
Malam mulai membayangi, selesai untuk hari ini. Tinggal menantikan rahasia yang bakal terjadi di esok hari. Terlebih, berbicara mengenai kompetisi yang semakin menarik saja. Begitu banyak kejutan yang terjadi. Di mana, nama yang muncul di babak final merupakan nama-nama yang tidak terduga. Kecuali Raka Jaya dari Padepokan Api Suci, sisanya merupakan nama yang sebelumnya tidak diunggulkan. Termasuk Danur Cakra.
Di ruang pribadi pimpinan Padepokan Giling Wesi, Jaka Pragola dan sang istri masih bercakap-cakap. Keduanya membahas perihal kompetisi yang esok merupakan puncaknya. Bisa dikatakan, mereka sukses menyelenggarakan kompetisi. Ada beberapa anak yang menjadi korban, tapi keseluruhan dari mereka celaka sebelum tiba di Giling Wesi.
"Hmm ... apa Kanda kecewa pada hasil kompetisi? Tidak seorang pun wakil dari padepokan kita yang melangkah ke babak final," Ambar Wati menuangkan teh hijau untuk suaminya.
Jaka Pragola tertawa kecil, setelah meneguk teh yang disajikan sang istri Jaka Pragola menjelaskan jika tujuan kompetisi bukan semata untuk menempatkan seorang wakil di babak final maupun menjadi pemenang. Namun hal yang lebih dari itu ialah untuk bersama menemukan dan kemudian membina anak-anak berbakat untuk kemajuan kelompok aliran putih di masa depan. Jika tidak begitu, takutnya kelompok aliran sesat bakal tumbuh dan berkembang lebih pesat. Bisa dibayangkan apa yang bakal terjadi di dunia persilatan jika hal itu sampai terjadi.
"Tidak seorang pun wakil dari Padepokan Rajawali yang ikut dalam perlombaan. Aku merasa sangat sedih," Jaka Pragola menghela napas. Dia mengenang masa-masa mereka dahulu. Di saat hubungan Padepokan Giling Wesi dan Padepokan Rajawali begitu sangat dekat. Ketika itu, Belibis Putih yang memimpin Padepokan Rajawali, membawa dua nama padepokan itu dikenal dan disegani oleh dunia persilatan. Tapi sekarang ...
Jaka Pragola hanya bisa mendesah penuh kegundahan. Tiada tahu apa yang bisa dikatakan untuk ungkapkan hal yang merupakan rencana Sang Pencipta.
"Menurut Kanda, siapa yang memiliki kans paling besar untuk menjadi yang terbaik, apakah saudara seperguruan Elang Putih atau justru anak kandung Elang Putih?" tanya Ambar Wati menyadarkan Jaka Pragola dari alam kenangan.
"Hehe ... dia memanggilku dengan sebutan Kakak. Jelas hanya karena menghormati Guru Belibis Putih. Sekarang, siapa menduga jika semua berkaitan dengan dirinya. Sungguh, aku tidak bisa menjawabnya," Jaka Pragola tertawa menanggapi pertanyaan istrinya, "jika anak kita nanti besar, aku tidak keberatan seandainya mereka berjodoh," imbuh Jaka Pragola.
Ambar Wati tersenyum mendengar ucapan ngawur suaminya. Tentu, tidak akan ada orang tua yang tidak menginginkan hal semacam itu. Bahkan sejak sekarang pun, sudah terlalu banyak yang berdoa supaya harapan mereka terkabul.
Malam yang semakin larut, membuat obrolan sepasang suami istri itu diakhiri. Mereka harus segera tidur untuk persiapan esok hari. Di mana babak final kompetisi akan berlangsung.
°°°
__ADS_1
Di tempat lain, masih di kota Giling Wesi. Seorang bocah perempuan cantik masih duduk termenung di depan jendela kamar. Dia memang tinggal dan menempati sebuah bangunan mewah, tapi semua itu tidak serta merta menjanjikan satu senyuman.
Bukan karena statusnya yang merupakan seorang buronan yang dicari, akan tetapi kegelisahan di dalam hati Suhita ialah berkaitan dengan pertandingan final yang bakal digelar esok.
Suhita Prameswari sudah menduga, hanya saja hatinya masih terkejut mana kala dua orang yang begitu dalam terukir di hatinya akan bertarung untuk satu titel juara. Suhita berharap, mereka berjumpa di babak puncak setelah menyingkirkan dua orang peserta lain. Dengan demikian, keduanya akan bersama-sama berdiri di podium tertinggi untuk unggulan satu dan dua. Siapa pun yang lebih unggul, Suhita akan tetap bersukacita.
