Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Bukan Lawan Yang Sepadan


__ADS_3

"Apa kau telah mengetahui sesuatu?!" tanya Bulan Jingga.


Suhita menghela napas panjang, percuma juga dia banyak bicara kalau Bulan Jingga telah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada yang bisa disembunyikan dari gadis tersebut.


"Nona, biarkan saya pergi. Saya yakin, suatu saat nanti kau dan bahkan seluruh kelompokmu akan membutuhkan bantuan saya," ucap Suhita.


Bulan Jingga tertawa lebar, dia bangkit dan mendekat pada Suhita yang berdiri terpaku. "Kau pikir, apa aku tidak tahu mengenai hal itu? Lalu menurutmu mengapa aku harus repot-repot menjemput hingga ke kota Giling Wesi, apa itu adalah perjalanan menyenangkan? Haha ... aku pertaruhkan keselamatan untuk itu."


Tidak ada harapan lagi, Suhita bisa menyimpulkan jika Bulan Jingga tidak akan pernah mau melepaskan dirinya. Lalu apa yang harus Suhita lakukan sekarang?!


"Kau tidak perlu melakukan apa pun, ikutlah denganku. Maka aku jamin kau tidak akan tersakiti," ucap Bulan Jingga dengan tangannya menyentuh dagu Suhita.


"Aku tidak bisa seperti ini. Aku harus bisa terlepas dari tekanan wanita ini," Suhita menguatkan hatinya, dia akan menggunakan pukulan Tapak Naga untuk bisa melarikan diri.


Diam-diam Suhita mengumpulkan tenaga dalam pada telapak tangannya, saat Bulan Jingga berbalik badan dan menjadi sedikit lengah, Suhita langsung melepaskan pukulan tenaga dalamnya.


Bulan Jingga tersenyum sinis, bukannya dia tanpa persiapan. Bulan Jingga tahu jika Suhita akan membokong dari belakang. Menggunakan pukulan tenaga dalam untuk bisa melarikan diri. Bahkan yang dia lakukan semuanya merupakan rencana Bulan Jingga itu sendiri. Dia ingin lihat, sebatas mana kemampuan ilmu bela diri yang dimiliki oleh Tabib Titisan Dewa.


Bulan Jingga secepatnya menghindar ketika tangan Suhita hampir menyentuh punggungnya. Gadis itu menggunakan kemampuan tenaga dalamnya untuk menepis penumbra aliran energi milik Suhita yang menyebar.

__ADS_1


Suhita tidak terkejut. Dia sudah menduga sebelumnya, meskipun diserang secara mendadak dari belakang Bulan Jingga akan tetap bisa menghindar. Maka dari itu, sudah kepalang basah maka sekalian turun mandi. Suhita tidak menyurutkan serangannya, dia kembali membuka serangan yang diarahkan pada Bulan Jingga. Meskipun harus kalah, tidak lagi ada penyesalan bila nanti harus menjadi tawanan.


"Wow, luar biasa. Anak ini miliki kemampuan yang cukup tinggi," Bulan Jingga memuji kemampuan yang dimiliki Suhita.


Bulan Jingga harus mengerahkan kemampuan yang cukup besar guna mengimbangi permainan Suhita. Yang membuat dia lebih terpukau ialah kemampuan tenaga dalam yang Suhita miliki. Ya, pukulan Tapak Naga ialah satu kemampuan yang tidak bisa dia kalahkan, tapi jika orang yang menggunakannya ialah Elang Putih. Sejak pertama kali bertemu, Bulan Jingga merasa jika kemampuan yang dia punya dianggap seperti mainan saja oleh Elang Putih. Bahkan, boneka beruang kesayangannya pun sempat menjadi tahanan di tangan Elang Putih.


Dan sekarang ... sangat menarik sekali jika Bulan Jingga bisa bermain-main dengan kemampuan yang sama tapi berada pada tingkat yang berbeda. Bulan Jingga bisa tahu, bagaimana cara kerja ilmu tak tertandingi itu jika berada di tingkat yang lemah.


"Cukup menarik, kau mungkin bisa memberiku pengalaman baru. Tabib Dewa, kau tahu jika kita ditakdirkan berjodoh bukan?" Bulan Jingga tertawa kecil sebelum kemudian membalas serangan. Kali ini dia terlihat tidak main-main, jurus yang digunakannya pun merupakan jurus yang sangat berbahaya. Jurus andalan yang biasa Bulan Jingga gunakan dalam hadapi para pendekar di dunia persilatan.


