
Selama Suhita pergi, tidak sampai setengah hari, bangunan pondok yang Suhita inginkan sudah hampir rampung. Tidak disangka, warga desa begitu antusias membantunya. Ya, memang Suhita memberikan imbalan yang pantas, akan tetapi tetap saja kekompakan dan kerjasama yang terlihat membuat Suhita berdecak kagum.
Ataukah mungkin upah minimum para buruh dan pekerja harian di desa itu amat rendah? Hingga saat Suhita membayar dengan standar kota Soka Jajar, membuat nominal tersebut terasa amat tinggi hingga berkali lipat upah di desa miskin tersebut. Membangkitkan semangat menggebu para pekerja.
Remaja putri dan juga beberapa pemuda dengan usia setara Suhita (di bawah dua puluh tahun) pula ikut bekerja. Membuat Suhita menghela napas, miris. Meskipun ada pula rasa bangga, karena mereka tidak termakan gengsi. Mau bekerja serabutan dan membanting tulang karena sadar kehidupan keluarga mereka serba kekurangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Aku beruntung, ibuku menyimpan begitu banyak harta yang tidak akan habis untuk aku makan sendiri. Hingga aku tidak perlu bekerja seperti mereka. Bayangkan, mereka mengorbankan masa remaja untuk bekerja demi menyambung hidup. Di usia empat belas tahun, bahu mereka menanggung beban layaknya usia tiga puluh tahunan," ucap Suhita.
Kencana Sari hanya menundukkan wajah, dia juga sangat beruntung karena sejak kecil jauh dari kata kekurangan, meskipun dia tidak tahu siapa kedua orang tua yang membuat dirinya terlahir ke dunia, tapi secara keseluruhan hidup Sari lebih baik dari mereka. Kencana Sari hidup di panti asuhan, kemudian belajar bela diri pada sebuah padepokan yang juga amat baik padanya. Saat usia tiga belas tahun, Kencana Sari bertemu Suhita dan menjadi pelayan hingga saat sekarang. Ya, dia mendapatkan begitu banyak nikmat, daripada harus mengeluh dan menyalahkan kedua orang tuanya.
"Tabib, berapa lama kita akan tinggal di sini? Kau bilang akan mengajari mereka teknik pengobatan, apa tidak berlebihan?" tanya Kencana Sari.
Sejujurnya selain itu, ketakutan Kencana Sari ialah kalau-kalau Suhita justru menempatkan dia di desa itu. Sementara Hita kembali ke Soka Jajar lalu Kencana Sari ditinggal untuk mengajari para pemuda-pemudi meracik obat. Memang Kencana Sari tidak bisa menolak, akan tetapi terus terang dia tidak begitu setuju. Habislah dia, terbuang di desa terpencil yang pula miskin.
Suhita tertawa kecil, dia bisa membaca isi pikiran Kencana Sari. Dan pula mana mungkin Suhita meninggalkan Kencana Sari di desa batu. Selain seorang pelayan, Kencana Sari merupakan sahabat terdekat Suhita. Meskipun sejauh ini Sari belum mengetahui latar belakang siapa sebenarnya Suhita.
"Apa kau keberatan untuk mengajari mereka? Bukannya ilmu itu harus dibagi-bagi? Setelah selesai, tentunya kau juga belum lupa jalan untuk kembali ke Soka Jajar 'kan?!" Suhita menggoda Kencana Sari.
Kencana Sari hampir mati tersedak air liurnya sendiri. Apa yang dia takutkan kiranya dikatakan oleh Suhita. Sial, mengapa harus dia yang menjadi tumbal?! Namun demikian, Kencana Sari menutupi rasa keterkejutannya dengan coba menyunggingkan senyum di bibir, meskipun senyum yang teramat masam dan getir.
"Ya ... tentu saja aku tidak bisa keberatan. Bukankah demi kebaikan?" jawab Kencana Sari berseberangan dengan suara hatinya.
"Hahah! Sudahlah, jangan terlalu risau, aku hanya bercanda. Sekarang ayo kita temui orang-orang desa itu," Suhita tertawa, senang melihat beban berat yang terlintas di wajah Kencana Sari.
°°°
Lurah Paku Gelung membuka matanya, dia senang karena masih berada di dalam dunia. Pandangannya dilepaskan berkeliling, melihat di mana dirinya saat ini. Pondok tua yang sudah usang.
