertawa geli, saat mereka bertemu di masa kecil, ketika hati belum merasakan bagaimana eratnya tali kasih persaudaraan, justru Hita menganggap Cakra sebagai teman bermain. Miliki saudara kembar rasanya sangat aneh. Ya, karena mereka memang tumbuh secara terpisah. Danur Cakra bersama sang kakek dan tidak pernah berkunjung ke kediaman Hita, kecuali Hita yang datang bersama ayah dan ibu, baru mereka bisa bermain bersama.
Suhita memeluk kepala Danur Cakra dengan erat, beberapa kali dia mendaratkan kecvpan di kening dan pipi sang kakak. Entah sadar atau hanya terbawa suasana riang hatinya. Wajar jika mereka yang tidak tahu menduga dua insan itu merupakan pasangan kekasih. Lagi pula, sifat manja Suhita kadang terlalu berlebihan. Menciderai nama besarnya sekarang.
Dalam kesempatan itu, meskipun Mutiara Hati dan sumberdaya lain yang janjikan ketentraman menapak hari, nyatanya tidak berarti apa-apa kala hati bisa mencapai kepuasan dengan sendirinya. Sekali lagi, kebahagiaan hanya bisa diciptakan oleh diri sendiri.
Danur Cakra tidak juga bangkit dari posisi ternyamannya meskipun menyadari ada satu kekuatan yang datang mendekat. Lagi pula mereka tidak mengusik siapa pun, jadi bukan salah mereka jika bangun dengan bendera perang. Bahkan semut lemah pun akan menggigit bila di sakiti.
"Kak ada yang datang," bisik Suhita. Tabib Dewa takut kalau-kalau Danur Cakra terlalu terlena hingga lambat menyadarinya.
"Mengapa tidak bisa, sehari saja berlalu tanpa adanya gangguan. Terkadang mereka yang sengaja menggiring kita ke jalan yang menyimpang," Danur Cakra bangkit seraya merapikan rambutnya yang diacak-acak Suhita tadi.
Menunggu hingga sosok yang mendekat datang menghampiri. Dalam waktu yang singkat itu, Danur Cakra memikirkan sesuatu. Bukan tentang keselamatan Suhita karena miliki kemampuan layaknya radar sumberdaya. Akan tetapi lebih buruk lagi jika dunia persilatan mengetahui bila mereka merupakan saudara. Takutnya apa yang selama ini Cakra hindari akan benar terjadi. Meskipun dia seorang yang berprilaku buruk, paling tidak jangan menyeret sang adik. Lalu, siapa yang bisa membanggakan hati kedua orang tua mereka?
Perlahan, tangan Cakra yang sudah mengepal keras kembali terpecah, melemas. Cakra tidak ingin memperlihatkan bagaimana dia menjadi monster pembunuh di depan adiknya. Kecuali jika keadaan sudah tidak lagi ada pilihan lain, terpaksa.
__ADS_1
Suhita menatap Kakaknya dengan dalam, tentu saja Suhita merasakan perubahan aura yang terjadi. Dengan sekuat tenaga, terlihat jika Cakra berusaha untuk menekan aura hitam yang menguasai dirinya, tentu alasan Cakra begitu ialah karena dia. Suhita juga tidak bisa mengalahkan Cakra, betapa tidak ada orang yang menginginkan hal buruk dalam cerita hidupnya.
Wuuusss! Satu kilau cahaya meluncur deras ke arah Danur Cakra. Sosok yang datang langsung membuat perkara, jelas kedatangannya tidak dengan tujuan baik.
Danur Cakra mengibaskan tangannya, menghalau serangan itu layaknya mengusir kupu-kupu. Energi yang diterima, jelas jika tingkat kemampuan mereka tidak berada pada tahap yang setara. Bukan terlalu percaya diri, tapi Cakra benar kuasai deteksi yang akurat. Ditambah dengan kemampuan alam evolusi, membuat dia menjadi sosok yang ditakuti di dua alam sekaligus.
"Hahaha! Tidak salah lagi, aku sedikit terlambat!" dengan tawa, sosok yang ditunggu mendarat tidak jauh dari mereka.
"Kau sudah sangat terlambat. Lagi pula, sudah tidak ada apa-apa di sini. Ketika mentari telah terbenam, kau datang berharap fajar," jawab Cakra dengan datar.
"Kau pikir, kau siapa? Semua orang boleh memiliki kepentingan. Lagi pula, apa kau merasa sebagai pemenang karena telah lebih dulu datang?"
"Bagus, sangat menarik jika kita belum saling mengenal. Sekarang kau pergilah, Tabib Dewa akan lebih dulu membantuku. Ada seorang temanku yang butuh batuannya," Danur Cakra membungkuk mempersilakan Tabib Dewa lebih dulu melangkah.
