
Cinta, perjuangan, pengorbanan, benarkah? Tapi apa mesti harus lalui siklus tersebut? Tidakkah ada satu alternatif untuk bisa mencapainya tanpa harus ada yang dikorbankan? Hidup tanpa ada yang dipertaruhkan, katanya tidak akan sampai pada tujuan. Lalu, tujuan hidup itu adalah berkorban? Atau menjadi korban untuk tujuan? Sebuah siklus yang sulit dimengerti, pemahaman berbeda membuatnya jadi sulit.
"Apa? Mengapa kau memandangku seperti itu?" Kemuning mengalihkan wajahnya ke tempat lain. Salah tingkah dirinya, terus ditatap dan dipandangi.
"Kau sangat cantik. Apa tidak boleh aku untuk terus menatapnya?"
"Apa kau tidak bosan? Sudahlah, ihhh ... kau hanya membuatku malu," Kemuning menutupi wajahnya.
Awalnya penasaran, lalu cari cara untuk mencoba, terus merasa enak, dan akhirnya ketagihan. Usia mereka terbilang masih sangat muda, di mana pemikiran terkadang menjadi sangat pendek. Darah muda. Darah yang mengalir mudah sekali terpacu, selalu merasa paling gagah dan paling benar sendiri. Tidak menghiraukan resiko, berpikir tidak jauh ke depan.
Jika tidak memiliki keberanian, maka selamanya akan tenggelam dalam angan belaka. Setelah melakukan tindakan, berhasil merasakannya, belum tentu ekspektasi buruk yang di dapat. Wanita dan pria diciptakan dengan rasa yang sama, untuk apa takut pada hal yang sama sekali tidak pantas ditakuti? Berhasil! Iblis menggenggam dan menguasai pikiran, membuat jadi gelap mata.
Cup! Danur Cakra memaksa melakukannya. Dia merengkuh bibir ranum Kemuning, menekan gadis itu dalam pengaruh sang iblis.
Tidak cukup sekali, mendapati Kemuning hanya terdiam dan terpana, Cakra mengulangi aksinya. Bahkan kali kedua ini dia semakin berani, meninggalkan gigitan-gigitan kecil yang akan terasa sampai kapan pun.
Sejenak suasana menjadi sunyi senyap. Mereka sama-sama salah tingkah. Bagi Kemuning, ini adalah kali pertama. Sementara Danur Cakra, hanya pernah melakukan dengan adiknya. Itupun karena terpaksa demi pengobatan Kristal Napas Naga. Cakra tidak pernah menganggapnya, jadi ini pun pengalaman pertama baginya.
"Kau ... ku kira kau adalah orang baik. Ternyata kau sama saja dengan kebanyakan pria di luar sana. Pasti kau punya banyak kekasih. Menjauh dariku!" Kemuning mendorong Cakra, wajahnya nampak memerah. Entah marah ataukah dia justru menikmatinya.
"Hei, jangan begitu. Aku tidak sengaja. Lagi pula, ini semua salahmu. Salah siapa punya wajah teramat cantik."
"Oh, karena itu? Lalu jika aku terlahir buruk rupa mungkin kau tidak pernah sudi dekat denganku."
"Siapa bilang? Bahkan kala itu kau memakai cadar, bagaimana aku melihat wajahmu. Lalu mengapa kita sampai bisa bertemu? Aku tulus, dan selalu ikhlas menolongmu. Hanya saja, tadi itu tidak sengaja, sungguh!" Danur Cakra malah menggoda. Membuat Kemuning semakin bersungut-sungut.
"Ya, sudah. Kalau kau terus-terusan marah. Aku mau cari kelinci atau ayam hutan untuk kita makan," Danur Cakra berdiri.
"Cakra, jangan tinggalkan aku. Bagaimana kalau tiba-tiba ada orang yang datang lalu menculikku? Aku bisa mati," Kemuning mengejar dan tidak ingin Cakra meninggalkannya.
"Kalau begitu, kita lanjutkan perjalanan. Di jalan pasti kita akan temukan sesuatu untuk di makan."
