Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Rintik Air Hujan


__ADS_3

Nyaris tak terlihat, sesosok bayangan melesat dalam kecepatan tinggi. Membelah awan dan menerobos rintik air yang hampir turun menjadi hujan. Bayangan itu terus melayang hingga mencapai satu hutan yang di sana hujan telah benar-benar turun mengguyur bumi dengan derasnya. Terlambat menyadari, hingga tubuh itu terlanjur menerobos air yang turun ke bumi.


"Ah, sialan! Harusnya aku terbang lebih tinggi," bayangan yang bukan lain adalah Mahesa, terpaksa harus turun. Dia tidak bisa terus menembus bulir hujan yang semakin deras mengurung hutan.


Namun sebelum Mahesa mendaratkan kakinya di tanah, dia lebih dulu telah mencium adanya pancaran aura di sekitar tempat itu. Mahesa kembali membuat tubuhnya melayang dan hinggap di dahan pohon. Kemampuan meringankan tubuh yang Mahesa miliki, membuat tidak ada kata licin meskipun dia menjejak kayu yang basah oleh guyuran hujan.


"Di mana dia?!" Mahesa melayangkan pandangannya ke segenap arah. Aura itu merupakan aura yang begitu akrab. Ya, aura istrinya. Dewi Api.


Mahesa menemukan adanya gua yang terlindung oleh pepohonan. Pasti Dewi Api sedang beristirahat di sana. Dengan segera, Mahesa melompat mendekat.


Wuuusss! Wuuusss! Beberapa bola api menyambut kedatangan Mahesa. Bola api yang telah dipersiapkan untuk berjaga, langsung menyambut siapa pun yang datang. Tidak perduli jika dia adalah orang yang dikenal.


Sambil terus bergerak mendekat, Mahesa menepis setiap bola-bola api yang menyerangnya hingga bola api tersebut berubah menjadi kristal es dan langsung membaur lenyap oleh guyuran air hujan.


"Hei, tunggu! Ini aku!" teriak Mahesa.


Dewi Api menahan serangannya. Seperti mimpi saja, tiba-tiba dia mendapati suaminya muncul di tempat itu. Dalam keadaan basah kuyup.


"Apa yang kau lakukan di sini?!" tanya Mahesa.


"??? ... harusnya aku yang bertanya. Lihat dirimu, basah kuyup. Tidak terlihat seperti seorang manusia," Dewi Api mengerutkan keningnya.


Mahesa segera menanggalkan pakaiannya. Kemudian menggantinya dengan pakaian lain yang tentunya dia bawa dalam ruang penyimpanan tenaga dalam yang Mahesa miliki. Sejenak, keduanya saling diam. Nampak jika Dewi Api berusaha menebak tujuan suaminya hingga sampai juga datang ke tempat itu. Rasanya tidak mungkin dia melakukan untuk Raka Jaya. Atau bisa jadi anak kesayangan Mahesa juga hilang?! Jika itu benar, dan pelakunya adalah orang yang sama, jelas hal ini merupakan suatu kejahatan besar. Kejahatan yang telah terencana dengan matang.

__ADS_1


"Terakhir, aku bertemu dengan anggota Aliansi Utara Selatan. Apa kau juga berkepentingan dengan mereka?!" tanya Dewi Api.


Mahesa menoleh, dia sadar jika dirinya seolah tidak perduli pada sang istri. Mengapa sampai mereka ada di tempat yang sama. Pasti Dewi Api datang dengan tujuan yang teramat penting. Hal itu bisa terlihat dari sorot matanya. Ada gumpalan kekesalan yang menggambarkan kebencian dan kehilangan di dalamnya.


"Istriku, apa yang sebenarnya terjadi? Ada hal buruk yang menimpa anak kita?!"


"Dia satu-satunya anak yang aku miliki, cahaya kehidupan yang selalu menyinari kehidupanku. Kau pasti tidak menduga jika setelah menyelesaikan pertandingan di Giling Wesi, dia tak kunjung pulang ke rumah," suara Dewi Api begitu pelan. Keresahan tercermin dari desah napasnya.


"Apa?!" kedua mata Mahesa terbelalak lebar. Seperti mimpi saja dia mendengarnya.


