
Padepokan Batu Galih. Suhita membaca papan nama di depan gedung utama padepokan yang ia datangi. Sekilas, terlihat jika padepokan itu serupa dengan padepokan pada umumnya, bahkan sama sekali tidak menunjukkan jika dari dalam padepokan itulah munculnya biang keladi kerusuhan yang menjadi otak dari perdagangan manusia.
Suhita membuka telapak tangannya, di sana muncul kelopak bunga yang amat harum. Kemudian Suhita menghirup wangi bunga tersebut dengan dalam. Suhita juga meminta Kencana Sari melakukan hal serupa.
Wangi bunga yang sangat lembut, segar, dan menyejukkan, membuat hati pun terasa damai ketika wangi bunga terhirup dengan dalam. Akan tetapi, fungsi utama bunga itu tentunya bukan sekadar untuk dinikmati. Melainkan dengan menghirup wangi kelopak bunga Anta Kesuma, maka akan membuat mereka kebal dari berbagai jenis ilmu gendam. Mata, hidung, telinga, dan panca indera yang lain pun akan terbebas dari pengaruh kekuatan sihir jenis apa pun.
Suhita turun dari atas kereta kuda, kedatangannya di sambut dengan tidak ramah. Kiranya dari anak buah pemilik rumah bordil sudah ada yang melapor ke Padepokan Batu Galih, hingga terlihat mereka sudah dengan persiapan.
"Aku merupakan seorang tabib, bukan pendekar seperti yang kalian duga. Aku ingin bertemu pimpinan padepokan, kalian harus bertanggung jawab atas kejahatan yang selama ini dilakukan," ucap Suhita dengan sikap yang sopan.
"Akkhhh ... guruuu, tolong saya! Wanita ini sangat berbahaya!" pemilik rumah bordil berteriak sekuat tenaga. Ikatan di tangannya sudah cukup membaiatnya menderita.
Tiga orang muncul di beranda padepokan. Kabut sisa hujan membuat pandangan sedikit terhalang, tapi jelas jika mereka bertiga bukanlah pimpinan padepokan. Kemampuan olah kanuragan yang dimiliki berada di bawah Kencana Sari.
Tentu saja, jika datang berkunjung ke padepokan layaknya Batu Galih atau padepokan kecil lainnya, kemampuan Kencana Sari akan setara meski dibandingkan dengan level guru sekalipun. Sari kerap terlihat lemah hanya karena para pendekar yang sering ditemui rata-rata merupakan pendekar ternama dengan kemampuan yang jelas sukar ditandingi. Beda ceritanya dengan sekarang.
WUUURRR !!! Di sekitar kereta, dari atas posisi Suhita berdiri, mendadak terjadi hujan debu. Debu-debu berwarna kecoklatan berbaur dengan kabut dan sisa-sisa hujan.
Suhita tersenyum, permainan lama. Bahkan Suhita sudah khatam teknik itu ketika usianya masih delapan tahun. Dengan demikian membuat Suhita tahu, kalau pengetahuan serta kemampuan lawan yang dia hadapi tertinggal lebih dari sepuluh tahun.
Dengan sekali memetikkan jari, Suhita bisa atasi teknik racun model kuno itu bahkan tanpa menggunakan tenaga dalam Tapak Naga. Harusnya, dengan melihat kejadian di depan mata, sudah cukup memberi paham pada para penghuni padepokan. Mereka bukanlah lawan yang sepadan, melainkan hanya sosok badut di mata Tabib Dewa.
Racun tidak mempan, pemilik padepokan punya jurus kedua yang merupakan jurus andalan. Jurus yang selama ini berhasil memanipulasi peradaban, membuat dunia seolah tunduk pada perintahnya. Apalagi kalau bukan kekuatan sihir, ilmu gendam jarak jauh yang nyatanya mampu mencuci otak puluhan gadis-gadis cantik.
Tidak peduli pada segenap rencana yang disusun oleh orang-orang padepokan, Suhita melanjutkan langkahnya memasuki beranda. Dia mengapa, seraya mempertanyakan di mana keberadaan pimpinan padepokan.
"Siapa nama pimpinan kalian? Sampaikan jika aku ingin bertemu, sekarang!"
"Ki Dender Lawu, Nona. Tapi maaf, guru besar tidak bisa menerima sembarangan tamu. Baiknya kau pikirkan lagi, kami takut penyesalan akan datang dengan terlambat," seorang guru menjawab dengan memberi sedikit ancaman dalam kalimat.
