Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Pasukan Sayap Kelelawar


__ADS_3

Danur Cakra membuka matanya, cahaya matahari yang menembus dedaunan menyapa wajahnya, membangunkan Cakra dari mimpi yang begitu indah. Betapa kagetnya dia ketika menemukan sebagian besar pakaiannya telah berlumuran darah. Cakra sejenak mengingat, dia sadar darah itu berasal dari biara cahaya.


"Sial! Di mana aku bisa dapatkan air?!" Danur Cakra segera bangkit, berjalan mencari sumber air untuk membersihkan tubuhnya yang penuh dengan bercak darah.


Tidak lama berselang, Danur Cakra telah menemukan sungai yang dicarinya. Tanpa menunggu apa pun, Cakra langsung melompat ke dalam sungai. Mandi dengan pakaian yang masih melekat di badan.


Air yang tenang seketika beriak ketika dimasuki tubuh Danur Cakra. Ikan-ikan serentak mengayuh sirif, berlomba untuk melarikan diri menjauh dari bahaya yang mengancam nyawa. Dengan mengetahui ancaman siluman naga hitam, hewan lemah seperti mereka pastinya hanya akan menjadi santapan empuk. Lebih baik pergi dari pada mati.


Dalam beberapa waktu lamanya Danur Cakra berendam di dalam air, ketika muncul ke permukaan seluruh darah di pakaiannya telah hilang. Meskipun basah kuyup, tapi sosok Danur Cakra tidak lagi nampak layaknya siluman penghisap darah.


Belum sempat melakukan apa pun, bahkan belum sempurna kemunculan Danur Cakra ke permukaan air, tapi secara mendadak gerak Danur Cakra terhenti setelah kakinya seolah tersangkut pada sesuatu.


"Hump!" Cakra terkejut bukan main, dia sama sekali tidak menduga akan hal tersebut. Ketika coba untuk menunduk guna memastikan hal yang terjadi, tubuh Danur Cakra benar-benar tertarik dan kembali ke dasar sungai.


BLUUPP! BLUUUPPP!!! Napas Danur Cakra hampir terhenti, beruntung kemampuan tenaga dalamnya begitu hebat hingga dia bisa atasi semuanya dengan cepat. Jika tidak, sudah bisa dipastikan perut Cakra akan dipenuhi oleh air sebelum kemudian terapung seperti kebanyakan orang-orang meninggal normal terhanyut oleh arus. 


"Kepa*rat!" umpat Danur Cakra.


Dalam perjalanan meluncur, Cakra melihat seekor makhluk air menyeret tubuhnya. Sepertinya, mahluk itu berniat membawa Cakra menuju sarangnya. Dia tidak berenang, melainkan berjalan dengan cepat di dalam air, menggunakan kedua tangan dan kaki untuk membuat bisa berlari layaknya di daratan. Tubuhnya berwarna hitam, dengan bulu menghiasi seluruh badan. Orang-orang menyebutnya Siamang Air.


Siamang Air menggenggam erat pergelangan kaki Cakra, tangannya yang kasar, melekat seperti ada lem yang begitu rekat.


Dengan sengaja, Danur Cakra membiarkan Siamang Air membawa dirinya hingga tiba ke sarang kawanan siamang air tersebut. Setelah tiba nanti, mereka baru akan menyadari telah memilih mangsa yang salah. Lihat saja, Danur Cakra akan membuat hewan-hewan buruk rupa tersebut menyesal dan memutus kesempatan hidup sampai hari itu saja.


Tidak berselang lama, apa yang ditunggu oleh Cakra pun terwujud. Siamang air melemparkan tubuhnya ke dalam ruangan yang berada di sisi tebing. Satu lekukan besar yang dipisahkan oleh arus yang deras.


Mungkin siamang air mengira jika mangsanya telah tewas, hingga dia terlihat begitu percaya diri mengabarkan berita pada rekannya yang lain, membuat para siamang air berkumpul untuk menyambut sarapan pagi mereka.


Menanti padi yang tumbuh subur, justru rimbunnya daun ilalang yang didapat. Niatnya hendak berpesta, justru celaka yang ada. Jika harus terkejut, pastinya siamang yang menyeret Cakra adalah sosok pertama yang dibuat kaget. Secara normal napas manusia, pasti telah sejak lama Cakra menghembuskan napas terakhir. Akan tetapi, kali ini mereka menemukan hal yang berbeda.


