Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Rencana Busuk


__ADS_3

Lima hari telah berlalu, kabar mengenai Tabib kecil yang berangkat mencari sumberdaya belum juga ada titik terang. Sepucuk surat yang ditinggalkan oleh Suhita, hanya itu yang tersisa. Sementara siapa si bocah pun, tidak seorang yang berani jamin kebenaran asal-usulnya. Kecuali mereka yang merupakan pendekar dari Padepokan Api Suci. Namun sekarang, Raka Jaya dan seluruh pengawalnya telah meninggalkan Giling Wesi.


Suasana di kediaman pimpinan Padepokan Giling Wesi terlihat cukup sepi. Pendekar Tongkat Emas masih berada di sana di temani dua orang pengawal dan juga Tabib Asih Cangkar Kemuning beserta para pelayannya.


Dalam penanganan Tabib Asih, Pendekar Tongkat Emas telah banyak mengalami kemajuan kesembuhan. Hanya saja, sampai detik itu sang tabib belum mendapatkan jawaban dari usaha yang terus dia lakukan guna menghilangkan sumber penyakit yang menyerang Pendekar Tongkat Emas.


Jaka Pragola diikuti Ambar Wati memasuki ruangan. Segera Pendekar Tongkat Emas bangkit dan membungkuk memberi hormat. 


"Paman guru, bagaimana keadaan Anda hari ini?" sapa Jaka Pragola dengan hangat. Selama sakit, Jaka Pragola memperlakukan tamunya itu dengan sangat baik.


"Aku merasa sangat baik. Terima kasih, angger begitu perhatian pada orang tua yang lemah ini ...."


Jaka Pragola hanya tersenyum, dia terlihat tidak memikirkan apa yang baru saja diucapkan oleh Pendekar Tongkat Emas.


Sementara itu, Ambar Wati yang langsung menemui Tabib Asih menanyakan perihal ketersediaan sumberdaya yang dibutuhkan. Berapa pun harganya, tentu demi kesembuhan semua tidak berarti. Uang bisa dicari lagi kala sehat kelak.


"Nyonya pimpinan, jangan khawatir. Semuanya baik-baik saja, tersedia dengan sempurna. Saya akan berbuat semampu yang saya bisa lakukan," janji Tabib Asih.

__ADS_1


"Huuuhhh ... syukurlah," Ambar Wati menghela napas lega, "oh, ya. Bagaimana dengan kabar Tabib kecil yang berjanji untuk mencari sumberdaya. Apa ada di antara kalian yang mendengar kabar?"


Asisten Tabib Asih saling bertukar pandang. Tidak ada seorang pun yang bisa menjawab pertanyaan Ambar Wati. Mereka tidak mengenali siapa tabib kecil itu, bahkan bertemu pun baru pertama kalinya.


"Maaf, Nyonya pimpinan. Apa tidak salah kita berharap begitu banyak padanya?! Mohon ampuni saya. Tapi izinkan saya untuk menyelesaikan bicara," setelah mendapatkan persetujuan dengan anggukan kepala, asisten itu kembali melanjutkan kalimatnya.


"Dia pergi tanpa bertemu dengan seorang pun dari kami, bahkan dia tidak meminta izin secara langsung pada Pimpinan Padepokan. Apatah lagi bekal serta kebutuhan selama perjalanan. Bukannya saya tidak yakin, hanya saja saya merasakan adanya keraguan di dalam hati ini," dengan sudut pandang yang rasional menurutnya, asisten Tabib Asih itu menduga jika Suhita menghadapi kesulitan besar. Karena semua juga tahu, apa resiko yang bakal ditempuh jika berburu sumberdaya yang langka.


Jaka Pragola manggut-manggut, sama sekali dia tidak menyalahkan pendapat asisten itu. Sebagai sesama ahli obat, tentunya ada juga sedikit rasa iri yang menyelimuti hati kala mendapati seorang yang lebih mampu dan begitu dipercaya, sementara tidak adanya bukti kuat jika memang bocah kecil itu pantas untuk dapatkan kepercayaan seperti yang diberikan.


"Dia meminta waktu satu pekan. Aku harap, paman guru mau sedikit bersabar dan biarkan aku berusaha untuk membantu," ucap Jaka Pragola.