Berharap Hita menjadi gentar setelah mendengar nama Dender Lawu, para guru dan sesepuh Padepokan Batu Galih melakukan kesalahan besar. Bahkan Suhita baru pertama kali melintas di daerah itu. Alih-alih takut, dia malah terlihat aneh. Bagaimana bisa, manusia takut pada manusia. Karena kemampuan merupakan titipan, bahkan selembar nyawa pun hanya titipan, apa yang bisa disombongkan?
"Nona pendekar, aku dengar kau melaporkan kami pada petugas hukum, apa kau yakin pengadilan akan menegakkan keadilan?"
"Tentu saja. Kalian sudah berbuat, masa tidak berani bertanggung jawab. Dan kalian tahu, betapa tindakan kalian tidak dalam kategori perbuatan manusia. Kalian telah melampaui batas, harusnya hukuman mati merupakan hukuman yang paling sepadan. Tapi, bukankah setiap manusia berhak untuk memperbaiki diri? Paling tidak kalian bisa bertaubat selama persidangan berlangsung."
"Fuuiiihhh !!! Baru punya secuil kemampuan, sudah angkuh dan congkak. Kau baru tahu rasanya, kalau sudah ditindih empat pria dalam satu ronde. Hahaha!" para pendekar itu tertawa terbahak, mereka merasa lucu, mentertawakan ucapan dan diri mereka sendiri.
Suhita mengangkat tangan, menahan Kencana Sari yang sudah siap menerjang. Di depan mereka, Suhita tahu seseorang sedang merapal mantra sihir. Sementara kawan yang lain memancing berbicara untuk mengalihkan perhatian. Diharapkan saat mantra gendam itu bekerja, lawan akan jatuh tanpa harus disentuh.
__ADS_1
"Bagaimana, apa sudah selesai, Tuan?!" Suhita mengangkat kedua alisnya, mengarahkan pertanyaan pada pendekar yang merapal mantra.
"Hah?! Tidak mungkin!" pendekar itu hanya bisa menelan ludah, begitu juga dengan rekannya yang lain. Jelas-jelas jika kekuatan sihir sudah menyentuh tubuh Suhita, tapi sama sekali tidak bereaksi.
Mereka tidak tahu, Suhita dan Kencana Sari telah pergunakan sumberdaya langka yang membuat mereka kebal sihir. Bunga Anta Kesuma yang tadi baru saja dihirup di dalam kereta kuda.
Satu kosong, teknik licik yang dipergunakan gagal total. Membuat para pendekar Padepokan Batu Galih bersiap pergunakan cara kekerasan. Apa boleh buat, meskipun mereka gagal menambah gadis penghuni rumah bordil, paling tidak mereka harus membungkam mulutnya untuk tidak berkoar di luar padepokan.
WUUURRR !!! Belum sempat melakukan apa-apa, tiba-tiba serbuk berwarna kekuningan telah tersebar memenuhi beranda padepokan. Kedatangan Suhita ke padepokan itu di sambut dengan cara serupa. Sudah diajari, membuat Suhita piawai menggunakan serbuk penghilang tenaga. Dan celakanya tidak bisa diantisipasi oleh orang-orang Padepokan Batu Galih. Padahal, notabene mereka merupakan para pendekar yang licik. Sekarang mereka mendapatkan karma dari apa yang telah diperbuat.
"Sari, ikat mereka. Gunakan tali sutra, dengan demikian mereka tidak bisa gunakan tenaga dalam," ucap Suhita.
"Baik, tabib."
Suhita melanjutkan langkahnya, memasuki padepokan yang tidak terlampau luas itu. Murid-murid padepokan yang melihat guru mereka jatuh tanpa disentuh, menjadi kalang kabut. Dengan serentak mereka berlomba untuk lari menyelamatkan diri.
Plok! Plok! Plok!
"Kau sangat luar biasa, anak manis. Sungguh aku sangat terkesan, kau mampu atasi seluruh kemampuan yang aku besarkah dengan susah payah. Sekarang, apa yang kau inginkan," Dender Lawu menemui Suhita, dia bertepuk tangan memberi selamat. Dan anehnya, pria itu tersenyum seperti tanpa rasa bersalah yang tersirat di wajahnya.
