
Mohon maaf sebelumnya. Hanya bisa up 1 chapter, dikarenakan ada karenanya. 🙏.
_____________________________________
Kabar gembira disambut dengan penuh suka cita. Saat Suhita Prameswari mengutarakan keinginannya, tanpa menunggu barang sedetik pun, Mahesa langsung meng-iyakan permintaan putri kesayangannya itu.
Sudah bertahun-tahun Mahesa menunggu hari ini tiba, sungguh suatu keajaiban yang membuat Suhita berpikir jika kemampuan tenaga dalam sangat penting. Meskipun Suhita tidak melatih kelincahan tangannya bermain pedang, seandainya dia miliki kemampuan tenaga dalam yang besar maka tidak akan ada orang yang bisa menyentuhnya.
Mahesa berjanji akan menurunkan seluruh kemampuan yang dia miliki. Sepuluh Tapak Penakluk Naga. Ilmu yang hingga saat ini belum memiliki tandingan di dunia persilatan. Jika Suhita berhasil menguasai lebih dari setengah kekuatan, maka akan berimbas baik pada kemampuan penyembuhan yang bakal dia tekuni.
Tidak perduli berapa pun lamanya waktu yang akan dibutuhkan, maka selama itu pula Mahesa akan membimbing putrinya. Namun Mahesa tahu, jika Suhita sangat berbakat dan dia tidak perlu sangsi lagi.
"Dinda, lihat. Tuhan memberkati kita, memberkati anak kita," seru Mahesa penuh kegembiraan.
"Apakah Kanda akan mendampingi Hita hingga dia menyelesaikan latihan secara keseluruhan? Em, maaf. Maksud Dinda ..."
"Kau jangan khawatir, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Tenang saja, aku akan berikan yang terbaik pada murid keduaku ini," Mahesa memotong perkataan Puspita, "kau lihat saja, dia akan tumbuh dengan sempurna. Karena pada murid keduaku ini mengalir darahku, dia memiliki kemampuan untuk kuasai Tapak Penakluk Naga. Berbeda dengan murid pertamaku."
"Murid kedua?" Puspita mengerutkan dahi.
"Iya, karena murid pertamaku ialah kau. Apa kau lupa? Yang benar saja kau melupakan jasa gurumu sendiri."
Puspita hampir tersedak. Tawanya pun pecah, jika mengingat masa-masa dulu. Saat pertama kali mereka melakukan perjalanan ke Pulau Tengkorak, bahkan saat itu Mahesa masih berstatus majikannya, bukan pacar karena mereka belum jadian. Tentu saja Puspita ingat, terlalu manis untuk dilupakan hal indah itu.
__ADS_1
"Baiklah, sayang. Aku tinggal dulu, ya," Mahesa melambaikan tangan pada Puspita. Dia menghampiri Suhita yang sedang melakukan meditasi. Berlatih konsentrasi dan kesabaran.
Puspita tersenyum, dia memperhatikan Suhita dari bawah pondok-pondok di dekat arena berlatih. Semangat yang ditunjukkan oleh Suhita mengingatkan dia pada masa kecilnya dulu. Ya, meskipun kenyataannya latar kehidupan mereka sangat berbeda jauh.
Puspita merenung, dia tidak pernah berpikir untuk kembali menjadi seorang pendekar. Hidup sebagai orang biasa, dirasanya jauh lebih menyenangkan.
Sangat mungkin, seandainya Puspita mau tentu kemampuan olah kanuragannya bisa dibina dan ditumbuhkan kembali. Selalu ada cara, seperti halnya saat dulu Mahesa kehilangan kekuatan, dan kenyataannya dia bisa kembalikan semuanya hingga utuh, sempurna seperti semula.
Apa yang tidak mungkin, semuanya juga berlaku untuk Puspita dan bahkan seluruh tokoh persilatan. Hanya saja, Puspita tidak berpikir ke arah sana. Bisa melihat anaknya tumbuh dengan sempurna sudah merupakan kebahagiaan terbesar bagi Puspita.
"Bagaimana nanti dengan Dewi Api? Apa mungkin, dia bisa merelakan Kanda Elang tinggal bersamaku demi untuk melatih anakku? Haduuuhhh ..." Puspita menggaruk kepalanya. Tiba-tiba muncul wajah Dewi Api melotot sinis di dalam pikirannya.
Karena terlalu gembira, apa Mahesa melupakan hal itu? Tidak menutup kemungkinan wanita pemarah itu akan datang menyusul suaminya dan bahkan membuka keributan. Dewi Api tidak akan segan-segan membakar kediaman Puspita jika dia sedang marah. Puspita hapal betul bagaimana sikap keras istri pertama Mahesa itu.
Takut? Bukan karena satu-satunya alasan. Akan tetapi, Puspita lebih memikirkan posisi Mahesa. Bagaimanapun juga, sebagai seorang suami Mahesa harus berlaku adil. Dia tidak boleh berat sebelah dengan terlalu membela Puspita. Karena hal itu membuat Dewi Api kecewa. Mahesa harus bisa menjaga perasaan istrinya. Sudah tahu punya istri pemarah dan posesif, bukan salah istrinya jika suami yang memancing keributan.