Di lemparkan ke dalam sarang, Danur Cakra justru tegak berdiri. Pula napasnya tidak mengalami gangguan sedikit pun. Hampir tidak seperti manusia pada umumnya, dan karena memang itu adalah kenyataannya.


Air sungai yang mulanya berwarna putih jernih, mendadak berubah warna menjadi kemerahan. Selain itu, aroma yang terpancar pun begitu menusuk hidung. Amis. Tentu saja dugaan tersebut benar, warna merah yang berasal dari darah yang tertumpah.


"Fuuiiihhh !!!" Danur Cakra meludahi aliran sungai yang memerah, sebelum kemudian melayang ringan menembus sunyinya hutan.


Setelah beberapa saat lenyap dari pandangan, Cakra kembali muncul dengan stelan pakaian yang berbeda dan lebih bersih. Tubuhnya pun nampak jauh lebih segar. Dan mungkin karena begitu banyak menerima asupan energi, maka hal tersebut tidak terbantahkan.


°°°


"Dasar sialan! Lihat saja, apa yang bisa dia lakukan jika nanti bertemu. Mengapa harus memilih hitam, jika putih lebih menjanjikan kebahagiaan. Aku sungguh tidak habis pikir!" Suhita mengumpat panjang pendek. Sangat jarang Hita berlaku demikian, kekesalannya telah mencapai puncak hingga tidak nampak sedikit pun seperti Suhita yang dikenal sebagai Tabib Dewa nan anggun.

__ADS_1


Berbeda dengan Suhita, di satu ruangan itu juga ada Kemuning. Gadis jelita yang dekat dengan Cakra tersebut justru hanyut dalam kesedihan. Air mata tidak henti-hentinya mengalir dari sudut matanya yang indah, meskipun Kemuning dengan sekuat tenaga coba untuk menahan. Tanpa suara, kesedihan tersirat dari bulir bening tersebut.


Kemuning tidak pernah menduga jika mereka akan berpisah dalam waktu yang begitu cepat. Bahkan belum sempat Kemuning memperkenalkan diri. Lantas, sekarang apa yang bisa dilakukan? Menyesal, tentu bukanlah sebuah bentuk jalan keluar. Sedangkan untuk melakukan tindakan, telah menemukan jalan buntu. Memulai ulang, dibutuhkan satu kesempatan lagi, kesempatan kedua yang katanya sukar untuk bisa didapat.


Hal yang mudah dilakukan ialah menggaruk kepala. Mencurahkan kekesalan dengan tindakan tanpa hasil.


"Hita, apa mungkin Cakra akan kembali ke desa ini?" tanya Kemuning kemudian setelah melihat Suhita sedikit tenang.


Suhita mengangkat bahu, dengan hembusan napas panjang, menandakan hatinya belum bersahabat. Sebentar kemudian Suhita bangkit lalu menghampiri Kemuning yang masih duduk bersimpuh dengan lesu di sudut ruangan. Hita mengambil posisi duduk berhadapan, hingga mereka bisa saling bertatap muka.


"Mengapa kau masih memikirkan dirinya?" tanya Suhita.


Kemuning menengadah, mencoba membalas tatapan mata Suhita. Meskipun hanya mampu untuk beberapa saat. Setelah itu, Kemuning kembali tertunduk. Menghela napas berat beberapa waktu, beban pikiran begitu menindih benaknya.


"Meskipun sekarang pergi, aku berharap Cakra tidak melupakan diriku. Aku sangat yakin jika suatu saat dia akan kembali, entah cepat atau lambat. Setidaknya, harapku teramat besar untuk itu," dengan suara bergetar Kemuning menjawab.


Suhita mengikuti setiap riak perubahan ekspresi wajah Kemuning. Dalam hati, Hita yakin jika Kemuning memiliki perasaan yang tulus pada saudara kembarnya. Dan mungkin dia tidak salah untuk kali ini. Akan tetapi satu kesalahan terbesar terletak pada Cakra itu sendiri.


Bila Suhita terlampau memberatkan Kemuning demi Danur Cakra, secara tidak langsung sama saja Suhita telah menjerumuskan Kemuning ke dalam lembah yang kelam. Sementara kewajiban itu berada di pundaknya, lantas mengapa justru andalkan orang lain? Tentu saja Suhita tidak sampai hati. Jika Cakra menempuh jalan yang salah, lantas tidak untuk membuat seorang baik lainnya ikut serta.


