
BAAAM !!! Tanpa bisa dihindari, benturan keras tetap saja terjadi.
Pendekar kesatu terbelalak lebar, menatap telapak tangannya dengan rasa tidak percaya. Tidak bisa dipungkiri, tangan itulah yang menyebabkan tubuh pendekar kedua hancur berkeping. Dia telah membunuh saudaranya sendiri. Teman seperjuangan yang telah habiskan waktu berpuluh-puluh tahun bersama.
"Kau ... kau harus membayar mahal!" dengan geram, pendekar kesatu melepaskan pukulan tenaga dalam ke arah Mahesa yang tersenyum mengejek.
Dengan mudah, Mahesa menghindari pukulan tenaga dalam pendekar kesatu dan menjadikan bebatuan sebagai sasaran pukulan tersebut.
Mahesa terus bergerak menghindari setiap serangan yang dilakukan oleh pendekar keenam. Bebatuan serta dedaunan kering yang meluncur deras ke arah Mahesa tidak ada satu pun yang mengenai sasaran. Sesekali, Mahesa membalas serangan jarak jauh pendekar keenam dengan bayangan naga. Memaksa pendekar keenam untuk menghindar hingga berpindah tempat berpijak.
Melawan lima orang dengan kemampuan yang saling melengkapi, membuat Mahesa tidak bisa selesaikan dengan mudah layaknya membalikkan telapak tangan.
Seorang ahli pedang, yakni pendekar keempat sejak awal sudah terluka. Mahesa semakin memusatkan serangannya pada pendekar keempat. Ya, satu persatu anggota Enam Pendekar akan mati secara tragis. Itulah hal yang bakal Mahesa lakukan. Sebagimana mereka yang selalu menebar kejahatan.
"Pedang Mengoyak Langit" jurus kedelapan dari jurus rahasia pedang dua belas, berhasil mengakhiri perlawanan pendekar keempat. Tubuhnya limbung, lalu kemudian melayang jatuh ke dasar jurang tiada tepi.
Sejauh ini, Mahesa sama sekali belum tersentuh. Enam Pendekar sadar akan hal itu. Kemampuan yang Mahesa miliki berada di atas mereka. Apa lagi, sekarang mereka harus bertarung hanya dengan empat kekuatan. Pula tidak ada bantuan yang membuat mereka bisa menghela napas dan mengatur ulang strategi.
"Sial! Nampaknya Pendekar Topeng Perak tidak akan melepaskan kita, kak. Apa yang harus kita lakukan?!" pendekar keenam berbisik pada kakak tertuanya. Sejak memulai pertarungan, belum sekali pun pendekar keenam bisa melakukan serangan berarti pada Mahesa. Jadi wajar jika dia merupakan orang yang paling cemas.
"Sepuluh Tapak Penakluk Naga - Tapak Naga Suci" Mahesa melihat keraguan di dalam hati pendekar keenam dan menjadikan itu sebagai suatu celah yang segera dimanfaatkan.
__ADS_1
DAR! DAARR! DAAARRR !!!
Meskipun pendekar keenam berusaha menghindar, tapi serangan yang Mahesa lepaskan sama sekali tidak terhenti hanya sekali. Tahap tertinggi dalam jurus Sepuluh Tapak Penakluk Naga itu tidak akan berhenti sebelum mengenai sasaran. Dan puncaknya tentu ketika naga bercahaya menyilaukan tersebut menghantam tubuh pendekar keenam. Ledakan maha dahsyat terjadi di dasar jurang. Kali ini, anggota Enam Pendekar yang motersisa tidak sempat menyaksikan kematian rekan mereka. Pendekar keenam meninggal di dasar jurang yang gelap tanpa cahaya.
"Menghabisi lawan satu per satu. Kalian tahu, itu bukanlah ciri khas diriku. Andai saja teknik bertarung yang kalian terapkan tidak curang, pastinya kalian akan menyambut ajal secara bersamaan," Mahesa menatap ke arah pendekar kesatu, pendekar ketiga dan pendekar kelima.
Tinggal tersisa tiga orang itu lagi. Mereka merupakan para petarung yang adil dibanding tiga orang yang telah celaka. Makanya Mahesa berencana untuk selesaikan mereka dalam satu pertarungan. Mereka akan terlibat perkelahian secara kesatria.