Sebagai buronan, begitu besar resikonya andaikan Danur Cakra harus memasuki Kota Raja demi untuk mencari Tabib Dewa. Itu sama saja dengan menghampiri kandang singa. Sebenarnya, Kemuning pun menolak untuk dibawa pada Tabib Dewa. Dia ingat betul saat kelompoknya menyerang dan membakar pedati Tabib Dewa. Mana mungkin Tabib Dewa akan berbaik hati untuk sembuhkan dia. Selain itu, dia juga sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi datang ke Kota Raja. Tanah kelahirannya. Namun sejauh ini, Kemuning sama sekali belum memiliki keberanian untuk menceritakan alasannya pada Danur Cakra. Dia takut Cakra tidak percaya, atau lebih parahnya lagi Cakra akan pergi meninggalkan dirinya. Lalu pada siapa dia akan meminta tolong?
Kemuning, Dewi Kundalini, dan beberapa nama lain yang orang-orang kenali saat dia menjadi pemain sirkus. Nama aslinya ialah Diah Pitaloka. Dia memiliki latar belakang keluarga yang sangat berbeda jalan hidupnya sekarang. Ayahnya bernama Manggar Wangi seorang Tumenggung di Kerajaan Utara, ibunya merupakan keluarga bangsawan terhormat bernama Sucinta.
__ADS_1
Lahir dan besar di lingkungan istana, tentu membuat kehidupan Diah Pitaloka terkekang oleh berbagai protokoler dan aturan-aturan yang sebagian tidak dia sukai. Meski demikian, Diah Pitaloka tetap belajar di sebuah sekolah khusus anak petinggi kerajaan, sampai kemudian dia tertarik pada dunia seni. Seni beladiri.
Secara sembunyi-sembunyi, Diah Pitaloka belajar beladiri pada seorang guru yang merupakan rakyat biasa. Di sana ia belajar jurus pedang dan pula banyak dibekali teknik-teknik debus yang kemudian diaplikasikan dalam pertunjukan sirkus.
Dunia luar begitu indah, kebebasan bisa dihirup dalam setiap helaan napas. Tentu saja, karena acap kali bolos dari sekolah dan diketahui sering bergaul dengan rakyat jelata, membuat kedua orang tua Diah Pitaloka murka. Mereka menentang keras kelakuan Pitaloka yang dianggap merendahkan derajat kaum bangsawan. Selain itu, orang tuanya mengancam untuk menikahkan Diah Pitaloka dengan pria pilihan mereka andai Pitaloka tidak mau berubah. Karena itulah Diah Pitaloka memutuskan untuk pergi dari rumah, bergabung dengan kelompok sirkus dan menikmati masa mudanya tanpa tekanan.
Bertahun-tahun hidup bebas, Diah Pitaloka nyaris tidak dikenali sebagai sosok berwajah rupawan. Ia selalu memakai cadar. Untuk hindari anak buah Ayahnya yang terus mencari, juga yang pasti untuk sembunyikan diri dari tatapan mata buaya-buaya lapar. Namun sepandai-pandainya menyembunyikan sebuah keindahan, tetap saja wanginya tercium juga. Begitu banyak orang-orang berduit yang penasaran, membuat mereka coba untuk menguak penampilan asli Diah Pitaloka. Alhasil, satu demi satu masalah bermunculan. Puncaknya, ya seperti yang dia alami sekarang.
Jika ditarik kesimpulan, tidak ada tempat yang aman tidak ada dunia yang menyenangkan. Selama berada di bawah kolong langit, setiap manusia hadapi resiko yang sama.
°°°
Semakin waktu bergerak, semakin terpangkas jarak menuju Kota Raja. Hati Diah Pitaloka alis Kemuning semakin berdebar tidak karuan. Akan tetapi, dia juga inginkan kesembuhan supaya tidak lagi menjadi beban bagi Danur Cakra. Sudah cukup pengorbanan yang Cakra lakukan untuknya, masa untuk sekali saja Kemuning tidak mau menuruti permintaan Cakra.
"Kau harus lawan ketakutan dalam dirimu. Tidak semua orang coba untuk menyakitimu. Banyak juga dari mereka yang merupakan orang baik. Jika kau terus begini, aku takut kejiwaanmu akan terganggu," Danur Cakra terus mencoba memberi dorongan semangat pada Kemuning.
"Iya, aku terus mencobanya. Lagi pula, sudah cukup bagiku menaruh beban di pundak mu. Kau juga punya kehidupan dan tujuan yang harus kau kejar," jawab Kemuning lirih.