"Kau sudah melakukan tindakan yang lebih rendah dari binatang. Kau perlakukan gadis-gadis dengan tidak manusiawi. Ki Dender Lawu, aku harap kau sadari kekeliruan ini. Sembuhkan mereka, dan kau bertaubatlah!"
Kehabisan akal, sebelum menggunakan tangan sebagai solusi, Dender Lawu coba pengaruhi Suhita dengan gelimang harta. Dia menjanjikan pembagian penghasilan, di mana Suhita akan mendapatkan bagian di setiap bulannya.
Suhita tersenyum getir, mengisap darah orang bukanlah suatu kebanggaan. Berlimpahnya harta, apa yang bisa dibanggakan? Dia datang untuk kebaikan, malah dipengaruhi oleh hal menjijikkan. Terang saja Suhita menolak dengan tegas.
"Anak manis, tidak ada yang bisa menghentikan aku. Jalan hidup masing-masing manusia berbeda-beda, janganlah mencampuri takdir orang lain jika tidak inginkan masalah."
"Dengan menjual mereka yang tidak berdosa? Itu bukan takdir, tapi kemaksiatan. Dan kau tahu, dengan cara apa pun aku akan menghentikannya!" jantung Suhita mulai berdetak lebih cepat dari biasanya. Bagaimanapun juga dia hanyalah manusia biasa yang miliki batas kesabaran.
Dender Lawu tertawa, dia menyadari jika aliran tenaga dalam mulai menyelimuti tubuh Suhita. Gadis itu terpancing emosi, dan olah kanuragan akan menjadi pilihan terakhir.
"Ayo kita mulai. Sungguh aku penasaran, bagaimana gadis lembut sepertimu pergunakan kekerasan. Sepertinya, kau dibekali kemampuan yang lumayan!" Dender Lawu melambaikan tangan, menantang Suhita untuk segera maju.
Suhita menghela napas, dia mendapati lawan yang dihadapinya hanyalah sosok menjadi tua karena terlalu lama terjemur matahari. Kemampuan sihir dan sedikit pengetahuan mengenai racun, menjadi pokok dia melakukan tindak kejahatan di luar batas.
Bola energi terkumpul di tangan Suhita, bola sebesar kepala orang dewasa itu akan mampu untuk menghancurkan batu sebesar dua kali lipat gajah. Sungguh suatu kesombongan yang berbalut kebodohan hakiki, ketika Dender Lawu dengan percaya dirinya menyambut pukulan tenaga dalam Suhita. Hal yang bahkan tidak berani dilakukan oleh pendekar besar sekelas Danur Cakra sekalipun.
BAAMMM! Dengan hanya separuh kekuatan, Suhita melepaskan pukulan Tapak Naga Es tahap satu.
__ADS_1
Dengan mata melotot dam mulut ternganga lebar, Dender Lawu terjatuh tidak berdaya. Sekujur tubuhnya dibalut kristal es yang membuatnya beku seperti ikan laut diawetkan. Suhita hanya berbaik hati dengan tidak mencabut nyawanya. Akan tetapi, seluruh sendi dan tulang rawan Dender Lawu terasa bergeser dari posisinya. Jika kelak dia hendak kembali berlatih bela diri, maka harus kembali ke tahap dasar. Sangat menyakitkan.
"Selamat beristirahat, Tuan. Sebentar lagi keadilan akan datang padamu. Semoga Tuhan masih membukakan pintu maaf untukmu. Bersiaplah, di luar para prajurit telah bersiap dengan belenggu," Suhita membungkuk hormat, memberi salam perpisahan.
Bagi Dender Lawu tentunya itu bukanlah sebuah penghormatan atau sikap sopan seorang kesatria, melainkan penghinaan besar-besaran atas dirinya yang sudah tidak berharga. Setiap perjalanan pada akhirnya akan tiba di ujung cerita.
"Tabib, kau baik-baik saja?" Kencana Sari muncul, dengan diikuti beberapa prajurit kerajaan.
"Selama ini, sindikat penjualan manusia berjalan seperti layaknya bisnis biasa. Saya yakin ada sesuatu yang tidak beres dalam struktur kalian. Maaf, saya hanya menyampaikan apa yang saya lihat," ucap Suhita pada Tumenggung dan prajuritnya.