"Tuan, senang Tuan sudah sadar. Silakan untuk meminum obatnya," seorang pria paruh baya menyambut Lurah Paku Gelung.
Lurah Paku Gelung berulang kali mengucapkan terima kasih, tapi pria itu menolaknya. Menurutnya dia hanyalah melakukan tugas, karena seseorang telah membayar atas jasanya merawat Lurah Paku Gelung. Karena awalnya si pria paruh baya ikut bekerja membangun pondok, tapi Suhita meminta agar dia merawat Lurah Paku Gelung tanpa mengurangi bayaran karena berhenti bekerja.
"Nona Surga?! Siapa namanya?!" tanya Lurah Paku Gelung heran.
Sangat tidak masuk akal, bagaimana bisa ada seseorang yang bahkan namanya tidak dikenal menghamburkan uang, memberi bayaran pada penduduk desa. Siapa dia, apa mungkin seorang saudagar kaya yang kebingungan untuk habiskan uang?!
"Ah, Tuan. Jangan tanyakan itu. Tidak seorang pun di desa ini yang tahu namanya, tapi dia seorang yang sangat dermawan. Kami menyebutnya Bidadari Surga. Dia diutus khayangan untuk membantu kami yang dalam kesusahan," jawab pria paruh baya semakin tidak masuk akal.
"Ya, ya, ya. Sudahlah, nanti bawa aku untuk menemuinya," ucap Lurah Paku Gelung. Dalam hati dia juga kesal karena si pria paruh baya sama sekali tidak mengenali dirinya. Seorang pendekar yang sekaligus sebagai pejabat negara, seorang lurah yang di tempatnya begitu dielu-elukan oleh rakyat.
Sebagai seorang pemimpin yang namanya dianggap besar, wajar saja jika Lurah Paku Gelung inginkan orang-orang menghormati dirinya. Bukannya dia gila hormat, tapi sebagai manusia biasa tentu saja sifat tinggi hati menghiasi dirinya.
__ADS_1
Meskipun baru sadar, Lurah Paku Gelung memaksakan diri untuk berjalan keluar pondok. Hatinya begitu terdorong rasa penasaran untuk melihat bagaimana wajah wanita yang dipanggil 'Nona' yang katanya utusan khayangan itu. Paling tidak, Lurah Paku Gelung ingin tahu bagaimana tingkat kemampuan yang dimiliki oleh Nona Surga tersebut. Lurah Paku Gelung curiga jika kedatangan utusan khayangan itu erat kaitannya dengan perburuan sumberdaya di bukit berbatu. Dia sangat yakin akan hal itu. Dan sudah menjadi kebiasaan yang lumrah.
"Tuan, jangan gegabah. Nanti saya yang dimarahi Nona Surga," pria paruh itu terlihat ketakutan.
"Jangan berisik! Kau tidak tahu siapa aku? Dengar namaku Lurah Paku Gelung," dengan menekankan suaranya, Lurah Paku Gelung menyingkirkan pria paruh baya itu.
Dengan memaksakan diri menyeret langkahnya, Lurah Paku Gelung akhirnya tiba di pondok yang sedang dibangun. Kebetulan, para penduduk sedang beristirahat. Ibu-ibu bertugas memasak dan menghidangkan makanan, sudah seperti hajatan besar saja. Canda tawa menghiasi kebersamaan mereka, Suhita pun berbaur di dalamnya. Membuat rakyat kecil semakin sungkan akan sikap perbuatan yang Suhita tunjukkan.
"Nona Surga! Di mana Nona Surga?! Aku ingin bertemu!" Lurah Paku Gelung berteriak kencang.
Suasana berubah jadi sunyi senyap. Seluruh mata mengalihkan perhatian pada sosok Lurah Paku Gelung yang baru datang. Terlihat tatapan kurang senang dari sebagian mata yang memandang. Ya, mereka merasakan kehadiran Lurah Paku Gelung hanya mengacaukan suasana.
Suhita sedikit kaget. Tidak ada orang baru selain dirinya. Hita hanya tidak menyangka jika warga desa menyebut dirinya dengan sebutan Nona Surga. Yang benar saja, nama itu amat menggelikan. Memang salah Suhita, karena dia tidak menyebutkan nama kala tiba di desa tersebut.
