Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Sumber Racun


__ADS_3

Tanpa menunggu lagi, Suhita segera bangkit dan menarik paksa Danur Cakra menuju suatu tempat. Mereka mendatangi sebuah gua yang tersembunyi di balik batang pohon. Di sana Suhita menunjukkan sesuatu.


"Apa ini?" Danur Cakra memperhatikan isi di dalam botol kecil tersebut. Terlihat sangat kotor dan menjijikkan, meskipun dalam hati Danur Cakra menduga jikalau cairan itu adalah obat untuk dirinya. Ah, yang benar saja.


"Menurut Kakak memangnya apa? Tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu? Tunggu apa lagi," Suhita mengangkat kedua alisnya.


"Kau sengaja ya? Dasar sialan! Apa tidak bisa berikan yang lebih enak sedikit?!" Danur Cakra menggerutu.


Suhita tidak menjawab. Lagi pula semua percuma. Tidak ada hasilnya beradu argumentasi dengan sang kakak. Didiamkan saja, masalah akan beres sendiri.


Danur Cakra menyimpan botol kecil pemberian Suhita. Dengan ramuan dewa tersebut, maka Danur Cakra akan sembuh dari luka dalam yang dia derita. Sangat bersyukur Danur Cakra punya saudara yang sangat hebat di bidang pengobatan. Harusnya dia bangga dan lebih memperhatikan adiknya, bukan malah terus menerus memancing keributan seperti anak kecil. Sebentar-sebentar ribut, lalu beberapa saat kemudian kembali damai.


"Ehemm ... eheemm ..." Suhita batuk dibuat-buat, menyadarkan Danur Cakra dari alam khayal.


Danur Cakra mengangkat tangannya, memberi tanda untuk Suhita lebih waspada. Ada yang datang, tapi bukan manusia. Danur Cakra mendeteksi jika sosok tersebut bukanlah salah satu anak buahnya.


Suhita mengitarkan pandangannya ke seluruh penjuru gua. Meskipun bukan seorang pendekar dan profesinya sekarang hanya seorang tabib, tidak kalah dari sang kakak Suhita pun telah menguasai kemampuan Sepuluh Tapak Penakluk Naga pada tahap yang sempurna. Paling tidak, Suhita tidak akan bisa dilukai begitu saja oleh serangan mendadak lawan.


"Apa ini Siluman Lipan itu? Aura yang terpancar sangatlah kuat. Hita, berhati-hatilah. Kali ini lawan kita bukanlah manusia biasa," Danur Cakra menarik Suhita untuk berlindung di belakangnya. 


Meskipun Danur Cakra tahu, untuk saat ini kemampuan tenaga dalamnya belum kembali sepenuhnya. Sebagai seorang kakak, naluri hatinya mengatakan jika dia berkewajiban untuk melindungi adik perempuan bagaimana pun caranya, apa pun resikonya.


Suhita tersenyum bahagia, ada rasa yang tidak bisa digambarkan. Bagaimanapun menyebalkannya Danur Cakra, sejak dulu hingga sekarang dia merupakan sosok kakak yang penuh tanggung jawab. Kasih sayang, merupakan satu hal besar yang tiada tandingnya.


"Kak, jangan gegabah. Ingat kondisimu, hindari untuk menggunakan tenaga dalam yang berlebihan. Hita bisa, kok. Jaga diri Hita," dengan nada bicara yang lembut Suhita mengingatkan.


WUUUSSSS ... Desau angin berhembus kencang melewati pintu gua yang dipenuhi akar dan pepohonan merambat.


Danur Cakra memicingkan matanya, menunggu hingga makhluk tersebut masuk gua. Sosoknya? Itulah yang membuat Danur Cakra sangat penasaran.


"Kak, tidak ada tanda-tanda apa pun. Apa mungkin mahluk itu sudah pergi?" bisik Suhita.


"Tidak. Aku merasakan jika mahluk itu hanya menunggu kita lengah," Danur Cakra mengangkat tangannya, meminta agar Suhita tidak bergerak dari tempatnya berdiri.


Beberapa waktu berlalu, suasana menjadi begitu tenang tanpa gerakan yang mencurigakan. Gua di balik akar kayu besar tempat Suhita dan Danur Cakra berada semakin terasing dari pandangan mata.


"Keluarlah! Aku tahu kau bersembunyi di sana!" ucap Danur Cakra dengan suara tinggi. Iringan tenaga dalam yang ia lepaskan membuat dinding gua bergetar.