Tumenggung itu berjanji akan mengusut tuntas hingga akar masalahnya. Dia bahkan pertaruhkan jabatannya untuk itu. Sekali lintas, nampaknya Suhita bertemu dengan pejabat hukum yang baik. Atau mungkin juga dia terpaksa berlaku begitu karena Kencana Sari sudah memberi tahu kalau sosok yang menjadi lawan bicaranya ialah Tabib Dewa. Antara nurut dan takut, susah untuk dibedakan.
"Sari, kita kembali ke kediaman Nek Asih. Kita juga harus segera sembuhkan gadis-gadis yang terkena pengaruh sihir."
Nenek Asih, dia juga memiliki peran sangat penting di setiap bertambahnya korban. Bisa dikatakan dia termasuk biang kerok, menangkap mangsa yang melintas dengan serbuk penghilang ingatan, lalu menjual ke rumah bordil. Dosanya tidak lebih kecil dari pemilik rumah bordil. Hukumannya, juga harus sama.
°°°
Hingga larut tengah malam, Suhita baru menyelesaikan pengobatan seluruh gadis yang terkena pengaruh kekuatan sihir. Waktu istirahat Hita tidak lama, pagi-pagi buta dia kembali melanjutkan perjalanan. Semoga saja hari ini hujan tidak turun, hingga Hita dan Sari akan tiba di Kota Raja sebelum sore. Karena jika kantor admistrasi sudah tutup, akan sulit untuk bisa masuk gerbang istana. Protokoler di sana sangatlah ketat. Sementara, Suhita tidak tahu di mana letak rumah orang tua Kemuning. Satu-satunya cara yakni harus lebih dulu menemui Raka Jaya.
"Huuuhhh ... kita terlambat!" Suhita menghembuskan napas kecewa.
Pintu gerbang istana sudah tertutup rapat, paling tidak mereka harus menunggu sampai pergantian prajurit jaga, selepas magrib, barulah Hita bisa memohon untuk masuk ke dalam istana. Meskipun Suhita memiliki lencana emas, dia tetap harus mematuhi peraturan yang ditetapkan.
"Kita cari kedai terdekat. Setelah itu barulah kita pikirkan langkah selanjutnya. Kita juga perlu istirahat. Ayo!" Suhita menutupi rasa kekecewaan dengan senyum manis di bibirnya. Seolah masalah itu tidak ada.
"Ya, baik. Mari," Kencana Sari membungkuk, mempersilakan Hita berjalan lebih dulu.
"Hmmm ... aku harus cari tahu di mana tempat tinggal orang tua Kemuning. Kalo tidak salah, Ayah Kemuning pernah menjadi Tumenggung di Kerajaan. Masa tidak seorang pun yang tahu tempat tinggalnya," batin Kencana Sari.
Manggar Wangi, ayah Diah Pitaloka merupakan seorang yang terpandang. Sejak dari kakek buyutnya, keluarga mereka merupakan keluarga ternama di tubuh Kerajaan Utara. Ditambah lagi pernikahan Manggar Wangi dengan Sucinta yang merupakan anak bangsawan ternama, semakin membuat keluarga mereka disegani hingga penjuru kota.
Sayangnya, mereka justru dikaruniai seorang anak perempuan yang bandel. Selain membangkang perkataan orang tua, bahkan berani kabur dari rumah dan lebih memilih hidup terlunta-lunta di luaran. Sungguh keras kepala.
Tahun yang terus berganti, membuat penyesalan besar di hari Sucinta. Bagaimanapun Sucinta ialah orang yang mengandung dan melahirkan anak perempuan yang sangat didambakan sejak lama. Dua anaknya yang lain kesemuanya laki-laki, dan sudah menikah. Diah Pitaloka ialah secercah harapan penyejuk hati, untuk penghibur masa tua mereka.
Manggar Wangi mengerti perasaan istrinya, selain itu dia juga sangat merindukan Pitaloka. Akhirnya Manggar Wangi mengumumkan hilangnya Diah Pitaloka, serta meminta bantuan banyak pendekar untuk mencari.
Dengan demikian, pasti ada selebaran pengumuman yang tersisa di sudut kota. Dan Kencana Sari yakin dia bisa mendapatkan apa yang dia cari. Setelah ketemu dan mendapatkan petunjuk, Kencana Sari dan Suhita bisa langsung datang ke kediaman Kemuning alias Diah Pitaloka.
__ADS_1
"Ya ... ini terlalu mudah," Kencana Sari tersenyum, dia mendapatkan apa yang dicarinya. Selebaran pengumuman itu sudah ada di tangannya.