
"Hahaha! Memalukan sekali, sangat-sangat memalukan. Seorang tabib ternama, tabib nomor satu yang katanya Titisan Dewa, jatuh dan tidak berdaya, hanya karena satu mantera rendah. Sekarang, bagaimana bisa menjaga kehormatan diri? Tidak ada jaminan jika kalian masih seorang gadis suci!"
Suhita terbelalak, dia menoleh ke arah Kencana Sari yang juga baru tersadar dari tidurnya yang amat lelap. Sementara, tidak ditemukan adanya Kemuning di sana.
Suhita mengatur napas, mengalirkan energi murni ke sekujur tubuhnya, membuat kondisinya lekas kembali pada kondisi seratus persen, seperti sedia kala. Hita bangkit lalu menghampiri Kencana Sari.
"Sari, bangun. Kau baik-baik saja 'kan?" tanya Suhita.
"Hita, a-apa yang telah terjadi? Ke mana Nona Kemuning?!" Kencana Sari celingukan.
Keduanya kemudian mengalihkan perhatian ke arah tadi datangnya suara. Suara penuh ejekan yang begitu merendahkan kemampuan yang Suhita miliki. Ya, meski kenyataannya Suhita memang tidak mampu atasi serangan rasa kantuk akibat Ilmu Sirep yang terlanjur terhisap dalam wangi kemenyan saat mereka mulai tertidur, tadi malam.
"Kakak, ini tidak lucu! Bukan saatnya untuk bercanda!" teriak Suhita.
Meskipun tidak ada jawaban, Suhita tahu jika Danur Cakra masih berada di dekat sana. Akan siapa yang berbuat iseng dengan menggunakan Ilmu Sirep, menyirep mereka tepat ketika mulai terlelap, Hita yakin Danur Cakra datang pada saat yang tepat. Dan pastinya dia tahu alasan di balik semuanya.
"Hei sialan! Cepat tunjukkan wajahmu!" teriak Suhita sekali lagi. Suaranya terdengar sedikit bergetar, parau, bahkan kedua bola mata Suhita nampak berkaca-kaca, emosinya meningkat.
"Aku di sini!" jawab Danur Cakra.
Danur Cakra muncul di belakang Suhita dan Kencana Sari. Seperti biasa, dengan ekspresi wajah yang datar nyaris tanpa ekspresi.
"Apa?! Mengapa kau marah-marah, apa salahku? Masih untung aku cepat datang, kalau tidak mungkin kalian sudah ada di rumah bordil sekarang ini," jawab Danur Cakra enteng.
"Kak, kau sadar dengan apa yang baru saja kau ucapkan? Kau hanya membuat hatiku terluka. Meskipun kau tidak punya hati, tapi setidaknya hargai perasaanku! Kau ... kau ... haaaaaahhhh!" Suhita hanya menjerit untuk menumpahkan unek-unek yang tidak bisa diungkapkan.
Suhita sudah hampir menangis ketika Danur Cakra mendekat dan memeluknya dengan erat. Kontan saja tangis Suhita seketika langsung meledak, air mata mengalir deras di kedua belah pipinya. Sudah sangat lama rasanya dia tidak merasakan pelukan hangat dari sang Kakak. Andai saja semuanya masih seperti dahulu, saat mereka kecil ketika sama sekali belum berkenalan dengan beban kehidupan.
Cukup lama Suhita menumpahkan rasa dalam tangis, melepaskan beban yang menekan isi kepalanya, bahkan hampir Suhita lupa kapan terakhir dia habiskan waktu hanya berdua dengan Cakra. Berbicara kosong ngalor-ngidul tanpa arti, bercanda, serta menceritakan hal-hal ringan yang ditemukan sehari-hari.
Setelah beberapa lama, Suhita baru sadar jika dia telah kehilangan seorang teman. Siapa lagi jika bukan Kemuning. Dan bagaimana jika kedatangan Danur Cakra yakni untuk menjemput Kemuning? Apa yang harus Suhita jelaskan?!
"Kak Cakra, apa kau datang untuk Nona Kemuning? Dia ... dia ..."
Danur Cakra tertawa kecil sebelum Suhita menyelesaikan kalimat. Cakra menggelengkan kepalanya, justru kedatangannya untuk Suhita. Karena Kemuning telah lebih dulu dia amankan.
