
Dalam waktu singkat, pertarungan sengit berlangsung. Pasar yang semula menjadi tempat orang-orang berbelanja sekarang telah berubah menjadi medan laga. Kerusakan terjadi di sana-sini, sementara korban terjatuh pun semakin bertambah banyak.
Kali ini, Suhita harus benar-benar menjadi sosok pendekar. Sementara waktu harus menanggalkan prinsip tabib yang selalu ia pegang teguh. Karena pilihan haya tersisa dua, hidup atau mati.
Jaganitra, seorang pendekar besar berpengalaman. Usianya hampir mencapai kepala lima, tapi gerakannya sangat lincah dan bertenaga. Padahal sudah cukup lama dia bertarung, sejak tadi sebelum Suhita tiba di tempat itu. Salah satu teknik pernapasan yang sangat baik, juga bagaimana ia melakukan efisiensi tenaga. Dengan sedikit gerakan dan tenaga dalam, tapi kekuatan yang terlontar dalam jumlah maksimal. Sangat sulit. Tapi pengamalan membuat semuanya berjalan dengan sendirinya, mengalir seperti air.
"Gila! Tenaga dalam bocah ini sangat luar biasa! Huuuhhh ... Kepa*rat!" dalam hati Jaganitra memaki. Tapi ekspresinya seolah tidak terjadi apa-apa.
Kekuatan mental ialah hal yang paling penting. Siapa pun yang mampu membuat lawan gentar, maka bisa dianggap dia telah memenangkan pertarungan. Kalau gertak, membuat kalah segala-galanya.
Pergelangan tangan Jaganitra terasa kebas, kesemutan yang amat sangat kala dia menyambut pukulan tenaga dalam Suhita dengan tangan terbuka. Awalnya dia tidak menduga jika Suhita telah mencapai tahap tertinggi. Pukulan energi yang sangat langka. Dinginnya hujan salju membuat kobaran api menjadi padam.
"Sial! Mengapa aku seperti mengenal kekuatan yang dia gunakan?!" Jaganitra mengernyitkan dahi.
Tidak banyak waktu untuk berpikir dan menerka, pertarungan terus bergulir. Di setiap gerakan semua memiliki resiko yang sama besarnya. Salah-salah maka akibat yang diterima akan sangat fatal.
Suhita terus menggempur dengan kemampuan Tapak Naga. Sejatinya Hita mampu pergunakan hingga tahap tertinggi, Tapak Naga Suci. Tapi yang menjadi lawannya, Jaganitra juga bukanlah pendekar sembarangan. Kujang Kembar pula telah menguasai tenaga dalam Pukulan Sembilan Matahari. Dua kemampuan legenda asal Selatan, bertarung dan masing-masing menunjukkan betapa tidak ada duanya kemampuan yang mereka punya.
"Bagaimana ini, orang ini sangatlah licik. Bahkan aku tidak berkesempatan untuk pergunakan Tapak Naga dengan sempurna. Dia sangat berpengalaman," batin Suhita.
Meskipun telah mengetahui di mana titik kemampuannya, sejauh ini Suhita sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk pergunakan dengan baik. Percuma saja punya banyak senjata jika tidak tahu cara menggunakannya.
Perlahan-lahan Jaganitra berhasil membuat Suhita hanya berada dalam posisi bertahan. Terlalu banyak mengerahkan kekuatan dan pukulan tapi tidak mengenai lawan, sama saja dengan mengeroyok diri sendiri. Hingga akhirnya Suhita berinisiatif untuk sekadar menunggu serangan, mengandalkan serangan balik jika berkesempatan.
Di sisi lain, Kencana Sari yang membantu para pendekar dan prajurit kerajaan untuk menghadapi Jayadita juga tidak mampu berbuat banyak. Jayadita terlalu tangguh bagi mereka. Selain menjadi bulan-bulanan, tidak ada tindakan terbaik yang berhasil dilakukan. Untung saja Kencana Sari tidak sampai terkena pukulan telak yang membuat dirinya terluka parah.
"Celaka! Bagaimana keadaan Tabib?" Kencana Sari segera menarik diri dari pertarungannya, dia bergegas berlari menuju tempat Suhita bertarung.
Sontak saja, kepergian Kencana Sari membuat para prajurit semakin terpojok. Kecepatan tangan Jayadita membuat mereka tidak mampu berikan perlawanan lagi. Satu demi satu harus merelakan tubuh mereka menerima luka.
