Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Jari Penghancur


__ADS_3

Apa yang menjadi tafsiran atas hasil terawangan Nyi Bonggol, erat kaitannya dengan kedatangan Danur Cakra ke pondok tempat Balur Saga dan padepokan Denda Gusta berdiam. Setelah sekian lama, akhirnya Danur Cakra berhasil mengendus tempat yang sangat tersembunyi itu. Tentu saja setelah Cakra menindas seorang pendekar yang berkeliaran sendirian.


Bukan pula murni karena kesalahan Cakra, akan tetapi pendekar dari padepokan Denda Gusta tersebut yang terlalu gegabah. Merasa keadaan aman, dengan santai dia melalui jalanan umum. Tidak menduga jika mata elang telah menunggu sampai sang katak muncul di alam terbuka.


Berbekal keterangan dari pendekar tersebut, dengan mudah Cakra bisa menemukan tempat yang semula luput dari pengamatannya. Dalam diam, Cakra memuji teknik yang digunakan oleh Balur Saga. Boleh juga, membuat semakin banyak variasi yang mungkin nanti bisa Cakra terapkan setelah sekilas mempelajari teknik bersembunyi Balur Saga yang menyerupai bunglon.


Hup! BAAMMM !!! Dentum suara pukulan tenaga dalam membahana mengoyak susana subuh yang sunyi. Seketika pondok kayu di tempat kumuh itu hancur tak bersisa. Tulang-tulang bangunan berserak seperti jerami terhempas angin.


Danur Cakra berputar di udara, tubuhnya ringan melayang turun. Perlahan kedua kakinya menginjak tanah tanpa suara. Dengan tatapan mata yang menyala merah layaknya kobaran api, sosok naga hitam mendominasi sebagian besar aura di sana.


Dari reruntuhan, tidak terlihat sosok yang bergerak. Mustahil jika tidak seorang pun berada di sana. Ataukah mungkin Cakra telah terpedaya?


Plok! Plok! Plok! suara tepuk tangan menyambut kedatangan Danur Cakra, Balur Saga dan beberapa orang pendekar muncul dari balik pepohonan. Kiranya mereka telah mengetahui akan adanya serangan yang datang, hingga mereka menghindar sebelum Cakra lakukan serangan.


"Meskipun dalamnya lubang semut, kau tidak akan bisa menghindar. Takdir telah tersurat, kematian akan menghampirimu!" desis Danur Cakra.


"Hahaha! Pendekar muda, nyalimu cukup besar. Tapi kau tahu, dalam dunia persilatan tidak hanya dibutuhkan keberanian. Semoga tinjunya bisa mengimbangi keras kepalamu!" Balur Saga tertawa, menyambut tantangan Cakra.


Dengan tatapan tajam, Balur Saga mengamati wajah Danur Cakra. Wajah yang tidak bisa dia tembus oleh mantra dalam kobokan sihir miliknya. Di usia yang sangat muda, merupakan satu pencapaian langka saat menjejak kemampuan yang sulit diraih bagi sebagian besar pesilat. Kesempurnaan tenaga dalam, menjadikan sosok pemuda yang disegani oleh lawan dan kawan dari berbagai tingkat kemampuan.


Danur Cakra menyeringai, wujudnya berubah sangat seram dengan aura kegelapan yang pekat menyelimuti. Wajah tampan Danur Cakra terhalang oleh garangnya taring naga hitam, sepasang taring yang begitu haus darah.


"Masih berupa rebung, suatu keberuntungan bisa memberantas calon pengacau di masa depan. Siapa namamu? Paling tidak, aku bisa mengingat atas tujuanmu menjadi tokoh sesat masa depan. Hahaha!"


"Bicara penuh kebajikan, berharap kebusukan berbuah pujian dan tepuk tangan. Padepokan aliran putih semacam kalian, tidak lebih baik dari perampok jalanan yang gemar memperko*sa gadis desa. Kemunafikan menghiasi, sementara tindakan tidak jauh dari langkah iblis!" Danur Cakra meludah, bergidik ngeri penuh hinaan pada Balur Saga dan kelompoknya.


"Potong tangan kanannya! Iblis bertubuh manusia ini, akan menjelma menjadi monster pembunuh di masa mendatang!" teriak Balur Saga.