Danur Cakra menghela napas panjang, kepalanya menggeleng lemah. Bukan itu yang dia maksud, perkataan Kemuning membuat dadanya seperti tertusuk. Tapi sudahlah, Danur Cakra tidak harus libatkan hati. Dia sadar, kondisi Kemuning sedang terpuruk.
Kemuning segera menarik tali kekang kudanya ketika di kejauhan dia melihat beberapa orang pria muncul di jalan. Meskipun berusaha untuk menahan diri tapi tetap saja wajah Kemuning pucat pasi karena takut.
"Iya, aku tahu. Meskipun kemampuan yang aku punya tidak seperti dirimu, kau jangan lupa kalau aku juga bisa bela diri. Aku sudah terbiasa menghadapi banyak orang," jawab Kemuning sok keren.
Danur Cakra tertawa kecil. Dasar wanita. Selalu merasa paling pintar, paling benar dan paling-paling segalanya. Yang salah, yang lemah hanya orang lain. Tapi baguslah, setidaknya rasa percaya diri sebagai pemain sirkus setidaknya bisa membuat Kemuning melupakan trauma.
"Paman, apa benar arah jalan ini menuju Kota Raja?!" tanya Danur Cakra ketika tiba di dekat para pencari kayu.
"Benar, Den. Tapi masih sangat jauuuh ... di depan sana ada satu perkampungan, kalian istirahat saja dulu. Kalau terus berjalan, kalian akan terjebak di hutan kabut," jawab seorang pencari kayu.
Tubuh mereka kotor dan bermandikan keringat. Tapi semangat tak pernah pudar, memikul beban untuk menanggung biaya hidup keluarga.
"Hei, Paman-Paman. Aku punya sedikit rejeki untuk kalian. Aku harap setidaknya bisa membantu," Danur Cakra menjadi orang yang sangat dermawan. Emas yang dia temukan beberapa peti di dalam gua, membuat hatinya menjadi gemar berbagi. Seorang pembunuh berdarah dingin, ada kalanya berhati lembut layaknya malaikat.
Masing-masing orang diberi satu kepeng uang emas. Tentu saja hal itu membuat tangan dan kaki orang-orang kampung yang sudah jadi gemetaran. Mungkin tidak pernah merasa menggenggam uang emas secara langsung. Tapi hari itu, justru mereka di beri secara cuma-cuma. Masih meraba-raba dan mengira dalam mimpi, orang-orang itu tidak sadar kalau Danur Cakra dan Kemuning telah memacu kuda.
__ADS_1
"Aku pernah dengar jika doa orang-orang kecil di dengar Tuhan. Jangan katakan kau coba menebus dosa-dosamu dengan membuat mereka tersenyum. Basi!" teriak Kemuning dari punggung kudanya.
Danur Cakra cuma tertawa mendengarnya. Kemuning terus menerus mengajak untuk adu mulut. Ya, itu mengingatkan Cakra pada Suhita, adiknya. Tapi ... apa mungkin Suhita masih seperti dulu, sama sekali tidak berubah saat nanti mereka bertemu? Danur Cakra sadar, keadaan telah membuat semua jadi berubah. Ah, tidak. Tapi Danur Cakra lah yang telah berubah. Berubah menjadi sosok yang paling Suhita benci.
Danur Cakra pernah berjanji untuk hidup lebih baik. Tidak menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah, juga menghindari pertarungan bila mana tidak diperlukan. Akan tetapi ... sekarang apa? Justru Danur Cakra menjadi buronan kerajaan. Dia berdiri bersama pemberontak dan menghabisi Tumenggung Surotanu dan begitu banyak prajurit kerajaan. Dia nyata-nyata telah menentang hukum. Pula ditambah dengan pembunuh dan pembakaran rumah saudagar kaya raya. Begitu banyak kejahatannya. Bahkan sebelum itu, Danur Cakra juga pernah mencelakai Tumenggung dan pasukan khusus di Candi Karusian. Huuuhhh ... Danur Cakra tidak yakin jika Suhita masih akan menganggapnya sebagai saudara.
Apa boleh buat. Apa pun yang akan dia terima, akan dihadapi. Seorang pria sejati tidak akan pernah menghindar dari masalah apalagi bersembunyi. Masalah untuk dihadapi, bukannya untuk ditakuti. Yang terpenting bagi Cakra ialah bertemu dengan Suhita, kemudian meminta Suhita untuk mengobati Kemuning. Cakra yakin, sebagai seorang tabib Suhita tidak mungkin menolak untuk menolong orang. Perkara dirinya, Danur Cakra tidak pernah memikirkannya. Andaipun Suhita memaki bahkan membunuhnya, urusan nanti.
