Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Jurus Pedang Rahasia


__ADS_3

"Sangat jelas jika pemuda ini merupakan muridnya Raditya. Aku bisa merasakan bagaimana dia pergunakan kemampuan tenaga dalam," Nyi Parang Awi memicingkan mata, berusaha untuk menyelami isi kepala Danur Cakra.


Di lain pihak, Danur Cakra bertarung dengan gagah berani. Dia tidak nampak seperti seorang yang berada di bawah tekanan. Justru semangat bertarung yang dia punya bukan untuk membela diri, melainkan mencari mangsa untuk kepentingan pribadi. Jika saja, Danur Cakra bisa mengalahkan lawan dengan kemampuan tinggi, dan Naga Hitam merasakan aroma darah dari seorang pendekar yang level kemampuannya berada di atas Cakra. Secara otomatis menjadi sangat berguna untuk mereka. Dengan begitu, kekuatan Danur Cakra semakin cepat bertambah.


"Aura siluman yang amat pekat. Aku tidak yakin jika dia berada di pihak Raditya. Dia seorang yang miliki kepentingan tersendiri," ucap Muning Raib yang telah tiba di tepi medan laga.


Muning Raib merupakan satu-satunya pendekar yang telah menyaksikan bagaimana tadi Cakra mengalahkan ketiga anak buahnya. Dan sekarang pemuda itu bertarung melawan Nyi Parang Awi dan menempatkan dia pada posisi yang diuntungkan.


Sebagai sesama pendekar yang berada di jalur sesat, sudah semestinya mereka menghentikan pertikaian. Tidak ada yang pantas untuk diperebutkan, karena tujuan utama mereka adalah sama.


"Kepa*rat! Mengapa hanya diam?!" bentak Nyi Parang Awi.


Muning Raib tidak merespon, dia membiarkan Nyi Parang Awi merasakan bagaimana generasi masa depan tokoh aliran sesat telah terbina dari saat sekarang.


Danur Cakra mendapatkan kesempatan emas. Saat Nyi Parang Awi berkomunikasi dengan Muning Raib, di waktu yang hampir bersamaan dua pembantu Nyi Parang Awi ikut mengalihkan pandangan mereka. Jelas saja mereka ingin tahu dengan siapa Nyi Parang Awi berbicara.


Seharusnya, pembantu Nyi Parang Awi sangat senang karena sosok yang datang ialah Muning Raib, seorang pendekar yang merupakan tangan kanan pimpinan mereka. Dengan demikian, sudah barang tentu mereka dapatkan tambahan kekuatan yang sangat besar.


Namun, malang tidak dapat ditolak. Kendati pemikiran mereka benar, tapi kenyataannya kedua pembantu Nyi Parang Awi tidak memiliki kesempatan untuk bisa pada waktu Muning Raib turun membantu. Sedetik ketika mereka lengah, Danur Cakra memanfaatkan kesempatan itu untuk berhasil menyarangkan pukulan tepat di dada kedua pembantu Nyi Parang Awi.


Bamm! Bamm! Pukulan Danur Cakra mendarat dengan telak. Berhasil membuat dada kedua pendekar itu remuk, hingga kemudian terlempar jauh tidak bernyawa.


Mendapati Nyi Parang Awi tidak langsung menyerangnya, kesempatan itu dipergunakan oleh Cakra untuk mendekati Kencana Sari.


"Sari, aku yakin Hita lebih memerlukan bantuanmu. Bibi Dewi dalam keadaan terluka, kau tolong jaga Hita," ucap Danur Cakra.


Kencana Sari tidak meninggalkan Danur Cakra meskipun dia melihat betapa besarnya kekuatan lawan yang datang. Meskipun Suhita pergi, itu karena Hita menyelamatkan Dewi Api. Dan tugas Kencana Sari tentunya untuk mewakili Suhita membantu Danur Cakra, menahan agar pasukan lawan tidak lekas menyusul Dewi Api.


"Tapi, Pendekar Cakra ... bagaimana denganmu?" Kencana Sari menolak untuk pergi. Dia sadar jika kemampuan yang dimiliki oleh lawan-lawan yang datang berada di atas kuasa yang Cakra punya.


"Cepat pergilah! Aku akan menahan mereka untuk sementara waktu. Selalu ingatkan Suhita supaya dia tidak berbuat bodoh!"


Kencana Sari tidak berani membantah lagi. Dengan segera dia melakukan apa yang Cakra perintahkan. Sari percaya kalau Cakra sudah persiapkan suatu rencana.


