Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Saudara Kembar


__ADS_3

Danur Cakra melepaskan pelukan Suhita dari tubuhnya. Dia menoleh ke arah Arya Winangun dan dua lainnya. Kemudian tersenyum misterius. Satu arti yang tersirat, Suhita bisa menduganya.


"Kakak, Hita yakin kau tidak sedang terburu-buru 'kan?! Ayo duduk lagi. Kalian juga, kemari!" Suhita melambaikan tangan pada tiga orang rekannya yang masih bengong.


"Kau miliki rekan yang luar biasa, aku sangat terkesan!" ucap Danur Cakra singkat.


"Tentu saja. Harusnya Kakak menyadari sesuatu, yakni apa tindakan yang akan aku ambil kala mereka dianiaya," jawab Suhita.


Ya, dalam hati Suhita masih sangat kesal pada sang kakak. Hita sangat yakin jika sosok yang menyerang mereka di danau adalah Danur Cakra. Makanya sejak awal dia tiba di kedai, Suhita terus coba mencari keberadaan saudara kembarnya tersebut. Dan sekarang, semuanya sudah terbukti. Memang Danur Cakra - lah orangnya. Di tepi danau tadi, Danur Cakra hampir saja membuat ketiga pembantunya celaka. Untuk apa, coba? Terkadang, Hita sendiri bingung bagaimana cara terbaik untuk hadapi sang kakak.


"Hita ..." panggil Kencana Sari lirih.


"Ayo, kalian cepatlah duduk. Kita pesan makanan yang paling enak," ucap Suhita.


"Kami berdua sudah saling mengenal, jadi tidak perlu sungkan," Danur Cakra kembali melepas senyuman misterius pada para pembantu Suhita.


"Jangan dengarkan dia. Atau anggap saja kalian tidak melihat dan tidak bersama siapa-siapa," potong Suhita.


Arya Winangun dan dua lainnya tersenyum diiringi anggukan kecil. Mereka segera mengambil posisi mengelilingi meja. Menunggu pesanan datang.


Beberapa dari pengunjung kedai yang nampaknya berasal dari pendekar aliran putih terlihat menunggu kesempatan untuk bisa menyapa dan berbicara dengan Tabib Hita. Sikap mereka sangat sopan, bahkan rela menunggu sekian lama hingga Suhita selesai makan.


Saat Suhita berjalan meninggalkan kedai, barulah salah seorang dari pendekar tersebut mendekat. Dengan ragu-ragu dia menyapa dan bertanya mengenai kebenaran jika Suhita merupakan seorang tabib.


"Maaf ... maafkan atas ketidak tahuan saya. Akan tetapi, sungguh saya berharap jika ini merupakan takdir Tuhan," pendekar itu membungkuk hormat.


Suhita tersenyum kemudian mengangguk. Dia membenarkan, memang dia seorang Tabib. Mengenai berita yang tersebar, rasanya hanyalah ungkapan mereka yang terlalu membesar-besarkan. Suhita hanya bisa berusaha membantu, sementara kesembuhan sepenuhnya berdasarkan izin Sang Pencipta.


Mengikuti langkah Suhita, sekarang di belakangnya bersama pula seorang pendekar tampan. Yang katanya 'mirip' dengan Tabib Titisan Dewa. Danur Cakra.


"Kak Cakra, Kakak yakin mau ikut masuk ke dalam?" Suhita mengangkat sebelah alisnya, meyakinkan.


Danur Cakra hanya mengangguk, tanpa kata. Dia ikut masuk, menemani Suhita memeriksa keadaan pasien.


Diketahui, sosok yang sakit bukanlah orang biasa. Dia merupakan seorang pendekar aliran putih yang menjadi pemimpin dari empat puluh orang pendekar lainnya. Mereka berasal dari kelompok Merpati Putih.


Singkat cerita, pimpinan Merpati Putih yang bernama Ki Tirta terlibat pertarungan dengan musuh bebuyutannya. Sayangnya, kali ini tidak seperti saat dahulu. Dimana Ki Tirta yang menderita kekalahan, bahkan nyaris kehilangan nyawa.


"Nona Tabib, apakah luka pimpinan masih bisa disembuhkan?!" tanya seorang pendekar dengan mimik muka penuh kecemasan.


"Saya akan berusaha, mari kita sama-sama mendo'akan supaya Ki Tirta bisa sembuh seperti sedia kala," jawab Suhita menenangkan.