Pria paruh baya yang bertugas merawat Lurah Paku Gelung segera melapor atas hal yang terjadi, membuat Lurah Paku Gelung langsung mengetahui sosok yang disebut dengan panggilan Nona Surga.
Suhita hanya tersenyum, dia tahu jika Lurah Paku Gelung sedang mengukur kemampuan tenaga dalamnya. Namun demikian, kerendahan hati Suhita tidak membuat dia pula gunakan kemampuan tenaga dalam untuk coba intimidasi lawan. Padahal, Suhita mampu untuk melakukan itu.
Suhita bicara secara baik-baik, tanpa coba untuk mengimbangi tingginya perkataan Lurah Paku Gelung. Air yang tidak penuh, akan berguncang di dalam botol. Seperti tong kosong yang berbunyi nyaring karena tiada isi.
°°°
Danur Cakra sudah tiba di tepi desa batu, dia sedikit kaget karena tidak menduga jika desa yang dikatakan oleh para perampok ternyata sebuah desa yang miskin. Andaipun dia ditipu, tentunya Cakra tidak bisa menuntut karena seluruh pendekar yang memberi informasi sudah dia celakai. Anggap saja semuanya impas.
"Cakra, tanah di sini sangatlah tandus. Mana mungkin Tabib Dewa ada di sini. Apa yang dia cari?" ucap Kemuning.
"Entahlah, tapi paling tidak kita lihat saja dulu. Ada atau tidaknya, nanti sama-sama kita ketahui," jawab Danur Cakra.
Kemuning menghembuskan napas berat. Dia melihat semangat yang menggebu-gebu pada diri Danur Cakra. Terus terang hal itu membuat hatinya terbakar cemburu. Mengapa setiap hendak bertemu Tabib Dewa, seolah Cakra mengesampingkan dirinya. Menyebalkan! Akan tetapi, tidak ada hal lain yang bisa Kemuning lakukan selain menurut. Entah harus sampai kapan Kemuning menderita seperti ini. Sial sekali.
"Hei, siapa itu?!"
Danur Cakra menghentikan langkah. Kebetulan sekali, itu artinya akan ada orang yang mengantarkannya pada Suhita. Danur Cakra menunggu hingga penduduk yang memanggil datang mendekat. Tidak perlu banyak basa-basi, hanya dengan satu kepeng perunggu saja, lidah orang itu langsung lancar mengatakan jika memang ada wanita dengan ciri-ciri yang Danur Cakra sebutkan. Dia tidak memikirkan andaikan penjelasannya justru membahayakan keselamatan Suhita, orang yang begitu baik kepada warga desa batu.
"Bawa kami bertemu dengannya," ucap Danur Cakra.
Dengan wajah berbinar senang, pria tersebut langsung saja membawa Danur Cakra menuju pondok yang baru di bangun. Pasti Suhita akan bermalam di sana.
"Pak Murdoko !!! Apa kau melihat Nona Surga?" pria yang membawa Danur Cakra segera menemui Murdoko.
"Siapa mereka?! Kau jangan sembarangan bawa orang. Bagaimana kalau dia berniat jahat? Apa kau tidak melihat, tatapan mata pria itu sangatlah mengerikan. Kau harus pikirkan keselamatan kita semua," bisik Murdoko.
__ADS_1
Barulah pria itu sadar atas apa yang telah dia lakukan. Dia telah melakukan kesalahan besar, "lantas apa yang harus kita lakukan?"
"Mau tidak mau, kita harus berbohong. Katakan saja kalau Nona sudah pergi. Biar aku yang bicara," ucap Murdoko.
Danur Cakra tersenyum masam, tentu saja dengan kemampuan yang dia miliki bisa mendengar semua percakapan Murdoko. Dari pembicaraan mereka, bisa ditarik kesimpulan jika Suhita masih berada di desa batu. Namun sedang di mana dia sekarang, itu yang tidak diketahui. Mungkin Suhita sedang pergi bersama gadis-gadis desa untuk satu kepentingan.
Baru saja Murdoko memutar badan hendak menemui Danur Cakra, namun entah sejak kapan tiba-tiba Danur Cakra telah berada di dekat mereka. Dengan satu senyuman penuh misteri, Cakra mengangkat sebelah tangan.
"Aku sudah dengar seluruh percakapan kalian. Tidak perlu berpura-pura, karena aku lebih suka kejujuran. Di mana wanita muda itu?" Danur Cakra menatap Murdoko dengan tajam, matanya tajam menusuk membuat seluruh tubuh Murdoko gemetaran.