"Pendekar Topeng Perak, jangan sok suci kau! Kau begitu mengutuk dirimu sendiri. Tidak ada pendekar yang lebih curang dari dirimu. Cara bertarung yang kau terapkan, adalah cara terhina yang pernah aku lihat!" dengan geram, pendekar kesatu meludah ke tanah. Sekarang mereka sadar, jika perkataan para pendekar selatan benar. Pendekar Topeng Perak selalu punya cara untuk bisa menang.
"Bagaimana, bisa kita mulai sekarang?!" Mahesa mengangkat alisnya.
"Akan ku kirim kau ke neraka!"
Klentiinngg !!! Terdengar suara benda yang terjatuh, keluar dari bola raksasa tersebut. Sebuah tombak besi yang sudah tidak lagi berada di dalam genggaman sang pemilik.
Bukan karena sudah tidak lagi membutuhkan, akan tetapi karena memang dia sudah tidak mampu mempertahankan. Beberapa saat kemudian, pendekar kelima yang merupakan pemilik tombak ikut menyusul. Dia membuat keindahan bola pertarungan menjadi ternoda.
BRUUUKK! Tubuh pendekar kelima terjatuh dengan keras. Di belakangnya, muncul pula Mahesa dengan posisi tangan terjulur ke depan. Sudah tidak diragukan lagi, Mahesa yang telah membuat pendekar kelima mengakhiri perlawanan. Dia tewas dengan kondisi tangan dan bahu yang remuk.
DAAARRR !!! Satu ledakan kembali terdengar. Seiring dengan hancurnya bola raksasa yang sempat mengurung mereka dalam pertarungan.
__ADS_1
Mahesa, pendekar kesatu dan pendekar ketiga, kembali mendarat di atas tanah. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak beberapa tombak.
"Seharusnya, aku bisa membiarkan kalian kembali ke markas Jubah Hitam guna untuk melaporkan hal yang telah terjadi. Akan tetapi, rasanya tidak adil jika mengingat bagaimana kompaknya Enam Pendekar selama ini. Mereka berempat telah mati, masa kalian masih punya muka untuk tetap hidup," Mahesa tersenyum sekilas. Sebelum kemudian menghentakkan tangan kanannya, membetot sesuatu dari udara.
"Uuuhhh ..." hanya lenguhan itu yang terdengar mengiringi.
Tubuh pendekar kesatu dan ketiga yang semula nampak berdiri tegak baik-baik saja, mendadak berubah kaku dan dengan perlahan tertarik gravitasi hingga mengukur ketinggian jurang.
Dalam tiupan angin saat keduanya terjatuh, perlahan sekujur tubuh dua pendekar itu berubah menjadi putih pucat, dingin, menyerupai balok es.
Praaakkkk !!! Serpihan batu es kecil-kecil menyembur, memberikan kesegaran pada bebatuan tempat di mana dua tubuh tadi terbanting.
Tamat. Tidak seorang pun dari Enam Pendekar yang tersisa. Terakhir, Mahesa menggunakan Tapak Naga Api untuk membakar jasad pendekar kelima yang mati karena kehancuran tulang.
"Beres!" Mahesa membersihkan debu-debu di kedua tangannya. Sebelum melangkah kembali ke Lubang Kaca Mata, sambil berjalan Mahesa mengibaskan tangannya kembali. Membuat jubah dan cadar hitam kembali menutupi sekujur tubuhnya.
°°°
"Tidak mungkin! Dalam waktu sesingkat ini, Enam Pendekar tidak mungkin bisa dihabisi. Kau jangan mengarang cerita, kecuali memang sudah bosan hidup!" Surya Petir malah tertawa kecil mendengar laporan anak buahnya jika Enam Pendekar telah ada yang menghabisi.
"Tapi, apa yang saya katakan semuanya adalah kebenaran. Baiknya kita jangan menunggu lagi. Lekas siapkan rencana lain untuk bisa hancurkan Padepokan Giling Wesi secepatnya."
__ADS_1
"Gob*lok! Siapa yang ingin menghancurkan padepokan itu?! Wara Suhada hanya inginkan anak muridnya menjadi yang nomor satu, sementara kita inginkan emas dan perak. Bukankah tidak ada yang salah?"
Oh, jadi ini akar masalahnya?! Mahesa tersenyum getir.