
Sudah dua hari berlalu sejak pembantaian di penginapan Istana Bulan. Namun selama itu juga Raka Jaya merasa berdosa dan terus menyalahkan diri sendiri. Sejauh ini, tidak ada sedikit pun petunjuk yang ia dapat. Melainkan kabar buruk yang terus berdatangan atas serangan-serangan yang juga menimpa utusan dari padepokan lain.
Besok, jika cuaca mendukung rombongan dari Padepokan Api Suci akan tiba di Padepokan Giling Wesi. Sementara, kompetisi pencarian bakat akan di mulai lusa. Ada waktu satu hari untuk mereka beristirahat dan memulihkan diri.
Menjelang senja, Raka Jaya ditemani Ateng dan seorang pengawal berjalan menikmati sore hari yang cerah. Biasanya, Raka Jaya menghabiskan waktu bersama dengan ayahnya jika cuaca begini.
"Sungai ini masih banyak mendatangkan orang untuk melatih kesabaran. Nampaknya masyarakat desa sepakat untuk tidak menghancurkan populasi ikan dengan menebar racun. Kelihatannya menyenangkan," Raka Jaya mengomentari seorang pria yang sedang berjuang menaklukkan ikan yang menyangkut di mata kailnya.
Ketiga orang dari Padepokan Api Suci tersebut terus berjalan. Mereka menikmati warna jingga yang menggantung di langit barat. Memberi keindahan, menarik decak kagum orang-orang yang menyaksikan.
"Memangnya kakimu tidak terasa pegal, ya?! Sebenarnya kita mu ke mana?" Ateng menghentikan langkah Raka Jaya yang terus mengarah ke atas menuju uluan.
"Saat rekreasi, bukan semata keindahan tempat yang di cari. Akan tetapi suasana baru-lah yang membuat kita nyaman," jawab Raka Jaya.
"Tapi, Den. Kita mulai memasuki hutan," pengawal yang menyertai mereka ikut memperingatkan.
"Kita tidak berbuat salah, mengapa harus takut? Lagi pula, ini 'kan masih di tepi desa. Apa mungkin, para pembunuh itu berani muncul?"
"Apa yang tidak mungkin?! Penginapan yang terletak di pusat kota saja mereka datangi," sambar Ateng.
"Hahaha! Temanmu lebih cerdas. Mengapa juga kalian mempermudah pekerjaan kami, tanpa tantangan rasanya kurang menarik," satu suara terdengar mengalun di udara.
Tidak lama berselang, tiga sosok pria berpakaian serba hitam mendarat di dekat mereka. Raka Jaya ingat, kelompok yang dia ikuti saat malam itu juga menggunakan pakaian yang sama.
"Kalian ingin mencelakai aku? Mengapa tidak sejak lama lakukannya?!" sambut Raja Jaya.
"Huuuhhh ..." pria itu mendengkus kesal. Nada bicara Raka Jaya terdengar sangat merendahkan, seolah mengatakan mereka tidak becus dalam bekerja.
"Sekarang apa? Kita tidak punya banyak pilihan. Tidak mungkin kita lari, ayo cepat selesaikan mereka," ucap Ateng.
"Itu gampang, tapi kita perlu tahu jumlah kekuatan mereka yang sebenarnya. Siapa tahu, mereka hanya pancingan," Raka Jaya mengingatkan Ateng.
Sementara tiga orang dari Padepokan Api Suci memusatkan perhatian pada wilayah sekitar, tiga orang yang berpakaian serba hitam justru telah lebih dulu melakukan serangan. Mereka yang merasa diabaikan begitu murka dan menyerang dengan membuta tuli.
__ADS_1
Raka Jaya segera menghunus pedangnya. Dia menyambut serangan dengan gagah berani. Satu melawan satu.
Pertarungan sengit terjadi di tepi hutan yang begitu indah itu. Mereka saling serang dan berusaha untuk bisa secepatnya saling mencelakai.
Dengan hanya melawan seorang pendekar dan dua orang anak kecil, harusnya pekerjaan para pembunuh itu lebih mudah. Tapi tidak yang terjadi. Mereka mendapatkan perlawanan yang cukup sengit. Kemampuan yang dimiliki oleh dua anak kecil itu seimbang-imbang saja dengan pendekar pengawal. Mereka sangat merepotkan.
Raka Jaya menyerang lawannya dengan menggunakan pedang yang menyala. Panasnya bilah pedang yang Raka Jaya pegang, mengingatkan pada kemampuan yang dimiliki oleh Dewi Api. Dimana hampir seluruh kemampuan didominasi oleh energi api yang dominan.
"Hump! Sial!" lawan Raka Jaya yang tidak menduga kekuatan tenaga dalam anak kecil itu, terkejut bukan kepalang. Jubah yang dia pakai langsung terbakar dan menyala kala ujung mata pedang Raka Jaya menggores.
"Pantas saja, kau termasuk ke dalam daftar bocah yang tidak boleh selamat. Hari ini, aku akan akhiri semuanya."
