
"Sayang, malam sudah begitu larut. Baiknya kau segera tidur. Besok dini hari kau bisa melakukannya lagi. Percayalah, kau pasti bisa. Ayahmu sudah memperhitungkan semuanya."
Suhita membuka matanya, gadis kecil itu masih melakukan latihan. Ya, sejak membuat kesepakatan dengan ayahnya sore tadi, Suhita terus melakukan penyelarasan energi tenaga dalam. Dengan memaksimalkan kekuatan Pil Kelopak Surgawi yang telah dia konsumsi, Suhita berupaya untuk menggunakan waktu yang tidak lebih dari 24 jam untuk membuka seluruh titik syaraf kemampuan di dalam tubuhnya. Setelah itu berhasil, maka Suhita akan mampu menguasai Ilmu Sepuluh Tapak Penakluk Naga dengan baik dan cepat.
"Ibu jangan salah paham. Jangan pernah menyalahkan ayah. Mungkin, kemarin-kemarin semua ini adalah kemauan ayah. Tapi, setelah saat ini tidak lagi. Semua adalah kehendak Hita. Dan Hita tidak akan pernah berhenti sebelum mencapai tujuan," jawab Suhita dengan tegas.
Memang, semuanya adalah demi dirinya. Bukan karena ayahnya ataupun orang lain. Ayahnya sangat benar, pasti tidak ada orang tua yang tidak memikirkan masa depan anaknya.
Suhita justru menyalahkan dirinya sendiri, mengapa tidak sejak lama mau belajar kemampuan tenaga dalam. Jika tenaga dalam sudah sempurna, maka dia akan bisa melakukan lari cepat yang menyerupai burung terbang seperti apa yang ayahnya bisa lakukan. Dengan begitu, dia tidak kesulitan jika hari itu juga ingin berangkat ke Padepokan Giling Wesi.
Kenyataannya, Mahesa kerap memojokkan Puspita atas bandelnya Suhita. Seperti halnya Puspita yang tidak lagi memiliki keinginan untuk kembali mempelajari ilmu kanuragan, begitu juga sulitnya Suhita untuk dibujuk belajar silat.
Semuanya berubah setelah Suhita mulai menyadari apa itu kehidupan. Di mana onak dan duri serta kerasnya liku perjalanan hidup memberikan Suhita pemahaman. Dengan suka rela, atas kemauan sendiri dan tanpa intimidasi orang lain, Suhita memutuskan untuk menyempurnakan kemampuan ilmu tenaga dalamnya.
Lima atau mungkin sepuluh tahun lagi, rasanya waktu itu tidaklah terlalu lama. Suhita pasti bisa mencapainya. Karena waktu tidak akan pernah berjalan mundur.
"Kalau begitu, ibu akan menemanimu. Kau latihanlah. Setelah mampu abaikan satu orang, ke depan kau harus bisa berkonsentrasi dalam lautan manusia. Begitulah prinsipnya," Puspita Dewi tersenyum manis. Dia kemudian duduk di kursi samping pembaringan. Memandangi putrinya yang sedang bersemadi.
"Ibu, aku bisa sendiri. Ibu tidak perlu menemaniku. Aku tidak ingin, sampai ayah mencari ibu," Suhita menolak ibunya tetap di sana.
Betapa Suhita tahu, jika ibunya merupakan satu-satunya samudera maaf. Tidak pernah mengeluh, apalagi menyalahkan keadaan. Rasanya, Suhita sendiri tidak bakal mampu jadi orang yang sangat sabar seperti sang ibu.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan bicara lagi. Lakukan saja tugasmu. Masalah ayahmu tidak perlu kau pikirkan."
Suhita mengangguk. Dia kemudian kembali memejamkan matanya. Memusatkan konsentrasi dan pikiran. Melalui pembuluh darah, mengalir ke dalam jantung hingga kemudian jantung kembali memompanya menyebar ke seluruh bagian tubuh. Suhita membina aliran darahnya menjadi lebih murni. Hingga otaknya mampu mendaya gunakan seluruh komponen tubuhnya dengan sempurna.
°°°
Keesokan harinya, saat matahari mulai tergelincir dari puncak tertinggi, Puspita Dewi berjalan bergegas menuju halaman belakang. Dia menemui Kalagondang untuk menanyakan keberadaan suaminya.
Sejak waktu makan siang, Mahesa tak kunjung memasuki rumah. Dia juga tidak mengatakan pergi ke mana. Apa mungkin, Mahesa akan mengingkari janjinya pada Suhita?!