"Hahaha! Lama-lama aku bosan juga, bagaimana anak manis, apa kau masih ingin bermain-main?" Jaganitra tersenyum mengejek, dia memandangi Suhita yang mulai frustrasi.
Wuuusss! Bugghh! Kencana Sari datang tepat waktu, dia berhasil menyarangkan satu pukulan mengenai tubuh Jaganitra.
"Hita, bagaimana keadaanmu?" Kencana Sari mendekat.
"Aku baik-baik saja. Kau ... harusnya tidak biarkan mereka dibinasakan ..." Suhita memandang ke arah tumpukan mayat para prajurit kerajaan.
"Aku mencemaskan dirimu. Para penjahat ini, sangat luar biasa ..." jawab Kencana Sari pelan.
Harus diakui, perkataan Kencana Sari tidaklah berlebihan. Bahkan andaipun Suhita dan Kencana Sari bergabung, rasanya akan sulit untuk mereka bisa atasi. Butuh seorang lagi pendekar dengan kemampuan setara Suhita, paling tidak dia miliki pengalaman bertarung yang tinggi. Barulah jika berkhayal untuk bisa lebih unggul.
BAAAMMM !!! Satu ledakan terjadi, membuat tubuh para prajurit dan pendekar yang mengepung Jayadita terpental jauh. Mereka tidak lagi menjadi gangguan.
"Hahahaha! Sekarang apa, anak manis?" Jaganitra tertawa seraya mengebas pakaiannya, membersihkan debu yang menempel akibat pukulan yang Kencana Sari lepaskan tadi.
__ADS_1
Jayadita telah berdiri di samping Jaganitra. Kujang Kembar menatap Suhita dengan tatapan menyala. Meskipun coba untuk menyembunyikan, tapi dada Jaganitra tetap merasakan sakit dan ngilu akibat benturan pukulan tenaga dalam saat pertarungannya melawan Suhita.
Menyembunyikan kelemahan, tetap terlihat baik-baik saja, dalam kondisi apa pun, merupakan nilai tersendiri yang harus dimiliki seorang pendekar. Menekan rasa sakit untuk tunjukkan pada lawan jika kita miliki kemampuan yang lebih tinggi. Disaat lawan percaya, maka saat itulah mentalnya akan tertekan. Dan tidak ada kemenangan yang mampu diraih dengan beban pikiran yang mengganggu.
"Hati-hati, gadis itu sangat berbahaya. Tenaga dalam yang dia punya, berada di atas rata-rata," seraya berbisik lemah Jaganitra memberi tahu rekannya.
Jayadita mengangguk tanda mengerti. Tentu saja, karena mereka hanyalah manusia biasa maka harus memperhitungkan segala resiko, sekecil apa pun itu.
Detik selanjutnya, Kujang Kembar telah melompat menyergap secara bersamaan. Keduanya mengerahkan kemampuan terbaik untuk bisa melumpuhkan lawan dalam waktu singkat.
Suhita menyambut serangan lawan dengan segenap kemampuan yang dia punya. Begitu juga dengan Kencana Sari, mereka akan melawan meskipun sekadar untuk bertahan hidup.
Beberapa jurus berlalu, bertarung satu melawan satu tentu bukan menjadi unggulan untuk Kencana Sari tetap tegak berdiri. Jayadita berhasil membuat pelayan Suhita itu kalang kabut. Meskipun bisa membalas satu atau dua pukulan, tindakannya hanya membuat Jayadita semakin marah dan memburu untuk bisa mencelakai.
"Saariiii !!!" Suhita berteriak lantang, matanya terbelalak lebar.
Suhita hanya bisa menelan ludah menyaksikan tubuh pelayannya terpental jauh, saat tidak mampu menghindari pukulan Jayadita.
Sudut bibir Suhita sudah berhiaskan warna merah, dia pun merasa jika hidupnya tidak akan lebih lama bilamana Kujang Kembar bergabung dalam satu serangan.
"Sari, cepat pergi, selamatkan dirimu! Kabarkan apa yang terjadi!" teriak Suhita.
Kencana Sari masih bisa mendengar teriakan Suhita, tapi untuk bisa mengangkat badannya saja, terasa seperti tidak mampu. Sekujur Kencana Sari seperti hangus terbakar. Panas yang mendera sampai menembus tulang sumsum. Seluruh indera perasa seperti tidak berfungsi saat itu.