Sementara Suhita dan para pelayannya meracik obat, Danur Cakra memilih untuk menunggu di beranda. Pemuda berwajah dingin itu duduk menghadap pelataran. Satu persatu orang yang melintas, tak luput dari perhatiannya.


Jika harus bicara jujur, terus terang saja, Danur Cakra tidak terbiasa dengan kehidupan seperti ini. Namun rasa rindunya pada Suhita yang membuat Danur Cakra terpaksa bertahan. Setelah satu tahun lebih tidak berjumpa, bahkan mereka belum sempat bicara banyak masa harus kembali berpisah.


"Tuan pendekar, maaf ..." satu sapaan menyadarkan Cakra dari lamunan.


"Ya, ada apa?" Danur Cakra menoleh, Kencana Sari telah berdiri di belakangnya lalu dipersilahkan untuk duduk.

__ADS_1


"Tabib meminta untuk Tuan sabar menunggu. Tidak lama lagi dia akan selesai. Selebihnya, bisa kami yang akan melanjutkan," ucap Kencana Sari. Sebetulnya, dalam hati Kencana Sari ingin bertanya lebih banyak. Tapi melihat sikap Danur Cakra yang begitu kaku dan dingin, membuat Kencana Sari mengurungkan niatnya.


°°°


"Nampaknya, kau akan mendapatkan masalah besar. Bukankah kau sudah tahu perihal luka dalam yang Ki Tirta derita?" tanya Danur Cakra.


Bersama Suhita, malam itu keduanya sedang duduk di tepi kolam sambil menikmati suasana malam yang sangat cerah.


Menilik dari luka dalam yang dialami oleh Ki Tirta, sudah jelas kalau Kelompok Merpati Putih sedang terlibat konflik dengan salah satu kelompok berbahaya yang berasal dari pendekar aliran sesat. Lipan Utara.


"Sebagai seorang tabib, Hita tidak bisa menolak ketika ada orang yang membutuhkan pertolongan. Layaknya dalam dunia kependekaran, begitu pula dunia para tabib. Setiap tabib itu sama, memiliki sumpah dan aturan tersendiri, yang tidak bisa dilanggar. Mohon untuk Kakak mengerti."


Danur Cakra menghela napas, dia tidak menjawab. Hanya memandangi wajah adiknya dengan dalam. Entah apa yang ada dalam pikirannya.


"Kakak ... jangan membuatku takut," Suhita mencubit pundak Danur Cakra. Dipandangi dengan tatapan iba, tentu bukanlah hal yang baik.


"Ada hal yang perlu kau ketahui. Dan itu pula sebabnya aku perlu bertemu denganmu," selesai bicara Danur Cakra menarik pakaian yang dia kenakan, memperlihatkan dada bagian kanannya.


"Ah?!" Suhita terbelalak. Sama sekali tidak dia duga jika sebenarnya Danur Cakra sedang terluka dalam. Bekas pukulan itu?


"Nanti pasti akan ku ceritakan. Yang perlu ku ketahui, apa kau bisa sembuhkan lukaku dalam waktu kurang dari satu pekan?" tanya Danur Cakra lagi.


Suhita menyentuh bagian yang memar menghitam bekas luka pukulan di dada Danur Cakra. Coba mendeteksi seberapa parahnya kondisi Danur Cakra.


"Kak, kondisimu sangat tidak prima. Harusnya kau tidak gunakan kekuatan tenaga dalammu, atau keadaan akan semakin buruk. Mengapa Kakak baru katakan sekarang?" Wajah Suhita berubah cemas, ingin rasanya dia memaki. Tidak seharusnya Danur Cakra berpura-pura kuat yang justru merugikan dirinya sendiri.


"Kembali ke penginapan. Kau harus segera diobati. Ayo, cepat!" dengan paksa, Suhita menyeret Danur Cakra kembali ke penginapan.


Tidak lama kemudian, keduanya sudah berada di dalam kamar penginapan. Suhita masih mencengkeram lengan Danur Cakra. Anak dari Mahesa dan Puspita itu memang unik. Meskipun mereka sekarang sudah sama-sama tumbuh dewasa, tapi bila sedang bersama maka sikap kekanak-kanakan masih menyelimuti. Mungkin itu dikarenakan mereka terpisah sejak masih kecil. Danur Cakra dibesarkan oleh sang kakek (Raditya alias Pendekar Naga Suci), sementara hanya Suhita yang tinggal bersama ayah dan ibu. Untuk bisa bertemu, sangat jarang sekali. Bahkan hingga sekarang pun mereka masih kerap terpisah. Sekali bertemu, mereka coba memunculkan keakraban layaknya dua bocah kecil.