Sontak saja, mendapatkan serangan menggebu dari seorang pendekar pilih tanding, membuat Suhita jadi kelabakan. Bocah yang tidak begitu tertarik belajar bela diri itu menjadi begitu panik. Dia kehabisan cara untuk bisa mengantisipasi serangan demi serangan yang Bulan Jingga lancarkan.


WUUUSSS !!!


Suhita melemparkan serbuk berwarna kuning melingkar untuk melindungi dirinya. Dengan begitu, akan ada jarak antara dirinya dan Bulan Jingga. Gadis itu tidak mungkin mau menerobos lingkaran serbuk racun yang Hita taburkan.


"Ah, rasanya cara ini tidak begitu efektif," gumam Suhita.


"Tentu saja, kau seperti mengajarkan seekor angsa untuk berenang di sungai. Harusnya kau lihat dulu dengan teliti, siapa orang yang sedang kau hadapi." Bulan Jingga terkekeh, dia telah mendapatkan tubuh Tabib Dewa sepenuhnya.

__ADS_1


Suhita tersentak luar biasa, kiranya Bulan Jingga datang dari tempat di mana Hita menyisakan ruang untuk datangnya udara dirinya bernapas. Pimpinan Aliansi Utara Selatan itu benar-benar telah menyadap seluruh strategi yang Suhita susun.


Sekarang apa?! Suhita kehabisan akal. Percuma juga dia merancang serangan dengan matang, pada akhirnya seluruhnya bisa dibaca oleh Bulan Jingga tanpa terkecuali. Cara terakhir dan satu-satunya yang bisa Suhita lakukan ialah mengandalkan kemampuan kekuatan tenaga dalamnya. Dia akan mencari waktu untuk bisa melakukan adu pukulan dengan Bulan Jingga. Meskipun Hita sadar jika kekuatannya jauh dari kata memadai, tapi hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.


Dan saat yang dinantikan itu tiba juga. Nampaknya Bulan Jingga pun sama, dia begitu ingin tahu akan batas kekuatan Tapak Naga yang Suhita kuasai. Keduanya bersiap dengan pukulan mereka masing-masing. Baik Suhita maupun Bulan Jingga sama-sama mengalirkan segenap kemampuan mereka pada kedua telapak tangan. Di awali dengan teriakan keras, keduanya melompat ke udara.


Tangan mereka saling beradu di udara, menciptakan ledakan yang sangat keras. Membangunkan mayapada yang sedang terlelap.


DAAARRR !!! DAAARRR !!!


Ledakan itu sekaligus mengakhiri pertarungan sengit keduanya. Bulan Jingga terjajar jauh ke belakang. Rasa nyeri terasa hinggap di dadanya. Luar biasa, tidak dinyana kemampuan yang Suhita miliki berada di atas prakiraan sebelumnya. Bocah itu telah menguasai hampir separuh teknik ilmu Tapak Naga, hanya saja Bulan Jingga masih diuntungkan karena tenaga dalam Hita belum mengimbangi semuanya. Jika tidak, mungkin hal berbeda yang akan terjadi. Bulan Jingga bersyukur bisa dipertemukan sekarang dengan Tabib kecil itu, jika saja mereka bertemu lima atau sepuluh tahun lagi, rasanya Bulan Jingga tidak akan menemukan saat-saat dirinya mengalahkan Jurus Tapak Naga, jurus yang melegenda sepanjang masa tersebut.


"Pimpinan ... kau baik-baik saja?!" tiga orang berlompatan dari balik semak belukar.


"Hanya semut kecil, mana mungkin mampu buat tubuhku terluka. Cepat kalian urus bocah kecil itu, aku yakin dia hanya pingsan," perintah Bulan Jingga.


Tiga orang anggota Aliansi lekas melakukan perintah, mereka membawa tubuh Suhita yang tidak sadarkan diri pergi dari tempat itu.


"Huuuhhh ... akhirnya aku bisa mendapatkan dirimu," senyum kemenangan tersungging di bibir Bulan Jingga.

__ADS_1


__ADS_2