Dengan cepat, Kencana Sari menelan beberapa pil untuk mempertahankan hidupnya. Betapa Pukulan Sembilan Matahari merupakan energi terpanas yang pernah Sari temukan. Hampir saja dia kehilangan nyawa.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya Kencana Sari telah kembali terlibat dalam pertarungan. Meskipun kedua belah pihak sama-sama telah berhasil menyarangkan pukulan yang mengenai lawan, tapi dalam hal ini tentu saja Kujang Kembar lebih unggul. Keduanya memiliki kemampuan yang setara, sementara Suhita hanya dibantu oleh Kencana Sari yang tenaga dalamnya belum mencapai tahap seperti yang lain.
Dalam satu kesempatan, Jayadita sedikit lengah. Dia yang berhasil membuat Kencana Sari kembali tersungkur, membuat sedikit kesalahan, lalai. Jayadita lupa pada seorang lagi lawannya yang berada cukup dekat darinya. Meskipun ada Jaganitra, tapi tetap saja tidak mempengaruhi apa pun. Jaganitra tentu saja tidak cukup miliki kemampuan untuk selalu bisa menghalau kecepatan ayunan tangan Suhita yang terarah pada Jayadita.
"Uh, kepa*rat!" Jayadita tersentak.
Serangan Suhita sangat cepat, jaraknya yang cukup dekat membuat mustahil untuk bisa Jayadita menghindar. Guna melindungi wajahnya, Jayadita mengangkat kedua tangannya untuk digunakan sebagai blokade.
Baaammm !!! Benturan keras terjadi. Tubuh Jayadita terdorong jauh ke belakang, lalu kemudian terjungkal dan menggelinding, baru berhenti ketika tubuhnya menghantam sebuah gerobak berisi sayuran.
"Uhuukkk ..." darah segar menyembur ketika Jayadita terbatuk. Tingkat tenaga dalam yang Suhita miliki berada di atasnya, hingga kemampuan yang ia kerahkan tidak cukup kuat untuk menahan pukulan barusan.
Seandainya saja, Suhita kembali datang dengan pukulan Tapak Naga yang lebih tinggi dan dengan ritme serangan yang bertubi-tubi, bisa dipastikan saat itu juga Jayadita tidak akan bisa bangkit lagi. Akan tetapi tidak. Sebuah keberuntungan, karena Suhita lebih memilih memburu Kencana Sari yang juga muntah darah.
Tep! Tep! Tep! Suhita menotok beberapa titik saraf di tubuh Kencana Sari, menambah kekuatan pelayannya untuk tetap bertahan.
"Sari, kosongkan tenaga dalammu. Kau harus terima energi yang ku alirkan," ucap Suhita.
"Hita, tidak apa-apa. Aku masih bisa bertahan, kau hemat energimu," Kencana Sari menolak, tapi Suhita tidak menghiraukannya.
__ADS_1
Di sisi lain, Jayadita telah berhasil menguasai dirinya. Dibantu oleh Jaganitra, dia lebih dulu mampu kembalikan kondisinya. Meskipun tidak sempurna, paling tidak lebih dari separuh kekuatan.
"Bang*sat! Baji*ngan tengik! Benar yang kau katakan, bocah ini sangat luar biasa!" meskipun dalam kesal, seorang pendekar sejati harus mau mengakui apa yang menjadi keunggulan lawan.
"Apa ini yang dinamakan Ilmu Tapak Naga?" desis Jaganitra pelan.
Jayadita mengerutkan dahi, dia memikirkan apa yang baru saja diucapkan oleh rekannya. Sungguh sangat kebetulan sekali! Meskipun sangat sulit untuk bisa percaya.
"Kita habisi dia, ah tidak. Buat dia setengah mati, dengan itu kita akan membuat guru percaya!" Jayadita segera bangkit.
Jaganitra tersenyum lebar, lalu kemudian tawa terlepas dari keduanya. Mereka merasa jika akan mampu menang kali ini. Suhita hanya mengandalkan kemampuan tenaga dalam yang besar, sementara kemampuan bertarungnya sangatlah lemah. Tentu saja, cara mengalahkannya tidak cukup dengan otot, tapi harus dengan otak. Dalam situasi seperti ini, pengalaman akan sangat berguna.
"Hei, bocah ingusan! Kali ini kau hanya sendiri, tidak lagi akan ada cecunguk yang membantumu. Ayo cepat menyerah atau kami akan memaksamu merasakan sakitnya di ujung ajal!" Jayadita kembali menantang Suhita.
Suhita menghela napas, setelah membaringkan Kencana Sari dia lekas bangkit. Menghadapi Kujang Kembar yang terlihat begitu menginginkan nyawanya.
