Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Boneka Sihir


__ADS_3

Suhita masih terbayang bagaimana seorang pria tua yang tidak berdaya menghembuskan napas terakhir tidak jauh di depannya. Sementara Suhita hanya diam dan tidak coba untuk melakukan tindakan apa pun. Semestinya, saat pria tersebut datang dan pendarahan di pundaknya lekas dihentikan, paling tidak dia akan bisa mengucapkan beberapa permintaan terakhir atau menyebutkan akar permasalahan yang sebenarnya. Tapi ... semua sudah terjadi.


Begitu banyak pengorbanan yang dilakukan. Semoga saja, semua rencana Tuhan memberikan hal yang indah pada waktunya. Jalan kehidupan memang tidak bisa ditebak, semua mengalir dengan sendirinya.


"Kau marah padaku?" tanya Danur Cakra.


Suhita menggelengkan kepalanya, lagi pula Cakra memang tidak bisa untuk disalahkan.


"Aku hanya sedang merenung ... tidak jelas untuk apa, tapi jujur kejadian tadi memang amat membekas di hatiku," Suhita menambahkan bagaimana rasanya berada di posisi sebagai Tabib. Saat hati terikat oleh janji pada diri sendiri, untuk sedia membantu setiap orang yang membutuhkan.


"Ya, kau benar. Tapi seperti yang kau juga tahu, saat ini kita sedang dipersulit oleh keadaan. Ketika semua kembali normal, maka saat itu kau bisa kembali jadi dirimu," Danur Cakra mengusap kepala Suhita.


Suhita tersenyum lebar, dipandangnya wajah sang kakak dengan dalam. Andai saja, setiap saat Danur Cakra bisa berpikir jernih layaknya sekarang. Tentu semua akan berjalan jauh lebih baik. Dengan lebih melibatkan pikiran daripada hawa nafsu.


"Kak ..." Suhita seolah hendak mengucapkan sesuatu. Namun suaranya terhenti. Hingga kemudian Suhita hanya menjatuhkan tubuhnya dalam dekapan erat sang kakak.


Beberapa saat mereka berpelukan, sampai kemudian telinga Danur Cakra mendengar suara halus dari ayunan langkah penuh selimut kemampuan ilmu meringankan tubuh. Seseorang datang mendekat, akan tetapi sengaja tidak menunjukkan diri, hanya memata-matai.


"Ada tamu tidak diundang. Sialan! Aku yakin dia sengaja mengikuti kita," ucap Danur Cakra lirih.


Danur Cakra melompat, saat berikutnya dia telah mendarat di belakang si pengintai. Tentu saja, membuat pengintai tersebut kaget bukan kepalang.


Dia tidak lain merupakan pengawal Raden Mas Karto yang ditugaskan untuk mengikuti Suhita.


Danur Cakra menatap dengan tajam, tanpa sepatah kata pun yang terucap dari mulutnya, Danur Cakra langsung melayangkan serangan cepat.


Sejak keluar dari kedai, sesungguhnya Cakra sudah mengetahui jika seseorang mengikuti perjalanan mereka. Akan tetapi, sementara waktu Cakra berusaha untuk menahan diri. Hingga sekarang mereka telah memasuki hutan yang cukup jauh. Tapi orang itu tidak kunjung berhenti, terlihat betapa kuatnya tekad untuk mencari tahu mengenai mereka.


Tidak lama berselang setelah memerintahkan seorang pengawal untuk menyusul Suhita, Raden Mas Karto pun menugaskan pengawal andalannya Bewok Ireng untuk ikut menyusul. Jangan sampai kehilangan jejak ke mana perginya Suhita.


Dengan menggunakan kemampuan lari cepat, bukan sebuah halangan berarti untuk Bewok Ireng menemukan jejak Suhita.