"Hita ... sebenarnya ada apa?" tanya Kemuning membuyarkan lamunan Suhita.


"Sebelumnya, aku minta maaf. Akan tetapi, meskipun pahit aku harus tetap menyampaikan. Untuk melakukan satu tindakan maka kau membutuhkan alasan yang tepat, setelah itu barulah kaki melangkah tanpa beban. Bukankah begitu banyak pemandangan indah di luar sana, mengapa kau memilih untuk memanjat tebing yang terjal?"


Suhita menelan senyuman getirnya, seolah ingin memastikan betapa dalamnya ucapan yang Diah Pitaloka sampaikan. Padahal latar belakang hidupnya lebih dari cukup untuk dijadikan alasan berubah.


"Apa kau yakin?"


"Tentu saja. Aku tidak mungkin dengan suka rela menyakiti diri sendiri, itu tidak masuk akal."


"Jika begitu, baiklah! Sebagai seorang teman, tanpa diminta sekalipun aku pasti akan membantumu, semampu yang aku bisa lakukan. Sekarang juga kita akan berkemas," Suhita menepuk pundak Kemuning, menghembuskan semangat baru.


Kemuning tersenyum haru, tidak ada yang bisa dia ucapkan selain terima kasih. Tentu saja dia merasa sangat tertolong. Meskipun Kemuning tidak tahu pasti mengapa Suhita begitu bersemangat. Melainkan kebaikan, tentu saja Kemuning tidak melihat sisi lain sebagai alasan.


Dengan meninggalkan bangunan luas dan beberapa catatan buku resep obat, Suhita berharap muda-mudi desa batu bersemangat untuk belajar. Demi mengubah kehidupan mereka di masa mendatang. Selain itu juga, Suhita meninggalkan sedikit bekal yang bisa digunakan sebagai modal sementara belum terpasoknya sumberdaya yang mereka racik.


Di desa batu yang gersang itu, begitu banyak ditumbuhi tanaman berkhasiat obat. Dan seandainya tanaman-tanaman tersebut dibudidayakan pastinya akan tumbuh dengan baik. Selain dibuat ramuan jadi, mereka pula bisa menjual berbentuk bahan mentah pada toko-toko besar di kota. Atau jika memungkinkan, maka para pemuda bisa langsung memasok untuk stok toko sumberdaya yang juga Suhita punya di beberapa daerah. Itu merupakan hal yang mudah, yang terpenting ialah keinginan untuk maju demi merubah hidup.


Suhita bersama Kencana Sari dan sekarang ada Kemuning bertolak dari desa batu. Mereka tentunya akan kembali ke Soka Jajar. Akan tetapi Suhita lebih dahulu akan menemukan Danur Cakra, untuk "mengembalikan" Kemuning.


°°°

__ADS_1


Jejak kuda yang membawa Suhita meninggalkan desa batu sudah tidak lagi terlihat bekasnya. Akan tetapi, meskipun demikian tentunya warga desa tidak akan bisa melupakan atas apa yang telah Suhita lakukan. Tindakan besar yang akan diingat sepanjang waktu.


Matahari sudah sangat condong ke ufuk barat, ketika di perbatasan desa batu muncul sekelompok orang berkuda. Mereka bukan para pendekar yang terlibat perburuan sumberdaya, akan tetapi mereka datang dengan misi tersendiri.


Sekali lintas, mereka terlihat seperti bagaimana layaknya sekelompok pendekar. Akan tetapi jauh dari pada itu, mereka tidak bisa dikategorikan ke dalam golongan. Ada misi khusus yang mereka emban. Ya, mereka merupakan pendekar yang bekerja di bawah panji kerajaan. Mereka berpakaian bebas, tapi dalam misi dinas.


Pimpinan mereka bernama Harimurti Panca, seorang pendekar ternama yang satu padepokan dengan Tumenggung Madu Ranta. Seorang tumenggung kepercayaan Raka Jaya. Secara pasti, hal tersebut menegaskan bila kelompok berkuda yang datang bekerja di bawah perintah istana.


Harimurti mengangkat tangan kanannya, memberikan tanda untuk pasukan menghentikan laju kuda mereka. Di depan ada sebuah desa yang posisinya paling dekat dari hutan di mana ada bekas terbunuhnya piton raksasa.