Para pendekar muda dari padepokan Denda Gusta segera menyerang. Telinga mereka sudah berdenging sejak pertama kali Danur Cakra melontarkan hinaan. Terlepas dari status mereka yang berjuang untuk sumberdaya, ketika merasakan aura hitam pada diri Danur Cakra membuat rasa keterpanggilan bangkit dari dalam sanubari. Sebagi para pendekar aliran putih, mereka memiliki kewajiban untuk menumpas penjahat. Terlebih iblis penghisap darah semacam Danur Cakra.


Danur Cakra langsung menggunakan kemampuan bertarung tahap kedua, dia tidak ingin terlalu lama bermain-main. Di matanya, tidak ada pendekar aliran putih maupun tokoh aliran sesat. Cakra berada pada tingkat siluman yang hanya mengumbar nafsu untuk mencelakai.


Tidak butuh waktu yang lama, satu persatu pendekar roboh bersimbah darah. Tangan Danur Cakra berubah laksana cakar nan tajam, membedol tubuh lawan seperti seekor beruang mengambil umbut kelapa.


Gerakan Cakra sangat cepat, melompat melayang di udara saat menghindari serangan, kemudian melakukan serangan balasan yang tepat sasaran.

__ADS_1


"Bang*sat! Mengapa aku baru sadar, dia adalah Pendekar Naga Kresna. Iblis kejam penghisap darah. Jika dibiarkan, bisa-bisa pagar betis padepokan akan lenyap seluruhnya!" Balur Saga terperangah, napasnya seketika naik - turun menyadari kejadian di depan matanya.


Meskipun dikenal sebagai ahli nujum, bicara kemampuan tenaga dalam tentunya Balur Saga tidak bisa dianggap remeh. Tidak ubah seperti Nyi Bonggol, Pukulan Jari Penghancur juga dimiliki oleh Balur Saga. Pada tahap yang sempurna.


"Selamatkan diri kalian, beritahu padepokan apa yang telah terjadi!" perintah Balur Saga pada tiga orang pendekar yang tersisa.


Danur Cakra tentu saja mendengar teriakan Balur Saga. Tanpa berniat membiarkan lawannya lolos begitu saja, Danur Cakra melemparkan bola energi ke udara. Kekuatan tenaga dalam itu memang tidak langsung menyerang, melainkan lenyap dan menghilang untuk beberapa waktu. Siapa yang menduga jika bola energi Cakra yang semula terpecah di udara mampu mengumpulkan elemen-elemen yang berterbangan. Seperti pasir dan debu-debu yang melayang terbawa angin. Dengan daya magis, debu pasir serta kerikil kecil tersebut bergabung menjadi satu kesatuan, membentuk sebuah mata tombak yang amat tajam dan sekuat baja.


Seperti memiliki nyawa, mata tombak itu melayang mengikuti arah berlari para pendekar Denda Gusta. Saat mereka semua lengah, saat itulah mata tombak menunjukkan ketajamannya. Tanpa ampun, incaran mereka ialah jantung yang memompa darah. Melenyapkan lawan dengan cara yang amat sadis.


Kembali pada Danur Cakra yang berhadapan satu melawan satu dengan Balur Saga. Dua pendekar beda generasi itu sudah saling menunjukkan kepandaian. Jika saja pertarungan terjadi sepuluh atau bahkan dua puluh tahun yang lalu, tentu bukanlah suatu halangan untuk Balur Saga. Akan tetapi, usia tidak bisa bohong. Tulang-tulang tuanya sudah tidak lagi pantas digunakan dalam pertarungan hidup dan mati. Bisa saja kemampuan tenaga dalam tidak berkurang, akan tetapi wadah yang digunakan tidak cukup kuat untuk mengaplikasikan segenap daya yang ada, hingga tekanan yang terlalu besar sangat mempengaruhi tubuh yang renta.


"Hahaha! Tanpa taring dan kuku, mana mungkin harimau kalahkan rusa hanya dengan andalkan loreng di sekujur badan. Aku akui, kau seorang pendekar hebat tanpa tanding. Tenaga dalam kita tidak sebanding, pertarungan ini ibarat guru dan murid. Terima kasih atas pelajaran yang telah kau berikan," seraya tertawa Danur Cakra membungkuk hormat beberapa kali.


Ucapan Cakra hanyalah kata kias, sikapnya hanya merendahkan. Mendapati lawan nafasnya naik-turun di kerongkongan, sudah barang pasti kehebatan Balur Saga ada pada masa puluhan tahun yang lampau. Sekarang hanyalah tinggal kenangan, gerakannya tidak lagi lincah dan terarah. Sangat lamban seperti kura-kura, begitu berat bak tubuh panda.