Bewok Ireng tiba di tempat Suhita beristirahat, tapi saat yang sama Suhita telah melanjutkan perjalanan. Yang tertinggal hanyalah sesosok bangkai. Tentu saja Bewok Ireng mengenali bahwa orang itu tidak lain adalah anak buahnya.


"Bang*sat!" mata Bewok Ireng melotot penuh kemarahan.


Ini merupakan pembantaian. Kematian pengawal Raden Mas Karto tersebut sangat tidak wajar dilakukan oleh manusia. Dadanya robek terbelah, hingga isi jeroannya berserak di atas rumput. Tapi sepertinya, pembantaian itu dilakukan dengan satu serangan saja. Kecepatan tangan mampu membelah sekaligus menghancurkan isi jeroan lawan. Merupakan satu kepandaian yang patut diwaspadai.


Bewok Ireng yakin, pembunuhan ini dilakukan oleh pendekar angkuh yang dia temui di kedai tadi. Dia bisa merasakan kalau pemuda itu memang memiliki kemampuan tenaga dalam yang baik.


"Kau tidak tahu, sedang berurusan dengan siapa! Bewok Ireng pantang dihina!" jika ingin kembali dan berhenti menjemput maut, saat itu juga harusnya Bewok Ireng mengurungkan niatnya untuk terus memburu Suhita. Hal yang tidak dia ketahui ialah keberadaan siluman sakti mandraguna yang bersama Suhita saat ini.


Bewok Ireng menambah kekuatan lari cepatnya hingga pada level tertinggi. Dengan kemampuan itu, dia melesat lebih cepat dari kecepatan normal. Hingga tidak butuh waktu yang terlalu lama, Bewok Ireng berhasil menyusul Suhita.


"Berhenti !!!" teriak Bewok Ireng dengan lantang. Dia mendarat menghadang jalan, menghentikan laju kuda yang Suhita tunggangi.


Danur Cakra tersenyum getir, tentu saja masih mengingat wajah pria brewok yang merupakan anak buah Raden Mas Karto. Kedatangannya pasti untuk menuntut balas atas kematian seorang anak buahnya yang baru saja Cakra habisi.

__ADS_1


"Tuan, maaf. Ada apakah gerangan hingga menghadang jalan kami?" tanya Suhita.


"Nini, kami begitu menaruh hormat pada kalian, memperlakukan kalian dengan baik-baik. Lantas mengapa kalian justru melakukan hal yang sebaliknya?!" Bewok Ireng balik bertanya.


Di sini bisa dilihat bahwa Bewok Ireng tidak merasa kalau kelompoknya telah melakukan kesalahan dengan mengirimkan seorang mata-mata. Bagi mereka, setiap apa pun yang menjadi perintah Raden Mas Karto merupakan peraturan yang legal secara hukum. Dan ketika Cakra menghabisi seorang anak buahnya, itu merupakan kesalahan besar yang dianggap telah berani melawan pemerintah.


Suhita mengerutkan dahi, dia tidak mengerti atas maksud yang diucapkan oleh Bewok Ireng. Memangnya, apa yang telah mereka lakukan hingga dianggap menentang pemerintah?


"Heh, pohon aren! Kau punya urusan denganku, bukan mereka!" seru Danur Cakra.


"Fuuiiihhh! Bocah ingusan sok jago! Sedari tadi tanganku sudah gatal untuk bisa merobek mulutmu yang busuk itu!" tanpa basa-basi lagi, Bewok Ireng langsung mempersiapkan kemampuan ilmunya.


Danur Cakra melompat dari punggung kuda, tangannya terjulur ke depan, dengan sangat cepat berusaha untuk menembus rompi besi yang digunakan oleh pengawal kepercayaan Raden Mas Karto tersebut.


"Bang*sat!" Bewok Ireng mengumpat. Dia melompat mundur, menghindari serangan Danur Cakra yang bermaksud membelah dadanya seperti yang terjadi pada seorang anak buahnya tadi.


