
Setitik air bening muncul di sudut mata Suhita. Hatinya begitu perih dan teriris mendengar segala tuduhan yang lontarkan pada ayahnya. Kata-kata yang amat kasat itu membuat hati Suhita tercabik-cabik hingga rata.
Sejauh yang Suhita tahu, mendengar segala penuturan cerita yang pernah ibunya ceritakan, Suhita merasa jika semua yang dikatakan oleh Bulan Jingga merupakan suatu fitnah yang sengaja dibangun untuk menghancurkan mereka. Terutama Suhita, Danur Cakra, dan Raka Jaya.
Kalau sampai terpengaruh, maka jiwa mereka pasti akan goyah. Siapa orangnya yang tidak sakit kala disebut sebagai seorang anak haram. Anak dari hasil hubungan gelap yang begitu dibenci oleh Tuhan. Anak yang sama sekali tidak pantas untuk tetap hidup di dunia, apa lagi berharap menjadi seorang pendekar yang dihormati orang. Sama sekali tidak pantas.
Di lain sisi, dengan segala cerita itu bukan tidak mungkin akan menghancurkan tali persaudaraan yang selama ini telah terikat oleh persahabatan antara Suhita dan Raka Jaya. Sebagai putra Dewi Api, istri sah Mahesa (seperti yang diketahui oleh dunia persilatan) tentunya Raka Jaya berhak menuduh jika Puspita Dewi merupakan orang paling berdosa, wanita yang telah merebut kasih sayang ayahnya dari tangan dia dan ibunya. Raka Jaya bisa membenci Puspita tanpa menyisakan sedikit pun ruang maaf di dalam hati. Tidak hanya Puspita, melainkan juga pada kedua anak-anaknya. Kemungkinan buruk itu, adalah yang amat diharapkan oleh Bulan Jingga dan kelompoknya. Dengan demikian, mereka bisa memecah belah keluarga, membiarkan anak-anak Mahesa memupuk dendam yang pada akhirnya saling berselisih paham dan menghabisi. Jadi tidak perlu repot-repot mereka mengayunkan tangan untuk bisa membuat semua jadi berantakan.
"Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Apa pun resikonya, Hita tidak ingin melukai ayah. Dan ibu ... dia bukanlah wanita seperti apa yang dikatakan oleh Bulan Jingga," Suhita menghapus air matanya. Dengan berusaha tegar, dia akan menapak jalan terjal di depan mata, apa pun resikonya Suhita tidak akan terjerumus oleh adu domba. Dia lebih sayang keluarganya, mempercayai ayah dan ibunya lebih dari semua.
Sementara kedua saudaranya masih terdiam, Suhita bangkit dan mengarahkan segenap kemampuan tenaga dalamnya guna menghantam dinding di hadapan mereka.
"Hita, sia-sia. Aku merasa kekuatannya berbeda dengan dinding lain. Mungkin kita harus menunggu ada orang yang masuk, baru kita akan bisa keluar," terdengar suara Raka Jaya.
Suhita menoleh, begitu juga dengan Danur Cakra. Mata mereka yang sama-sama memerah karena menahan segala luapan rasa, saling bertemu. Ada desir aneh di dalamnya, tapi dengan sekuat tenaga tiga bocah itu berusaha untuk menahan. Paling tidak, selama mereka belum bisa keluar dari penjara ilusi tersebut maka segala masalah pribadi harus disingkirkan. Selanjutnya, lihat saja bagaimana nanti.
"Kak Cakra, kemampuan tenaga dalammu lebih tinggi dariku. Bagaimana jika kita bergabung, mungkin akan sedikit menyerupai kemampuan ayah," ucap Suhita dengan senyum getir yang dipaksakan.
__ADS_1
"Tidak salah untuk dicoba. Jangan pikirkan siapa kita, hal terbaik adalah bisa keluar dari tempat terkutuk ini. Ayo kita lakukan," Raka Jaya menjawab, mendahului Danur Cakra.
Setelah bertukar pandang, ketiga bocah tersebut berusaha untuk bisa keluar. Mereka sadar jika posisi mereka tidak memungkinkan untuk mengedepankan ego. Sungguh, meskipun usia mereka masih bocah tapi pola pikir yang dimiliki telah menyerupai seorang pendekar besar. Sangat bijak sebagai seorang calon pendekar masa depan, karena mereka dipersiapkan untuk itu.