Layaknya bertemu raja hutan, seluruh tubuh Murdoko dan pria di sampingnya gemetaran sampai keluar keringat dingin. Tekanan aura yang Danur Cakra kerahkan bahkan mampu menyumbat mulut keduanya. Meskipun menganga, tapi tidak sedikit pun suara yang keluar. Dari seluruh cerita hantu yang mengerikan, rasanya tidak seujung kuku menakutkan dibandingkan harus berhadapan dengan Danur Cakra. Kekuatan tenaga dalam yang begitu menakutkan, seorang pembunuh yang begitu haus darah.
Pletaaakkk! Satu pukulan ranting kecil menghapus suasana yang mencekam. Murdoko kembali bisa menghela napas, setelah beberapa waktu lamanya dia kehilangan cara untuk menarik napas.
Danur Cakra meraba kepalanya, baru saja ada seseorang yang berani memukulnya menggunakan ranting. Dengan mengangkat satu tangan, Danur Cakra menciptakan bola energi yang siap untuk hancurkan siapa pun yang dia inginkan.
"Apa?! Kau mau menyerangku? Aku mau lihat, sejauh apa kau berani bertindak!" satu tantangan ditujukan pada Danur Cakra.
Pancaran sinar mata Danur Cakra perlahan mulai meredup. Bola energi di tangannya pun mengecil lalu kemudian lenyap. Dalam sekejap harimau buas itu menjadi seekor anak kucing. Naga hitam telah kembali menjadi ikan mas koki yang indah.
"Kenapa diam?"
"Kau mengunci energimu, sengaja untuk bermain-main. Kau kira aku begitu bodoh untuk dikelabui?"
"Lalu apa hubungannya dengan mereka, kau mengapa begitu arogan?! Sekarang ikut aku!" sebelum melangkah Suhita menoleh pada Kencana Sari, "Sari bawa Nona Kemuning. Kita bicara di dalam."
Tidak ada pelukan, jangankan itu, bahkan senyuman pun tidak terlihat. Suhita begitu kesal dengan cara yang Danur Cakra lakukan. Sesungguhnya bukan hanya karena itu, justru terasa sangat aneh mengingat perubahan aura kekuatan yang Danur Cakra punya. Suhita curiga jika Danur Cakra mempelajari kekuatan sesat lain, selain kitab terlarang langit dan bumi. Suhita tidak habis pikir, sebenarnya apa yang Danur Cakra cari? Sampai kapan pun Suhita tidak bakal bisa mengerti.
Seandainya saja Cakra bukan saudara kembarnya, mungkin Suhita sudah pikirkan cara untuk hilangkan benih sebelum tumbuh dan berkembang, menyebar menjadi pusat penyakit.
Danur Cakra tidak banyak bicara, dia justru berusaha untuk menekan segala kemampuan yang muncul di dalam tubuhnya. Takut kalau-kalau Suhita banyak tanya. Satu-satunya orang yang tidak bisa Danur Cakra berbuat kasar hanyalah Suhita seorang. Bagaimanapun kejamnya dia, tapi rasa sayangnya pada Suhita bahkan melebihi sayang pada nyawanya.
"Apakah Soka Jajar terlalu jauh hingga kalian tidak kunjung datang, ataukah sengaja tidak ingin menemuiku?" ucapan Suhita terasa begitu menusuk.
Tanpa menjawab pertanyaan Suhita, Danur Cakra mengeluarkan dua buah kotak kayu. Karena Suhita tidak bereaksi, Danur Cakra membuka kotak tersebut dan memperlihatkan isi di dalam kotak.
Suhita menatap sekilas pada beberapa kerat daging segar di dalam kotak tersebut. Meskipun kaget akan isi di dalamnya, tapi Suhita tidak terlihat antusias.
"Mengapa masih utuh? Itu artinya kau sudah gagal. Bagaimana jika aku berkeberatan menolong kali ini? Jangan berpikir jika aku tidak sama dengan manusia pada umumnya. Aku masih punya hati. Justru kaulah yang tidak!"
"Sial! Mengapa aku sulit mengendalikan diriku sekarang? Kekuatan ini ..." Danur Cakra merasakan jika efek dari membangkitkan roh naga dalam gerbang evolusi membuat dirinya hilang kendali.
__ADS_1