Mendengarkan penjelasan pencari kayu tadi, Danur Cakra memutuskan untuk bermalam. Dia dan Kemuning menyewa kamar di perkampungan tepi hutan. Daripada harus terjebak di dalam hutan kabut. Jika dia sendirian, atau kondisi Kemuning tidak sedang sakit tentu bukanlah masalah. Tapi sekarang kondisinya berbeda.
Tentu saja Danur Cakra merasa sangat tersiksa. Kemuning tidak bisa jauh-jauh darinya, bahkan ketika di kamar mandi Cakra harus siaga di depan pintu. Tidur hanya di satu kamar. Menyebalkan sekali. Andai saja Cakra sudah tidak ingat dosa.
"Apakah aku terlihat cantik dengan dandanan seperti ini?" tanya Kemuning di depan cermin.
"Tanpa berias sekali pun, kau selalu terlihat cantik," jawab Danur Cakra dari depan jendela.
"Berhentilah bicara omong kosong. Kau terus menerus memuji aku sekadar untuk menghibur bukan? Kau takut aku semakin stress. Menyebalkan sekali!" Kemuning mengomel meskipun pelan.
Danur Cakra ternganga, serba salah dia jadinya. Menjawab salah, diam semakin salah. Apa mungkin semua wanita sama menyebalkannya?
"Cakra ... apa tadi kau melihat gambar sketsa wajah yang ditempel di pintu masuk kampung?" tanya Kemuning.
"Aku merasa kalau sketsa itu jauh lebih jelek dari wajah aslinya. Jika berkesempatan bertemu dengan pembuatnya, aku pasti akan protes," jawab Danur Cakra sekenanya.
Tidak salah lagi. Itu memang gambar sketsa wajah Danur Cakra. Hanya saja, bisa dikatakan tidak terlalu mirip. Mereka membuat hanya berdasarkan prakiraan dari laporan-laporan saksi mata. Tapi terlepas dari itu, menandakan bawa pihak kerjaan begitu serius untuk mengejar para buronan.
"Apa kau yakin, kita akan meneruskan perjalanan ke Kota Raja?" tanya Kemuning sekali lagi.
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, akan membawamu pada Tabib Dewa. Lukamu harus disembuhkan, aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu. Dan aku, akan menepati janji ku," jawab Danur Cakra.
Kemuning terharu mendengarnya. Dia mengucapkan banyak terima kasih seraya memeluk Danur Cakra dari belakang. Anehnya Danur Cakra justru merasa senang berbunga-bunga hatinya diperlakukan seperti itu. Sangat berbeda kala dia dipeluk oleh Suhita. Meskipun adiknya sendiri, justru Danur Cakra merasa risih. Ada hal yang tidak sama, yakni perasaan antara dua anak manusia.
"Cakra ... mengapa hatiku tidak begitu yakin? Apa mungkin kau akan mampu membuat Tabib Dewa mau mengobati aku? Maafkan aku, karena tidak berani bicara terus terang padamu," Kemuning hanya bisa memejamkan mata, cuma berani bicara dalam hati.
"Sekarang tidurlah. Besok pagi-pagi sekali kita akan lanjutkan perjalanan. Sebelum tengah malam, aku yakin kita akan sampai di gerbang Kota Raja. Semoga kita berjodoh dan cepat dipertemukan dengan Tabib Dewa."
__ADS_1
Demikianlah, malam berlalu dengan singkat. Suara nyanyian burung malam sama sekali tidak terdengar dalam tidur nyenyak tubuh yang lelah. Pagi-pagi buta, Danur Cakra dan Kemuning sudah melanjutkan perjalanan. Memasuki hutan kabut di siang hari, membuat mereka tidak terlalu mendapatkan banyak rintangan. Perjalanan mereka berjalan mulus tanpa adanya gangguan. Danur Cakra berhasil mengelabui setiap pandangan mata prajurit jaga. Hingga mereka membiarkan seorang buronan paling dicari memasuki Kota Raja.
Sesuai prakiraan, malam mulai merangkak naik ketika Danur Cakra mencapai wilayah perbatasan Kota Raja.