"HA! HA! HA! HA!!!!" tawa menggelegar memenuhi seisi ruangan gua.


Baik Suhita maupun Danur Cakra dipaksa untuk menggunakan kekuatan tenaga dalam agar bisa meredam bisingnya suara, supaya gendang telinga mereka tidak berdenging.


Nampak asap berwarna hitam mengepul di salah satu sudut gua. Bersamaan dengan lenyapnya asap tersapu angin, muncul sosok lelaki berjubah hitam. Sinar matanya begitu tajam, menatap Suhita seolah hendak menelan bulat-bulat.

__ADS_1


"Ketika aku memandang pakaian, saat itu aku bahkan tidak tahu apa yang ada di baliknya. Hahaha! Aku rasa aku tidak keliru, bertemu manusia dengan topeng sangat tebal," seraya melangkah mendekat lelaki berjubah itu bicara, jelas yang dia maksud adalah Danur Cakra.


"Muncul secara tiba-tiba, bicara tanpa dipikir lebih dulu. Harusnya kau tahu betapa mudahnya untuk dapatkan seorang musuh. Terus terang saja, apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanya Danur Cakra.


Sebagai pendekar yang memiliki kemampuan terlarang, sudah barang pasti jika Danur Cakra tergolong ke dalam pendekar sesat. Atau paling tidak, para siluman bahkan alam dewa akan menyebut demikian.


"Aku datang untuk tawarkan kerjasama!" tanpa basa-basi lagi, lelaki berjubah itu menjawab.


"Aku tahu apa yang membayangi pikiran teman wanitamu itu. Hahaha! Terkadang aneh memang. Ketika air di dalam panci panas, lama-kelamaan air tersebut malah mengering karena api tak kunjung padam. Tapi pertanyaannya, akankah air dan api yang menjadi pokok masalahnya?!"


"Aku akui, kau punya nyali yang sangat besar," Danur Cakra tepuk tangan.


"Malaikat Perang bahkan gentar berhadapan denganmu, tak ubahnya pula diriku. Tapi kau perlu menggaris bawahi jika pasukanmu bahkan tidak bisa diandalkan setelah dua hari berlalu. Sekarang aku datang, mengapa kau bahkan tidak melonggarkan napas?!"


"Antara langit dan bumi ada celah ruang yang amat luas, di sana mata akan bisa memandang tanpa terhalang keraguan. Dengan menengadah dagu, bicaramu terdengar begitu tegas dan memancing rasa percaya. Tapi kau tahu, rasanya aku tidak termasuk di dalamnya," Danur Cakra terus menekan sosok yang baru datang. Percaya, rasanya hal itulah yang hampir tidak dia miliki.


Sosok lelaki berjubah hitam hanya tertawa kecil, meskipun Danur Cakra punya kemampuan yang besar untuk mencelakai dirinya, akan tetapi dia yakin akan sulit untuk menolak kerjasama yang diajukannya.


"Maaf, Tuan. Bisa kau perjelas maksud dari ucapanmu?" tanya Suhita memotong pembicaraan.


Sejak tadi Suhita coba menebak apa yang sedang dibicarakan, akan tetapi yang dia dapatkan justru aroma perseteruan yang jelas hanya memancing pertikaian.


"Kau jauh lebih cerdas, Nona cantik. Aku sangat senang bisa bertemu dengan Anda. Terus terang, aku bisa membantu Anda. Namun perlu aku tegaskan, bila aku ingin timbal jasa yang sepadan," binar kebahagiaan terbersit dalam raut wajah lelaki berjubah. Sedikitnya, nyawa yang dia pertaruhkan berkemungkinan mengantar dirinya pada puncak tujuan. Alasan pula keberaniannya adalah kelembutan hati Tabib Dewa.


Danur Cakra mengangguk setuju, dia melihat kalau Suhita telah membentengi diri dengan kemampuan tenaga dalam Tapak Penakluk Naga, tidak lagi ada yang perlu dikhawatirkan. Barangkali siluman ular jelek itu ada gunanya juga, bagus kalau dia bisa membantu.


"Namaku Welang Telu, salah satu punggawa Siluman Ular Hitam. Tabib Dewa, kali ini aku ingin mengajukan kerja sama bersyarat denganmu. Jika kau sudi berikan aku ramuan sari bunga khayangan, maka aku pastikan untuk bisa menunjukkan di mana keberadaan Siluman Lipan yang menculik anak-anak di Kota Binar Embun ini. Aku bersumpah!"


