
Dengan senyum mengembang, Juragan Abdi memasuki kamar. Tatapannya tidak lepas dari tubuh Kemuning yang masih terbaring lemah. Juragan Abdi mengibaskan tangannya, memerintahkan para pelayannya untuk segera meninggalkan kamar.
"Hehehe! Aku sangat tertarik melihat permainan yang kau tunjukkan. Maka sejak saat itu aku selalu berkhayal bahwa suatu saat nanti, aku akan bisa menyaksikan pertunjukan setiap kali aku hendak tidur. Tidak disangka, akhirnya penantian panjang itu membuahkan hasil," Juragan Abdi duduk di tepi pembaringan. Tangannya membelai rambut Kemuning dengan lembut.
Kemuning menggigil ketakutan. Hampir saja dia kembali pingsan. Rasanya lebih baik mati daripada harus lewati saat-saat sulit seperti sekarang.
"Tidak! Saya tidak mau. Saya tidak mau menikah," suara Kemuning seperti tercekat di tenggorokan.
"Hahaha! Aku tidak sedang bernegosiasi, aku hanya menuampaikan satu keputusan. Besok siang, kita akan resmi menjadi suami istri," dengan tawa penuh kemenangan, gembira lahir dan batin.
Tangan Juragan Abdi bergerak lembut membelai wajah Kemuning. Meskipun Kemuning coba berontak, tapi tetap saja dengan leluasa Juragan Abdi mampu menyentuh bibir ranum tersebut. Memainkan dengan penuh perasaan.
"Tidak! Tidak!" Kemuning terus menolak. Perlakuan yang dia terima, dalam sekejap mampu membangkitkan segenap trauma yang hampir sembuh. Sungguh, Kemuning berada pada titik nadir sudut kehidupannya.
"Hahaha! Meskipun sebenarnya aku sudah tidak sabar, tapi aku adalah seorang yang menjunjung adat. Besok, setelah kita menikah barulah kewajibanmu harus dilaksanakan. Sekarang, kau istirahatlah."
Juragan Abdi mendekat. Dengan kedua tangannya, dia memegangi kepala Kemuning agar tidak bergerak. Setelah itu, wajahnya semakin mendekat. Mendaratkan satu kecvpan hangat di kening Kemuning. Membuat Kemuning kejang-kejang karena takut.
Napas Kemuning hampir terhenti di kerongkongan, untung saja Juragan Abdi segera pergi dengan membawa segenap rasa bahagia. Berbeda dengan Kemuning yang sedang menempuh perjalanan melewati pintu neraka.
"Cakra ... tolong aku ..." Kemuning berteriak sekuat tenaga. Meskipun kenyataannya suaranya tidak pernah bisa keluar.
Meratapi nasib, satu hal yang bisa Kemuning lakukan. Muncul juga sedikit penyesalan di sudut hatinya. Seandainya saja dia tidak begitu keras kepala, tidak pergi dari rumah, mungkin dia tidak akan menemukan kenyataan hidup sesulit ini.
Coba untuk fokus berdoa, andainya Tuhan tidak mengabulkan doa baik, coba untuk minta agar secepatnya mengambil nyawanya. Siapa tahu, raja akhirat bersedia datang dan mengakhiri segala penderitaan ini. Sungguh, Kemuning tidak lagi ingin hidup jika sekadar untuk mendapat siksa.
°°°
"Uhuukk ... uhuukk ... uhuukkk !!!" Danur Cakra yang sedang minum arak tiba-tiba tersedak dengan hebat.
Cakra terbatuk-batuk seperti anak kecil yang baru belajar mabuk. Sampai-sampai air arak keluar mengucur dari hidungnya.
"Ehemmm ... ehemmm ... hati-hati Den. Atau jangan-jangan pacar Aden sedang mengingat Aden. Dia berdoa untuk Aden, kengen sepertinya," pemilik kedai menyodorkan sapu tangan pada Danur Cakra.
Danur Cakra berusaha untuk menguasai diri, seingatnya ini adalah kali pertama dia tersedak ketika minum. Apa mungkin perkataan pemilik kedai itu benar. Jika sekarang Danur Cakra tidak memiliki pacar, pastinya ada satu orang terdekat yang sedang mengingatnya.