"Kau kepa*rat penyebar kerusuhan. Kau ingatlah, di mana suatu masa kau tidak lagi memiliki daya. Saat itu, kau akan merasakan bagaimana hidup tidak berguna, tanpa kebanggaan, dan tanpa harapan. Atas nama Dewa, demi keadilan, dunia akan membalas segala yang kau perbuat padaku!" Balur Saga menunjuk-nunjuk pada Danur Cakra.


Mata Balur Saga yang melotot tentu tidak membuat Cakra gentar. Malah sebaliknya, Cakra justru tertawa terpingkal menyaksikan pemandangan demikian. Kebahagiaan tersendiri dalam diri Danur Cakra setiap kali menyaksikan rasa putus asa menekan mental dan diri lawan. Mungkin, itu sudah mendarah daging menjadi hobi.


"Hormat padamu, kakek tua. Menjelang ajal, baiknya perbanyak bicara jujur. Terlalu lama hidupmu dibalut kemunafikan. Berlagak malaikat sementara berlaku seperti iblis. Bicara baik tidak penting, yang utama adalah kejujuran. Jika ingin mati, katakan saja. Maka aku akan mempermudah jalannya!"


Byuuurrr! Byuuurrr! Naga kecil di alam evolusi Cakra melompat berulang kali. Energi gelap dari gelapnya kegelapan, menyadarkan Cakra pada bahaya. Sebagai sosok kasat mata, alam siluman yang Cakra bangkitkan dalam tahap evolusi menambah kemampuan yang luput dari pengawasan mata lahir. Dengan peringatan itu, membuat Cakra menyadari rencana licik yang susun Balur Saga.


Tidak peduli penjahat maupun pendekar aliran putih, memenangkan pertarungan ialah pokok utama. Caranya bervariasi, yang terpenting ialah tidak celaka.


Wuuusss! Balur Saga melompat, menjejakkan kedua kakinya sekuat tenaga menendang tanah. Layaknya katak yang menyerang mangsa. Jari telunjuknya terarah lurus ke depan, menerobos dengan kekuatan penghancur mengarah dada Danur Cakra.


Hup! Tep! Tangan Danur Cakra menangkap lengan Balur Saga, tubuhnya melayang ringan ke belakang, dengan Balur Saga yang terus mendorong dan berusaha menekankan jarinya. Ujung jari telunjuk Balur Saga berada beberapa mili di depan pakaian Cakra, hingga kemampuan Jari Penghancur tidak berhasil mengenai sasaran.


"Pukulan Jari Penghancur, kiranya hanyalah permainan anak ingusan. Aku menyesal pernah menganggap sebagai ancaman!" bisik Danur Cakra.


Hati Balur Saga semakin bergemuruh, dia menggunakan seluruh sisa kekuatan untuk semakin menekan. "Yaaaatttt !!!"


Danur Cakra tersenyum sinis, tangannya menghentak, menarik tubuh Balur Saga semakin meluncur. Pada saat yang sama kedua kaki Danur Cakra berputar, melakukan salto di udara. Tepat ketika Cakra melepaskan cengkeraman tangannya, kaki Danur Cakra menginjak kepala Balur Saga, menjadikannya sebagai batu lompatan.

__ADS_1


BRUUUKKK! BAAAMMM !!! Pukulan Jari Penghancur menghantam sebongkah batu, seiring dengan tubuh Balur Saga yang jerjerembab menghantam ke bawah.


Meskipun pukulan Jari Penghancur berhasil membuka jalan dengan menghancurkan batu besar, akan tetapi kecepatan tak terkendali tetap memaksa kepala Balur Saga membentur tanah dengan amat keras.


Kepala Balur Saga terasa oleng, keningnya terkelupas karena menghantam serpihan batu. Begitu pula dengan darah yang mengucur deras dari hidung. Balur Saga semakin merasa kecil, dirinya telah diinjak-injak oleh lawan. Bahkan kepalanya diibaratkan batu kali.


"Biar aku tunjukkan, bagaimana pergunakan jurus yang tepat untuk pukulan Jari Penghancur!" suara Danur Cakra masih berdengung, saat Balur Saga melihat lengan kanannya tergeletak jauh dari tempatnya terduduk.


