
Surya Petir melambaikan tangan pada seorang tangan kanannya yang bernama Kucing Merah.
"Awasi orang itu. Aku curiga jika ada mata-mata di dalam kelompok kita," bisik Surya Petir.
Ya, meskipun belum diketahui secara pasti benar atau tidaknya ada penyusup yang bergerak di dalam tubuh Kelompok Jubah Hitam. Akan tetapi Surya Petir berkeyakinan jika itu bukanlah firasatnya semata.
Kucing Merah membungkuk memberi hormat. Dia bergegas meninggalkan ruangan. Pergi menyusul orang yang baru saja melapor. Memang benar, orang itu tidak lain memang Mahesa. Penyusup yang sedang berusaha menghancurkan Kelompok Jubah Hitam malam itu juga.
"Berkat keberhasilanmu, rasanya tidak berlebihan jika kita merayakannya dengan minum barang beberapa teguk arak. Aku yakin, jika seluruh laporanmu benar maka ketua akan menghadiahi jabatan yang lebih menjanjikan," puji Kucing Merah.
"Terima kasih, kak. Aku jadi sungkan. Semuanya hanya kebetulan, tidak baik terlalu memuji," jawab Mahesa dengan tawa renyah.
Minum arak?! Itu artinya Kucing Merah memancing agar Mahesa membuka cadar. Baiklah, sepertinya semuanya harus dimulai lebih awal. Sekarang atau sebentar lagi, memang apa bedanya? Mahesa mengikuti langkah Kucing Merah dan beberapa orang asistennya memasuki kamar.
Semuanya sudah disiapkan. Beberapa kendi arak terbaik, juga makanan pendamping yang sungguh menarik selera. Mahesa menghela napas, cara yang dilakukan oleh Kucing Merah terlalu umum. Mengorek keterangan saat orang sedang mabuk, rasanya itu terlalu formal. Semua orang akan lakukan trik murahan seperti itu. Apa tidak salah? Bukankah ini adalah markas penjahat?! Mahesa justru merasa lebih berkeprimanusiaan meskipun itu dibandingkan dengan penjara pemerintah kerajaan. Di sana, sepertinya lebih sadis.
"Ayo, silahkan duduk. Sejenak, mari kita lupakan dunia. Hahaha!" tawa Kucing Merah terbahak.
Mahesa kemudian duduk di seberang meja, berhadapan dengan Kucing Merah. Diam, tidak banyak bersuara. Menunggu hingga Kucing Merah dan yang lain lebih dulu menanggalkan cadar yang mereka pakai.
"Ayo, mengapa tidak minum?!" Kucing Merah menyodorkan guci arak pada Mahesa.
Mahesa diam saja. Hal itu, membuat suasana dia dalam ruangan berubah menjadi sedikit kaku. Kucing Merah menggerakkan kepalanya ke arah seorang asisten di belakang Mahesa, memerintahkan untuk membuka cadar yang Mahesa pakai.
Tep! Krakkk!
__ADS_1
Mengejutkan! Tanpa ada yang menduga, Mahesa menangkap dan seketika mematahkan lengan asisten si Kucing Merah. Membuat pria itu terjatuh dan kelojotan di lantai.
"Habisi penyusup itu!" Kucing Merah lekas berdiri dan memerintahkan anak buahnya untuk segera menyerang.
Tangan Mahesa menekan meja dan mendorong tubuhnya melompat tinggi ke udara hingga hampir menyentuh atap. Saat kembali turun, Mahesa melepaskan beberapa tombak kristal es untuk menghalau percobaan serangan yang akan dilakukan anak buah Kucing Merah.
Mahesa berhasil mendarat dengan mulus di depan pintu. Mahesa menahan dan menutup kembali pintu yang hendak di buka oleh Kucing Merah.
"Kalian akan membusuk di kamar kebanggaan kalian ini!" desis Mahesa.
"Jangan harap kau bisa keluar dari tempat ini dengan selamat. Dasar penyusup busuk!" maki Kucing Merah geram.
Tanpa diperintah lagi, anak buah Kucing Merah segera menyerang Mahesa dengan senjata masing-masing. Dengan tenang, Mahesa melayani serangan itu dan sekalian mengembalikan berikut bunganya. Mahesa tidak membunuh mereka, hanya mematahkan anggota tubuh mereka. Seperti kaki, tangan, rusuk, tulang punggung atau juga bahu. Bagi mereka yang tidak beruntung, tetap saja tewas kala yang patah adalah leher.
"Anj!ng kurap! Siapa sebenarnya pendekar ini?!" Kucing Merah merinding juga melihat kekuatan tangan Mahesa bisa dengan mudah menghancurkan tulang anak buahnya seperti mematahkan keripik pisang.