Jika Mahesa menolak, maka Puspita sendiri yang akan menulis surat pada Dewi Api. Bagaimanapun Puspita bukanlah seorang yang serakah. Dia sadar betul posisinya sebagai istri kedua, dia harus menjaga perasaan Dewi Api untuk menghindari semakin meluasnya kebencian.
Puspita harus bisa meyakinkan suaminya jika pendapatnya merupakan yang terbaik. Puspita tidak ingin melihat Mahesa dan Dewi Api bertengkar karena dirinya. Wanita seperti Dewi Api tidak bisa dilawan dengan otot. Untuk bisa mengalahkannya haruslah membuat hatinya luluh. Meskipun itu bukan pekerjaan mudah.
Dihadapi dengan cara yang keras akan melawan, jika terus dibiarkan maka menginjak kepala. Serba salah memang, sulit untuk bisa meyakinkan orang yang selalu ingin menang sendiri. Bicara baik-baik, meskipun bukan solusi paling tidak bisa memberikan alasan. Terserah, logika Dewi Api mau terima atau tidak.
"Dinda, kau mau cari penyakit? Wanita itu mana tahu cara orang. Sudahlah, tak perlu kau risau," Mahesa kurang setuju pada usulan Puspita.
__ADS_1
Lagi pula, di Padepokan Api Suci pun Mahesa tidak dibutuhkan. Raka Jaya di latih oleh kakeknya Wana Abiyasa dibantu oleh Dewi Api sendiri. Mahesa tidak diperkenankan meski sekadar mengajari teknik pernapasan. Sementara di sini, Mahesa bisa melatih Suhita dengan sesuka hatinya. Dengan kata lain, apa pun yang Mahesa inginkan, maka dia bisa membentuknya.
Mahesa sungguh tidak ingin kemampuan yang selama ini dia pelajari dan dikembangkan dengan susah payah harus memuai begitu saja seiring putaran waktu yang menambah bilangan usianya. Sepuluh Tapak Penakluk Naga hanya bisa dipelajari oleh mereka yang miliki silsilah keluarga, hingga Mahesa tidak bisa menunjuk murid.
"Tapi, kanda. Saya mohon untuk izinkan saya menulis sepucuk surat pada Dewi Api. Dia akan selalu mencemaskan Kanda jika kanda pergi, setidaknya dia berhak untuk tahu kabar Kanda. Percayalah, Dewi Api begitu menyayangi Kanda," Puspita memohon dengan teramat sangat.
Mahesa menyerah. Akhirnya dia mengangguk, membiarkan untuk Puspita lakukan apa yang diinginkannya. Semuanya juga tidak salah. Puspita melakukan yang menurutnya paling baik. Mahesa tidak boleh terlalu mengekang istri tercintanya.
"Kau lakukan saja apa yang kau anggap terbaik. Yang jelas, aku akan melatih putriku sampai dia berhasil. Apa pun alasannya, tidak akan ada yang bisa hentikan aku," tandas Mahesa.
Pantas saja tidak pernah bisa akur. Mahesa pun sama saja, tidak ubahnya dengan Dewi Api. Begitu keras kepala dan memaksakan kehendak. Puspita tersenyum, dengan pelukan manja dia mengucapkan banyak terima kasih karena Mahesa izinkan dia melakukan apa yang dia inginkan.
Tanpa membuang waktu, Puspita bergegas menuju meja di mana terdapat kertas dan tinta. Tangannya memegang alat tulis cukup lama, tapi belum satu kata pun digoreskan. Puspita masih berpikir tidak tahu harus bagaimana dia memulai kalimat.
"Semoga saja, kalimatku tidak lancang dan membuat Dewi Api menjadi salah tanggapan," Puspita membaca ulang tulisannya sebelum memanggil burung penyampai pesan.
°°°
Burung penyampai pesan melayang cepat membelah cakrawala. Tujuannya tidak lain ialah Padepokan Api Suci. Di kakinya, terikat sepucuk surat yang ditujukan pada Dewi Api.
Tanpa hambatan, burung itu melaksanakan tugasnya dengan baik. Surat yang dia bawa, langsung diterima oleh Dewi Api.
"Apa maksudnya ini, Puspita sengaja merendahkan aku. Dia ingin menunjukkan jika dia lebih diutamakan dibanding aku. Sungguh besar kepala, kurang ajar! Lihat saja, apa yang bisa aku lakukan. Puspita, kau tunggu saja di sana. Kau jual, aku beli!" Dewi Api membanting kertas pesan di tangannya. Seketika, surat itu terbakar dan hangus tak bersisa.
__ADS_1
"Mahesa, jika istri tercintamu itu tidak ada lagi. Apa kau masih akan abaikan aku? Kau bisa mencobanya. Hahhh! Menyebalkan!" Dewi Api berteriak dengan kesal, dia menendang meja di kamarnya membuat isi meja itu berantakan seketika.
Hujan memang tidak pernah tahu, dia jatuh membasahi apa.