Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Padepokan Lembah Wilis


__ADS_3

Siulan dari pohon ke pohon terdengar nyaring bersahutan. Bahasa isyarat yang menyerupai suara burung menyampaikan pesan hingga ke tujuan.


"Gob*lok! Dasar tidak berguna! Begitu saja tidak becus!" caci maki pimpinan Klan Macan Api tak terbendung.


"Ketua, Ki Santana sudah tewas. Hanya saja ada pengganggu hingga si kembar tidak sempat melenyapkan seluruh barang bukti."


"Ciiiihhhh !!! banyak bacot! Kirimkan bantuan seperti yang mereka mau, aku tidak ingin hanya karena sebutir pasir menghancurkan semuanya. CEPAATT!!!!"


Tanpa banyak ba-bi-bu, secepatnya mereka bergegas. Bergerak seperti angin, menghilang dalam udara. Semboyan mereka menunjukkan jika Klan Macan Api merupakan pembunuh tanpa jejak. Sejauh ini, mereka tidak pernah mengenal namanya kegagalan.


Sementara menunggu bantuan datang, Purwanda dan Purwandi telah lebih menuju Padepokan Lembah Wilis. Mereka akan mengamati keadaan sekaligus mencari tahu siapa sebenarnya empat orang Pendekar yang datang ke gubuk Ki Santana.


"Sepertinya anjing-anjing peliharaan Jagakarsa itu tidak tahu apa-apa. Seolah tidak ada apa pun di sini," ucap Purwandi pelan.


"Apa tidak lebih baik kita urus saja empat orang pendekar tadi? Aku yakin saat ini mereka baru tiba di balik bukit itu," usul Purwandi kemudian.


Purwanda menghela napas, dia nampak mempertimbangkan dengan matang. Takutnya menentukan keputusan dengan gegabah hanya akan semakin mempersulit keadaan. Bisa dirasakan jika pancaran auranya sangat kuat, menandakan kalau mereka bukanlah pendekar sembarangan.


"Jauh lebih baik kita habisi Jagakarsa sebelum mereka datang. Dengan demikian, mereka akan kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Sementara mereka coba mengaitkan rangkain pembunuhan, maka akan ada kesempatan untuk kita cari kambing hitam."


"Hahahaha !!! Aku sangat setuju. Atau bila perlu kita fitnah saja mereka sekalian!" tawa penuh kemenangan menggelar dari mulut Purwandi.


Purwanda dan Purwandi segera bergerak, mempersiapkan serangan mendadak ke Padepokan Lembah Wilis. Sasaran mereka ialah pimpinan padepokannya, Ki Jagakarsa.


~~


"SERANGAN !!! SERANGAAANNN !!!" Diiringi suara kentongan kayu yang ditabuh, hingar-bingar teriakan murid padepokan gempar sering beberapa sosok tubuh yang rubuh ke bumi.


Murid utama padepokan segera turun membantu pertahanan. Tidak lama kemudian, orang yang ditunggu pun muncul. Jagakarsa datang dengan pedang pendek di tangan.


"Siapa kalian?! Mengapa tiba-tiba menyerang kami?!" teriak Jagakarsa.


"Hahaha! Hanya ada belasan murid dengan kemampuan lemah layaknya cacing tanah. Apa pantas tempat ini disebut sebagai padepokan?! Ha-ha-ha ... memalukan!" dengan nada mengejek merendahkan, Purwandi menginjak kepala salah seorang murid padepokan.


"Kami tidak pernah membuat masalah, jika kiranya kau ada tersinggung bukankah lebih baik dibicarakan secara damai?"


"HAHAHA! Kami datang untuk mengambil nyawamu, Jagakarsa! Sekarang bersiaplah!" tanpa basa-basi lagi, Purwandi menunjukan wajah Jagakarsa dengan pedang di tangannya.


"Untuk menye*mbelih seekor kelinci, rasanya tidak memerlukan golok yang besar. Guru, serahkan saja urusan ini pada kami," ucap murid utama Jagakarsa.


"Mereka datang mencariku, masalah di antara kami sebaiknya kalian jangan ikut campur. Sekarang mundurlah kalian!" ucap Jagakarsa pada murid-muridnya.


Pendekar kembar tersenyum sinis, begitu mudahnya Jagakarsa terpancing emosi. Terkadang, para pendekar aliran putih memang lebih bodoh dari pada para penjahat. Merupakan satu pantangan besar bagi mereka jika direndahkan harga dirinya. Sebuah nama lebih berarti bahkan jika dibandingkan dengan nyawa mereka sendiri. Bodoh dan sangat picik.