Suhita? Tidak mungkin! Jika Suhita, Danur Cakra biasa merasakan getaran yang berbeda. Contohnya jika Suhita dalam bahaya atau dalam kesulitan, maka Suhita bisa melakukan kontak batin menggunakan kemampuan Tapak Penakluk Naga yang sama-sama mereka kuasai. Hingga Danur Cakra bisa datang untuk membantu (seperti saat Suhita hampir celaka di mata air beracun kala itu).
Lalu siapa? Ah, Kemuning. Danur Cakra terbelalak. Bukankah dia sedang mencari tahu keberadaan Kemuning?! Pastinya gadis itu pula amat membutuhkan Danur Cakra. Dia perlu untuk transfer energi dan sekarang harusnya Danur Cakra telah melakukannya.
"Kemuning, di mana dirimu sekarang?" batin Danur Cakra.
Perlahan, riak wajah Danur Cakra berubah. Tidak lagi nampak jikalau dia merupakan seorang pembunuh berdarah dingin, melainkan wajahnya mencerminkan kesedihan. Bagaimanapun juga, Danur Cakra merasa bersalah pada Kemuning. Dia harusnya tidak mengorbankan Kemuning seperti itu. Dia sangat kejam.
Demi mencapai tujuan pribadi, Danur Cakra sengaja membuat Kemuning menjadi ketergantungan padanya. Cakra melakukan itu supaya Kemuning tidak bisa jauh-jauh darinya. Akhirnya, dengan mudah Cakra menaklukkan hati Kemuning karena dianggap sebagai orang yang berjasa besar. Ternyata, caranya itu salah. Buktinya sekarang, yang dia lakukan justru semakin menyakiti Kemuning.
"Aden ... Aden baik-baik saja?" pertanyaan pemilik kedai mengejutkan Danur Cakra.
__ADS_1
"Ya, aku tidak apa-apa. Aku hanya teringat pada adikku," jawab Danur Cakra.
Pemilik kedai menarik napas lega, tersenyum dan bersyukur mendengar hal itu, "oh, ya. Apakah masih ada yang Aden perlukan? Katakan saja, saya pasti akan membantu."
Danur Cakra menggeleng lemah. Dia hanya memberi beberapa koin uang emas pada pemilik kedai, tapi sepertinya itu sudah cukup untuk pemilik kedai menganggap Cakra sebagai orang yang dermawan.
"Apa di sekitar sini ada sebuah penginapan?" tanya Danur Cakra kemudian.
"Ah, kalau Aden tidak keberatan. Menginap saja di rumah saya, Den. Di lantai atas Aden bisa menikmati pemandangan kota," pemilik kedai menawarkan.
Danur Cakra setuju. Dengan bermalam di tempat itu paling tidak dia bisa mendengar selentingan kabar dari dunia persilatan. Siapa tahu, ada dari mereka yang membicarakan seorang gadis cantik bekas pemain sirkus.
Danur Cakra kembali memberikan koin emas pada pemilik kedai. Dia meminta untuk pemilik kedai tutup mulut atas apa pun yang dilihat mengenai Danur Cakra.
"Beres Den!" pemilik kedai tersenyum gembira.
Malam itu, Danur Cakra menginap di rumah sekaligus kedai tersebut. Meskipun sepanjang malam Cakra sama sekali tidak bisa memicingkan matanya barang sedetik pun. Pikirannya terus mengembara, melayang jauh menembus cakrawala hingga langit ketujuh.
Belum ada petunjuk yang Danur Cakra dapatkan. Dia hanya menemukan Rangga yang sudah tewas, entah di bantai oleh anak buah Tumenggung Surotanu ataupun oleh kelompok lain yang coba untuk memancing di air yang keruh. Lalu siapa dan ke mana mereka membawa lari Kemuning, sama sekali merupakan jalan buntu. Kepala Danur Cakra hampir pecah dibuatnya. Kalau terus begini, bisa-bisa dia jadi gila. Bicara hati dan perasaan memang sangat sulit untuk diajak kompromi.
Hingga menjelang subuh, saat pemilik kedai dan para pekerja bangun untuk disibukkan oleh pekerjaan mereka, Danur Cakra sama sekali belum terpejam. Dia tidak mengantuk. Terus berpikir meskipun tidak mendapatkan solusi. Danur Cakra tidak perduli lagi meskipun tindakan yang ia lakukan akan membuatnya menjadi orang gila sungguhan.
Danur Cakra turun ke lantai bawah ketika beberapa orang saudagar kaya datang untuk mengisi perut. Sepertinya mereka tidak datang untuk berdagang atau melakukan bisnis. Para pengawal yang menyertai semuanya memakai pakaian yang pantas. Ada orang beruang yang akan melaksanakan pesta.
