Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Senyuman Tipis


__ADS_3

"Hita! Ah, ini dia orangnya," Raka Jaya diikuti Ateng berlarian kecil menghampiri Suhita. Sepertinya mereka sudah puas mencari ke sana ke sini.


"Raka ... kau mencariku, ada apa?" Suhita tersenyum merah jambu menyambut kedatangan Raka Jaya.


"Aku kira, kau sudah pulang. Syukurlah, kita masih bisa berjumpa," Raka Jaya menghela napas lega, membuat Suhita semakin tidak mengerti.


"Mana mungkin aku pergi dengan status buron, tentu saja aku harus membersihkan namaku," jawab Suhita.


"Ah?!" Raka Jaya dan Aji Selenteng saling pandang, "bukankah masalah itu sudah beres?!"


"Beres, maksudnya?!" Suhita mengerutkan dahi, tidak mengerti.


Raka Jaya kemudian menceritakan mengenai jurus racun bayangan yang dimiliki Padepokan Menara Kematian, juga termasuk tuduhan yang menyangkut Suhita. Pihak padepokan telah mendapatkan bukti yang jelas jika Menara Kematian yang memang lakukan kecurangan. Bahkan, seorang pendekar bercaping gunung telah berhasil menangkap dan membuat pihak Menara Kematian mengakui kesalahan mereka. Para pendekar senior telah sepakat atas hukuman serta konsekuensi yang harus diterima oleh Menara Kematian. Itu semua sudah selesai.


Sementara, mengenai tudingan beberapa orang pendekar yang menjumpai Suhita tebarkan Serbuk Pengubur Nyata, semuanya telah ditangani oleh Danur Cakra. Bahkan Danur Cakra berani pertaruhkan lencana abadi dan semua pernak-pernik yang dia dapatkan dari kompetisi ini.


"Ya, sebenarnya selain Danur Cakra, pendekar bercaping gunung itu pun ikut membantu bicara. Kau sudah tidak punya urusan apa pun Hita. Hanya saja, semua orang mengira jika kau sudah pergi," tutup Raka Jaya.


Benarkah? Jadi sebelum pulang Danur Cakra lebih dulu melakukan pembelaan terhadap dirinya?! Pantas saja Suhita tidak menemukan kakaknya di mana-mana. Semenyebalkan apa pun, kiranya dia masih begitu peduli dan bertanggung jawab atas keselamatan adiknya. Sungguh Suhita terharu. Ada rasa bersalah yang menyelinap di hati Suhita karena dia terlalu berlebihan menilai Danur Cakra. Karena memang sifatnya sangat unik.

__ADS_1


"Lalu, di mana pendekar bercaping gunung itu?" tanya Suhita. Hita sangat yakin, jika orang yang dimaksud ialah ayahnya. Terakhir, ketika Suhita memasuki arena kompetisi, dia bertemu dengan ayahnya yang menyamar dengan menggunakan caping gunung sebagai penutup kepala.


"Emmm ... sayang sekali, kami tidak tahu. Dia begitu lincah, bergerak bagai angin. Tidak ada yang sempat bertanya siapa dia sebenarnya. Setelah membantu selesaikan masalah, tiba-tiba dia menghilang begitu saja," papar Ateng penuh rasa takjub.


Suhita tersenyum tipis. Dia yakin jika itu adalah Ayahnya. Tapi mengapa harus menyamar dan sembunyikan jati diri? Entahlah, Suhita juga tidak ambil pusing. Yang jelas, malaikat pelindungnya itu tetap ada di sekitarnya.


"Oh, ya. Kalian belum jawab. Mengapa kalian tergopoh mencariku?" Suhita mengulang pertanyaan pertamanya.


Raka Jaya sampai menepuk jidat. Susah payah mereka mencari kian kemari, setelah bertemu malah ngobrol ngalor-ngidul tidak karuan. Mereka sampai melupakan jika mencari Suhita untuk dimintai pertolongan dalam menyembuhkan sakit seorang pendekar sepuh.


Sudah beberapa tabib yang coba tangani, tapi Pendekar Tongkat Emas masih belum sadarkan diri. Nampaknya, dia sengaja menunggu kedatangan Tabib Dewa untuk menyembuhkan.