Bewok Ireng balas menyerang. Secara jelas Danur Cakra telah menunjukkan jurus tangan pembelah kayu, jurus yang digunakan untuk menghabisi pengintai tadi. Itu artinya, Danur Cakra bertanggung jawab dan siap menerima apa pun resiko yang bakal terjadi.


"Kau akan menyesal bocah!" Bewok Ireng berseru lantang, kemudian dia datang dengan pukulan tenaga dalam yang diarahkan tepat pada kepala Danur Cakra.


Danur Cakra mengangkat kepala, saat matanya terbuka, seketika keluar sinar berwarna merah menyerupai sinar laser yang kemudian menghantam kepalan tangan Bewok Ireng.


DAAARRR! Ledakan terjadi, tubuh Bewok Ireng yang mengambang di udara langsung terdorong ke belakang untuk kemudian jatuh terguling di atas tanah.


Pukulan naga api yang Danur Cakra lepaskan untuk menyambut serangan Bewok Ireng berhasil membuat sekujur tubuh Bewok Ireng terasa hangus terbakar. Memang level kemampuan yang mereka miliki bukanlah pada tahap yang setara, ditambah lagi kombinasi energi siluman yang Danur Cakra sertakan, membuat Bewok Ireng merasakan rasa sakit yang tidak seperti biasanya. Hingga dirinya yang tinggi besar dan seram, harus merintih saat mengekspresikan rasa sakit yang menusuk hingga tulang sumsumnya.


"Aku sudah berusaha, tapi kiranya kau yang memaksa. Dan kau tahu, aku tidak akan membiarkan siapa pun tetap hidup," desis Danur Cakra penuh ancaman.


Bewok Ireng mendengkus dengan keras. Dia tidak terima diperlakukan dengan begitu rendah oleh bocah kemarin sore. Di seantero Kota Bukit Hambala, dia merupakan tokoh terkenal yang sangat ditakuti. Terlebih setelah Bewok Ireng dipercaya sebagai tangan kanan Raden Mas Karto, belum ada pendekar yang berani macam-macam padanya. Tapi tidak untuk sekarang. Belang mengerikan di tubuh harimau tua, telah selesai dikuliti. Menyisakan seonggok daging yang sama sekali tidak mencerminkan aura seram.


Danur Cakra melangkah mundur, dia meninggalkan Bewok Ireng yang masih menatap penuh kebencian. Hingga kemudian Bewok Ireng mencari celah untuk bisa melayangkan serangan dari belakang. Membokong Danur Cakra yang terlihat telah memetik kemenangan.


Danur Cakra terus berjalan seolah tidak mengetahui apa pun. Bahkan dengan santainya dia melangkah ringan kembali ke kudanya. Mengabaikan Bewok Ireng yang melepaskan energi tenaga dalam sebuah pisau beracun.


Ting! Pisau yang melayang cepat tersebut ditepis dan dihentikan oleh bilah pedang milik Kencana Sari.


"Tuan, baiknya jangan sia-siakan kesempatan untuk kau memperbaiki diri. Berfikir sebelum nanti penyesalan yang datang," ucap Kencana Sari.


Bewok Ireng tertawa, entah apa yang membuatnya merasa lucu. Yang jelas hanya Bewok Ireng yang tahu atas apa yang telah terjadi pada dirinya. Di luar, dia memang terlihat baik-baik saja. Tapi tidak ada yang melihat jika sesuatu telah menyusup di dalam urat nadinya. Naga hitam, siluman penghisap darah yang mulai menggerogoti nafas kehidupan milik Bewok Ireng.


Bewok Ireng tidak lagi melakukan hal bodoh yang akan membuat dirinya dilenyapkan oleh Danur Cakra ataupun Kencana Sari. Bukan karena dia mendengar dan berpikir, melainkan karena tenaganya memang sudah tidak lagi tersisa. Dia tidak lagi mampu menghimpun kekuatan tenaga dalam karena memang tubuhnya telah lemah. Naga hitam membuatnya tidak berdaya. Setelah beberapa saat Danur Cakra dan yang lain meninggalkan dirinya, barulah tubuh Bewok Ireng kelojotan menahan betapa sakitnya saat tubuh digerogoti padahal masih hidup.