Aliansi Utara Selatan. Akankah mereka yang menjadi dalang di balik semua ini? Apa yang direncanakan oleh Gadis Pembaca Pikiran itu?


"Aku tidak menemukan Bulan Jingga di Gunung Dewa Langit. Aku yakin, dia sengaja bersembunyi. Jika saja, sampai terjadi sesuatu pada putraku. Maka akan ku pertaruhkan nyawaku untuk dendam ini."


"Aku hanya khawatir, anakku terlibat masalah karena dirimu," cetus Dewi Api.


"Aku?! Apa maksudmu. Apa kau kira kau tidak bermasalah dengan kelompok besar aliran sesat itu?!"


"Fiiihhh! Lihat saja, nanti. Karena sejauh yang aku ingat, kaulah yang berkaitan erat dengan Aliansi Utara Selatan."


"Cahaya Langit sudah mati. Haruskah aku tegaskan sekali lagi?"suara Mahesa terdengar meninggi.


Dewi Api tersenyum getir. Sejak tadi Mahesa telah menduga akan hal itu, tapi dia hanya berusaha menepisnya lagi dan lagi. Tidak sedikit pun inginkan jika akan ada masalah yang muncul berkaitan dengan istrinya yang sekarang sangat lemah.

__ADS_1


"Harusnya, mereka tidak libatkan aku dan anakku. Mereka terlalu jauh mengambil langkah. Dan satu lagi, awas saja jika karena istrimu itu hal buruk sampai terjadi pada anakku. Aku tidak akan berlunak hati," Dewi Api menunjuk ke arah Mahesa.


Mahesa bangkit dan menepis tangan Dewi Api dengan kasar. Matanya memerah, menahan luapan amarah. Sampai sekarang, mengapa Dewi Api masih selalu ingin menang sendiri? Merasa jika dia adalah kebenaran.


"Apa?! Kau ingin marah? Silahkan!" Dewi Api menarik tangannya. Dengan segera, pendekar nomor satu di Utara itu keluar gua. Tidak perduli hujan yang masih mengguyur dengan deras.


"Aaahhh !!!" Mahesa meluapkan kekesalannya pada bongkahan batu di dekatnya. Selalu saja, bahkan di saat genting seperti ini pun mereka harus bertengkar. Wanita itu, sangatlah keras. Hampir habis kesabaran Mahesa menyediakan stok mengalahnya.


Tidak. Ini tidak benar! Mahesa tidak boleh membiarkan istrinya pergi seorang diri. Sekali lagi, Mahesa harus mempertebal mukanya. Menjadi seorang yang tidak tahu malu, mengemis kebersamaan pada Dewi Api. Semuanya tidak lain yakni demi anak-anak mereka, Mahesa harus mengesampingkan hidupnya.


Kenyataannya, Dewi Api tidak menolak ketika Mahesa menyertainya menyisir hutan. Mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk penting.


Mahesa berhasil menemukan sisa-sisa aura yang tersebar dari pertarungan yang Suhita lalui. Juga sisa abu bekas jasad seseorang yang hampir habis tergerus air.


"Tidak mungkin!" Dewi Api menggeleng berulang kali, "jadi, serangan mayat hidup selama ini ..."


"Sa, sepertinya kita harus berpencar. Waktu kita tidak banyak!" ucap Dewi Api.


Mahesa setuju. Mereka segera bergerak, melakukan pencarian. Tidak perduli pada kekuatan tenaga dalamnya yang akan terpengaruh, Mahesa kembali melayang di udara. Sebesar apa pun energi yang terkuras, semuanya tidaklah sepadan dengan derita kedua anaknya yang saat ini berstatus tawanan.


Mata Mahesa menatap nanar kala menemukan pintu gerbang sebuah Padepokan. Klan Perisai Hujan. Klan yang diketahui bekerjasama dengan Padepokan Menara Kematian. Ya, mereka yang sempat membuat kehebohan perihal racun di pertandingan Padepokan Giling Wesi. 


Mahesa mengirimkan sinyal pada Dewi Api. Bagaimana juga, kali ini Mahesa tidak akan membuat kemarahan sang istri semakin menjadi. Mereka akan bersama-sama mendatangi Klan Perisai Hujan.

__ADS_1


__ADS_2