Danur Cakra melompat ke udara, dia melepaskan pukulan yang mengepulkan asap hitam disertai badai yang terarah pada lawan. Tidak hanya itu, Cakra juga menyerang lawannya dengan bola-bola energi yang tajam. Pada saat itulah, ketika pandangan mata mereka terhalang dan berusaha untuk menghalau serangan Danur Cakra, tidak ada dari mereka yang menyadari saat Kencana Sari melarikan diri. Danur Cakra berharap tidak seorang pun yang berhasil mengikutinya Kencana Sari.


Muning Raib mengibaskan jubahnya, saat itu juga muncul pusaran angin yang menghisap habis kabut asap serta energi hitam yang Danur Cakra lepaskan. Mengembalikan suasana seperti sedia kala.


Danur Cakra masih tidak bergeming, kendati lawannya sekarang ada dua dan kesemuanya sangat tangguh. Mampu menahan mereka selama beberapa waktu tentunya bukanlah prestasi yang buruk.


Plok! Plok! Plok! Muning Raib tepuk tangan.


"Bahkan aku belum pernah menemukan adanya pendekar muda dengan rasa percaya diri seperti dirimu. Kau sungguh tidak takut mati, atau mungkin juga kau seorang putus asa yang tidak lagi inginkan hidup."

__ADS_1


Iringan tenaga dalam yang disertakan dalam kalimat yang terucap dari mulut Muning Raib, membuat Danur Cakra harus menggunakan tenaga dalam agar telinganya tidak terganggu. Memang benar, tingkat kemampuan yang dimiliki oleh Muning Raib maupun Nyi Parang Awi hampir berada pada tingkat yang sama seperti apa yang Danur Cakra kuasai. Akan tetapi, level kemampuan yang telah lebih dulu diasah, membuat mereka berada di atas angin. Pengalaman dan banyaknya lawan yang telah dikalahkan membuat Danur Cakra layaknya seorang amatir.


Selain itu juga, begitu banyak jenis ilmu dan kekuatan yang dikuasai akan menambah pengelolaan dan teknik energi dalam bertarung akan menentukan untuk hasil.


Persetan dengan semua itu. Apa pun jenis kekuatan yang digunakan, selama Danur Cakra bisa mengimbangi, pantang baginya untuk gentar. Meruap salah satu kelebihan yang tidak dimiliki oleh banyak pendekar. Bahkan cukup banyak tokoh aliran sesat yang takut mati, tapi tidak dengan Danur Cakra.


"Jika saja kita berjumpa tiga atau empat puluh tahun yang lalu, pastinya kalian boleh berbangga hati. Tapi sayangnya setelah menjadi ompong, hanya belang yang diandalkan oleh harimau tua," ucap Danur Cakra.


"Hahaha! Betapapun lemahnya harimau tua, apakah pantas seekor katak sakit perut karena tertawa?! Sungguh ironis memang, baiknya sebelum bicara utamakan dulu untuk berkaca!" masih diiringi tawa yang mengandung energi tenaga dalam, Muning Raib menitikkan jari telunjuknya.


Wuuusss! Satu pukulan berkecepatan tinggi meluncur dengan deras, mencoba melu*mat tubuh Danur Cakra tanpa basa-basi.


Danur Cakra balas mengibaskan tangannya, menahan serangan Muning Raib juga dengan kemampuan tenaga dalam. Akan tetapi di luar dugaan Cakra, jika ternyata serangan Muning Raib yang terlihat sepele mampu membuat tubuh Cakra sampai terjajar ke belakang. Benturan yang sangat keras.


"Aku tidak mungkin mampu bertahan cukup lama jika terus menerus menguras tenaga dalam. Baiknya aku gunakan tulang tua mereka yang rapuh untuk bisa mengubah keadaan," batin Danur Cakra.


Sambil berlari mendekat, Danur Cakra menghunus sebuah pedang pusaka dan segera mengayunkan pedang itu ke arah Muning Raib.


Tidak seperti biasanya, tidak juga seperti apa yang telah dipelajari oleh Muning Raib. Danur Cakra mengubah cara bertarungnya. Kali ini dia bertumpu pada tangan kanannya yang menggenggam pedang dengan erat. Danur Cakra tidak lagi sebagai Pendekar Naga Kresna yang mengutamakan pukulan energi hitam, tapi sekarang tubuhnya berubah menjadi lembut dengan gerakan indah namun mematikan.


Bidadari dari Utara. Jurus Rahasia Pedang Dua Belas. Danur Cakra menggunakan kemampuan warisan sang nenek yang tentunya membuat Muning Raib dan Nyi Parang Awi tercengang takjub.


Tidak pernah diceritakan jika Danur Cakra memperdalam kemampuan dari neneknya. Itu karena dia lebih mengutamakan perubahan energi, dari Tapak Penakluk Naga hingga menjadi ciri khasnya sendiri yakni Tapak Naga Kresna. Namun di balik semua itu, tentu saja Danur Cakra tidak meninggalkan apa yang dia pelajari sejak kecil. Baik kemampuan dari sang kakek dan juga jurus pedang mematikan milik Rengganis.