"Ayo, kita mulai!" Jayadita melambaikan tangannya, memancing Suhita untuk melakukan serangan lebih dulu.
Suhita tahu, keduanya sedang merencanakan sesuatu. Pasti mereka akan berbuat curang. Sinar kelicikan tercermin jelas dari kedua mata Kujang Kembar. Tapi Suhita tidak punya banyak pilihan, dia hanya bisa menyerang atau menunggu di serang. Dimana dua pilihan itu memiliki resiko yang sama.
"Menghadapi seorang gadis kemarin sore yang awam akan kemampuan bela diri, haruskah mengeroyok?! Hahaha! Memalukan sekali!" terdengar suara yang mengaum di udara, seiring dengan munculnya sesosok pendekar yang kemudian mendarat di antara mereka.
Suhita terbelalak, matanya berbinar penuh haru. Tidak bisa diungkapkan dengan kata, Suhita merasakan jika hidupnya selalu dipenuhi keberuntungan.
Melihat ekspresi Suhita, tentu saja bisa disimpulkan kalau orang yang datang merupakan pendekar dari kubu Suhita. Jelas ini merupakan kabar buruk untuk Kujang Kembar.
"Fuuiiihhh !!! Kau kira, dengan kehadiran seorang anjing kampung sepertimu akan merubah keadaan? Hahaha! Kau terlalu percaya diri, anak muda!" Jaganitra menyambut dengan muka masam.
Dari aura yang terpancar, bisa dirasakan jika sosok yang datang memiliki kemampuan yang juga tinggi. Tidak heran jika dia datang dengan penuh percaya diri. Namun terlepas dari semua itu, tentunya kemampuan yang dimiliki Kujang Kembar bukan serta merta menjadi lemah.
"Semakin menarik! Aku harap ini merupakan pertarungan yang aku inginkan. Lihatlah awan dan langit itu, karena sebentar lagi kalian akan pergi untuk selamanya!" dengan tegas, Kujang Kembar menyalakan genderang perang. Nyawa lawan merupakan tujuan yang utama.
"Kak Cakra ... syukurlah kau cepat datang, aku hampir saja mati!" seolah abai pada ancaman yang tebar oleh Kujang Kembar, Suhita justru tidak bisa menutupi rasa kegembiraannya. Paling tidak, ada harapan untuk bisa menarik napas lebih lama. Karena rasa percaya diri, amatlah penting.
Danur Cakra mengepalkan tangannya dengan keras, matanya memancarkan sinar kematian, menebar sima pada setiap yang memandang.
Dua bersaudara telah bersiap dengan versi kemampuan yang berbeda, meskipun miliki dasar yang sama. Tanpa menunggu, Danur Cakra telah memulai serangan. Bahkan sebelum kakinya terayun.
Suhita mengikuti di belakang Danur Cakra. Melihat Kakaknya gunakan kemampuan Tapak Naga Es untuk menyerang lawan dari belakang, Suhita tentu saja mampu lakukan hal yang sama. Meskipun mereka hanya berdua, akan tetapi dengan lakukan trik itu sama saja mereka dapatkan bantuan puluhan pasukan panah.
Panah energi es berwarna hitam dan putih berhamburan menyerang, lebih dulu mengalihkan konsentrasi Kujang Kembar. Belum lagi mendadak tanah yang mereka injak seolah menolak keduanya berdiri.
"Hmmm ... pria ini, dialah biang masalah!" Jayadita menggerutu kesal. Mereka dipaksa untuk ekstra hati-hati.
Satu melawan satu, kali ini pertarungan menjadi berimbang. Pukulan Sembilan Matahari menemukan tandingannya hari ini. Jika saja, Bhadrika Djani melihat mungkin dia akan menangis. Nyatanya ilmu yang dengan susah payah dia kembangkan selama berpuluh-puluh tahun masih ditahan imbang oleh Sepuluh Tapak Penakluk Naga, ilmu yang sangat ingin ia kalahkan sebelum meninggal.
__ADS_1
Sudah menjadi hukum alam, jika setiap awal akan menemui akhir, setiap permulaan akan pula berujung. Dalam pertarungan menang dan kalah merupakan dua resiko yang akan di dapat.
Suhita berhasil mematahkan batang hidung Jayadita, membuat darah tidak henti-hentinya mengucur. Tidak bisa ditampik, unggul tenaga dalam merupakan nilai tambah yang susah di atasi.