"Jangan katakan jika sebenarnya kaulah yang menyingkirkan Enam Pendekar. Siapa kau sebenarnya?!" Kucing Merah menunjuk lurus hidung Mahesa.
"Menurutmu, apa kail yang mampu taklukkan liarnya ikan di laut tidak bisa digunakan di air tawar? Rasanya kau terlalu berlebihan," Mahesa menggelengkan kepala.
"Jumawa! Biar ku sobek mulutmu!" tanpa punya pilihan lagi, Kucing Merah lekas menyerang. Dia tahu, sekeras apa pun mereka berteriak di dalam ruangan, suara merdeka tidak akan sampai terdengar keluar. Benteng energi yang Mahesa kerahkan terlalu kuat untuk bisa ditembus.
Jurus demi jurus telah berlalu. Kucing Merah telah mengerahkan segenap kemampuannya. Pedang di tangannya sama sekali belum berhasil menggapai sasaran. Justru semakin sering senjata mereka beradu, lengan Kucing Merah mulai terasa kesemutan.
"Ah, jurus ini. Rasanya aku pernah melihat, di mana???" Kucing Merah memicingkan matanya, mencoba mengingat dengan keras saat Mahesa memainkan Jurus Rahasia Pedang Dua Belas.
__ADS_1
Dengan jurus legenda tersebut, Mahesa langsung menempatkan Kucing Merah pada posisi bertahan. Itu pun tidak terlalu baik, karena lebih tepatnya Kucing Merah langsung jadi tertekan.
"Sudah saatnya, kalian menghentikan sepak terjang kalian yang begitu memalukan. Bukankah hal yang diharapkan oleh setiap pendekar adalah mati secara kesatria?! Hahaha!" Mahesa tertawa sambil terus mengayunkan pedangnya, menggempur pertahanan Kucing Merah.
Dan pada puncaknya, pedang di genggaman Kucing Merah terlepas dan jatuh terlempar ke lantai.
Plak! Bugh! Seiring dengan senjata Kucing Merah yang terlepas, Mahesa juga hanya gunakan kepalan tangannya untuk membuat Kucing Merah tersandar di dinding. Tidak berdaya. Darah telah menetes dari hidung dan bibir juga telinganya. Tidak lagi ada kalimat yang terucap, Kucing Merah sudah sekarat.
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan di sana, Mahesa bergegas meninggalkan ruangan. Dia menuju penjara, Ki Maung Koneng dan beberapa pendekar aliran putih yang menjadi tahanan harus diberi tahu. Agar mereka bisa melakukan sesuai rencana.
°°°
"Ingat! Jangan bertindak gegabah. Tunggu instruksi selanjutnya. Saat matahari telah mengusir rembulan, aku yakin bisa selesaikan semua rencanaku," Mahesa menepuk pundak Ki Maung Koneng.
"Baik, aku tidak mungkin lupa. Pendekar, semoga kau berhasil!" Ki Maung Koneng membungkuk hormat.
Untuk sementara waktu, para tahanan tetap berada di dalam penjara. Hanya para pendekar yang berpindah tempat dan menjaga di pintu masuk. Alasannya tidak lain karena lokasi penjara yang cukup jauh dan aman. Tidak bakal ada pasukan Jubah Hitam yang bisa menjangkaunya dengan mudah. Apalagi saat malam seperti sekarang.
Malam yang semakin dingin menusuk, telah melemparkan banyak jiwa ke alam mimpi. Hanya mereka yang bertugas jaga, masih hilir mudik di sepanjang lorong.
Di ruangan pribadi Surya Petir, sayup-sayup masih terdengar suara beberapa orang sedang bercakap-cakap. Di antara mereka yakni Surya Petir, Bos Geledek, Cambuk Angin dan Priyanka. Mereka berempat merupakan orang-orang penting di Kelompok Jubah Hitam. Selepas Enam Pendekar yang telah mangkat, sekarang mereka adalah pilar utama Jubah Hitam. Bagaimana mereka, begitulah Kelompok Jubah Hitam.
"Aku curiga, jika penyusup yang datang merupakan pendekar pilih tanding yang tidak pernah kita duga. Apa mungkin dia Jaka Pragola, langsung turun tangan?" Priyanka melepaskan cadar yang menutupi wajahnya. Memperlihatkan kulit pipinya yang mulai keriput.
"Aku tidak yakin. Aku mencium adanya energi api es. Pastinya, dia sekarang sudah berdiri di depan pintu ruangan ini!" Cambuk Angin berdiri dan segera mengibaskan tangannya.
__ADS_1
WUUSSHH !!!