°°°
Siang itu, Juragan Abdi akan melangsungkan pernikahannya. Entah pernikahan yang ke berapa. Hanya orang-orang penting dan tidak semua kerabat dekat yang sempat di undang. Pernikahannya sangat mendadak, lagi pula mempelai wanita masih dalam keadaan yang sangat lemah. Yang terpenting ialah acara sakral berlangsung khidmat.
Dalam waktu singkat, berita tersebut menyebar luas. Banyak dari mereka mempertanyakan dan sangat penasaran pada sosok pendamping baru Juragan Abdi. Karena Juragan Abdi terkenal sebagai seorang tua bangka yang perfeksionis. Dia begitu memilah-milah gadis muda calon istrinya.
"Aku yakin, istri Juragan Abdi adalah bidadari yang turun dari khayangan. Tidak ada yang tahu, tidak ada yang menduga tiba-tiba saja dia menikah," ucap seorang pemuda di pasar.
"Iya, ya. Padahal sudah tua, tapi masih laku terus. Dan istrinya pun tidak ada yang kaleng-kaleng. Memang, punya banyak uang itu enak," temannya menimpali.
Danur Cakra yang kebetulan mendengar segera mendekat, kemudian bertanya mengenai siapa orang yang dinikahi Juragan Abdi. Namanya juga ciri-cirinya.
"Aduh, pertanyaan yang sama dari setiap orang. Justru itu, kita belum ada yang tahu. Semuanya juga penasaran," jawab mereka.
Dada Danur Cakra riuh berdebar. Juragan Abdi adalah orang yang kala itu membayar Tumenggung Surotanu untuk bisa menemukan dan menangkap Dewi Kundalini. Dan seandainya dugaan Danur Cakra benar, Kundalini adalah Kemuning maka wanita yang dinikahi oleh Juragan Abdi adalah Kemuning. Sialan!
"Oh, ya. Apa kalian tahu, di mana kediaman Juragan Abdi? Aku mau ke sana. Siapa tahu orang-orang di sekitar sana ada yang tahu persis orangnya," tanya Danur Cakra.
"Wah, benar juga. Eh, nanti kalau ada info jangan lupakan kami," seorang pemuda terpancing oleh perkataan Danur Cakra. Dia kemudian menjelaskan secara gamblang posisi tepat kediaman Juragan Abdi.
Setelah mendapatkan informasi, secepatnya Danur Cakra menuju arah yang dimaksud. Dia memacu kudanya seperti setan. Mengabaikan orang-orang yang juga melintas di jalan. Kemarahan di hatinya, membuat Danur Cakra menjadi orang gila.
Sepi. Suasana sudah sunyi lengang ketika Danur Cakra sampai di Kediaman Juragan Abdi. Para pejabat kerajaan juga saudagar kaya yang sempat hadir, sudah pulang satu persatu. Pesta tinggal menyisakan kesibukan para pekerja yang membereskan segenap perlengkapan.
__ADS_1
Danur Cakra baru menarik tali kekang kuda, tapi beberapa orang anak buah Juragan Abdi sudah datang menghampiri.
"Ada perlu apa?" tanya salah satu dari mereka.
Ingin rasanya Danur Cakra langsung menghancurkan mulut penjaga itu. Tapi dia ingat, tujuannya yakni untuk mendapatkan Kemuning bukan untuk banyak tumpahkan darah. Memang dengan mudah Cakra akan mampu kalahkan semua anak buah Juragan Abdi. Akan tetapi jika sejak masih di luar Cakra sudah terlibat pertarungan, takutnya malah akan lebih sulit baginya untuk ketahui keberadaan Kemuning. Mencari seseorang yang disembunyikan di dalam bangunan yang sangat besar seperti kediaman Juragan Abdi, bukanlah ide bagus.
"Ah, kiranya aku terlambat!" Danur Cakra turun dari kuda, memamerkan bungkusan uang emas yang amat banyak (emas yang dia dapatkan dari dalam gua persembunyian kala itu). Kemudian memberi tips masing-masing untuk para penjaga. Dengan demikian, Danur Cakra bisa dengan leluasa masuk setelah mengaku sebagai salah seorang kolega Juragan Abdi.
Kekuatan bukan sekadar terbentuk dari kerasnya otot, tapi kemampuan otak juga mempengaruhi tingkat keberhasilan.