Tatapan asisten tabib Asih terlihat kecewa. Dia merasa jika gurunya adalah orang yang lebih tepat untuk bisa diandalkan. Meskipun kenyataannya sejauh ini mereka belum seratus persen berhasil, tapi setidaknya perjuangan dan pengorbanan mereka jauh lebih besar di bandingkan dengan sepucuk surat harapan.


"Sialan! Siapa sebenarnya tabib kecil itu. Pandai sekali dia bermain sandiwara dan menjadikan dirinya seolah malaikat penyembuh. Yang PASTI bisa atasi penyakit ini. Aku berharap, dia tidak bisa kembali dalam waktu satu pekan. Biar saja, segala jasa ini kembali pada guruku," gumam asisten itu dalam hati. Dia tidak sabar dalam menanti hari berganti hingga bisa membuktikan bahwa surat yang Suhita tulis hanyalah sampah yang pantas untuk dibakar.


"Atau, jikalau pun dia berhasil kembali. Mungkinkah dia tidak mempermalukan diri sendiri? Hahah ... atau justru itu dia tidak berani datang, karena dia telah gagal," pikiran sang astiten mengembara. Dia telah melihat bagaimana Suhita gunakan kekuatan tenaga dalam saat menarik paksa racun yang mengendap di dalam darah Pendekar Tongkat Emas. Tapi itu saja tidak cukup. Pemain sirkus dan pesulap handal, akan mampu melakukan dengan sempurna.

__ADS_1


°°°


"Guru, izinkan saya untuk pergi mencari informasi mengenai gadis kecil itu. Mohon maaf, guru ... saya butuhkan sedikit biaya untuk perlancar urusan ini."


Malam hari, saat semua orang telah tertidur. Asisten Tabib Asih Cangkar Kemuning membisikkan sesuatu di telinga gurunya.


"Kartanta ... apa kau sudah paham atas apa yang baru saja kau katakan?! Jangan bertindak bodoh dan merugikan diri sendiri. Untuk apa kau hamburkan uang untuk hal percuma?" Tabib Asih mengerutkan keningnya, tidak habis pikir atas saran asistennya untuk tetap halangi jalan Suhita.


"Guru, jika kita berhasil maka apa yang didapat akan lebih dari itu. Bahkan berpuluh kali lipat. Belum lagi, nama besar guru akan semakin harum di seantero negeri," Kartanta terus membujuk dan memberikan pemikiran-pemikiran nyeleneh yang merupakan hiasan busuk dari kebathilan.


Cukup lama keduanya bicara, akhirnya Tabib Asih menyerah. Dengan janji tanggung jawab sepenuhnya di tangan Kartanta, sekantong kecil uang emas diberikan oleh Tabib Asih. Entah untuk kebutuhan apa, yang jelas katanya demi kebaikan bersama.


"Lakukan dengan rapi, dan awas jika namaku sampai kau bawa-bawa!" Tabib Asih mengacungkan jari telunjuknya di depan hidung Kartanta.


"Beres, guru. Semuanya tinggal terima bersih. Tabib kecil tidak berguna itu, tidak pantas mendiami hati seorang pimpinan besar seperti Jaka Pragola."


Tabib Asih mengibaskan tangannya, memerintahkan Kartanta untuk segera menyingkir dari hadapannya. Dia sebenarnya tidak setuju pada langkah bodoh yang diambil oleh asistennya itu. Namun telah banyak kejadian yang melibatkan Kartanta, termasuk dengan karir dan nama besar Tabib Asih hingga sejauh ini. Terkadang, baik saja tidak cukup untuk bisa menjadi besar. Diperlukan jalan lain yang bisa mengantarkan ke tempat yang semestinya.

__ADS_1


Dengan bermodalkan banyak, kepeng uang emas yang diberikan oleh gurunya, malam itu juga Kartanta menunggangi kudanya keluar dari Padepokan Giling Wesi. Bahkan Tabib Asih Cangkar Kemuning yang merupakan gurunya pun, tidak tahu ke mana dan apa yang bakal dilakukan oleh Kartanta. Asisten tabib yang miliki segudang mimpi dan cita-cita. Hanya saja, jalan yang dia tempuh tidak seperti tabib pada umumnya. Mungkin, dia memiliki bakat di bidang lain. Kependekaran misalnya, dalam hal singkir menyingkir atau membunuh tanpa menyentuh.


__ADS_2