Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Hasil Yang Didapat


__ADS_3

Sementara Suhita di bawa kabur oleh kereta kuda, pendekar paruh baya yang menyerang pun berusaha untuk melarikan diri dari pertarungan. Dia telah meningkat serangan guna menuntaskan perlawanan para musuhnya lebih cepat. Bila perlu sebelum pimpinan Aliansi Utara Selatan kembali datang.


Pria paruh baya itu bernama Kali Age, dia memang tokoh aliran netral. Akan tetapi tujuan kedatangannya tentu masih sama saja, yakni demi Tabib Dewa. Itu menempatkan dia memperoleh musuh dari segala pihak yang juga menginginkan Tabib Dewa. Paling utama yakni Aliansi Utara Selatan yang memang sekarang telah bersama dengan si Tabib Dewa.


Bruuukk !!! satu per satu Kali Age bisa merobohkan lawannya. Namun dia tidak cukup beruntung karena saat pendekar dari Aliansi Utara Selatan masih tersisa beberapa, Bulan Jingga telah lebih dulu muncul. Gadis berwajah polos itu mengelus kepala boneka di gendongannya berulang kali.


"Meskipun sedang terombang-ambing di tengah lautan, tapi percayalah seekor ular kobra tidak akan pernah kehilangan bisa-nya. Kakek tua, kau harus mengakui itu," desis Bulan Jingga sebelum membantu serangan.


"Anjing buduk! Anak ini sengaja menjebakku. Saat aku telah kerahkan hampir semua kemampuan, maka dia telah membacanya. Sekarang dia digunakan kekuatan itu untuk balas menyerang," umpat Kali Age dalam hati.


"Hahaha! Jangan kaget, pak tua. Mengapa kau terlihat begitu panik?!" tawa Bulan Jingga menggema, membuat bulu kuduk Kali Age hampir berdiri. Percuma juga dia mengumpat dan bicara dalam hati, karena gadis itu akan tahu semuanya bahkan rencana serangan berikutnya, dia miliki kemampuan untuk membaca.


Dengan kedatangan Bulan Jingga, semangat tempur anak buahnya pun kembali membara. Mereka mendapati Kali Age yang kerepotan karena kemampuan membaca pikiran yang dimiliki oleh Bulan Jingga. Bukan itu saja, Bulan Jingga pun mempunyai kepandaian untuk meniru jurus dan gerakan musuh. Kemampuannya meningkat berkali lipat setelah dia berhasil menyerap ilmu yang didapat dari Gerbang Hitam saat bersama Cahaya Langit beberapa tahun silam.


Bughh! Desshh!


Telapak tangan Bulan Jingga berhasil menjangkau dada Kali Age. Membuat tubuh pendekar paruh baya tersebut terdorong beberapa meter ke belakang.


"Kepa*rat! Kau menipuku. Tidak ada gerakan seperti itu dari semua jurus yang aku miliki!" umpat Kali Age.


Bulan Jingga malah tertawa mengejek, sebelum menjawab terlebih dahulu dia meludah ke tanah, "jurus yang begitu lemah. Penuh dengan segala kelemahan. Untuk apa aku menggunakannya. Apa sekarang kau tahu, bagaimana kekuatan asliku?!"

__ADS_1


Kali Age mendengkus kesal. Dia tahu itu. Bulan Jingga memang meniru jurus-jurus yang dia gunakan. Tapi semua itu hanya untuk mengimbangi permainan yang dia lakukan, selebihnya tinggal bagaimana pimpinan Aliansi Utara Selatan itu mengakali.


Dalam hati, Kali Age memaki dirinya sendiri yang telah terpancing oleh jebakan yang Bulan Jingga buat. Sebenarnya, dia telah siapkan satu jurus pamungkas yang sejak tadi belum digunakan. Dengan jurus itu, dia berharap bisa memberikan kejutan pada Aliansi Utara Selatan. Namun, apa mau dikata. Tidak dinyana Kali Age telah lebih dulu kecolongan. Sekarang dia telah alami luka dalam, gunakan seluruh kekuatan pastinya hanya akan mempercepat jalan kematiannya saja.


Wuuusss! Wuuusss!


Tidak ada ruang untuk Kali Age menyusun rencana. Berpikir dalam waktu yang cukup lama, hanya menjadikan dirinya semakin terdesak. Mata pedang yang tajam milik anak buah Bulan Jingga berlomba-lomba untuk melukai tubuhnya.


