
Suhita menyiapkan kremasi untuk jenazah Kadal hijau. Meskipun siluman itu telah membuat kesalahan yang amat besar, tapi walau bagaimanapun juga merupakan suatu dosa jika membiarkan jasad terbengkalai di tengah hutan. Satu hal yang juga Suhita hindari yakni perbuatan tangan-tangan jahil yang akan menggunakan bagian tubuh siluman Kadal hijau untuk kepentingan pribadi.
Setiap inchi di tubuh siluman Kadal hijau merupakan bahan racun yang bisa digunakan untuk meracik ramuan racun yang sukar ditemukan obatnya. Jika jasad Kadal hijau tidak dilenyapkan, takutnya nanti ada yang memanfaatkan untuk menebar kejahatan.
Seettt! Seettt! Sesosok bayangan bergerak secepat kilat menghampiri Suhita. Bayangan tersebut merupakan sosok pria tua dengan pakaian serba hitam. Di tangannya tergenggam sebuah tongkat kayu.
Suhita mengerutkan dahi, belum juga proses kremasi Kadal hijau selesai sudah ada yang datang. Semoga saja, dia datang dengan maksud baik.
"Hehehe ... Nona cantik, kau seorang yang memiliki rasa peduli yang amat besar. Namun akan lebih baik jika sekarang juga kau tinggalkan tempat ini," ucap si kakek tua yang telah menjejakkan kaki tepat di belakang Suhita.
"Terima kasih, Kek. Tapi aku harus menyelesaikan kremasi ini. Takutnya suatu hal yang tidak diinginkan bakal terjadi. Kasihan Kadal hijau jika setelah kematian pun dia harus menjadi beban," jawab Suhita.
Suhita hendak memutar badannya, tapi kakek tua yang datang telah lebih dulu mengayunkan tongkatnya. Ujung tongkat memang tumpul, tapi dengan iringan tenaga dalam yang disertakan dalam serangan tersebut, setidaknya akan mampu membuat tulang punggung retak.
Suhita berkelit untuk menghindari tusukan tongkat. Hingga tongkat kayu tersebut melaju hanya mengenai udara kosong, melaju beberapa inci di depan perut Suhita. Tidak sampai di situ saja, mendapati serangan pertamanya gagal si kakek masih melanjutkan gerakan tongkatnya. Dari jarak yang beberapa inci tersebut, si kakek tidak menarik tongkatnya melainkan langsung memukul perut Suhita.
"Hemp!" meskipun Suhita mengerahkan tenaga dalam pada area perutnya, tapi pukulan bertenaga dari sang kakek sama sekali tidak bisa dihindari. Benturan keras membuat tubuh Suhita terlempar bahkan melompati kobaran api kremasi.
"Ah," tubuh Suhita terjajar beberapa tindak meskipun kakinya telah menyentuh tanah. Kemampuan olah kanuragan yang dimiliki si kakek tua berada pada tahap yang sangat sempurna. Nampaknya dia merupakan seorang pendekar senior yang sudah malang melintang, puas memakan asam garam dunia persilatan.
Seandainya orang yang terkena pukulan itu bukan Suhita, ataupun mereka yang memiliki kemampuan tenaga dalam tingkat rendah, sudah barang pasti serangan si kakek tua mengancam pada nyawa.
Kedua mata mereka saling bertemu, tatapan tajam yang dilepaskan oleh si kakek tua begitu jauh dari kata persahabatan. Jelas dia merupakan seorang yang berniat untuk menguasai tubuh Kadal hijau. Tubuh yang menjadi bahan baku untuk membuat racun mematikan. Menjadi sumber dari berbagai sumber ramuan pembuat racun.
"Tabib Dewa ... hatimu bagaikan emas, jiwamu seputih berlian. Setiap waktu, setiap langkah, kau selalu menebar benih kebaikan. Terkutuklah diriku jika memiliki niat untuk mencelakai mu," ujar si kakek tua. Matanya sekilas menatap pada tubuh Kadal hijau yang mulai termakan api.
"Jika perkataanmu bukan sekadar pemanis bibir, lalu mengapa kau menyerang aku?" tanya Suhita.
Kakek tua menghela napas, kemudian dia menyeringai memperlihatkan deretan giginya yang kotor menghitam tak terurus. Ia memperkenalkan dirinya berjuluk Pendekar Tongkat Malaikat. Meskipun Suhita tidak yakin jika gelar pendekar dia dapatkan sebagai pemberian orang. Mungkin hanya dia yang mengangkat nama semacam itu untuk dirinya sendiri. Karena sosoknya lebih pantas dikatakan sebagai penjahat. Aura negatif menyelimuti.