Tok! Tok! Tok!
Daun pintu kamar Suhita terdengar diketuk dari luar. Suhita segera berbalik badan, berdiri menghampiri pintu. Takutnya, anak saudagar Nyoman yang sedang dia obati terbangun atau mengeluhkan sesuatu.
Saat pintu dibuka, Suhita mendapati seorang wanita cantik yang tersenyum lebar padanya. Dia adalah Nyonya Jelita, istri kedua Saudagar Nyoman.
Ya, bisa dikatakan Saudagar Nyoman adalah orang yang sangat hebat. Bagaimana tidak, dia bisa membuat kedua istrinya hidup rukun dalam satu atap. Sungguh, sesuatu yang sangat luar biasa. Bahkan, seorang pendekar besar setara Elang Putih pun harus bertekuk lutut jika berhubungan dengan masalah keluarga dan dua istri.
Suhita menggeleng dan mengatakan jika dia sebenarnya sulit tidur, "apa ada yang bisa saya bantu Nyonya?"
Nyonya Jelita menengok kiri dan kanan. Setelah jelas tidak menemukan ada orang lain, dia meminta izin untuk masuk. Tentu saja, sikap istri muda saudagar itu membuat Suhita mengerutkan dahi. Rasanya aneh saja. Pasti ada yang disembunyikan.
"Nyonya, mendapati Anda bersikap seperti ini, membuat saya sangat sungkan. Sebenarnya, ada apa?"
"Tabib kecil, apa kau pernah menemukan ada ayam berbulu serigala? Kau akan ketakutan jika hanya sekadar melihat. Makanya aku sarankan untuk tidak menilai suamiku dari luar saja. Biar ku bantu kau untuk cukupi kebutuhanmu. Suamiku itu sangat pelit," Nyonya Jelita memelankan suaranya pada kalimat terakhir.
__ADS_1
Suhita tertawa kecil dibuatnya. Sekali lagi, Suhita menjelaskan jika hidupnya bukan semata untuk mencari uang. Kesehatan pasiennya merupakan hal yang lebih utama. Pada dasarnya, mengobati sudah merupakan suatu hobi baginya.
"Ya tapi paling tidak kau butuh sumberdaya dan bahan obat lainnya untuk nanti digunakan pada pasien lain. Kau harus buat orang menghargai hasil kerjamu. Meskipun memang tidak terbatas pada uang semata," tegas Nyonya Jelita.
Suhita setuju pada prinsip Nyonya Jelita yang terakhir. Dia memang tidak pernah mematok tarif atas jasa pengobatannya. Akan tetapi, pengakuan dan rasa terima kasih orang yang sembuh setelah dia tolong, merupakan hadiah yang tak ternilai oleh uang. Budi akan dibawa mati.
"Sudah, begini saja. Serahkan semuanya padaku. Biar aku yang akan urus suamiku. Tabib jangan khawatir," janji Nyonya Jelita.
"Oh, ya. Apa Nyonya bisa meminta pada saudagar sesuatu? Saya sangat inginkan hal itu," ujar Suhita dengan wajah memohon.
"Jangan sungkan, katakan saja. Aku pasti akan usahakan!" dengan yakin Nyonya Jelita menyanggupi.
"Benarkah?! Jika begitu, pasti kalian tidak berkeberatan untuk bawa saya menonton kompetisi final, bukan?" Suhita mengngkat sebelah alisnya.
Sementara, kedua alis Nyonya Jelita yang saling bertautan. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya. Bagaimana pun juga, mereka sama tahu jika status Suhita merupakan pelarian yang dicari oleh orang-orang Padepokan.
"Bagaimana, Nyonya. Bisa 'kan?" Suhita mengulang pertanyaannya.
"Baik. Aku sudah berjanji padamu. Kau pasti bisa menonton langsung kompetisi final esok hari."
Suhita bersorak gembira. Bagaimana pun, memang itu yang merupakan tujuannya hingga jauh-jauh datang ke Giling Wesi. Ada saudara kembarnya, juga ada Raka Jaya yang bertanding di kompetisi itu.
__ADS_1
Tidak peduli apa yang bakal terjadi nanti. Suhita juga punya kemampuan untuk menyelamatkan diri jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Ayahnya pasti tidak tinggal diam.