"Kepa*rat!" Kali Age melompat sampai bergulingan di atas tanah demi untuk selamatkan tubuhnya dari goresan luka. Mendapatkan celah untuk melarikan diri, Kali Age tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Dia segera merogoh beberapa senjata rahasia dari dalam sakunya.


"Matilah kalian!" dengan sekuat tenaga, Kali Age melepaskan senjata rahasia itu pada lawan-lawannya. Detik berikutnya, Kali Age segera melompat menuju dahan pohon untuk menyelinap dan kabur menyelamatkan diri.


DAAAARRR!!!


"Kau yang akan mati!" gelak tawa para pendekar Aliansi Utara Selatan terdengar.


"Uhuukkk ... uhuukkk ..." semburan darah segar keluar dari mulut Kali Age. Tubuh jatuh tertelentang, setelah sebelumnya satu pukulan keras menghantam tepat di dadanya, menghancurkan sebagian besar tulang dada hingga rusuk pendekar sepuh itu.


"Aji Panglebur Saketi," desis Kali Age lemah, suaranya hanya separuh. Separuhnya lagi ikut mengalir bersama darah yang tak kunjung berhenti.


Dari atas pohon, dalam tayangan lambat bisa dilihat sesosok tubuh turun dengan manis. Sosok tersebut tidak lain dia adalah Bulan Jingga, orang yang terlupakan oleh Kali Age. Kiranya, semua sudah menjadi taktik gadis cantik itu. Kali Age yang merasa nyawanya sangat terancam, berusaha untuk segera kabur dari sergapan para pendekar Aliansi yang terus memburunya. Dia tidak begitu memperhatikan keberadaan Bulan Jingga. Hingga dia lengah kalau lawan terkuatnya justru telah menunggu saat-saat Kali Age coba untuk lari. Hingga satu pukulan yang sangat keras menghantam tanpa mampu untuk dihindari.

__ADS_1


"Sekarang apa?! Kau tahu, jika Tabib Dewa adalah milikku. Jadi aku peringatkan untuk kau tidak ber-angan lebih tinggi. Sampaikan pada raja neraka, jangan coba untuk menambah anggota jika dengan alasan yang serupa," dengan ujung kaki, Bulan Jingga mengangkat dagu Kali Age agar mau menatap wajahnya. 


"Kau pasti akan membayarnya ... tidak akan ada ... manusia yang mampu kuasai manusia ... kau pasti menyesal ..." dengan terputus-putus Kali Age menyumpahi Bulan Jingga.


Tentu saja, ucapan pendekar sepuh yang tidak berdaya itu hanya menjadi bahan tertawaan. Setelah hampir melepaskan nyawa, baru bisa bicara seperti itu. Lalu ke mana saja tadinya? Bagaimana bisa dia datang dan terlibat masalah jika tidak untuk tujuan yang sama.


"Kalian urus mayat rekan-rekan yang tewas. Dan kau, pastikan pria tua tidak berguna ini mati dengan sulit. Beri dia rasa sakit," perintah Bulan Jingga.


"Baik, pimpinan!" serentak para pendekar Aliansi Utara Selatan itu menjawab dan membungkuk hormat. Mereka segera melakukan titah tanpa menunggu lagi.


Sekali lagi, Bulan Jingga menoleh dan melemparkan senyum sinis pada Kali Age yang nampak telah pasrah menanti kematian menghampiri. Tidak lama kemudian, Bulan Jingga melompat pergi untuk menyusul kereta kuda yang membawa Suhita.


"Kalian pulang saja lebih dulu, aku akan menyusul!" suara pria yang sedang menyiksa Kali Age.


Rekan-rekannya telah membakar seluruh jasad korban yang tewas dan bergegas untuk kembali ke markas.


"Hei, kau jangan menyalahkan aku, ya. Jika sampai ajalmu cepat tiba, bisa-bisa aku yang tertimpa masalah," ucap pendekar Aliansi Utara Selatan itu pada Kali Age.


Dengan sangat bersemangat, tanpa hirau akan rasa kemanusiaan, anak buah Bulan Jingga itu terus menyiksa Kali Age sesuai perintah sang pimpinan. Hingga napas Kali Age hampir sampai di kerongkongan.


Pada saat itulah, muncul cahaya api yang sangat menyilaukan!

__ADS_1


BAAARRRR !!!


__ADS_2