
Guntur menggelegar saling bersahutan, menuntun awan yang berarak semakin menebal. Sesekali, kilat bergerak membelah cakrawala, cahaya yang menyilaukan mata itu membuat darah berdesir. Sudah cukup lama cuaca menakutkan itu berlangsung, tapi nampaknya tetes air masih enggan menyiram bumi.
"Ibu, langit nampaknya akan kembali cerah. Tidak jadi turun hujan, baiknya kita terobos saja," Suhita mengajak ibunya untuk segera pulang. Gerimis halus itu, anggap saja kabut yang melintas. Tidak akan membuat baju jadi basah.
Puspita memandang berkeliling, andaipun di tunggu, belum tentu juga cuaca akan membaik. Puspita kemudian menoleh pada Nyi Gondo Arum yang berdiri di sebelahnya.
Nyi Gondo Arum mengangguk, "Non Hita ada benarnya, Nyonya. Kita bertahan di sini juga akan sama saja. Malah hanya akan membuat Tuan khawatir saja."
Puspita setuju. Lagi pula, perjalanan mereka tidak jauh lagi. Puspita hanya takut efek negatifnya jika mereka pergi hujan-hujanan. Apa lagi Suhita 'kan masih kecil. Tabib juga manusia, bisa juga sakit.
"Ah?!" ketiganya terkejut bukan main saat tiba-tiba saja muncul seseorang yang mendarat di depan jalan mereka.
Nyi Gondo Arum mengerutkan dahi, darahnya mendadak berhenti mengalir. Tidak ubahnya pula dengan Puspita. Selain Suhita Prameswari, mereka mengenali sosok wanita yang bergerak sangat cepat itu.
"Permisi, bibi. Apa ada yang bisa kami bantu?" Suhita menyapa dengan ramah.
Wanita itu berbalik badan, menatap ke arah mereka. Wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda persahabatan. Begitu dingin dan dipenuhi aura membunuh yang sangat kental.
"Kalian pulang saja lebih dulu. Aku akan bicara sebentar dengannya," ucap Puspita pada Nyi Gondo Arum.
"Nyonya, ini ... ah, saya harus bagaimana?" Nyi Gondo Arum tidak tahu harus bicara apa.
"Ibu, memangnya ada apa?" Suhita memandang ke arah ibunya, lalu kemudian ke arah wanita yang baru datang.
Harusnya Suhita juga ikut cemas, seperti Nyi Gondo Arum jika dia tahu wanita yang datang itu adalah istri pertama Mahesa. Ayu Sundari alias Dewi Api.
__ADS_1
Tatapan mata Dewi Api tajam menusuk saat memandangi Suhita dari ujung rambut hingga ujung kaki. Anak kecil inilah yang menjadi alasan mengapa Mahesa bertahan di sini. Ah, tidak. Anak kecil itu hanyalah kambing hitam semata. Pokok permasalahannya ialah ibunya. Karena ibunya maka Mahesa bertahan dan tidak pulang ke Padepokan Api Suci.
"Aku inginkan Puspita. Kalian baiknya cepat pergi," suara Dewi Api terdengar mengerikan, seperti auman kematian dari pintu neraka.
"Dewi Api, jika kau ingin bicara dengan Nyonya apa tidak lebih baik di rumah saja? Kau ..." Nyi Gondo Arum ingin terus bicara, tapi Puspita segera menghentikannya.
"Nek, biar aku yang selesaikan ini. Nenek bawa Suhita pulang. Tolong jaga dia, hingga ada ayahnya yang menggantikan."
Benar juga, Suhita punya ayah, Puspita punya suami. Orang itu mungkin bisa tengahi masalah ini. Nyi Gondo Arum terpaksa menuruti perintah majikannya. Sesampainya di rumah nanti, dia bisa minta untuk Mahesa selamatkan Puspita. Semoga tidak terlambat.
"Non Hita, kita pulang saja lebih dulu. Ibumu dan bibi adalah teman lama, mungkin ada cerita yang tidak bisa kita dengar."
Suhita memandang wajah ibunya. Puspita tersenyum dan mengangguk. Meyakinkan anaknya jika semuanya akan baik-baik saja.
"Kakak, apa kabar?" sapa Puspita dengan senyum.
"Kau memang sangat luar biasa. Berapa banyak kau pakai pupur dan gincu? Hingga mukamu begitu tebal seperti tembok. Tidak tahu malu, juga tidak pernah gunakan otak. Sekarang, apa kau masih berpikir jika semua akan baik-baik saja? Kau pikir siapa dirimu?" Dewi Api mengangkat sebelah alisnya. Dia salut pada Puspita yang terlihat masih bisa tenang.