Selama perjalanan pengembaraan, dalam setiap latihannya, Danur Cakra terus melatih kepiawaiannya dalam memainkan jurus pedang. Dua jurus tanpa tanding, Jurus Rahasia Pedang Dua Belas dan Sepuluh Langkah Pedang. Dalam hal ini, Danur Cakra merupakan satu-satunya anak Mahesa yang menjadi pewaris jurus pedang keluarga mereka. Tentu saja Cakra bangga akan hal itu. Dan dengan kata lain, Danur Cakra merupakan yang paling pantas untuk menggenggam Pedang Rembulan milik Elang Putih.


Warna pertarungan seketika berubah. Kemampuan Danur Cakra yang berhasil membawa pertarungan dalam senjata membuat Muning Raib dan juga Nyi Parang Awi terpaksa gunakan cara yang sama. Kepandaian mereka dalam bermain pedang memang sangatlah baik. Akan tetapi, jurus Pedang Dua Belas milik Rengganis mampu mengimbangi permainan kedua pendekar senior tersebut.


Bukan karena kehebatan Cakra dalam mengayunkan pedang, namun karena jurus yang dia gunakan sangatlah akrab. Hingga membuat Nyi Parang Awi syok, hampir tidak percaya pada penglihatan matanya.


"Ini tidak mungkin. Mana mungkin seorang pendekar aliran sesat mampu menguasai jurus rahasia pedang dua belas. Sangat tidak masuk akal!" Nyi Parang Awi menolak percaya atas apa yang dia saksikan.


Rengganis atau yang lebih dikenal dengan nama Bidadari dari Utara si pemilik jurus rahasia pedang dua belas merupakan seorang pendekar aliran putih yang kemudian jurus pedang itu diwariskan pada putranya yang bernama Elang Putih, tentu saja juga pendekar aliran putih. Sejauh ini, selain putranya itu tidak lagi terdengar kabar jika Raditya dan Rengganis memiliki seorang murid.


Lantas sekarang, secara mengejutkan tiba-tiba muncul seorang pendekar muda yang menguasai jurus tersebut secara sempurna. Dan yang lebih mengejutkan lagi, si pendekar tidaklah berasal dari kelompok aliran putih, melainkan sebaliknya.


"Aku rasa, ini hanyalah salah paham. Bocah itu pastinya miliki kepentingan tersendiri sehingga secara tidak sengaja bentrok dengan Lereng Utara," Nyi Parang Awi sangat yakin akan hal itu.


Jika dipikir secara logika, tentu amatlah logis. Usia Danur Cakra sepantar dengan putra Mahesa (Jenderal Muda Raka Jaya), jikalau ada masalah pastinya sangat wajar. Dan mengapa Danur Cakra melawan orang-orang yang berniat mencelakai Raka Jaya? Alasannya cuma satu, yakni dia hanya menginginkan menghabisi nyawa Raka Jaya dengan tangannya sendiri.


Alasan lain yakni berkaitan dengan wanita cantik yang menyelamatkan Dewi Api. Bisa jadi, karena wanita itu makanya seorang pendekar aliran sesat seperti Naga Kresna harus kehilangan kesadaran sampai-sampai mau mengorbankan selembar nyawa yang dia punya. Dan bukan hanya satu atau dua kasus, terlalu banyak orang yang dibodohkan oleh cinta, lalu mati sia-sia hanya karena ingin dikatakan sebagai seorang yang tulus mencinta. Tentu saja, karena cinta itu buta. Membutakan hati dan pikiran.


Nyi Parang Awi masih berdiri mematung, dia hanya menyaksikan beberapa orang pendekar dari Lereng Utara yang terluka. Dia juga tidak coba untuk membantu Muning Raib untuk mematahkan perlawanan Danur Cakra. Padahal jika mereka bekerja sama, sudah barang pasti Danur Cakra bisa diringkus.

__ADS_1


"Nyi Parang, apa yang harus kita perbuat sekarang?" seorang pendekar dari Lereng Utara bertanya.


"Apa kau tahu, siapa wanita muda yang tadi membawa lari Dewi Api?" Nyi Parang Awi balik bertanya.


"Sebenarnya aku tidak yakin. Tapi jika menurut informasi yang aku dengar, dengan melihat tindakannya yang begitu cekatan. Sepertinya, dialah sosok Tabib Dewa yang dulu pernah menggemparkan," jawab pria brewok bernama Dampu Awuk.


"Tabib Dewa?!" Nyi Parang Awi terperangah.


Pantas saja. Sekarang sedikit misteri mulai terkuak. Dan mengapa Tabib Dewa bisa berada di tempat itu? Tentu saja karena Elang Putih yang jadi alasan.