"Hehehe ... sepertinya butuh tongkat kayu untuk menggiring itik kembali ke kubangan. Baiklah, jika kau memaksaku!" Tongkat Malaikat menghentakkan kakinya ke tanah, membuat tubuhnya bertolak meluncur pada Suhita.
Suhita tidak bisa hanya berdiam diri, Tabib muda itu berubah menjadi sosok pendekar dengan kekuatan tenaga dalam untuk menjaga dirinya. Tangan Suhita bergerak gemulai menghimpun energi tenaga dalam, menciptakan pusaran angin yang menarik dedaunan kering berterbangan di sekitarnya. Dedaunan kering tersebut bergerak cepat mengubah diri menjadi setajam silet. Dengan balutan energi es, Suhita mengerahkan dedaunan tersebut untuk menyambut serangan Tongkat malaikat.
Wuus! Wusss! Dengan kecepatan sukar ditangkap oleh mata biasa, tubuh Tongkat Malaikat dihujani oleh puluhan serangan Suhita.
Namun tanpa mengendorkan laju gerakannya, Tongkat Malaikat menghindari setiap lembar daun dengan mudah. Sebagian daun itu dia tepis menggunakan tongkat kayu di tangannya. Tidak satu pun serangan Suhita yang mengenai lawan. Justru sebaliknya, Tongkat Malaikat telah mendarat tepat di hadapan Suhita dengan satu pukulan ke arah kepala. Tubuh Tongkat Malaikat melayang di udara dengan tangan menekan ke bawah mendorong tongkat pada Suhita.
Suhita menahan pukulan itu dengan kedua tangannya. Mendapati tongkat kayunya terhenti, kakek tua menambah tenaga dalam untuk terus menekan Suhita. Nampaknya dia berniat membenamkan Suhita ke dalam tanah.
"Hemp!" Suhita terus berusaha untuk bertahan bahkan melawan untuk mengangkat tekanan tongkat di kedua tangannya.
Kuda-kuda Suhita mulai goyah seiring dengan kakinya yang bergetar. Tongkat Malaikat tidak memberi celah dan terus menekan dengan kuat. Pada akhirnya, kaki Suhita berlutut menyentuh tanah. Dia tidak lagi mampu berdiri dengan sempurna.
__ADS_1
'Naga Bumi - Tanah Membelah Langit' Suhita menepuk tanah dengan satu tangan. Sementara satu tangan yang lain ia gunakan untuk mendorong tongkat kayu dengan sekuat tenaga.
BUUMMM!!! Tanah yang semula rata, seketika bergerak terangkat. Gumpalan tanah sekeras batu setajam tombak meluncur ke atas, mengarah pada Tongkat Malaikat.
"Hump! Sialan!" Pendekar Tongkat Malaikat terkejut. Setelah Suhita mendorong tubuhnya untuk lebih terangkat, kemudian mengirimkan serangan Tapak Naga Bumi. Sepertinya ada maksud Tabib jelita tersebut untuk membuat lawannya terluka.
Kemampuan meringankan tubuh yang sempurna dimiliki oleh Pendekar Tongkat Malaikat, hingga dia mampu bergerak lebih cepat. Membuat tubuhnya lebih tinggi terapung di udara, seraya tangannya menggerakkan tongkat untuk menepis satu persatu gumpalan tanah.
"Hmmm ... Tapak Naga. Tidak salah lagi," gumam Tongkat Malaikat dalam hati.
Pendekar Tongkat Malaikat berhasil mengatasi seluruh serangan. Namun kali ini dia tidak lekas melakukan serangan susulan, melainkan menjaga jarak. Coba mendeteksi lebih dalam, akan kemampuan yang tersembunyi pada diri Tabib Dewa.
"Dari mana kau dapatkan kemampuan Tapak Naga? Siapa gurumu?!" tanya Tongkat Malaikat penuh selidik. Dia curiga jika Suhita merupakan keturunan dari pendekar besar asal selatan yang mengubur identitas.
"Saya hanya seorang tabib, bukan pendekar. Apa pentingnya asal-usul guru saya? Lagi pula, dunia kita sangatlah jauh berbeda. Tuan salah jika coba untuk mengukur kemampuan olah kanuragan yang saya miliki," jawab Suhita.
