
"Ayah, haruskah mencelakai mereka semua?" Suhita bisa merasakan desir ketakutan yang ada di dalam hati keenam siluman. Ya, takut akan ancaman kematian seperti dulu pernah Suhita pula rasakan. Betapa tidak menyenangkannya saat-saat itu.
"Sebenarnya tidak, sayang. Akan tetapi, pilihan berada di tangan mereka," Mahesa menjawab tanpa menoleh ke arah Suhita. Pandangannya masih terarah pada enam siluman kelelawar yang berniat mencelakai putrinya.
Enam siluman itu semakin ketakutan. Terlebih pimpinan mereka, Sukantili. Sekarang mereka mengetahui sedang dengan siapa kelompoknya berhadapan. Pendekar dengan kemampuan tenaga dalam Tapak Naga Es yang amat sempurna, siapa lagi kalau bukan Elang Putih.
Tidak ada pilihan lain, melawan mati tidak melawan pun mati. Percuma saja mereka lolos dan kembali ke markas. Elang Putih akan menyusul, bahkan bukan perkara sulit untuk bisa hancurkan seluruh markas yang mereka miliki. Terlebih lagi, keenam siluman tersebut telah mendapatkan berita penting. Yakni jika Elang Putih lah yang menjadi pelindung Tabib Titisan Dewa. Bukan tidak mungkin juga tabib kecil itu adalah anaknya dari istri selain Dewi Api.
Sepakat, keenam siluman segera bergerak menyerang setelah anggukan ketiga. Lebih baik mati dalam pertarungan, mati terhormat, mati secara kesatria. Bukannya mati sia-sia karena tidak melawan.
Wuuss! Wuusss! Craasshh !!!
Seperti sudah terpaut otomatis, puluhan tombak es yang maha besar itu meluncur secepat mungkin, layaknya hujan yang turun dengan deras. Disaat siluman di bawahnya coba untuk bergerak menyerang.
Tidak perlu melakukan apa-apa, bahkan berkedip pun tidak. Mahesa cukup menunggu saatnya tombak es ciptaannya merajam keenam siluman kelelawar, hingga mereka semua meregang nyawa.
"Ayah, mengapa harus membunuh mereka?" Suhita menelan ludah melihat kondisi tubuh para siluman yang hancur. Sebelum akhirnya hilang, mencair bersama dengan cairan es.
"Jika bukan mereka, maka kita yang akan mati. Karena hidup hanya jadi dua pilihan ketika damai tidak bisa dicapai. Kau tahu mengapa rantai makanan sejak dahulu hingga sekarang masih tetap berlanjut? Mengapa tikus tetap ada dan membiarkan ular berkembang biak?! Karena semuanya sudah ada yang mengatur."
Suhita menunduk. Perkataan Mahesa memang tidak bisa dibantah. Tapi juga bukanlah suatu kesalahan jika Suhita punya cara pandang tersendiri.
"Perjalanan kita sudah tertunda beberapa jam. Belum lagi, di depan masih banyak aral rintangan yang menunggu," ucap Mahesa kemudian. Setelahnya, mereka segera melanjutkan perjalanan. Melupakan hal buruk yang terjadi, merupakan salah satu kunci untuk membuat langkah ke depan menjadi ringan.
__ADS_1
"Ah, sialan! Apa lagi itu?!"
Dari ketinggian, Mahesa melihat beberapa orang berjubah serba hitam berlari di balik rindangnya kayu. Suhita yang berada di gendongan, berusaha menjangkau apa yang Ayahnya lihat. Tapi sia-sia, karena yang Suhita temukan hanyalah hijaunya pucuk pohon yang terhampar luas.
"Ayah, baiknya kita lihat saja dulu. Siapa tahu, ada hal baik yang bisa kita lakukan. Bukankah menebar kebaikan merupakan salah satu jalan yang membuat langkah kita jadi lapang?" Suhita mengutip nasihat ayahnya.
Mahesa yang bisa melihat jika gerombolan orang berjubah hitam itu menculik seorang anak kecil, tentu tidak bisa menahan diri untuk tidak bertindak. Dia meluncur turun.
"Ah, ayah lihat! Mereka ternyata kelompok penculik. Jangan-jangan anak malang itu akan dijadikan tumbal," Suhita menduga.
Deerrr! Reg-reg-reg-reg!