"Kepa*rat! Nampaknya kau belum pernah tahu bagaimana rasanya jika rahang bawah dan rahang atasmu sampai terpisah!" bentak Danur Cakra.


"Kakak, tunggu dulu," Suhita menahan Danur Cakra yang mulai naik pitam.


Sari Bunga Khayangan, ramuan langka yang dimaksud oleh Welang Telu memang ada pada Suhita dan bukan tidak mungkin Suhita bersedia untuk menukar ramuan tersebut demi menemukan keberadaan Siluman Lipan. Ada sepuluh nyawa anak-anak yang tidak berdosa yang disandera oleh Siluman Lipan. Dalam kurun waktu dua hari, mungkin hanya satu atau dua anak saja yang telah dijadikan sup hangat, delapan lainnya akan bisa dipertemukan dengan keluarganya. Dan yang terpenting ialah menghentikan kekejaman yang Siluman Lipan perbuat.


"Baik, aku terima tawaranmu. Namun aku pun punya satu syarat," tanpa diduga Suhita langsung sepakat.


Bukan Danur Cakra saja, bahkan Welang Telu pun terbelalak tidak percaya. Begitu mudahnya Suhita meng-iyakan, akankah Sari Bunga Khayangan sepadan dengan semua itu?


"Nahhh ... ini sangat menarik, aku suka! Katakan Tabib Dewa, apa yang kau inginkan?"


"Aku akan hadiahkan ramuan sari bunga khayangan padamu, jika kau bisa bantu aku untuk bebaskan anak-anak tidak berdosa yang disandera oleh Siluman Lipan."


Welang Telu berani bicara karena dia telah memastikan keberadaan Siluman Lipan yang baru saja pindah tempat persembunyian. Ditambah dengan hasil tangkapan mereka yang banyak, pastinya akan menyulitkan untuk buru-buru.

__ADS_1


Ramuan Sari Bunga Khayangan yang Welang Telu inginkan tergolong ke dalam jenis ramuan dewa, hingga ramuan tersebut jumlahnya sangat langka, hanya segelintir orang menyimpannya. Dengan memiliki Sari Bunga Khayangan, Welang Telu tidak takut untuk di celakai lawan. Andaipun dirinya atau kaumnya ada yang sekarat, dengan Sari Bunga Khayangan Welang Telu bisa mengembalikan fisik mereka seperti semula. Memang Sari Bunga Khayangan tidak bisa menyelamatkan dari maut, akan tetapi jika ada siluman ular yang patah atau remuk tulang punggung maka dengan ramuan tersebut akan bisa kembali pulih. Jika dipikir Welang Telu tidak menginginkan ramuan hanya untuk kepentingan pribadinya saja, melainkan pula untuk kemaslahatan bangsa ular di masa mendatang. Dengan pertimbangan itu pula Suhita menyanggupi tawaran Welang Telu.


°°°


Tempat persembunyian Siluman Lipan sudah diketahui, puluhan pendekar telah mengepung tempat tersebut. Tidak ketinggalan Tumenggung Sukamulya dan pasukan khusus dari kerajaan. Kesemuanya sudah siap menunggu aba-aba.


Mulanya Suhita tidak bermaksud memberi tahu pendekar sebanyak itu. Cukup pasukan kerajaan dan pemangku tugas di Kota Binar Embun. Akan tetapi para pendekarlah yang berlomba menawarkan diri. Terlebih diantara mereka merupakan pendekar sewaan yang dibayar oleh orang tua yang kehilangan anak.


Suhita dan tiga pelayannya bahkan tidak datang ke tempat itu. Tangan dingin Tabib Dewa lebih dibutuhkan untuk mengobati orang yang keracunan. Masalah Siluman Lipan, sudah diambil alih. Tidak masalah, karena yang terpenting ialah keselamatan anak-anak yang tidak berdosa.


Pernah melihat indahnya pementasan seni? Terkadang orang-orang hanya terpesona pada tokoh pemeran yang dimainkan dan melupakan tangan yang aktif menciptakan karya untuk dipentaskan. Dengan teratasinya Siluman Lipan yang meresahkan, tidak akan ada yang menyebut nama Tabib Dewa sebagai tokoh utama. Yang ada, para pendekar kesiangan itu yang berlomba cari nama.