"Nyonya, saya tidak menemukan Tuan di tepi sungai maupun di tempat biasa beliau bermain burung. Saya rasa, Tuan sedang ada urusan mendadak," lapor Nyi Gondo Arum.
"Ya, sudah. Tidak perlu dicari lagi. Aku yakin, Kanda Elang tahu kapan dia harus pulang. Nyi Gondo silahkan istirahat," Puspita tersenyum.
"Nyi Gondo tidak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja," perkataan Puspita seperti cambuk yang menampar pipi Nyi Gondo Arum, membuat wajah nenek tua itu langsung menunduk. Tanpa bisa berucap alasan, Nyi Gondo Arum cepat-cepat pergi.
Puspita menghela napas panjang. Dia melangkah menuju kamar putrinya. Saat pintu terbuka, Puspita bisa merasakan pancaran sinar berwarna putih menyilaukan menyelimuti seluruh ruangan kamar. Terlebih lagi tubuh Suhita, mata biasa tidak bakal bisa menebus cahaya berkilau itu.
"Hmmm ... kau telah berhasil putriku. Dengan latihan yang giat, dalam beberapa tahun ke depan kau pasti bisa sempurnakan Ilmu Sepuluh Tapak Penakluk Naga milik ayahmu. Dengan demikian, ibu bisa tenang. Tidak lagi ada yang harus dikhawatirkan atas dirimu," batin Puspita. Tanpa terasa, air mata haru menitik di sudut matanya.
Puspita keluar, saat kembali dia telah membawa nampan berisi makanan dan beberapa kendi minuman herbal. Biasanya, orang yang baru selesai berlatih tenaga dalam akan merasakan lapar yang teramat besar. Puspita sudah siapkan segala kebutuhan anaknya saat dia bangun dari semadinya.
__ADS_1
Berulang kali dan terus tidak terhitung, kepala Puspita menoleh ke arah jendela. Berharap sosok yang dia harapkan muncul ada di sana. Namun, hingga urat leher Puspita terasa keram, sosok itu tidak juga kunjung terlihat. Ya, Mahesa belum kembali, entah ke mana dia.
Tanpa terasa, hari telah hampir gelap. Cerita siang yang begitu angkuh, sebentar lagi akan di hapuskan oleh malam yang dingin, hingga tidak ada lagi terang yang tersisa dilibas gelapnya malam.
Plok! Plok! Plok!
"Horeee! Selamat, kau berhasil sayangku," Puspita bersorak gembira menyambut keberhasilan anaknya membuka seluruh level energi di dalam tubuhnya. Wadah yang telah siap itu tinggal menunggu saat untuk terisi penuh.
"Ibu, benarkah?!" Suhita memandangi sekujur tubuhnya. Dia hampir tidak percaya jika akan berhasil melakukan itu. Yang dia rasa, sekarang tubuhnya terasa sangat ringan dan begitu bertenaga.
Suhita turun dari atas ranjangnya dan berlari memeluk erat ibunya. Keduanya tertawa, merayakan hal besar yang akan merubah hidup Suhita.
"Sayang, ini ... ibu sudah siapkan makan dan minum serta sumberdaya yang harus kau makan seusai membangkitkan level energi tenaga dalam.
"Baik, tapi ibu temani aku makan, ya," pinta Suhita yang langsung di-iyakan oleh sang ibu.
"Oh, ya. Ayah mana, bu?" Suhita celingukan, mencari-cari keberadaan Mahesa.
"Ayahmu sedang tidak di rumah. Dia sedang mempersiapkan segala sesuatu. Tenang saja, saatnya nanti ayah pasti kembali," jawab Puspita cepat. Seolah tanpa beban, dia berhasil menenangkan Suhita dengan jawaban yang sangat jitu.
"Aduuhh ... bagaimana ini. Kanda Elang di mana, mengapa belum juga kembali?!" dalam hati, Puspita begitu resah.
__ADS_1
Hati Puspita dag-dig-dug tidak karuan. Tidak terbayangkan olehnya bagaimana kecewanya Suhita jika sampai Mahesa tidak pulang dan melupakan janji untuk mengantarkan Suhita pergi ke Padepokan Giling Wesi.
Pasti Suhita berjuang keras karena hal itu. Selama 24 jam berlatih karena satu kata. Jawaban iya dari mulut ayahnya kemarin.