"Apa kau sudah tuliskan salam untuk raja neraka? Hahaha!!!" tawa menggelegar terdengar mengguncang pelataran, sebelum kemudian Pendekar Kembar menyerang Jagakarsa secara bersamaan.


Pertarungan diawali dengan permainan pedang. Jagakarsa memainkan pedang pendek di tangannya dengan jurus yang sangat indah. Serangkaian serangan berbahaya yang dilancarkan oleh pendekar kembar bisa dihalau dengan baik. Pertahanan Jagakarsa belum bisa ditembus.


Pada jurus-jurus selanjutnya, pola serangan Purwanda dan Purwandi berubah total. Kecepatan, bobot pukulan bahkan gerakan demi gerakan semakin sukar ditebak. Pedang keduanya bergerak tak beraturan penuh dengan tipuan. Pada titik ini, Jagakarsa menjadi keteteran. Hingga pada akhirnya ...


Crasss! Ujung pedang Purwanda berhasil menggores perut Jagakarsa, mencabik baju yang dikenakan hingga menciptakan garis halus yang perlahan berubah warna menjadi merah.


"Guru !!!" teriak murid-murid Padepokan Lembah Wilis serentak. Mata mereka terbelalak lebar.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja!" Jagakarsa menenangkan hati murid-muridnya.


Tanpa bisa ditahan, serentak murid-murid padepokan mengarahkan senjata mereka pada Purwanda dan Purwandi. Berlari mengepung tanpa memberi celah pendekar kembar untuk melarikan diri.


Mendadak Purwanda menyarangkan pedangnya, berdiri tegak tanpa lakukan apa pun. Purwandi pun kemudian mengikuti. Keduanya memandang berkeliling, melepas senyum penuh misteri. Membuat tanda tanya besar menggelayut dalam benak Jagakarsa dan murid-muridnya. Rencana busuk apa yang sedang mereka rencanakan? Tanpa aba-aba mereka meningkatkan kewaspadaan pada level paling tinggi.


Belum juga muncul kesimpulan, mereka tidak lagi perlu menerka karena Pendekar Kembar telah mewujudkannya. Keduanya bergerak tak terduga, saling bertukar posisi lalu kemudian melakukan salto di udara. Bersamaan dengan gerakan sirkus yang dilakukan, mendadak muncul butiran-butiran halus di udara, melayang cepat bersama hembusan angin.


"Awas, racun !!!" teriak Jagakarsa seraya menutup hidung.


°°°


"Aneh, mengapa tidak ada seorang pun penjaga di pintu masuk?"


Danur Cakra dan Suhita telah tiba di pintu masuk Padepokan Lembah Wilis. Mereka kaget karena tidak nampak tanda-tanda adanya orang di sana. Tidak seorang pun murid padepokan yang melintas. Atau mungkin mereka sedang melakukan pertemuan penting?


"Ada yang tidak beres. Jangan-jangan ... ah celaka! Ayo cepat!" Danur Cakra segera berlari memasuki wilayah padepokan. Suhita dan dua lainnya mengikuti.


Seorang pendekar menghentikan langkah, dia menunjuk ke satu tempat.


Dengan perlahan-lahan, pendekar itu melangkah mendekat. Betapa terkejutnya dia saat menemukan sesosok mayat.


"Nona Tabib!" teriak pendekar itu memanggil Suhita.


Suhita menoleh, matanya terbelalak lebar ketika melihat sosok mayat yang dibopong. Murid padepokan yang tewas itu jelas terkena racun, pantas saja padepokan tidak geger. Ada penyusup yang menyerang Padepokan Lembah Wilis di siang hari.


"Sialan! Sudah ku duga, ada kaitannya antara racun di Kota Binar Embun, pembunuhan Ki Santana dan sekarang serangan di Padepokan Lembah Wilis," Danur Cakra mengepalkan tangannya.


"Kakak, hati-hati. Kendalikan emosimu, kita tidak tahu siapa yang menjadi lawan kita. Ingat, kondisimu belumlah pulih benar," Suhita memegang pundak Danur Cakra. Terlihat jika Suhita mencemaskan kondisi sang kakak, ditambah lagi dengan luka dalamnya yang belum sembuh seratus persen.


Hanya dengan beberapa tarikan napas, Danur Cakra sudah menjangkau lokasi tertinggi di padepokan. Dari tempat itu dia bisa dengan leluasa mengawasi suasana di sekitar padepokan.


Di pelataran belakang, satu persatu murid Padepokan Lembah Wilis mulai jatuh ke tanah. Jika hanya untuk menahan serangan racun, mungkin bukan suatu masalah besar. Namun yang lebih mengerikan ialah serangan dari Pendekar Kembar. Keduanya telah memiliki penawaran anti racun, hingga dengan mudah bisa bergerak ke sana ke mari melancarkan pukulan, menjatuhkan satu persatu murid padepokan.