"Be-benarkah?! Lalu ... di mana Kemuning sekarang?" riak wajah Suhita berbinar memancarkan rasa gembira.
"Eh, sialan! Mengapa justru kau lebih mengkhawatirkan orang lain dari pada dirimu sendiri? Apa kau tidak merasa terbebani atau ada hal yang mengganjal dalam pikiranmu, begitu?" Danur Cakra mengerutkan dahi, tidak habis pikir, dia merasa jika ternyata Suhita lebih aneh.
__ADS_1
"Ada Kakak, lantas hal apa yang Hita khawatirkan?! Bukankah begitu janjimu?" Suhita malah balik bertanya.
"Jika ada orang yang percaya, mungkin sangat sedikit. Tapi setidaknya terima kasih, sejauh ini aku masih bertemu dengan orang-orang yang baik," Danur Cakra mengelus kepala Suhita.
"Kak, bisa ceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi?" tanya Suhita kemudian.
Meskipun tidak terlihat adanya dendam, terus terang Hita juga sangat penasaran atas apa yang telah menimpa mereka. Hampir saja dia kehilangan segala-galanya, selain kehilangan muka karena dikalahkan dengan mudah, lebih dari itu bahkan Tabib Dewa hampir kehilangan mahkota kesucian yang selama ini dijaganya. Untung saja, sang Kakak datang pada waktu yang tepat.
"Aku yakin, kau akan tahu jawabannya," Danur Cakra mengajak Suhita untuk melihat sesuatu di balik batu yang terletak tidak jauh dari tempat Suhita beristirahat.
Suhita dan Kencana Sari saling bertatapan, keduanya segera berjongkok mendekat. Ada bekas perapian, masih tersisa potongan arang dan beberapa kayu kecil yang semalam baru digunakan. Selain itu juga, terlihat ada bongkah kemenyan yang berserak di sekitar tempat itu.
"Sirep Kemenyan?!" desis Suhita.
Itu artinya ada orang yang dengan sengaja coba untuk mencelakai mereka bertiga. Menggunakan Ilmu Sirep untuk memperdaya, setelah semua kehilangan kesadaran barulah mereka melancarkan aksi nekatnya.
"Kurang ajar! Pendekar Cakra, apa kau tahu siapa orang yang melakukan perbuatan hina ini? Aku harus membuat perhitungan dengannya!" Kencana Sari sangat geram. Tangannya mengepal dengan keras, dengan sorot mata penuh dendam. Tentu saja, hampir saja dia menjadi korban pelece*han.
"Jika kau ingin mencelakai mereka, aku sarankan baiknya simpan saja dendam itu. Lagi pula, majikanmu mana mungkin mengizinkan kau celakai orang," jawab Danur Cakra, tentu saja ucapannya sembari menyindir Suhita yang menurut Cakra terlalu berbaik hati, cengeng, tanpa adanya ketegasan. Berbuat baik boleh, tapi lihat-lihat juga.
Bukan saatnya untuk bercanda, tapi mengapa Danur Cakra terus-terusan membuat kesal? Suhita menatap saudara kembarnya itu dengan mata berapi-api. Kemudian Suhita mengalihkan pandangannya pada Kencana Sari, "ya, kali ini perbuatan mereka sudah di luar batas. Aku izinkan kau untuk melakukan apa pun, memberi hukuman yang pantas di dapatkan."
"Baik, mohon petunjuk!"
"Ah, tidak perlu repot-repot. Atas namamu, aku telah mewakilkan. Jika mau, kau cukup menanggung beban atas dosa yang aku lakukan, atau mungkin kau bisa membayar jasaku biar semakin afdol," Danur Cakra menahan Kencana Sari.
Suhita hanya bisa menghela napas, dia telah dijebak. Tidak ada alasan untuk Suhita menyalahkan Cakra dalam kasus ini. Meskipun Cakra telah menghabisi seluruh orang, secara tidak langsung Suhita yang memerintahkan.
"Dan kau bisa lihat ..." dengan sekali tarik, seketika baju Danur Cakra terlepas, memperlihatkan otot-otot perut yang terbentuk dengan sempurna. Akan tetapi, bukan untuk itu. Cakra ingin Suhita melihat jika ada luka tusuk di perutnya.