°°°
Kita tinggalkan usaha tiga saudara yang berjuang untuk bisa keluar dari sekapan. Tidak berbeda dengan usaha ayah mereka yang berusaha untuk menekan segala luapan amarah. Bulan Jingga beruntung, karena tahun berlalu telah cukup lama. Jika saja mereka bertemu Mahesa saat dia belum berstatus sebagai ayah, maka ceritanya akan berbeda. Bisa dipastikan jika puluhan bayangan naga telah berubah menjadi letupan besar di tempat itu.
Sebenarnya, tidak ada yang berubah dari Mahesa. Sejak dulu hingga sekarang dia tidak pernah mencemaskan bagaimana keselamatan dirinya. Mahesa bukan tipe orang yang takut kehilangan nyawa. Dia pernah kehilangan sekali, untuk apa takut akan kedua kali. Tapi saat ini, Mahesa merasa jika keselamatan anak-anaknya adalah hal yang perlu untuk diutamakan.
"Aku bisa membuat anak-anakmu dalam kesulitan. Jangan berpikir jika rasa takut menghantuiku. Elang Putih, harusnya kau sadar sedang berhadapan dengan siapa!" Bulan Jingga menunjuk ke arah Mahesa.
Mahesa tertawa, dia memandangi segenap para pendekar yang ada. Aura bertarung telah dilepaskan, "aku dan Puspita, kami bukanlah orang yang terlahir dari bongkahan batu. Kami memiliki masa lalu, masa kecil dan masa muda yang mungkin kalian tidak ketahui. Tapi ingatkah kalian, selain guru Belibis Putih siapa orang yang selalu bersamaku saat bernaung di bawah Panji Padepokan Rajawali?! Jangan pura-pura lupa, karena saat itu tidak seorang pun dari kalian yang berani mengangkat wajah."
Ya, terutama para pendekar senior yang hadir, mereka bisa merasakan perubahan besar terjadi pada diri Mahesa. Pendekar di hadapan mereka itu, muncul dan dikenal dari satu padepokan yang pernah berjaya. Dan kali ini, mereka telah merasakan jika sang pendekar telah kembali. Pendekar Elang Putih telah kembali.
"Sial! Bagaimana ini bisa terjadi?!" dalam hati Bulan Jingga merasa bingung. Harusnya semua pendekar yang datang bisa melupakan fakta yang Mahesa kemukakan. Pasti ada yang salah dari rencananya, Bulan Jingga sangat yakin.
__ADS_1
"Elang Putih, kau bisa abai pada keselamatanmu dan juga istri pertamamu. Tapi bagaimana dengan mereka?!" Bulan Jingga mengalihkan perhatian pada Suhita dan dua saudaranya.
"Cahaya Langit tidak akan pernah bisa kembali. Rubah Bulu Emas telah mati. Sekarang, lepaskan mereka dan kau berhak atas diriku," ucap Mahesa lemah. Perlahan, kekuatan tenaga dalamnya memudar sebelum sama sekali hilang. Ya, Mahesa menyerah.
"Pertukaran yang adil! Dan kau tahu, sebagai seorang kesatria kita tidak akan pernah ingkar janji," senyum kemenangan tersungging di bibir Bulan Jingga.
Setelah beberapa anak buahnya kembali, mereka tidak menemukan Puspita Dewi di tempatnya. Nampaknya Puspita telah diungsikan, entah kemana. Menangkap Mahesa, tentunya suatu hal yang sangat baik. Pendekar itu tidak akan pernah ingkar, terutama berkaitan dengan anak-anaknya.
"Lepaskan ketiga anakku, maka aku akan menjadi tahanan kalian," Mahesa menyerah.
Bulan Jingga melemparkan borgol sihir ke arah Mahesa, "Tuan pendekar, silahkan pakai itu dengan suka hati, maka barulah kau sepenuhnya menjadi tahanan kami."
"Kau ..." Dewi Api menunjuk dengan geram.
Jika borgol tersebut dipakaikan pada Mahesa, maka dengan kemampuan Mahesa yang sangat besar dengan mudah Mahesa akan menghancurkan borgol. Namun berbeda ceritanya jika Mahesa sendiri yang memakai, maka borgol sihir tersebut akan mengikat segenap tubuhnya dan Mahesa benar-benar menjadi tahanan.
Apa yang bisa Dewi Api lakukan? Mahesa pasti lebih memilih kebebasan anak-anaknya dan mengabaikan dirinya sendiri.
__ADS_1