"Sialan! Kau pikir aku berkepentingan denganmu? Tentu saja tidak. Aku juga ingin meminta bantuan Tabib Dewa," pendekar itu melompat menghadang langkah Suhita.
Danur Cakra menyipitkan matanya, saat pendekar itu melompat, Cakra melihat adanya lencana yang tergantung di balik jubahnya. Rasanya, Cakra pernah melihat wajah orang ini. Tapi di mana?
"Pasukan Bunglon? Ya, tidak salah lagi!" Danur Cakra membatin. Dengan kata lain, pendekar itu berasal dari istana.
"Apa mungkin, ini salah satu cara Raka Jaya untuk bisa melindungi Suhita? Tapi ... ah, mengapa hatiku tidak berkata demikian?" Cakra menghela napas berat.
Dari percakapannya dengan Suhita, pendekar itu mengaku jika ia bernama Purwa Anom, seorang pendekar yang berasal dari Padepokan Rajawali. Ya, padepokan di mana Ayah dan Ibu si kembar (Hita dan Cakra) berasal. Tapi sayangnya, sepeninggalan Maha Guru Belibis Putih, Padepokan Rajawali tidak sebesar dulu. Sekarang tidak ubahnya padepokan biasa, punya banyak murid tapi tidak menelurkan pendekar-pendekar hebat. Kalah jauh dari Padepokan Api Suci yang pada masa dulu hanya bisa mengekor jauh. Tentu saja, zaman terus berubah. Roda kehidupan terus berputar.
"Tidak, tidak. Ada yang tidak beres! Mendadak aku meragukan Raka Jaya, tapi baiknya aku tidak harus beri tahu Hita. Gadis polos ini, mana tahu mengenai politik."
Danur Cakra yang pada posisinya sekarang merupakan seorang yang di cap sebagai pemburu sumberdaya, akan terus melanjutkan sandiwara itu. Meskipun entah sampai kapan mereka akan terus bersandiwara. Hingga tiba pada titik jenuh atau mungkin sampai seseorang membongkarnya.
Selain Raka Jaya, tidak ada pihak yang paling berkompeten untuk lakukan hal tersebut. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan semuanya bakal terjadi. Kejadian di tengah hutan, saat Pasukan Sayap Kelelawar menculik Kemuning, telah memancing sedikit kecurigaan. Belum lama berselang, sekarang sudah pula muncul seorang pendekar dari Pasukan Bunglon. Baik pasukan Sayap Kelelawar dan juga Pasukan Bunglon, semuanya diketahui bertugas di bawah komando Raka Jaya. Tanpa perintah, mana mungkin mereka akan bergerak.
Jika tujuan Raka Jaya untuk melindungi Suhita, apa salahnya dia berbicara dengan terus terang. Pasti Hita tidak punya cara untuk menolak. Tidak harus sembunyi-sembunyi dan bahkan seperti menyimpan maksud yang terselubung. Atau mungkin juga, ini berkaitan erat dengan sumberdaya Mutiara Hati yang Suhita ceritakan. Ada kemungkinan Raka Jaya bertindak untuk itu, dia menginginkan sebagian sumberdaya. Terlalu munafik, mengapa tidak datang, dan bicara baik-baik untuk meminta?
__ADS_1
Baiklah! Tidak ada buruknya bagi Suhita. Lagi pula jika semua dugaan Cakra benar adanya, tentunya tidak akan membahayakan keselamatan Hita. Meskipun dengan berbagai alasan, rasa-rasanya masih terlalu jauh dari kata mungkin bila sampai Raka Jaya tega menindas Suhita. Danur Cakra bisa melihat bagaimana Raka Jaya juga begitu peduli dan sayang pada Suhita.
Itu tentang Suhita. Lalu bagaimana dengan Kemuning? Apa iya, Raka Jaya yang menjadi dalangnya? Apa tujuannya? Atau mungkin lebih tepatnya lagi, apa yang Raka Jaya dapat? Jika hanya perseteruan akibat tumpang tindih kepentingan dalam istana, tentu tidak perlu melibatkan Kemuning yang notabene-nya seorang yang berasal dari luar istana. Hanya anak bangsawan.
Kemuning menaruh kepercayaan yang lebih. Berani bercerita, membuka jati dirinya pada Raka Jaya, bukan karena apa-apa. Alasannya sangat jelas, itu karena Raka Jaya merupakan seorang Jenderal yang tentu punya pengaruh besar, punya kuasa untuk melindungi segenap rakyat. Tapi mengapa justru hal berkebalikan yang terjadi?
"Yang aku lihat, Raka Jaya begitu menghargai Kemuning sebagai teman dekatku. Mataku percaya dia mendukung hubunganku dengan Kemuning. Tapi sepertinya aku salah. Raka Jaya sama sepertiku, dia pula menaruh hati pada Kemuning. Tidak ada yang salah, memang semua orang miliki hak untuk itu. Aku hanya tidak menyukai caranya. Sialan Raka Jaya! Lihat saja, siapa yang lebih baik untuk ini, karena aku bukanlah orang yang bisa ditindas begitu saja!"