Raka Jaya semakin memusatkan konsentrasinya. Dia tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun. Kecuali jika inginkan keselamatannya terancam.
"Yyaaattt!" Raka Jaya menyabetkan pedangnya yang berbalut energi tenaga dalam tinggi. Selain itu, Raka juga telah mengumpulkan energi lain di telapak tangan kirinya.
Wuuussshh! Tepat ketika lawannya menghindari sabetan mata pedang, tanpa memberi kesempatan untuk lawannya banyak bergerak Raka Jaya langsung mengirimkan pukulan jarak jauh melalui tangan kirinya.
Baaam! Benturan terjadi, keduanya sama-sama terlempar ke belakang.
Raka Jaya mendarat di tanah dan kakinya berlari mundur ke belakang guna mengimbangi ayunan badannya. Sementara itu, nasib buruk menimpa lawannya. Orang itu harus terlempar ke arah bongkot kayu dimana ada akar tajam yang menunggu. Dia baru saja hendak pertahankan keseimbangan agar tidak terjatuh, tapi malang karena punggungnya telah lebih dulu ditembus akar kayu.
CRAASSHH!
Akar kayu yang runcing menyembul dari balik pakaian yang dia pakai. Warna merah membalut permukaan kayu. Pendekar itu terbelalak. Untuk terakhir kalinya dia menunduk dan menatap benda yang menembus dadanya. Sebelum kemudian tubuhnya terkulai lemas tidak bernyawa.
"Huuuhhh ... mati kau!" Raka Jaya menghembuskan napas lega. Dia ditolong oleh kayu tersebut. Karena jika tidak, mungkin keadaan sebaliknya yang bakal terjadi.
Raka Jaya menarik napas berulang kali, menstabilkan detak jantungnya yang tidak karuan. Dadanya terasa sesak.
Tidak lama dia bisa lakukan hal itu. Teknik pemulihan yang dia miliki memang belum baik, tapi Raka Jaya tidak boleh mengutamakan kepentingan sendiri. Sementara sahabatnya dalam posisi yang sulit.
"Ateng, aku datang!" Raka Jaya berlari ke arah Ateng untuk membantu.
__ADS_1
"Naahh, ini baru bagus. Kau lihat aku yang hampir menang?!" Ateng melompat mundur mendekat pada Raka Jaya. Wajahnya sudah memar dan bibir yang mengeluarkan darah.
"Kemampuan yang mereka miliki sangat tinggi. Kita harus berhati-hati," bisik Raka Jaya.
Ateng mengangguk. Tiga pendekar bercadar hitam tersebut merupakan pendekar terbaik di bidang bunuh membunuh. Mereka mengepung pendekar berjubah hitam dan menyerang dari dua sisi.
Kehadiran Raka Jaya, membuat pendekar itu jadi kesulitan. Sedikit demi sedikit, luka mulai menggores beberapa bagian tubuhnya.
"Jangan beri dia kesempatan untuk keluarkan jurus pamungkas!"
"Tenang saja, biar ku urus!"
Raka Jaya dan Ateng serempak melompat menyerang dari depan dan belakang. Pria berpakaian serba hitam itu hanya bisa pasrah tatkala kaki kedua bocah mendarat di dada dan punggungnya dengan telak. Tendangan bertenaga dalam tinggi.
Bruuggg! Laksana digencet oleh dua balok kayu dari depan dan belakang, tubuh pendekar itu tetap tegak berdiri ketika Raka Jaya dan Ateng telah menarik serangan. Tanpa suara, juga tanpa gerakan.
"Satu, dua, tiga ..." Ateng menghitung dengan mengangkat jari-jari tangannya.
Sebelum hitungan keempat, tubuh pendekar itu telah lebih dulu roboh ke bumi. Tewas tanpa suara.
"Waaahhh! Kita hebat, ya!" puji Ateng untuk diri sendiri.
"Ah, paman Krepa?!" Raka Jaya menoleh ke arah pertarungan seorang pengawalnya. Dia memang selalu begitu. Putra Dewi Api tersebut begitu peduli dan penuh tanggung jawab atas keselamatan orang yang bersamanya.
Terlihat jika kedua pendekar itu masih bertarung. Nampaknya paman Krepa hendak menaklukkan lawannya tanpa menghabisi. Dia butuh informasi.
"Aku ada ide," ucap Ateng yang langsung berlari memasuki hutan.
Ateng mengambil tanaman akar yang sangat kuat. Dia dan Raka Jaya akan menjerat kaki penjahat berjubah hitam itu.
"Ayo, lakukan!"
Rencana Ateng dan Raka Jaya berjalan mulus. Mereka berhasil mengikat sebelah kaki lawan Krepa menggunakan tali.
__ADS_1
Tiga orang meringkus seorang lawan, tentu bisa mereka lakukan dengan cepat. Ateng mengikat orang itu di batang pohon.
"Paman, kita perlu melepas cadar yang dia pakai!" ucap Raka Jaya sambil menatap tajam ke arah sandera.