"Akkhhh !!! Akkhhh !!!" Bewok Ireng coba untuk menghentikan rasa sakit dengan menotok beberapa bagian tubuhnya. Akan tetapi sia-sia belaka. Rasa sakit justru terasa semakin menusuk.


Dikala Bewok Ireng hampir tidak sadarkan diri akibat rasa sakit yang berlebih, mendadak terasa ada tangan dingin yang menyentuh pundaknya.


Perlahan Bewok Ireng membuka matanya, dia menemukan sosok pria tua dengan tubuh kurus. Dari tangan kakek tua itulah mengalir hawa dingin yang membuat napas Bewok Ireng beberapa saat mengalir dengan lancar.

__ADS_1


Pria tua berpakaian serba putih, belum pernah mereka bertemu. Akan tetapi dapat dirasakan kalau dia memiliki kemampuan tenaga dalam yang sangat tinggi. Hanya dengan tersentuh oleh telapak tangannya saja, Bewok Ireng bisa merasakan kalau hidupnya telah kembali.


"Maha guruuu ... mohon petunjuk akan kesembuhan untuk hamba," ucap Bewok Ireng.


Lelaki tua yang tidak lain ialah Aki Calincing melepaskan senyum tipis. Dengan kemampuan sihir yang dimilikinya, Aki Calincing bisa memberikan kesembuhan pada Bewok Ireng. Bahkan Bewok Ireng merasakan jika kemampuan yang dimilikinya bertambah berkali lipat.


"Bangkit, dan balaskan dendammu!" ucap Aki Calincing.


Bewok Ireng lekas mengangguk. Bagikan boneka, dia lekas menjalankan perintah Aki Calincing tanpa berpikir lagi. Jelas saja, karena saat ini yang ada bukanlah Bewok Ireng semula, melainkan kemampuan ilmu sihir milik Aki Calincing yang meminjam raga dan juga kemampuan milik Bewok Ireng yang akan digunakan untuk menyerang Danur Cakra. Menghalangi putra Mahesa untuk tiba di Kota Bukit Hijau. Sesuai rencana bersama Bhadrika Djani.


Aki Calincing lenyap dari pandangan mata, senyumnya mengembang seiring dengan boneka sihir yang dilepas mengejar Danur Cakra. Kalau bisa, Aki Calincing akan mengumpulkan para pendekar sebanyak mungkin, untuk digunakan sebagai alat yang dijadikan boneka sihir. Dengan semakin banyak boneka sihir yang tercipta, maka setiap pertarungan yang terjadi akan penguras tenaga Danur Cakra. Saat bocah itu mulai lelah, maka Aki Calincing bisa dengan mudah mencari titik lemahnya.


Bewok Ireng terus mengejar laju kuda Danur Cakra dan Suhita. Tubuh Bewok Ireng yang dikendalikan oleh kekuatan sihir hanyalah wadah semata, hingga dia sama sekali tidak memiliki pemikiran yang normal. Yang ada hanyalah keinginan untuk mencelakai, seperti apa yang diperintahkan Aki Calincing.


Danur Cakra memicingkan matanya, dia sangat yakin jika Naga Hitam telah melenyapkan pria berewok itu. Akan tetapi, mengapa sekarang Bewok Ireng justru telah kembali menyusul mereka?!


"Sihir! Ini kekuatan sihir!" desis Danur Cakra.


Dari tatapan mata yang kosong, sudah bisa dipastikan kalau Bewok Ireng sesungguhnya telah tewas. Yang ada hanyalah sosok bangkai yang dihidupkan kembali oleh kekuatan sihir.


