
Danur Cakra baru saja membaringkan tubuhnya, ketika seorang berlari mendekat. Dengan malas, terpaksa Danur Cakra kembali duduk karena yang datang bukan lain adalah adiknya.
"Mengganggu saja. Cepat katakan, apa yang ingin kau bicarakan. Aku capek, mau istirahat," ucap Danur Cakra.
Senyum di wajah Suhita seketika menghilang. Sambutan kakaknya sungguh di luar dugaan. Tidakkah bisa untuk bersikap sedikit baik dan ramah?
"Aku hanya ingin memeriksa kondisimu, takutnya sesuatu terjadi padamu. Masa aku harus diam saja?"
"Ya, baiknya kau diam saja. Diam dan tutup mulutmu itu. Jika sekadar ingin ucapkan selamat, tunggu saja saat aku berdiri di podium tertinggi nanti," Danur Cakra kembali membaringkan tubuhnya.
"Biar ku bantu membuat ototmu rileks," Suhita duduk di samping balai dan mengurut betis kakaknya.
"Nah, begitu. Berbuat, jangan hanya neyerocos tidak karuan. Ini, tanganku juga pegal," ujar Danur Cakra.
"Dasar!" umpat Suhita pelan.
Dengan mengurut, Suhita bisa sambil mendeteksi jika saja di tubuh Danur Cakra ada racun atau sejenisnya. Karena Suhita sadar, jika para pendekar aliran putih pun begitu mirip dengan aliran sesat. Mereka kerap melakukan tindakan tidak terpuji untuk bisa mencapai tujuan. Salah satunya, untuk membuat jadi terkenal.
"Heh, bagaimana kau bisa kenal dengan orang dari Padepokan Api Suci itu?" tanya Danur Cakra.
Suhita tersenyum, dengan bersemangat dia menceritakan awal mula bertemu dengan Raka Jaya. Dan mengapa dia bisa sampai hadir di Giling Wesi ini.
"Fiiihhh! Lihat saja nanti. Saat orang yang kau kagumi itu bisa ku kalahkan. Apa kau masih bisa tersenyum begitu?" Danur Cakra mencibir.
"Tidak masalah bagiku. Bukankah kau juga adalah kakakku?! Hehehe ... oh, ya. Bukankah lawan yang bakal kakak hadapi nanti adalah orang yang juga berasal dari Menara Kematian? Kakak tahu bagaimana cara untuk hadapi Jurus Racun Bayangan itu?"
__ADS_1
"Kau tahu bagaimana tadi Raka Jaya kalahkan lawannya?! Begitu juga yang akan aku lakukan. Lagi pula, aku dan Raka Jaya bukanlah orang yang sama. Kemampuanku lebih baik darinya," jawab Danur Cakra dengan penuh percaya diri.
Suhita menjulurkan lidah, mengejar ucapan Danur Cakra dari belakang. Karena Danur Cakra tidak melihat, jadi tidak masalah.
Anak kembar Mahesa dan Puspita itu terus bercakap-cakap. Meskipun kalimat Danur Cakra begitu blak-blakan dan terkesan kasar, tapi nampaknya Suhita sudah terbiasa dengan hal itu. Danur Cakra hanya terlalu bicara apa adanya. Jujur memang selalu menyakitkan.
°°°
Bisa dikatakan, Padepokan Giling Wesi memberikan kelonggaran pada Raka Jaya. Hingga dia ditempatkan pada laga penutup. Dengan demikian, ada waktu tambahan yang bisa Raka Jaya gunakan untuk memperpanjang waktu istirahatnya.
Sebagai gantinya, Danur Cakra yang membuka laga. Berhadapan dengan murid dari Menara Kematian. Seorang dengan kemampuan yang mirip seperti anak yang membuat Raka Jaya keracunan.
"Aku akan menghabisimu!" anak itu menunjuk Danur Cakra dengan garang.
"Hahaha! Sungguh, ancamanmu membuat aku jadi takut. Jurus Racun Bayangan itu, sangat menakutkan," Danur Cakra malah tertawa mengejek membuat lawannya semakin naik pitam.
"Ingat, pertandingan ini hanya sebagai kompetisi. Kalian tidak diperbolehkan dengan sengaja menyakiti satu sama lain, apalagi sampai mencelakai," juri pemimpin pertandingan mengingatkan kedua anak untuk tidak saling mencelakai.
Tanpa banyak komentar, keduanya mengangguk. Meskipun perkataan itu belum tentu sampai ke telinga mereka. Terbukti saat serangan pertama, kedua anak tersebut langsung kerahkan tenaga dalam tingkat tinggi.