"Hahahaha!" Tongkat Malaikat malah tertawa terbahak. Dia melihat sisi lain pada diri Tabib Dewa, membuat hatinya tidak bisa tenang.
Suhita menekan beberapa titik di tangannya. Mengobati lengannya yang terasa panas dan kebas setelah beradu tenaga dalam dengan Tongkat Malaikat. Pria tua ini, merupakan seorang monster mengerikan. Meskipun tubuhnya mulai ringkih tapi tidak dengan kemampuan tenaga dalamnya. Jika terus berhadapan dan bertarung, Suhita tidak yakin kalau dirinya akan keluar sebagai pemenang. Tapi membiarkan iblis tua itu untuk mengambil bagian tubuh Kadal hijau juga bukanlah hal yang benar. Yang ada, kejahatan yang dia ciptakan akan lebih menjadi.
"Kau mulai memikirkan sesuatu?! Hahaha! Jangan bodoh, bersikaplah rasional. Bukankah otakmu sangat bagus, Tabib Dewa?!" suara Tongkat Malaikat begitu mengintimidasi rasa percaya diri Suhita.
Tidak ada pilihan lain. Suhita harus mempercepat proses kremasi Kadal hijau. Tubuh siluman beracun itu harus segera dilenyapkan supaya tidak menimbulkan masalah lain di masa mendatang. Suhita yakin, arwah Kadal hijau tidak akan menyalahkan dirinya.
"Maaf, terpaksa aku lakukan!" setelah Suhita menaburkan serbuk tersebut, api seketika membesar.
"KEPA*RATTT !!!" teriak Tongkat Malaikat penuh kemarahan. Matanya menyala, menatap kobaran api yang kian membumbung tinggi. Sungguh tidak diduga, seorang baik layaknya Suhita akan memikirkan cara demikian.
"Tabib Dewa! Kau yang memaksa, jadi jangan salahkan aku!" gigi geraham Tongkat Malaikat saling beradu, menimbulkan suara gemertak yang mencerminkan kemarahan tak terbendung.
Begitu besar pengorbanan yang telah dia lakukan hanya untuk menemukan keberadaan Siluman Kadal hijau yang konon merupakan sumber bahan racun dari segala racun. Sekarang sumberdaya tersebut telah di depan mata, tapi Tabib Dewa justru mengubur segala mimpi dan harapannya. Tidak masalah meskipun harus dimusuhi oleh semua orang di dunia, Pendekar Tongkat Malaikat akan membuat Tabib Dewa menyesali perbuatannya.
Suhita hanya bisa pasrah, dia tidak mungkin bisa melarikan diri. Mendapati tubuh siluman Kadal hijau telah hangus seluruhnya, paling tidak Hita telah melakukan satu tindakan terpuji.
"Kak Cakra, apa kakak tidak mendengarku?" batin Suhita.
Menyaksikan tingkat aura kekuatan yang dikeluarkan oleh Pendekar Tongkat Malaikat begitu tinggi, tentu saja sebagai manusia biasa merupakan hal yang wajar jika Suhita merasa gentar. Paling tidak, Suhita mendeteksi kemampuan yang dikuasai oleh Pendekar Tongkat Malaikat hampir setara ayahnya. Kemampuan yang sempurna, tentu tidak sebanding dengan Suhita yang bisa dikatakan tidak belajar ilmu bela diri.
"Jangan takut. Surga pasti menanti manusia baik hati seperti dirimu!" ucapan terakhir yang terdengar dari mulut Pendekar Tongkat Malaikat, sebelum melancarkan serangan-serangan berbahaya pada Suhita.
Melakoni pertarungan hidup dan mati, mungkin ini adalah kali pertama selama hidupnya. Suhita bahkan sangat anti menggunakan kekerasan. Sejak kecil, berkelahi merupakan tindakan yang paling tidak Suhita suka.
Jurus demi jurus berlalu, posisi Suhita semakin terpojok. Beruntung dia menguasai kemampuan tenaga dalam yang sempurna, hingga tubuhnya mampu menahan beberapa serangan yang tidak terelak. Bicara tingkat tenaga dalam, tentunya Suhita tidak kalah. Tapi dalam bertarung tenaga dalam bukanlah jaminan untuk keluar sebagai pemenang. Dalam hal ini, teknik dan pengalaman bertarung merupakan kunci dalam menguasai lawan.
__ADS_1
WUUUSSS !!! Suhita menghentakkan kedua tangannya, melepaskan dua bayangan naga berwarna perak. Naga-naga tersebut bergerak dan berputar di udara, giginya yang tajam menyeringai, bersiap dihujamkan pada tubuh Pendekar Tongkat Malaikat.