"Kakak, aku tidak mengerti apa maksud dari ucapanmu? Maaf, jika aku telah menyinggung hatimu," Puspita membungkuk hormat.
"Fuuiiihhh! Aku bukan Kakakmu. Kau bukan siapa-siapa, jangan menganggap jika kita saling mengenal. Kau tahu, sesal terbesar dalam hidupku ialah membiarkan wanita murahan sepertimu tetap hidup," Dewi Api meludah. Dia berjalan mengitari Puspita.
"Dulu, aku pernah merasa hidupku sangat beruntung karena calon suamiku berani menebas leher bekas kekasihnya. Aku berpikir, setelah kami menikah maka tidak akan ada orang yang mengganggu rumah tangga kami. Lalu! Mengapa kau tiba-tiba muncul dan merampas semua yang aku miliki. Semuanya! Kau telah mengambil kebahagiaanku, dan sekarang kau benar-benar merebut suamiku. Beri aku satu alasan untuk tetap biarkan kau hidup. Harusnya sejak pertama kali kita bertemu, saat itu juga kau aku habisi. Kau ... sungguh manusia tidak tahu budi!"
Plaaakk!
__ADS_1
Satu tamparan begitu pedihnya mendarat di pipi Puspita. Kerasnya tamparan itu membuat Puspita kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah.
"Kakak, aku tidak pernah meminta suamimu untuk tinggal di tempatku. Aku sadar, siapa diriku. Akan tetapi, Kanda Elang ..."
"CUKUP! Tutup mulut busukmu itu. Mungkin, kau bisa bodohi suamiku. Tapi tidak akan mempan pada diriku. Jangan pura-pura baik, siluman rubah bulu emas. Kau memang perempuan busuk, hanya mengandalkan kemampuan lidah untuk perdaya suami orang. Atau jangan-jangan, anak itu bukan anak Mahesa. Penjahat lak*nat sepertimu, akan berganti pasangan setiap malam! Kau manfaatkan kedodohan cinta suamiku untuk menutupi aibmu!"
"HENTIKAAANN! Dewi Api. Kau boleh bicara apa pun tentang diriku. Tapi jangan hina anakku, dia sama sekali tidak bersalah."
Dewi Api tertawa lebar, kekesalan hatinya semakin menjadi menyaksikan aliran air mata yang mulai membasahi pipi Puspita. Sungguh, dia merasa jijik, "anak haram itu?! Apa peduliku. Jika saja suamiku tahu, dia pasti akan ceraikan kau sekarang juga. Wanita kotor sepertimu, mana pantas disandingkan dengan Elang Putih. Kau kejam, sangat kejam. Kau gunakan ketulusan cinta kekasihmu demi kepentingan pribadi. Dasar iblis!"
Bagaikan dicincang belati berkarat lalu disiram dengan air garam, dada Puspita terasa hancur lebur berantakan. Kata-kata yang Dewi Api ucapkan sungguh di luar batas. Sekuat apa pun Puspita menahan, rasa sakit itu semakin terasa menekan. Hatinya luluh lantak, berantakan.
Air mata kepedihan itu tidak bisa ditahan, mengalir sebagai gambaran kehancuran. Seumur hidup, belum pernah Puspita alami sakit sesakit ini. Tuduhan yang Dewi Api lontarkan berhasil membuatnya terjatuh ke dasar jurang paling dalam. Pilu.
Puspita bangkit dari posisi berlutut. Ditatapnya wajah Dewi Api, sungguh Puspita tidak menduga jika orang yang dulu dia kagumi kebaikan hatinya, sekarang menjadi seorang yang begitu kejam.
Mungkinkah karena rasa cemburu? Dewi Api tidak rela melihat kenyataan bahwa Mahesa masih begitu peduli pada Puspita yang sekarang sama sekali tidak bisa diandalkan.
Jika ingin menghabisi, bukankah akan lebih mudah untuk melakukannya? Cukup gunakan satu tangan, maka nyawa Puspita akan pergi meninggalkan jasad. Tidak harus bunuh Puspita secara perlahan dengan menghancurkan hatinya terlebih dahulu. Bagaikan belati berbisa yang digoreskan secara perlahan, menusuk sisi jiwa yang paling dalam.
Memangnya, semua ini adalah keinginan Puspita? Tidak. Siapa yang inginkan hidupnya dipermainkan oleh nasib. Berpisah dengan kekasih yang dicinta dan sangat mencintainya, lalu kemudian jalani kehidupan menyiksa, hingga berakhir menjadi istri kedua. Tidak seorang pun wanita inginkan penderitaan yang begitu besarnya.
Setelah tahu menderita, mengapa harus ditambah lagi dengan tuduhan yang hancurkan jiwa?!
Hidup tidak berguna, mati pun tiada artinya.
__ADS_1