BAAMMM !!! Benturan keras terjadi. Baik Danur Cakra maupun lawannya, keduanya sama-sama terdorong mundur.
Tidak berhenti sampai di situ saja, berikutnya Danur Cakra langsung melepaskan beberapa bayangan naga untuk mengganggu konsentrasi lawan hingga dia tidak bebas untuk mengeluarkan Jurus Racun Bayangan seperti yang tadi terjadi pada Raka Jaya.
Jurus Tapak Naga, yang menggempur Jurus Racun Bayangan. Sungguh suatu tontonan yang sangat menarik. Bagaimana juga, Jurus Tapak Naga hingga sekarang masih terus menjadi pengisi obrolan hangat di dunia persilatan.
__ADS_1
Sangat jarang tokoh dunia persilatan yang bisa kuasai Jurus Tapak Naga dengan sempurna, apalagi harus menurunkan pada seorang murid. Sejatinya begitu banyak jenis Tapak Naga yang ada di dunia persilatan, tapi sayangnya sebanyak itu juga tokoh yang tutup usia dan tidak sempat miliki murid. Mengingat pada dekade lalu, penggunaan Pukulan Tapak Naga di larang untuk digunakan. Sebelum akhirnya Pendekar Elang Putih bisa menunjukkan jika para pendekar pemilik Tapak Naga bukanlah tokoh jahat yang sebabkan kekacauan, hingga tokoh dunia persilatan sepakat jika Pukulan Tapak Naga layak dipelajari kembali guna menumpas kejahatan.
Padepokan Menara Kematian harus akui sekali lagi. Jika sekuat apa pun jurus yang mereka kembangkan, bukanlah tandingan dari Pukulan Tapak Naga yang melegenda itu. Hanya saja, kali ini mereka beruntung karena bocah pemilik Pukulan Tapak Naga itu belum sepenuhnya menguasai ilmu, hingga murid Menara Kematian masih bisa menyelamatkan diri dari ancaman kematian.
Danur Cakra terus saja menyerang, meskipun seorang guru dari Menara Kematian telah 'lempar handuk' tanda menyerah. Hingga terpaksa, guru itu mengibaskan tangannya untuk menghalau serangan Danur Cakra yang membahayakan muridnya.
Tidak ada yang menyalahkan tindakan guru itu, meskipun kenyataannya Danur Cakra terlempar hingga keluar ring.
"Maafkan aku, tapi kami telah mengaku kalah!" ucap guru itu sambil menggendong muridnya meninggalkan arena kompetisi.
Karena tidak lagi ada wakil mereka yang tersisa, Menara Kematian memutuskan untuk langsung angkat kaki dari Giling Wesi. Mereka kembali ke padepokan mereka tanpa lebih dulu berusaha untuk menuntut hukuman atas tindakan Danur Cakra yang tidak sportif.
Danur Cakra tidak mentaati peraturan yang berlaku. Harusnya dia didiskualifikasi. Namun, atas jaminan yang diberikan oleh Justa Jumpena dari Padepokan Api Suci, membuat panitia pelaksana kompetisi memberikan sedikit kelonggaran. Lagi pula, Menara Kematian telah pulang hingga wakil mereka pun tidak bisa melanjutkan kompetisi.
"Mereka itu yang berbuat curang. Harusnya, sejak awal tidak diperbolehkan untuk ikut kompetisi," Suhita memprotes keras pernyataan seorang pendekar yang amat menyudutkan Danur Cakra.
"Kau siapa, anak kecil?! Kau tidak punya cukup bukti. Jangan sampai, aku seret dan jebloskan kau ke dalam penjara!"
"Hei pak tua! Jaga bicaramu, atau kau ingin cicipi bagaimana kerasnya tinjuku?!" kepala Danur Cakra kembali mendongak kala dengar adiknya di maki.
"Kalian ini, anak kampung, orang hutan. Sama sekali tidak tahu tata krama. Apa kalian pikir sudah pantas menginjakkan kaki di dunia persilatan?!" balas pendekar itu tidak kalah pedasnya.
"Kurang ajar!" darah Danur Cakra mendidih dibuatnya. Nampaknya pendekar itu sengaja cari gara-gara untuk tetap halangi Danur Cakra melangkah ke pertandingan selanjutnya.
Danur Cakra segera berdiri dan siap untuk layangkan pukulan. Ketika saat itu ...
__ADS_1
WUUUSSSHH !!! Asap berwarna putih ke kuningan mengepul tepat di depan wajah si pendekar. Hingga membuatnya jatuh terkulai lemas.
Detik berikutnya, tangan Danur Cakra telah ditarik oleh Suhita untuk lekas menjauh dari sana.