Kepalan tangan Danur Cakra kembali mengeras, ada sayatan yang menggores di dalam hatinya, terlihat jika Cakra sangat kecewa. Seorang yang dia percaya, ternyata melangkah di jalan yang berseberangan.
"Tuan ...hei, Tuan. Apa yang kau lamunkan? Apa kau tidak mendengar, Tabib Dewa mengajakmu bicara?!"
Danur Cakra tersadar dari lamunannya ketika Purwa Anom melambaikan tangan di depan wajahnya. Beberapa waktu yang telah terlewat, sementara putaran detik tidak berhenti. Danur Cakra melamun terlampau serius.
Suhita cepat tanggap, dia tahu jika Cakra mengetahui sesuatu. Makanya dia segera tertawa dan sejenak mengalihkan pembicaraan pada lain topik. Yang jelas, Suhita ingin meredam luapan emosi di dalam dada Danur Cakra. Suhu terasa meningkat, aura hitam mendominasi, artinya Cakra sedang tersulut amarah.
Sebenarnya bukan hanya Suhita yang sadar, pula demikian dengan Purwa Anom. Hanya saja Purwa Anom dengan sengaja memancing kemarahan Cakra, karena dia juga merasakan aura gelap yang mengelilingi di sekitar tempat itu, dan tentu tidak mungkin milik Tabib Dewa.
Sebagai pendekar aliran putih, Purwa Anom merasa terpanggil untuk lenyapkan seorang penjahat. Merupakan janji kesatria untuk selalu menegakkan keadilan dan menumpas kejahatan. Prinsip yang sangat luhur. Prinsip yang juga dipegang teguh oleh seluruh pendekar aliran putih. Makanya setiap kali bertemu, pertumpahan darah tidak bisa terelakkan. Para pendekar aliran putih dengan sangat patuh menegakkan perdamaian, tapi tokoh aliran sesat begitu bersemangat untuk mengacau. Seperti minyak dan api.
"Kakak, bagaimana kalau kita lebih dulu datang ke tempat Tuan pendekar ini, baru setelah itu kita temui temanmu. Bukankah itu adil? Lagi pula kita searah ..." Suhita tersenyum lebar, mengangguk dengan tekanan kata membujuk.
"Tabib Dewa seorang yang sangat bijak, sungguh saya sangat terkesan. Setiap ucapan yang Tabib Dewa katakan adalah janji yang saya yakin pasti ditepati. Mana mungkin saya bisa menolaknya. Apa pun yang menjadi keputusan Tabib, dengan senang hati saya akan ikuti," Danur Cakra balas tersenyum, dengan membungkukkan badan, berbasa-basi yang tidak biasa dilakukannya.
"Terima kasih atas pengertiannya. Mari Tuan, kita jalan. Dua orang temanku akan datang beberapa saat lagi. Kita akan berpapasan jalan," Suhita segera menghampiri kudanya.
Terlihat ekspresi kurang senang tergambar di wajah Purwa Anom, terkejut berbalut rasa kesal. Akan tetapi, tiada yang bisa dia katakan lagi, bahkan Tabib Dewa tidak memberikan kesempatan untuk dia bicara banyak.
"Aku pernah dengar bagaimana Padepokan Rajawali. Terus terang aku sangat tertarik untuk bisa melihat langsung, hanya saja belum ada waktu untuk aku berkunjung ke sana. Pasti sangat menarik," Suhita bicara renyah sebelum mengebrak kudanya.
Purwa Anom tertawa kecil, tentu saja dia bicara merendah, mengatakan bila Padepokan Rajawali tidaklah seperti yang ada di dalam pemikiran Suhita.
__ADS_1
"Fuuiiihhh! Orang-orang baik, mengapa begitu munafik? Hanya inginkan tepuk tangan dan pujian, selalu tangan kiri melihat apa yang diberi oleh tangan kanan. Mereka sangat peduli atas penilaian orang. Huuuhhh ... basa-basi, hidup penuh tipu-tipu," Danur Cakra tersebut getir, ingin rasanya dia meludahi wajah Purwa Anom yang setiap bicaranya semua tentang kebaikan dan kebajikan.
Akan tetapi, menarik juga. Sangat wajar kalau Suhita sangat ingin untuk bisa datang ke Padepokan Rajawali. Pasti banyak hal yang diceritakan oleh Ibu mengenai padepokan itu. Meskipun sekarang ayah dan ibunya sudah lama angkat kaki dari padepokan yang membuat mereka tumbuh sebagai seorang pendekar. Akan tetapi, kenangan akan tetap menjadi sejarah bagi mereka.