"Semua tingkatkan kewaspadaan! Kemungkinan besar orang yang kita cari ada di desa depan sana. Bersiap untuk segala kemungkinan!" ucap Harimurti pada pasukan.


Untuk memastikan, Harimurti mengutus dua orang pasukan guna memata-matai desa. Mereka tidak ingin kecolongan, dengan tidak sedikit pun menganggap remeh target yang hanya miliki sepasang mata.


Sementara menunggu laporan dua tiliksandi yang dikirim, Harimurti dan pasukan yang lain menggunakan waktu untuk beristirahat seraya membasuh kerongkongan mereka.


"Tuanku, bagaimana kalau kedatangan kita sudah tercium? Pastinya mereka telah pergi dari sini," seorang pasukan berujar.


"Dari keterangan mereka yang melihat, jika itu benar, maka akan semakin mudah untuk kita mengembangkan pencarian. Tenang saja, yang penting habiskan jatah makanan mu," jawab Harimurti seraya senyum.


Pasukan Sayap Kelelawar di bawah pimpinan Harimurti merupakan susunan pasukan rahasia yang dibentuk oleh Panglima Sawan Ireng melalui Tumenggung Madu Ranta. Secara tidak langsung, pekerjaan mereka berada di bawah tanggung jawab Jenderal Muda Raka Jaya.


Lantas apakah tujuan kedatangan mereka ke desa batu?


Kabar mengenai kalahnya sepasang siluman piton di hutan kabut begitu cepat tersebar kendati hanya segelintir orang yang tahu perihal siluman piton. Tentu saja arah telunjuk akan tertuju pada sosok Danur Cakra, selalu peran utama yang berhasil mengalahkan siluman piton yang melegenda tersebut.


Istana, yang semula hanya berfokus pada aparat penegak hukum untuk dapat menghadapkan Pendekar Naga Kresna ke pengadilan, dipaksa memperluas kasus hingga turun perintah raja menugaskan pasukan perang untuk ikut andil.


Jenderal Muda menolak untuk terlibat, hingga hal tersebut membuka kesempatan pada Jenderal Pring Sewu. Sosok yang tersisih dalam banyak kesempatan setelah kemunculan Raka Jaya di istana.


Tidak begitu jelas alasannya, tapi pada kenyataannya Panglima Sawan Ireng toh menerjunkan pasukan khusus untuk ikut terlibat dalam misi. Untuk persaingan dan mempermalukan Jenderal Pring Sewu, rasanya terlalu berlebihan. Tidak lagi dibutuhkan pencitraan untuk membuat pasukan Jenderal Muda lebih superior di hadapan Raja, kecuali hanya menambah rentetan "hilang muka" atas kinerja pasukan Jenderal Pring Sewu.


Eits! Tidak perlu terburu-buru menarik kesimpulan. Karena sesungguhnya bukanlah Pendekar Naga Kresna yang menjadi fokus tugas Pasukan Sayap Kelelawar. Melainkan Diah Pitaloka, yang sama-sama diketahui saat itu menyertai Pendekar Naga Kresna.


Panglima Braja dan ogot-ogotnya  Bangsawan Cokro, sedikit banyak mulai mengetahui identitas wanita yang mereka cari. Diah Pitaloka, putri bangsawan yang melarikan diri dari perjodohan itu secara samar mulai nampak, kendati belum jelas. Namun seiring berjalannya waktu, sudah barang pasti semua akan terungkap.


Pasukan Sayap Kelelawar pula bertujuan demikian, justru mereka menginginkan untuk bisa lebih dulu menemukan Diah Pitaloka. Gambaran yang diberikan oleh Jenderal Muda, membuat mata mereka bisa melihat dengan jelas.


Harimurti bangkit, dia menyambut kedatangan dua orang mata-mata yang baru kembali dari desa batu.


"Bagaimana?!" tanya Harimurti.

__ADS_1


Kedua tiliksandi itu segera melaporkan apa yang mereka dapat dari desa batu. Bahwa selain diduga sosok yang mereka cari, juga baru saja Tabib Dewa singgah di tempat yang sama. Tidak buruk, justru satu berita baiknya yakni Kemuning justru bersama Tabib Dewa. Sementara Pendekar Naga Kresna, entah di mana rimbanya.


__ADS_2