"Kalian ternyata lebih rendah dari yang aku duga! Licik!" Jagakarsa menunjuk dengan penuh kemarahan.


"Hahaha! Lihat anj*ing itu, sudah mau mati masih bisa menggonggong. Sebentar lagi, tulang kalian yang akan menjadi makanan anj*ing," tawa penuh kemenangan meledak dari mulut Purwanda dan Purwandi. Mereka bersiap untuk mencelakai Jagakarsa saat itu juga.


"Sampaikan pesan kami pada raja akhirat!" Purwandi mengangkat pedangnya tinggi, bersiap memenggal kepala Jagakarsa.


WUUUSSSS !!! Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang. Tidak hanya kencang, tapi angin seolah mengejar ke arah Purwanda dan Purwandi seakan sengaja untuk mengembalikan seluruh racun yang mereka tebarkan.


"Kepa*rat!!!" Purwanda melompat beberapa tindak ke belakang. Tangannya merogoh botol kecil dari balik jubah, menghamburkan serbuk menetralisir racun.


"Siapa yang berani ikut campur. Kurang ajar!" Purwandi dipaksa untuk mengerahkan tenaga dalam dengan jumlah yang sangat besar untuk dapat menghalau pusaran angin yang menghantam.


"Uhuukk ... uhuukk ..." Jagakarsa terbatuk-batuk, dadanya terasa sangat nyeri. Dengan pandangan mata yang kabur, dia melihat jika anak didiknya mengalami hal yang serupa.


Dengan sekuat tenaga, Jagakarsa berusaha untuk duduk. Dia sangat penasaran pada sosok yang menolongnya dari maut.


Tap! Tap!


"Ohoeeekk!" Jagakarsa tersentak, tapi suaranya tidak sempat keluar karena mulutnya memuntahkan darah segar.

__ADS_1


Hawa dingin merambat dari punggung Jagakarsa, mengalir perlahan serasa mencuci seluruh sel-sel darah dalam tubuhnya. Dia sadar jika ada tangan yang terjulur, mengerahkan tenaga dalam membantu kesembuhan lukanya.


"Ciiiihhhh! Kiranya seorang pela*cur murahan. Beraninya kau ikut campur!" Purwandi tidak bisa menahan kemarahannya, hingga dia tidak ingat betapa dia harus gunakan tenaga dalam yang sangat besar untuk bisa mengontrol serangan jarak jauhnya.


"Jaga bicaramu, bang*sat!" terdengar satu suara, diiringi kelebatan sinar yang mengarah mulut Purwandi.


BAAMMM !!! Pukulan tersebut menghantam sebuah arca hingga hancur berkeping-keping, setelah Purwandi bergerak cepat menghindar.


Seorang pendekar muda berdiri dengan tegap, memandang dengan mata yang berapi-api. Sosok Danur Cakra seolah telah berubah menjadi seekor naga yang siap menelan mangsanya hidup-hidup.


"Datang dengan setetes air, mampukah kalian tandingi tingginya ombak?!" desis Danur Cakra.


Pendekar kembar mengerutkan dahi, mereka belum pernah melihat kemarahan sebesar itu. Siapa gerangan pendekar muda tersebut? Rasanya ini pertama kali muncul di wilayah Binar Embun. Juga tidak bisa meremehkan seorang pendekar wanita, dengan sangat cepat dia bahkan mampu menetralisir racun pada Jagakarsa dan murid-muridnya.


"Ya, ya, ya. Mereka adalah pendekar yang muncul di pondok Ki Santana. Aku harus lebih hati-hati, nampaknya mereka bukanlah pendekar sembarangan," batin Purwanda.


Dibantu oleh dua pendekar yang semula menjadi petunjuk jalan, Suhita telah mengevakuasi belasan murid Padepokan Lembah Wilis yang keracunan. Dalam hal ini, Suhita hanya bisa andalkan kemampuan tenaga dalam untuk alirkan hawa murni, menetralisir racun yang menyebar dalam tubuh para pasiennya.


"Kalian butuh istirahat yang cukup. Setelah ini, saya akan siapkan ramuan untuk penyembuhan. Tenang saja, saya jamin kalian pasti akan sembuh," dengan senyum manis tersungging di bibir, Suhita berhasil membuat hati mereka tenang.


Dengan singkat, seorang pendekar penunjuk jalan memperkenalkan siapa Suhita pada Ki Jagakarsa, berikut tujuan kedatangan mereka. Namun tidak ada yang menduga jika bencana kiranya menghampiri Padepokan Lembah Wilis.