"Hahaha! Lucu bukan? Manusia tanpa tangan kanan," Danur Cakra tertawa, menyaksikan penderitaan yang dirasakan lawannya.


"Ahhh !!! haaahhhh !!!" Balur Saga menjerit, kelojotan menahan rasa pedih yang luar biasa.


Dia telah kehilangan tangan sebelah kanannya. Tangan yang selalu dia gunakan untuk melepaskan Pukulan Jari Penghancur. Tangan yang pula telah memutuskan puluhan tangan lawan. Sekarang Balur Saga merasakan bagaimana menderitanya dalam kekalahan.


Dalam perjalanan hidup sebagai pendekar aliran putih, bersama padepokan dan para pendekar aliran putih yang lain, Balur Saga berjuang menegakkan keadilan. Dari waktu ke waktu mereka memerangi tokoh aliran sesat, membebaskan dunia dari angkara murka. Setiap lawan, pengabdi setan dan pengikut aliran sesat, maka Balur Saga akan menggunakan Pukulan Jari Penghancur untuk melenyapkan tangan kanan lawan-lawannya. Berharap memberi pelajaran, hingga mereka bertaubat dan kembali ke jalan yang benar.


"Jangan berbangga hati, aku belum kalah!" setelah menghentikan pendarahan, Balur Saga kembali bangkit. Tatap matanya nanar, merah menyala penuh dendam.


"Sekarang kau merasakan. Apa yang selama ini kau anggap benar, ternyata bukanlah hal yang tepat. Bahkan kau orang baik, tidak bisa menerima kehilangan satu tangan. Lalu kau berharap orang lain untuk bertaubat? Hahaha! Lucu!"


Danur Cakra mengalirkan tenaga dalam pada telapak tangannya, membuat kedua telapak tangannya memancarkan aura hitam gelap yang menyesakkan napas. Tidak putus asa, Balur Saga pula kerahkan tenaga dalam pada tangan kirinya. Secara bersamaan, kedua pendekar itu berlari saling mendekat.


BAAAMMM !!! Benturan keras terjadi. Hanya satu kali.


°°°


Suasana sudah jauh berubah, cahaya merah yang mulai mengambang di ufuk timur mengubur segala cerita dalam gelap semalam. Danur Cakra, Suhita, Kemuning dan Kencana Sari, sudah berada di sebuah kedai besar dan ramai. Hiruk pikuk kehidupan, memulai hari yang baru.


Setelah sarapan nanti, Suhita berencana untuk mengajak Danur Cakra menuju suatu tempat. Tempat yang tenang, di mana mereka bisa bicara dari hati ke hati. Kemunculan banyak pendekar di sekeliling mereka, membuat hati Suhita tidak nyaman. Secepatnya dia harus mempergunakan sumberdaya Mutiara Hati, dan tentunya Hita ingin mengkonsumsi Mutiara Hati dengan membaginya pada Cakra. Padahal bisa saja Suhita gunakan untuk dirinya sendiri, dan tentu tidak membuat masalah semakin rumit di masa depan.


Jika melihat ada seorang yang iseng dan seorang lagi emosian, percayalah mereka adalah saudara. Si emosian itu kakaknya, dan yang iseng pasti adiknya. Semarah apa pun kakak, tidak akan tega menjatuhkan tangan pada adiknya. Juga bagaimanapun tidak pedulinya adik, dia akan memikirkan kebahagiaan kakak.


Bahkan Cakra tidak tahu, atau sekadar bertanya mencari tahu, sumberdaya apa yang Suhita simpan hingga menjadi incaran banyak pendekar. Dia hanya menjalankan tugas sebagai kakak yang melindungi adik, bukan untuk sumberdaya. Cakra pertaruhkan segalanya untuk sesuatu yang sangat berharga melebihi sumberdaya, yakni saudara. Dan bukan sebaliknya.


"Kak, Hita ingin kita selamanya menjadi saudara. Di mana rasa marah dan benci hanyalah berupa hiasan, datang dan pergi seperti air di daun talas. Setelah ayah, Kak Cakra adalah orang yang paling Hita sayang."

__ADS_1


Danur Cakra tertawa kecil, keningnya berkerut menatap Suhita penuh tanda tanya. Biasanya, selalu ada alasan di balik sikap manja Suhita.


"Hita mau, sama-sama kita menjaga Mutiara Hati ini. Di dalam diri kita!" Suhita menunjukkan sumberdaya yang menjadi incaran para pendekar.


__ADS_2