Tanah di sekitar tempat itu bergetar hebat. Ketika kelompok orang berjubah hitam itu sebentar memalingkan pandangan untuk memeriksa tanah yang mereka pijak, meski hanya sepersekian detik saja, tapi ketika mereka kembali menatap jalan pemandangan sudah berubah. Mereka tiba-tiba saja di hadapkan pada dinding tebing yang tinggi. Sontak, mereka segera menghentikan langkah.
Kekuatan apa lagi, kalau bukan Tapak Naga Bumi milik Mahesa. Ya, di belakang kelompok pendekar berjubah serba hitam itu telah berdiri dua orang ayah dan anak.
"Mau dibawa ke mana anak kecil itu? Kalian menculik peserta kompetisi?!" Mahesa mengangkat sebelah alisnya.
"Sialan! Pendekar Elang Putih. Bagaimana kita?" salah seorang dari mereka bicara setengah berbisik pada temannya.
Mahesa yang bisa mendengar perkataan orang itu tersentak kaget. Belakangan ini Mahesa sangat jarang menampakkan diri di dunia persilatan, tapi orang dengan cadar hitam itu bisa mengenalinya hanya dengan sekali lihat. Ada kemungkinan jika dia bukanlah benar-benar berasal dari kelompok aliran sesat. Dia pasti pendekar aliran putih yang berkhianat.
Seperti biasa, selalu ada konspirasi di setiap terselenggaranya kompetisi. Mereka yang inginkan ketenaran, tanpa rasa percaya diri dan kemampuan yang cukup selalu saja menghalalkan segala cara. Termasuk dengan menyewa para pembunuh bayaran.
__ADS_1
"Jangan mendekat! Atau anak ini akan celaka!" dengan mengalungkan belati tajam di leher anak kecil yang dia gendong, seorang pria berjubah hitam mengancam agar Mahesa tidak mendekat. Seorang pria lain melakukan hal yang sama. Menggunakan sandera untuk menekan Mahesa.
"Hahaha! Kau pikir aku peduli?! Wajahnya saja aku tidak lihat. Bagaimana simpatiku muncul?! Yang aku tahu, hanyalah memberantas penjahat berhati picik seperti kalian," jawab Mahesa tanpa beban sama sekali. Ekspresi wajahnya tetap saja datar, "dilepaskan ataupun tidak, yang jelas kalian semua yang tidak akan luput dari maut."
Tanpa sadar, seorang yang tadi menyebut nama Elang Putih mundur beberapa tindak. Membuat Keyakinan dalam hati Mahesa semakin kuat jika mereka telah saling kenal. Mungkin, dia adalah salah satu punggawa atau bahkan ketua cabang di Padepokan Giling Wesi. Bisa jadi.
"Sayang, kau cari tempat berlindung yang aman. Rasanya pertarungan ini tidak bisa dihindarkan," Mahesa menyentuh pundak Suhita.
Tanpa banyak tanya, Suhita mengangguk kemudian melangkah mundur. Dia hanya menatap ke arah dua anak yang nyawanya berada di bawah ancaman belati tajam. Suhita berharap ayahnya tidak abai pada keselamatan mereka.
"Untuk kali terakhir, serahkan mereka atau kalian paksa aku lakukan dengan caraku!" Mahesa kembali memperingatkan.
"Jika kau bicara lagi, maka anak ini akan benar-benar mati. Dan kau baru akan menyesal setelahnya," tidak menghiraukan ancaman Mahesa, pendekar itu malah semakin menekankan belati di leher tawanannya.
Mahesa tersenyum masam. Saat itu juga, angin yang semula berhembus sepoi-sepoi mendadak berhenti. Tapi anehnya justru dedaunan malah bergoyang semakin kuat, menimbulkan suara gemertak ranting yang saling beradu. Memancing untuk mata beralih memandang yang terjadi.
Sekuat apa pun mereka bertahan, akhirnya rasa penasaran sekaligus terkejut membuat para pendekar berjubah serba hitam menoleh ke arah pepohonan.
CLING!
Saat mereka mengembalikan pandangan ke arah Mahesa, pendekar itu sudah tidak ada lagi di tempat semula dia berdiri. Entah ke mana menghilangnya Mahesa.
Disaat mereka kebingungan, mendadak tangan dan kaki mereka tidak bisa digerakkan. Ya, gelembung kristal es telah membungkus sebagian besar para pendekar berjubah hitam.
__ADS_1