Menghadapi pasukan khusus kerjaan, Pasukan Sayap Kelelawar, bukanlah perkara gampang. Kendati Danur Cakra merupakan seorang pendekar pilih tanding, tentu saja prajurit pilihan tersebut pula dibekali dengan kemampuan olah kanuragan yang juga mumpuni. Mereka ialah murid berbakat yang berasal dari berbagai padepokan ternama. Kemampuan mereka tentu tidak diragukan lagi.
"Dasar sial! Ya, ya, ya, baiklah akan aku periksa. Anggap saja sebagai ganti rugi, kau terluka karena membantuku. Jadi kita impas," Suhita mengalah.
"Aku sangat suka ini! Pastinya kau tahu, keris yang menusukku ialah pusaka langit!"
Tidak mereka membahas Kemuning. Bahkan Kencana Sari tidak ingat bahwa ketika memulai tidur nyatanya mereka bertiga. Sari hanya penasaran pada kelompok yang menyirep mereka. Apa mungkin ini berkaitan dengan kelompok pemberontak yang bertemu di kedai semalam? Kemudian secara tiba-tiba Danur Cakra muncul pada saat yang bersamaan. Rasanya semua itu terlalu kebetulan.
°°°
__ADS_1
Malam itu, saat kabut tebal menyelimuti mayapada, dinginnya angin menusuk hingga menembus tulang. Kondisi tubuh yang letih setelah berkuda sepanjang hari, membuat rasa kantuk dengan cepat menghampiri. Saat perut terisi penuh, maka rekatnya mata tak lagi bisa ditahan.
Memang kemampuan yang dimiliki oleh Tabib Dewa mengenai berbagai macam kesembuhan dan daya tahan tubuh adalah yang terbaik di dunia. Akan tetapi, tentu saja bukan berarti menempatkan ia menjadi sosok yang sempurna.
Kala mata terpejam, saat itulah nikmat penglihatan untuk sementara waktu tak lagi dirasakan. Tanpa disadari, kekuatan Ilmu Sirep masuk bersamaan dengan sang tabib menghela napas. Setelah terpengaruh Ilmu Sirep, saat itu tubuh menjadi setengah mati, tidak sadar akan apa yang terjadi di sekitar meskipun diseret dan pindahkan ke tempat lain. Tidak heran jika kebanyakan para pencuri, maling-maling kelas kakap menggunakan Ilmu Sirep untuk membuat seisi rumah tertidur lelap sebelum kemudian menguras harta benda bahkan
lebih buruknya lagi menggauli istri dan anak gadis yang ada di rumah.
Ilmu Sirep, seyogyanya merupakan satu ilmu pasaran yang telah banyak orang mengetahui penangkalnya. Dan pastinya Tabib Dewa bisa atasi itu dengan mudah, dia bisa terhindar dari kekuatan sirep asal dengan catatan telah persiapkan segala sesuatunya.
Namun hal berbeda terjadi di malam itu. Suhita bahkan tidak menaruh kecurigaan sedikit pun, hingga dia lalai dan tertidur tanpa membentengi diri dengan kemampuan tenaga dalam. Hingga dengan mudah, Tabib Dewa dikalahkan oleh mantra sirep yang berbalut asap kemenyan, kemudian terhirup ketika bernapas. Membuatnya bukan siapa-siapa, tidak mampu melakukan apa-apa.
Harimurti dan Lintang Dalu menunggu cukup lama, setelah yakin jika Ilmu Sirep benar-benar telah bekerja dengan sempurna, barulah mereka datang mendekat. Dan tentu saja, mereka disambut oleh pemandangan yang mendebarkan mata, kala terdapat tiga sosok bidadari terbaring tidak berdaya. Sedikit banyaknya, mereka adalah pria normal yang miliki rasa ketertarikan pada lawan jenis.
Akan tetapi, Harimurti bukanlah prajurit rendah. Dia lebih menjunjung tinggi tugas dibandingkan sifat binatang yang hanya mengedepankan syah*wat. Hingga selamatlah Tabib Dewa juga pelayannya. Mereka beruntung karena bertemu dengan orang baik.
Harimurti membawa tubuh Kemuning, dia hanya menjalankan tugas. Misi yang diemban ialah untuk membawa pulang Kemuning kembali ke kota raja. Dan, dia melakukan sesuai dengan perintah.
Namun, bisikan setan kiranya telah menggoyahkan keteguhan hati Lintang Dalu. Dia merasa jika dirinyalah yang paling berjasa atas keberhasilan misi malam itu. Jika saja, tanpa Ilmu Sirep yang dia punya, mustahil bisa mendapatkan Kemuning dengan begitu mudah.