"Kalian tidak perlu khawatir, racun itu tidak akan ada lagi. Baiknya sekarang kita cari tempat yang aman untuk berlindung," ucap Suhita seraya memapah Jagakarsa.


Sudut mata Suhita melirik ke arah kakaknya. Terlihat jika Danur Cakra berada di atas angin dalam pertarungan. Meskipun tanpa gunakan sepenuh kemampuan, Danur Cakra bisa mengantisipasi Purwanda dan Purwandi dengan mudah. Justru sebaliknya, Danur Cakra berulang kali berhasil membuat lawannya jatuh bangun.


'Tapak Api Naga'  pada satu kesempatan, Danur Cakra melompat tinggi di angkasa. Tangannya terjulur lurus ke bawah, melepaskan pukulan pada kedua lawan.


Lingkaran cahaya kemerahan dengan panas luar biasa menciptakan pemandangan yang menyeramkan. Layaknya seekor monster menerkam mangsa, Danur Cakra meluncur menghampiri lembaran nyawa di bawahnya.


"Tameng Geni!" seru Purwanda.


Serentak Purwanda dan Purwandi menyatukan kedua tangan mereka. Menggabungkan energi tenaga dalam yang membentuk perisai, berupa setengah bola api hingga melindungi tubuh keduanya dari hantaman tenaga dalam yang Danur Cakra lepaskan.


Melawan panas dengan api, sebuah keputusan yang bisa katakan sangat berani. Ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, mereka akan mampu menawarkan serangan Danur Cakra hingga menjadi lembut layaknya belaian angin senja. Atau resiko yang fatal ialah justru mereka akan termakan oleh kekuatan tenaga dalam mereka sendiri. Ditambah kekuatan tenaga dalam yang Danur Cakra hentakkan pastinya dengan mudah jadikan Purwanda dan Purwandi layaknya babi panggang yang gosong hingga tak berbentuk.


"Kak Cakra, apakah dalam setiap pertarungan akan seperti ini? Mungkinkah kekuatan gelap lebih membuatnya nyaman? Apa istimewanya hitam jika putih lebih menyenangkan?! Ah, tidak. Aku tidak boleh menarik kesimpulan secara sepihak. Aku yakin, saudaraku merupakan seorang pendekar aliran putih," Suhita berdiri terpaku menyaksikan pertarungan.


Memang, yang dia lihat tidak seperti yang diharapkan. Tapi hati kecil Suhita sangat yakin jika masih ada putih di dalam gelapnya kemampuan hitam yang membalut kekuatan naga dalam diri Danur Cakra.


Berbanding terbalik dengan apa yang menggelayut dalam benak Suhita, justru Danur Cakra mendapatkan kebanggaan tersendiri setiap kali menggunakan sisi gelap dari Kekuatan Tapak Naga miliknya. Pengaruh kitab rahasia terlarang Langit dan Bumi yang Danur Cakra pelajari sedikit banyak telah merubah gaya bertarung. Tidak seperti yang diajarkan oleh sang kakek, juga berbeda jauh jika dibandingkan ayahnya.


Danur Cakra sangat nyaman dengan keadaan itu, dia bahkan berniat untuk tidak dikenali sebagai salah seorang keturunan pemilik trah Tapak Penakluk Naga dari Selatan. Danur Cakra ingin jadi diri sendiri, tanpa sedikit pun mau mendompleng nama besar ayahnya atau siapa pun juga.


BAAAMMM !!! BAAMMM !!!!! Ledakan besar terdengar menggelegar. Percikan api menciptakan kebakaran di beberapa titik.


Danur Cakra mendarat dengan mulus di atas tanah. Dia mundur beberapa langkah seraya menunggu hal apa yang terjadi pada kedua lawannya. Menghela napas panjang, kemudian menghembuskan secara perlahan.


"Harusnya mereka tidak celaka. Aku yakin kekuatan mereka berada di atas yang aku perkirakan," gumam Danur Cakra.


Benar saja, seiring kepulan asap yang semakin menipis, sosok Purwanda dan Purwandi perlahan terlihat meski dengan penampilan yang sedikit berbeda. Danur Cakra sengaja hanya memberi rasa sakit, tanpa ada niat untuk membunuh.


Belum juga senyum tersungging di bibir, Danur Cakra telah lebih dulu disibukkan oleh puluhan mata pisau yang menghujani tubuhnya.

__ADS_1


Sangat cepat, bantuan telah datang. Pasukan khusus dari Klan Macan Api telah mengepung Padepokan Lembah Wilis.


__ADS_2