Sejak Suhita masih kecil, kabar mengenai kehadiran calon seorang tabib masa depan sudah menyebar. Bocah yang dipercaya memiliki kemampuan setara penyembuh tangan dewa, bocah yang akan menjadi penolong banyak orang di masa depan. Dan karena itu, banyak tokoh dari dunia persilatan yang menginginkan si bocah untuk berada di bawah panji mereka. Sampai-sampai melakukan segala macam cara untuk bisa mendapatkannya.


Begitu banyak tokoh yang pergi mencari keberadaan Tabib Titisan Dewa tersebut, tapi tidak ada yang berhasil. Bahkan sebagian besar dari mereka ikut lenyap tidak tahu rimbanya. Menghilang bersama dengan berita mengenai Tabib Titisan Dewa yang semakin meredup.


Ada kasak-kusuk jauh dari telinga, yang menyebut secara samar jika Elang Putih merupakan pendekar yang berada di balik hilangnya banyak pendekar yang melakukan perburuan. Ya, meskipun kabar tersebut akhirnya hilang karena tidak ditemui adanya bukti yang kuat. Hingga kemudian Tabib Dewa benar-benar muncul dan menjadi juru sembuh nomor satu di seluruh penjuru dunia persilatan.


"Sudah jelas. Pendekar bodoh ini hanyalah korban akibat permainan mulut manis Tabib Dewa. Dia melawan kita karena Tabib Dewa."


Setelah menyimpulkan, Nyi Parang Awi berteriak lantang. Menghentikan pertarungan. Dia meminta Muning Raib dan beberapa pendekar lainnya untuk tidak lagi menyerang.


"Huuuhhh ... huuuuhh ..." Danur Cakra ngos-ngosan. Tidak terbiasa dirinya pergunakan jurus pedang hingga selama ini. Untuk pertama kalinya pula, dia melakukan pertarungan hidup dan mati dengan mengandalkan kemampuan pedang. Tapi harus diakui, jika jurus legenda milik neneknya memang sangat luar biasa.


Danur Cakra yakin, Nyi Parang Awi merupakan salah satu dari sekian banyak pendekar yang pernah dikalahkan oleh jurus itu. Terlihat jelas dari raut wajahnya.


"Ini sangat luar biasa. Tapi aku harus menambah intensitas latihan ku. Bahkan napasku hampir putus, untung saja mereka berhenti," Danur Cakra berusaha secepat mungkin menstabilkan kondisi tubuhnya.


Pendekar hebat bukanlah pendekar yang semata buta hanya andalkan otot. Tapi pula harus pertajam otak. Begitu banyak kelicikan yang tidak terduga, dan bagaimana untuk berada di atas kelicikan itu.


Setelah sedikit tenang, Danur Cakra melangkah mendekat pada lawan seraya melepaskan tawa. Dia bersikap sangat profesional, tanpa tekanan mental dan seolah tidak miliki rasa takut. Sungguh mencerminkan sikap seorang penjahat sejati. Penjahat yang hanya punya jantung dan tidak miliki hati.


"Anak muda, siapa dirimu sebenarnya?!" tanya Nyi Parang Awi dengan nada tinggi.


Danur Cakra tidak langsung menjawab, dia menatap dengan tajam, bola matanya merah menyala. Kemudian Danur Cakra mengangkat tangan kanannya, menunjukkan kekuatan energi naga hitam, lalu melemparkan bola energi tersebut pada seorang anak buah Muning Raib yang terluka.


"Bahkan aku sendiri tidak tahu siapa diriku. Tapi orang-orang banyak menyebutku dengan nama Pendekar Naga Kresna!" jawab Danur Cakra.


Anak buah Muning Raib yang tidak menduga akan menjadi korban pukulan, tentu saja langsung kehilangan nyawa. Tubuhnya terkapar tidak bergerak saat Naga Kresna menyambar.


Plok! Plok! Plok!


"Bagus, kau sangat berbakat anak muda. Bagaimana jika kita lupakan atas semua yang baru saja terjadi?! Begitu banyak hal menarik yang bisa kita bicarakan," Muning Raib langsung mengajukan penawaran.


Danur Cakra sudah menduga. Sesama tokoh aliran sesat tentunya sangat membenci pertikaian antar sesama. Karena bukan mereka, melainkan tokoh aliran putih dan juga pihak kerajaan yang akan meraih keuntungan.

__ADS_1


Danur Cakra mengangkat wajahnya, kemudian melempar senyum penuh makna. Perlahan sinar matanya kembali normal seperti sedia kala.


Muning Raib dan Nyi Parang Awi saling bertukar pandang, kemudian juga tersenyum.


__ADS_2