"Cacing tidak berbentuk, pandangannya kabur, geraknya lamban!" desis Tongkat Malaikat.
Mengadu tenaga dalam? Tentu saja Tongkat Malaikat bukanlah pendekar bodoh. Asam garam di dunia persilatan mengajarkan untuk dia bertindak penuh perhitungan. Meskipun Suhita bukan seorang pendekar, tapi kekuatan tenaga dalamnya tidak untuk dicoba kecuali kalau inginkan hal buruk.
Pendekar Tongkat Malaikat menghindari gempuran bayangan naga yang Suhita lepaskan. Rasa percaya diri serta pengalaman matang membuat Pendekar Tongkat Malaikat unggul dalam segala bidang.
Bugh! Desshhh! Dua pukulan beruntun kembali Suhita terima. Hingga tubuhnya menjadi limbung. Pada saat itulah, tongkat kayu di tangan kakek tua menyapu ke arah pergelangan kaki Suhita.
BRUUUKKK! Tidak lagi bisa menghindar, tubuh Suhita jatuh terjerembab. Namun Suhita cepat menaburkan serbuk berwarna kuning keemasan.
"Sialan!" umpat Tongkat Malaikat. Dengan segera dia menahan tubuhnya, memaksa untuk kembali mundur ke belakang.
Serbuk berwarna kuning keemasan tersebut merupakan serbuk racun, yang bahkan masih dipelajari cara pembuatannya oleh Pendekar Tongkat Malaikat. Tapi hal tak terduga, justru Tabib Dewa memilikinya. Sangat tidak masuk akal! Pantas saja, dia dikatakan sebagai dewa tabib dari seribu satu tabib.
Suhita segera bangkit. Dia meraba pelipis bagian kirinya. Tidak salah lagi, cairan berwarna merah itu adalah darah. Suhita menyentuh cincin mustika di jarinya, tapi Tabib Dewa mengurungkan niatnya untuk mengambil pusaka pemberian sang ibu, ia nampak mempertimbangkan sesuatu.
"Aku masih kuat, aku mampu mengatasi ini. Jika terpaksa, apa boleh buat," batin Suhita.
"Huph! Yaaattt!!!" Suhita kembali menyerang Pendekar Tongkat Malaikat.
Lagi ... tubuh Suhita terkena pukulan tongkat kayu lawan. Tangannya terasa kebas, tongkat pusaka itu sangat luar biasa.
"Apa boleh buat!" Suhita melompat mundur, ia bersiap menarik senjata pusaka. Panah Bidadari. Akan tetapi ...
BAMMM! BAMMM! BAAMMM!!!
Ledakan bertubi mengguncang, tanah sampai bergetar diikuti pepohonan yang tumbang.
"Kurang ajar! Siapa lagi ini?!" Pendekar Tongkat Malaikat terjajar beberapa tombak jauhnya. Serangan dadakan ini rasanya lebih menakutkan dari sekadar pukulan naga milik Suhita yang amat polos.
Pendekar Tongkat Malaikat baru saja memperbaiki posisi tegaknya, belum sempat dia mencari tahu siapa lawan yang datang membokong. Tapi sosok tersebut telah lebih dulu melancarkan serangan dengan membabi-buta.
Mau tidak mau, Pendekar Tongkat Malaikat membentengi dirinya dengan perisai tenaga dalam. Benturan dua kekuatan tenaga dalam tidak terelakkan, tubuh mereka sama-sama terdorong ke belakang.
Sepertinya pendekar tersebut hendak membalas tunai atas apa yang Tongkat Malaikat lakukan pada Suhita. Dia sama sekali tidak memberi kesempatan untuk bernapas. Seekor naga, berukuran sangat besar, berwarna hitam gelap dengan bola mata menyala berwarna merah kembali menyerang.
Pendekar Tongkat Malaikat menggunakan tongkat pusaka di tangannya untuk menghalau, tapi justru tubuhnya terdorong dan terpental ke udara. Kiranya serangan barusan hanyalah trik tipuan. Pendekar yang menjadi lawannya sekarang jauh lebih licik.
"Aaaa ???!!!" Pendekar Tongkat Malaikat terbengong tanpa kata. Matanya melotot dengan mulut ternganga, tidak sempat berbuat apa-apa.
Dari atas langit, muncul sebilah pedang berbalut api dengan tenaga dalam super besar terayun ke tubuhnya.
__ADS_1