"Buka pakaianmu! Ayo, cepat!" perintah Suhita.


Danur Cakra meronta, melepaskan dirinya dari cengkeraman tangan Suhita. Sebagai seorang pendekar ternama, rasanya hanya Suhita seorang yang berani perlakukan dia demikian. Decak kesal terdengar lemah dari sudut bibir Danur Cakra.


Danur Cakra berbaring di ranjang dengan bertelan*jang dada. Dia hanya mengenakan celana pendek untuk menutupi bagian vitalnya. Pemandangan tersebut tentu sangat menggangu konsentrasi, terlebih untuk seorang gadis normal layaknya Suhita. Namun, bagaimanapun juga Suhita sepenuhnya sadar jika orang yang berbaring di depannya adalah saudara satu ayah dan satu ibu. Hal itu, yang membuat gemuruh dalam hati Suhita seketika reda layaknya debu tersiram hujan.


Danur Cakra menatap wajah Suhita dengan dalam. Dipandanginya wajah sang adik yang sedang serius bekerja. Hampir Danur Cakra tidak percaya kalau wajah itu merupakan saudara kembarnya. Terasa waktu yang mereka lewati begitu singkat. Cenderung tidak pernah miliki waktu bersama. Sungguh, Danur Cakra merindukan hal seperti sekarang.


"Kakak, maaf. Hita terpaksa harus membedah luka memar ini. Darah di dalamnya harus segera dikeluarkan," ucap Suhita setelah selesai mengurut beberapa titik saraf yang terimbas pukulan.


"Kakak, kau kenapa?! Mengapa memandangiku seperti itu? Apa sekarang kau mulai sadar jika aku ini sangat cantik?" Suhita mengangkat kedua alisnya, menggoda Danur Cakra yang sejak tadi diam membisu.


"Kau pikir, aku menikmati?! Aku menderita!" Danur Cakra menyeringai menahan sakit.


Suhita tertawa kecil, dia kemudian melanjutkan proses pengobatan. Dengan ujung pisau yang sangat tajam, secara hati-hati Suhita mengeluarkan gumpalan-gumpalan kecil darah yang mengering dari dalam tubuh Danur Cakra. Setelah seluruh darah selesai dibersihkan. Suhita memberikan banyak ramuan herbal untuk bisa segera memulihkan saraf yang rusak. Ini tidak main-main.


Keringat menetes di dahi Suhita, tapi gadis itu tidak hirau. Dia terus menyelesaikan tugasnya hingga luka Danur Cakra selesai di perban. Setelah Suhita melepas totokan yang difungsikan sebagai penenang, Danur Cakra barulah merasakan rasa sakit yang lebih besar.


Sekuat tenaga, Danur Cakra menahan agar mulutnya tidak mengeluarkan teriakan. Wajahnya sangat pucat, dengan keringat dingin bercucuran.

__ADS_1


"Kakak akan segera sembuh, percayalah ..." Suhita menggenggam erat tangan Kakaknya, menyemangati. Meskipun ia tahu, jika Danur Cakra bukanlah sosok yang lemah.


Suhita baru saja selesai membersihkan seluruh peralatan yang dia gunakan. Suara daun pintu yang terbuka, tatkala Suhita sedang merapikan pakaian Danur Cakra.


Tiga orang pelayan Suhita menghentikan langkah mereka, semuanya tertegun menyaksikan Suhita dan Danur Cakra sedang berada di satu tempat, di atas ranjang. Ya, karena memang mereka tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Hanya bisa saling bertukar pandang.


"Ma-maaf ... tapi Hita, kami mencarimu ke mana-mana. Tadi ... tadi seorang utusan dari Kelompok Merpati Putih datang ke sini. Ada masalah ..." dengan hati-hati Kencana Sari buka suara.


"Harusnya, hal seperti ini tidak perlu terjadi. Tidak wajar jika tokoh persilatan membuat masalah dengan Tabib. Aku harus meluruskan semuanya," Suhita menghembuskan napas panjang.


"Kakak, kau tetaplah di sini. Aku tidak akan lama," ucap Suhita seraya berpamitan pada Danur Cakra. Suhita akan kembali ke penginapan kelompok merpati putih. Syukur-syukur dia bisa bertemu dengan kelompok lawan hingga bisa selesaikan akar permasalahannya.