"Seindah apa pun bungkus, pada akhirnya akan dibuang. Yang terpenting hanyalah isi. Melihat anak-anak tidak berdosa itu bisa diselamatkan, merupakan kebahagiaan besar bagiku. Lagipula ... apa yang disesalkan?"


Danur Cakra cuma bisa menghela napas, dia segera duduk di hadapan Suhita yang sedang membersihkan ramuan obat. Memandangi wajah adiknya dengan dalam.


"Ada apa?!" Suhita mengangkat wajahnya, sedikit kaget mendapati Danur Cakra tiba-tiba diam seribu bahasa.


"Mau sampai kapan begini, apa kau tidak merasa lelah atau bosan?" tanya Danur Cakra.


Suhita tertawa kecil, tidak menjawab. Melanjutkan pekerjaannya membersihkan ramuan obat. Pertanyaan kakaknya dirasa terlalu konyol. Lalu bagaimana dengan para pendekar yang setiap hari berlatih kemampuan olah kanuragan? Apa hasilnya? Bahkan seorang tabib jauh lebih berguna dari apa pun. Menolong orang yang tidak punya biaya untuk berobat, menyelamatkan nyawa penduduk miskin, rasanya jauh lebih baik dari sekadar mengoleksi medali yang ujung-ujungnya hanya menjadi pajangan dalam lemari.


"Apa kau sudah makan? Belum 'kan?! Sebagai seorang juru sembuh, jangan bisanya cuma menasehati orang untuk menjaga kesehatan sementara kau sendiri tidak memberi contoh yang baik. Lakukan kebiasaan baik, tanpa perlu banyak bicara maka orang-orang akan meniru," Danur Cakra bangkit dari duduk. Tanpa menoleh lagi, dia melangkah pergi untuk mencari makanan.


Setelah Danur Cakra jauh, Suhita masih berdiri terpana. Matanya hampir tidak berkedip menatap punggung kakaknya. Sekeras apa pun, secuek apa pun, rasa sayang seorang kakak kepada adik, jauh lebih besar dari yang dibayangkan. Meskipun kadang terasa aneh dan menyebalkan, tapi seorang Kakak akan berusaha menjaga adiknya dengan caranya sendiri. Celakanya malah si adik yang salah menanggapi, dan itu kerap terjadi.


"Kakak, semoga Tuhan selalu menjaga di setiap langkah kakimu. Terima kasih telah bersabar hadapi aku ..." Suhita tersenyum haru, betapa dia pun sangat menyayangi Danur Cakra meskipun tanpa terucap kata.


Danur Cakra keluar dari balai pengobatan dan berjalan cepat menuju kedai. Niatnya tidak lain membelikan sarapan untuk Suhita. Matahari sudah sepenggalah tingginya, jika tidak dipaksa mungkin hingga habis tengah hari nanti tidak akan sesuap nasi pun yang mengisi perut Suhita. Dia terlalu bersemangat untuk mengobati orang, tanpa perduli pada diri sendiri. Terus terang, satu hal ini merupakan kelakuan Suhita yang paling tidak Danur Cakra sukai.


"Pendekar muda, mau ke mana? Jangan singgah ke kedai itu, semua makanannya beracun," seorang pria menghentikan langkah Danur Cakra.


Pria itu kemudian menceritakan kejadian aneh pada kedai yang berada di seberang mereka. Sejak pagi, terhitung sudah lebih dari sepuluh orang yang keracunan setelah makan di kedai itu. Termasuk seorang koki yang juga ikut sarapan di sana.


"Terima kasih, pak. Saya cuma mau memastikan saja," jawab Danur Cakra. 


Tanpa ragu Danur Cakra melangkah menuju kedai yang dimaksud. Mulanya dia tidak teliti jika ada satu kedai yang sepi tanpa pembeli, beruntung ada orang yang memberi tahu hingga Danur Cakra bisa datang untuk menyelidiki.


"Air! Ya, air! Aku yakin racun yang menyebar ini diakibatkan adanya sumber mata air yang sengaja diracuni," Danur Cakra menghela napas panjang. Matanya berbinar, mendapati adanya secercah cahaya lilin di tengah hamparan gulita.


Danur Cakra mengamati dasar sumur yang merupakan sumber air di kedai itu. Dia masih menunggu kedatangan Suhita, sudah sejak tadi mengirim utusan tapi Suhita tak kunjung datang.


Di dasar sumur itu, pasti ada semua jawaban.

__ADS_1


__ADS_2