Kencana Sari yang berkuda paling belakang menjadi sasaran pertama serangan boneka sihir. Dengan pedangnya, Bewok Ireng berusaha memenggal leher Kencana Sari.


"Hup!" tentu saja tidak mudah. Kencana Sari adalah pula seorang pendekar. Dia lekas tahu tatkala bahaya mengancam keselamatan dirinya.


"Tidak tahu diuntung!" Kencana Sari mengumpat. Serangan Bewok Ireng yang begitu inginkan nyawa, membuat kesabaran Sari berakhir. Pengampunan yang telah diberikan tidak akan datang dua kali.


Kencana Sari menyambut serangan Bewok Ireng dengan sungguh-sungguh. Dia mengembalikan setiap serangan berikut bonus beserta bunganya. Hanya saja, Kencana Sari tidak sadar jika Bewok Ireng yang menjadi lawannya sekarang bukanlah Bewok Ireng yang tadi berhadapan dengan Danur Cakra. Sosok Bewok Ireng kali ini tidak takut mati.


Beberapa goresan luka dari sabetan pedang yang mendarat sempurna di tubuh Bewok Ireng sama sekali tidak dirasakannya. Meskipun darah mengalir, Bewok Ireng tetap melancarkan serangan.


"Ini tidak beres!" gumam Suhita.


Lama kelamaan Suhita tahu jika lawan yang dihadapi Kencana Sari bukanlah manusia. Raganya hanya dipinjam untuk membuat kekacauan, menjalankan perintah si pemilik ilmu.


Ketika menerima pukulan, boneka sihir sama sekali tidak merasakan sakit. Namun kala dia balas menyerang, tentu saja pukulannya tetap membuat tubuh lawan menjadi darurat. Konsep yang umum, bahkan bisa disebut berada di atas cara kerja ilmu kekebalan.


Kencana Sari telah beberapa kali menerima pukulan, tentu saja dia merasakan sakit hingga emosinya semakin terpatik untuk bisa melumpuhkan lawan dalam waktu yang secepat-cepatnya.


Wuuusss! Suhita mengeroyok. Hita melepaskan pukulan jarak jauh, membuat lengan kiri Bewok Ireng menjadi kaku, terbungkus oleh energi es.


Crasss! Tanpa diduga-duga, Bewok Ireng menebas sendiri tangannya yang tadi bisa bergerak. Tontonan yang sangat tidak wajar. Karena merasakan kalau lengan kirinya menjadi hambatan maka Bewok Ireng lebih memilih kehilangan lengan kiri dari pada harus tertahan.


Kencana Sari terbelalak, meskipun dengan kondisi fisik yang sangat parah, tapi tidak mengurangi semangat tarung Bewok Ireng. Bahkan dia tidak terlihat menahan rasa sakit atau sejenisnya.


"Yaaaatttt !!!" Kencana Sari melepaskan pukulan tenaga dalam, hingga tangannya mendarat di dada lawan. Bewok Ireng terhempas jatuh, tapi dia cepat berusaha untuk kembali bangkit.


Saat itulah, Balutan energi api es menangkap hidup-hidup Bewok Ireng. Pada akhirnya dia dikalahkan dengan cara dikeroyok. Paling tidak, ada kebanggaan tersendiri jika Bewok harus bercerita di neraka nanti.

__ADS_1


"Sesungguhnya pria ini telah meninggal. Akan tetapi, ada kekuatan sihir yang membuatnya kembali hidup dan mengerang kita!" ucap Danur Cakra menjelaskan.


Jika ada satu, sudah pasti akan menyusul boneka sihir berikutnya. Selama si pemilik ilmu masih bebas berkeliaran, maka dia akan bisa membangkitkan sekian banyak orang yang telah meninggal untuk digunakan sebagai prajurit penyerang. Nampaknya Danur Cakra, Suhita dan juga Kencana Sari harus bekerja ekstra keras mengingat ancaman yang semakin serius.


__ADS_2