Danur Cakra melirik ke arah Suhita, memandangi punggung sang adik menghilang di balik daun pintu. Kalau saja dia tidak sedang terluka parah pasti Danur Cakra telah bertindak. Cakra tahu bahwa kekuatan tenaga dalam yang Suhita miliki sangatlah tinggi, akan tetapi untuk terlibat masalah dengan kelompok Lipan Utara, bukanlah hal yang menarik.


Danur Cakra berjalan hilir-mudik. Sementara, rasa sakit di dada kanannya masih terasa sangat mengganggu. Untuk penyembuhan yang maksimal, Danur Cakra tidak diperkenankan menggunakan banyak tenaga dalam sebelum lukanya benar-benar sembuh atau minimal sampai rasa sakit tak lagi dirasakan saat mengerahkan tenaga dalam.


"Sialan! Tidak disangka ternyata bede*bah itu membuat aku terseret masalah hingga sejauh ini. Kurang ajar!" Danur Cakra mengepal keras. Matanya menatap nanar, dengan api kebencian yang menyala.


°°°


Setiap benih kebaikan, pasti kelak akan berbuah manis. Namun dalam prosesnya, terlalu banyak rasa pahit yang lebih dulu dirasakan. Pengkhianatan merupakan satu racun yang sangat tangkas, membuat benih baik gagal untuk tumbuh.


Dengan tatapan mata yang tajam, Danur Cakra melangkah memasuki pelataran sebuah candi. Kedatangannya disambut oleh bau tidak sedap dari bau amis darah manusia. Suasana yang tidak ramah membuat hati Danur Cakra bagaikan terlempar dari kehidupan nyata. Miris dan menyakitkan.


"Aku sudah datang, maka keluarlah!" ucap Danur Cakra dengan suara yang dilapisi tenaga dalam tinggi, menciptakan dengungan yang terpantul oleh dinding candi.


PLOK! PLOK! PLOK!!! suara tepuk tangan terdengar, seiring munculnya tiga sosok tubuh.


"Kau lebih cepat dari yang kami perkirakan, sungguh aku terkesan!" dalam sela tawa, seorang kakek berkepala plontos bicara.


"Anta Sena, sangat tidak pantas kau menyandang gelar tetua adat, tindakan yang kau lakukan sama sekali tidak berprikemanusiaan! Aku datang untuk menegakkan keadilan!" Danur Cakra menunjuk lurus wajah Anta Sena.


"Hahaha! Ada angin, ada gerakan. Ada hujan, ada kehidupan. Sebab dan akibat akan datang bersandingan dengan sendirinya."


"Dan itu akan berlaku pada kalian, sekarang!" selesai berucap, Danur Cakra memusatkan tenaga dalam pada kedua telapak tangannya, bersiap untuk menyerang tiga pendekar senior di hadapannya.


Candi Karusian yang menjadi saksi bisu pembantaian besar-besaran yang baru saja terjadi. Adanya dua kelompok aliran putih yang bertikai, hingga akhirnya harus darah menjadi penyiram bumi.


Danur Cakra Prabaska memang bukanlah bagian dari salah satu kubu yang bertikai. Akan tetapi, secara kebetulan dia mengenal salah seorang anggota kelompok tersebut hingga sedikit banyaknya Danur Cakra tahu apa yang menjadi akar permasalah.


Tiga tokoh senior yang berdiri di hadapan Danur Cakra dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas kejadian ini. Anta Sena, Beru Nunggal, dan Si Rambut Merah. Dan nyatanya sekarang mereka berada di tengah-tengah kekacauan.


~~


Sehari sebelumnya, Danur Cakra yang sedang menikmati hidup, tengah bersantai di sebuah penginapan. Hari itu Cakra ingin menghabiskan waktu dengan berada di atas tempat tidur. Tidak ada rencana, tidak akan ke mana-mana. Sesekali dia menjadi raja untuk dirinya sendiri.


Namun suasana yang tenang harus berubah. Danur Cakra tidak bisa lebih berlama-lama tidur karena atap penginapan yang dia sewa mendadak jebol. Bukan disebabkan faktor alam, melainkan kesengajaan dari tangan manusia.


Danur Cakra berdecak kesal, dengan sekali lompat dia telah berada di luar penginapan. Di sana Cakra mendapati ada beberapa orang yang bertarung hingga tanpa sengaja telah membuat atap penginapan jebol. Dan tentu saja, merekalah yang harus bertanggung jawab karena telah berani mengganggu waktu bersantai Danur Cakra. Harusnya mereka sadar, betapa pun indahnya warna dan corak, akan sangat berbahaya untuk disentuh karena itu adalah ekor harimau.

__ADS_1


__ADS_2