"Hita, apa yang kau pikirkan? Kau tidak perlu ragu. Aku tahu, kau punya kemampuan yang tidak diketahui banyak orang. Kau pasti bisa," bisik Raka Jaya. Raka Jaya berpikir, jika Suhita dilema karena hendak mengobati seorang tokoh dunia persilatan. Sementara, dia hanya seorang anak yang baru belajar mengobati.


"Aku tidak memikirkan itu. Aku hanya malu, harusnya aku memberimu satu hadiah di hari kau mencapai prestasi terbaik. Tapi ... sebagai sahabat aku tidak berikan apa pun. Malah masih saja menyusahkanmu," Suhita mendesah pelan.


Raka Jaya terperanjat. Dia sama sekali tidak menduga jika yang sedang Suhita pikirkan adalah dirinya. Entah, apa yang harus Raka Jaya katakan. Bagi Raka, hal itu tentu telah melebihi nilai suatu hadiah.


"Ehem ... ehemm ... woiii, ingat wooiii! Ada orang lain di sini!" untung ada Ateng yang memecah kebuntuan pikir Raka Jaya.

__ADS_1


Aji Selenteng yang sejak tadi hanya jadi kambing congek, sudah tidak tahan lagi. Lama-lama rasa sungkannya berubah jadi geram. Sama sekali, Raka Jaya dan Suhita tidak menganggapnya ada.


"Oh, ya, Ateng. Bagaimana jika malam nanti kita bersantap bersama? Ya, anggap saja sebagai pesta kecil atas kemenangan ini," Suhita mengangkat kedua alisnya, menyatakan ide menarik. Biasanya, Ateng langsung bersemangat jika sudah berhubungan dengan makanan.


"Ide bagus!" Ateng memetikkan jarinya di depan wajah Raka Jaya. Tapi mendadak wajahnya berubah ekspresi, AtengĀ  mengurungkan niatnya. "Ah, tidak, tidak. Tidak seru. Baiknya kalian saja yang makan, suap-suapan. Biar aku cari tempat makan sendiri," Ateng bergegas pergi.


Raka Jaya dan Suhita saling bertukar pandang. Mereka menatap punggung Ateng hingga hilang di balik ruangan.


"Ah, mari Hita. Kau pasti sudah ditunggu. Paman Justa Jumpena sudah banyak bercerita tentang kemampuan pengobatan yang kau miliki," ucap Raka Jaya.


Suhita tersipu malu. Dia beranggapan jika mereka terlalu berlebihan. Para pendekar dari Padepokan Api Suci memang sudah mengetahui hembusan kabar yang menyebut jika Suhita adalah Tabib Dewa yang banyak dibicarakan orang. Saat pertama mereka berjumpa dulu, memang Suhita dan dua pengasuhnya sedang berhadapan dengan para penjahat yang memburu Tabib Dewa.


"Raka, apa kau yakin? Bagaimana jika aku tidak seperti yang kalian bayangkan?" tanya Suhita ketika bangunan yang mereka tuju telah terlihat.


"Hita, kau tidak perlu khawatir. Kami dari Padepokan Api Suci sepakat untuk tidak membuka siapa dirimu. Meskipun kami yakin, jika kau benar Tabib Dewa seperti kabar yang tersiar. Biar saja, orang-orang yang akan melihat sendiri."


Suhita manggut-manggut. Memang tidak salah, pendekar aliran putih memang harusnya demikian. Saling melindungi dan mengayomi, bahu membahu dalam kebajikan. Tolong menolong adalah dasar utama adanya persatuan dan kesatuan. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.


Meskipun masih banyak orang yang mengaku sebagai pendekar aliran putih, tapi tingkat polah kelakuannya tidak ubahnya tokoh aliran sesat. Biasanya mereka yang merasa paling benar sendiri, ingin menang sendiri, dan mau makan sendiri, adalah termasuk ke dalam golongan orang yang tamak dan rakus. Menolong dengan pamrih, membantu dengan harapan. Kalimat ikhlas hanya sebatas ucapan, bukan dari hati yang dalam.

__ADS_1


Disetiap doa, Suhita selalu memohon untuk dijauhkan dari sifat yang demikian. Dia tidak ingin, kelebihan yang dimiliki dalam menolong orang lain akan menjadikan dirinya sebagai seorang dengan mulut terbuka. Haus pujian, haus kekayaan juga haus penghormatan. Karena sesungguhnya, sifat seperti itu hanya dimiliki oleh iblis dan setan.


__ADS_2