"Hmmm ... Tabib Dewa. Saat semua orang hanya bisa berkhayal untuk dapat berada di sisinya. Betapa bodohnya aku harus melewatkan kesempatan emas berada di atasnya. Dan aku harus kembali," pikiran setan telah merasuki Lintang Dalu.
Dalam benak Lintang Dalu, yang terlintas hanyalah kemolekan tubuh Tabib Dewa. Tidak terbayangkan jika dia akan menjadi satu-satunya orang yang beruntung seandainya bisa merenggut kelopak kesucian yang didambakan oleh semua pria di penjuru dunia.
Belum juga Lintang Dalu mengatur siasat, mencari alasan untuk bisa memisahkan diri dan melancarkan aksi bejatnya, tiba-tiba perjalanan mereka dihentikan oleh seorang. Sosok yang tiba-tiba muncul menghadang di tengah jalan.
Ya, Kontak Batin yang dilakukan Suhita tadi sore membuat Danur Cakra datang pada waktu yang sangat tepat. Menyaksikan ada orang yang membawa Kemuning dalam keadaan pingsan, sama saja dengan melempar daging di tengah gerombolan singa lapar. Hanya menyeringai sekilas, maka selanjutnya singa tersebut akan mempergunakan taringnya yang tajam sebagai penyambung tindakan.
Sontak saja Harimurti terkejut bukan main. Tidak sedikit pun diduga, kiranya Pendekar Naga Kresna luput dari pengamatan dan sekarang telah berdiri dengan aura bertarung yang begitu pekat.
Selain seorang tiliksandi penunjuk jalan, juga ada empat orang prajurit lain yang menunggu. Hingga lawan yang akan dihadapi Cakra cukup banyak. Belum lagi, ditambah isyarat siulan yang dilakukan Lintang Dalu untuk memanggil bantuan. Sebentar lagi, Danur Cakra akan menghadapi puluhan prajurit khusus dengan kemampuan tinggi.
Meskipun satu pasukan lengkap yang datang, pastinya tidak akan membuat Danur Cakra merasa gentar. Bahkan jiwa naga kresna akan senang mendapati aliran darah yang menganak sungai. Terlebih yang Menjadi taruhannya tidak lain adalah Kemuning. Lebih baik ia celaka dari pada harus merelakan Kemuning jatuh ke tangan orang lain. Lebih-lebih dengan gunakan cara kotor seperti itu, seujung kuku pun Cakra tidak akan bisa terima.
Tanpa menunggu lebih lama, Danur Cakra langsung menghambur, menyerang Harimurti dengan pukulan mematikan. Tentu saja, pertarungan sengit tidak lagi bisa dihindarkan. Harimurti bukanlah pendekar abal-abal, tidak mudah untuk memberikan nyawa. Ditambah dengan anak buahnya yang lain, membuat pertarungan di dalam gelap kabut menjadi semakin menarik.
Danur Cakra berhasil merobohkan beberapa prajurit, tapi dia belum bisa merebut Kemuning dari tangan Harimurti. Danur Cakra tidak gegabah, tentunya dia tidak ingin membuat Kemuning dalam resiko, terlebih jika harus menjadi sandera. Rumusnya sangat mudah, yang terpenting Cakra tidak membiarkan Harimurti kabur. Sejauh Kemuning baik-baik saja, berapa pun prajurit yang menghalangi, maka Cakra harus singkirkan mereka. Ceritanya akan lain bila nanti dia berhadapan satu melawan satu dengan Harimurti. Keselamatan Kemuning merupakan prioritas saat ini.
Bertepatan dengan semakin banyaknya prajurit yang datang, tanpa ada yang menduga kesempatan itu dimanfaatkan oleh Lintang Dalu untuk menjauh, sedikit demi sedikit, dia menggunakan tebalnya kabut yang membatasi jarak pandang. Tentu saja, bisa kita duga jika Lintang Dalu sedang membuka jalan menuju kesengsaraan hidup yang berkepanjangan. Dengan senyum Lintang Dalu mengambil jalan yang keliru. Dia mengira patokan keberhasilannya ialah dengan menggagahi Tabib Dewa. Dia melupakan jika dunia telah mengutuknya.
__ADS_1