Danur Cakra masuk ke dalam rumah dengan membungkus tubuhnya dengan pakaian pekerja. Dia berpura-pura ikut beberes hingga tidak seorang pun menaruh curiga. Dari puluhan orang, satu wajah berbeda merupakan hal yang samar-samar dalam kesibukan mereka.
"Heh! Ke mana kau?!" bentak seorang tukang pukul berbadan kekar layaknya robot.
"Saya diminta untuk mengantarkan pewangi ruangan beraroma melati. Apakah Anda tahu di mana ruang pengantin?" tanya Danur Cakra sok polos.
"Hhmm ... aroma melati? Sejak kapan Juragan suka aroma melati?!" tukang pukul itu menatap penuh selidik.
"Ah, mana saya tahu. Mungkin mempelai wanita yang inginkan ini. Cepatlah Tuan. Saya takut kalau terlambat. Bisa-bisa kita berdua mendapat hukuman," Danur Cakra menakut-nakuti anak buah Juragan Abdi.
"Ah, sudah-sudah! Cepatlah pergi. Di sana, bangunan itu belok ke kiri!" Tukang pukul itu mengusir Danur Cakra.
"Ada apa?" tanya seorang pendekar yang baru datang. Dia bernama Selenteng, kepala keamanan di kediaman Juragan Abdi.
Tukang pukul kemudian menjelaskan duduk perkaranya. Tapi sama sekali Selenteng tidak percaya. Dengan hanya memandang punggung Danur Cakra, dia tahu jika orang itu bukanlah pekerja biasa. Seberapa pun kuatnya coba untuk sembunyikan kekuatan, tetap saja aura naga milik Danur Cakra tercium.
"Pengantin wanita sedang sakit, mana mungkin inginkan aroma melati. Dia seorang penyusup, cepat hentikan dia!" perintah Selenteng.
Tukang pukul berbadan robot menelan ludah. Dia yang memberikan izin, semua kesalahannya karena dengan mudah bisa tertipu.
"Penyusuuup! Penyusuuup!" teriaknya memanggil anak buah. Dengan cepat dia berlari menyusul Danur Cakra.
Sementara itu, Danur Cakra yang juga tahu bahwa penyamarannya terbongkar telah gunakan ilmu meringankan tubuh untuk segera sampai di ruang khusus pengantin. Seorang pendekar menjadi palang pintu pertama yang harus Cakra selesaikan.
"Iblis busuk! Berani sekali kau menyerahkan nyawa ke sini!" dengan mendengkus keras, pendekar itu mencabut senjatanya.
"Jika seorang pantas di sebut sebagai malaikat, mengapa seorang lagi tidak sekalian menjadi iblis? Tinggal menunggu, siapa dari mereka yang lebih dulu bertemu Tuhan," jawab Danur Cakra.
Danur Cakra melompat dan menyerang lebih dulu. Dia langsung mengerahkan tenaga dalam Tapak Naga. Bukan saatnya untuk bermain-main, Danur Cakra harus bergerak cepat. Memang serangan berbahaya tersebut bisa dihindari, tapi bayangan naga milik Danur Cakra berhasil membuat daun pintu terpecah, hingga pintunya terbuka.
Danur Cakra melompat masuk, diikuti oleh pendekar yang balas menyerangnya. Pendekar itu begitu geram karena merasa kemampuannya direndahkan oleh Danur Cakra.
"Sebelum mata pedang menjadi tusuk sate, tulang belulang menjadi arang, kau tidak bisa memandang rendah lawanmu!"
Lagi, kelebatan pedang tajam hanya menerpa ruang kosong. Danur Cakra berkelit ringan kemudian balas menyerang dengan pukulan berlapis tenaga dalam tinggi.
"Pernah dengar gunung yang terbelah, laut yang membuncah? Celakalah dirimu karena berada di tengah bencana itu!" Danur Cakra tiba-tiba mengulang dari pandangan lawan, ketika dia kembali muncul satu tangannya telah terjulur dengan pukulan Tapak Naga Api mendarat tepat di dada lawan.
__ADS_1
BAAAMMMM !!! Jika batu, maka akan hancur, tanah akan berlubang. Tetapi tubuh manusia merupakan ciptaan Tuhan yang paling sempurna, hingga tubuh tersebut masih tetap utuh. Hanya segenap fungsinya yang terhenti. Mati.